Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Malam Opening


__ADS_3

Malam itu Dimas sibuk dengan tamu tamu mama dan papanya. Tak sedikit dari mereka yang memuji kecerdasan Dimas dalam mengelola cafe yang hampir bangkrut itu.


Sedangkan Dini masih sibuk di belakang bersama Toni dan juga karyawan lain yang sengaja disewa oleh Dimas untuk membantu Toni. Tak jarang ia harus membawa pesanan para pelanggan cafe malam itu.


"Dini, kamu ngapain di sini?" tanya Andi yang melihat Dini sibuk di pantry.


"Bantuin Toni," jawab Dini singkat.


"Ayo ke depan!" ajak Andi dengan menggandeng tangan Dini.


"Enggak Ndi, aku nggak bisa," ucap Dini dengan melepas tangan Andi yang menggandengnya.


"Kenapa nggak bisa? Toni udah banyak yang bantuin, kamu udah rapi gini masak di pantry sih!"


"Mmmm, mamanya Dimas yang nyuruh aku tetep di sini."


"Mamanya Dimas? kenapa? Dimas mana? Dia tau kamu di sini?" cecar Andi.


"Dimas lagi sama tamu tamunya."


"Ikut aku!" ajak Andi sambil kembali menggandeng tangan Dini.


"Enggak Ndi, aku nggak papa kok di sini, tujuan kita datang ke sini kan buat bantuin Dimas."


"Bantuin bukan dengan cara kayak gini Din, kamu yang punya ide buat bikin cafe belajar ini, kamu juga bantuin dia tiap pulang sekolah sampe' malem, mana mungkin Dimas biarin kamu sibuk di pantry kayak gini, kamu harusnya........."


"Udah Ndi, nggak papa," ucap Dini dengan memeluk Andi, karena hanya dengan cara itu lah yang bisa menenangkan emosi Andi.


Andi menerima pelukan Dini dan mengusap usap punggung Dini.


Tanpa mereka tau, Dimas yang sedang mencari Dini kesana dan kemari akhirnya menemukan Dini yang sedang berpelukan dengan Andi di pantry.


"Bisa bisanya pelukan di sini," ucap Dimas pelan dengan senyum sinisnya.


Dimaspun mengurungkan niatnya untuk menemui Dini. Ia melihat mamanya yang sedang mengobrol dengan Anita, mereka terlihat begitu akrab. Dimaspun menghampiri mereka.


"Dari tadi Nit?" tanya Dimas pada Anita.


"Barusan, selamat ya Dim akhirnya cafe kamu bangkit lagi!" ucap Anita dengan memeluk Dimas.


"Thanks Nit," jawab Dimas dengan melepaskan pelukan Anita.


"Sini duduk sayang," ucap mama Dimas sambil menepuk nepuk kursi di sebelahnya.


Dimaspun duduk diantara Anita dan mamanya.


"Kalian satu kelas?" tanya mama Dimas.


Dimas hanya diam dengan pandangan kesal ke arah pantry.


"Enggak tante, Anita di IPA," jawab Anita.


"Saling melengkapi dong ya, cocok deh kalian ini," ucap mama Dimas sambil menyenggol lengan Dimas namun tak ada respon dari Dimas.


"Tante bisa aja, Dimas kan udah punya pacar," jawab Anita.


"Pacar? siapa? jangan bilang anak yang tinggal di perkampungan xx itu, siapa itu namanya tante lupa!"


"Dini tante, dia emang tinggal di sana, Dimas juga sering ke sana, antar jemput Dini ke sekolah, ya kan Dim?"


Dimas masih tak merespon, pikirannya masih terngiang ngiang dengan apa yang dilihatnya di pantry.


"inget Dim, jangan kebawa emosi, mereka cuma sahabat," ucap Dimas dalam hati.


"Dimas, kamu mikirin apa sih sayang? dari tadi nglamun aja!" tanya mama Dimas.


"Andini kemana ma?" tanya Dimas pada mamanya. membuat mamanya memutar bola matanya karena jengah dengan sikap Dimas yang dari tadi hanya diam dan memikirkan Dini.


"Di pantry, bantuin Toni."


"Di pantry? mama nyuruh dia ke pantry?" tanya Dimas.


"Dia sendiri yang mau ke sana, lagian kenapa sih kamu nyariin dia, kan ada Anita di sini."


"Ma, cafe ini bisa bangkit lagi juga berkat Andini, cafe belajar itu juga ide Andini, mana mungkin Dimas biarin dia di pantry waktu opening kayak gini!"


"Kenapa kamu selalu belain dia sih Dim?"


"Ma, mama nggak tau gimana perjuangan Dimas buat........"


"Udah Dim, banyak yang liatin," ucap Anita pelan dengan menggenggam tangan Dimas namun segera di lepas oleh Dimas.


"Kamu sendiri ngapain disini Nit? kamu nggak sama Andi?" tanya Dimas pada Anita.


"Aku sama Andi tadi, tapi dia ke kamar mandi nggak balik balik jadi......."


"Dimas pergi dulu ma!" ucap Dimas memotong ucapan Anita dan segera pergi meninggalkan Anita dan mamanya.


Di pantry, Andi melepas kemejanya dan mulai membantu Dini. Begitu juga dengan Dini yang kini mengikat rambutnya agar tidak mengganggu pekerjaannya.


Dimas yang pergi ke pantry merasa muak melihat kedekatan Andi dan Dini. Namun ia tidak akan gegabah, ia harus bisa menyikapi hal itu dengan dewasa.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Dimas dengan memeluk Dini dari belakang dan mencium leher jenjang Dini.


"Dimas, lepasin Dim, banyak yang liat," ucap Dini dengan berusaha melepas pelukan Dimas.


"Jawab dulu, kamu ngapain di sini?"


"Aku bantuin Toni, kamu sendiri ngapain di sini?"


Dimas melepas pelukannya dari Dini dan memutar tubuh Dini agar menghadap ke arahnya.


"Aku cemburu liat kamu sama Andi," ucap Dimas dengan memeluk Dini.


"Lo sendiri dari mana aja Dim, masak Dini lo biarin di sini!" balas Andi yang mulai mengenakan kemejanya.


"Gue cuma........"


"Dimas!" panggil mama Dimas.


Dini segera melepas pelukan Dimas begitu mendengar suara mama Dimas.


"Apa lagi ma?"

__ADS_1


"Ikut mama, temen temen mama udah mau pamit pulang!" ucap mama Dimas sambil menggandeng tangan Dimas untuk diajak keluar dari pantry.


"Bentar ya sayang!" ucap Dimas pada Dini.


Dini mengangguk dan tersenyum.


Dimas mengikuti mamanya untuk kembali menemui teman teman mamanya. Di sana terlihat Anita sedang mengobrol bersama teman mamanya dan juga papanya.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Dimas pada Anita.


"Pacar kamu cantik Dimas, ramah lagi!" ucap salah seorang teman mama Dimas.


"Dia bukan........"


"Tante malah lebih cantik," ucap Anita memotong ucapan Dimas.


"Anita pamit ke belakang dulu ya tante, om, mau bantu bantu di belakang," lanjut Anita.


"Beruntung kamu Dimas, punya pacar yang nggak cuma cantik tapi juga rajin," ucap teman mama Dimas.


"Dan yang pasti dari kalangan kita ya sis!" timpal teman mama Dimas yang lain.


"Maaf tante, bagi Dimas kalangan apapun itu nggak penting, yang penting dia yang terbaik buat Dimas," balas Dimas.


"Udah dewasa sekarang anak papa," balas Pak Tama, papa Dimas.


"Mama ke kamar mandi bentar pa," ucap mama Dimas pada papa Dimas.


Setelah dari kamar mandi yang dekat dengan pantry, mama Dimas menemui Dini yang sedang membawa nampan berisi minuman.


Anita yang sedang menunggu Dini di depan bersama Andi segera menuju ke pantry ketika melihat mama Dimas yang berada di sana.


Anita berjalan cepat dan terjatuh ketika berada di belakang Dini, reflek tangannya meraih tangan Dini membuat minuman yang dibawa Dini tumpah mengenai pakaian mama Dimas.


"Maaf tante, Dini nggak sengaja!" ucap Dini ketika menyadari minuman yang dibawanya mengotori pakaian mama Dimas.


"Maaf kamu nggak bikin baju mahal saya bersih, kamu tau biaya sekolah kamu sebulan aja nggak bisa buat beli baju ini," balas mama Dimas yang tampak emosi.


"Maaf tante, saya............."


"Oh iya saya lupa, kamu kan anak beasiswa, jadi pasti kamu nggak tau berapa biaya sekolah kamu kan!"


Dini hanya diam menunduk, sedangkan Anita masih terduduk di lantai karena merasa kakinya sakit.


"Kamu harusnya sadar, kamu sama Dimas itu berbeda, kalian nggak mungkin bisa......"


"Mama!" panggil Dimas yang tiba tiba datang.


"Sayang, lihat nih. baju mama kotor gara gara dia tumpahin minuman ke baju mama!" ucap mama Dimas pada Dimas.


"Andini pasti nggak sengaja ma, ayo ke depan, itu temen temen mama mau pulang!"


"Mana mungkin mama bisa temuin mereka kalau pakaian mama kayak gini Dimas, ini gara gara kamu!" ucap mama Dimas sambil menunjuk ke arah Dini.


"Maaf tante," balas Dini masih dengan menunduk.


"Udah lah ma, Dimas beliin lagi nanti, mama........"


"Mama mau pulang, urus tuh temen kamu, jangan sampe' dia bikin kacau acara kamu!" ucap mama Dimas sambil berlalu pergi.


Dini mengangguk dan membereskan gelasnya yang jatuh.


"Kamu kenapa Nit?" tanya Dimas pada Anita.


"Kakiku sakit banget Dim!" ucap Anita dengan memegangi kakinya yang sakit.


"Aku mau pulang Dim," ucap Dini pada Dimas dan segera keluar meninggalkan pantry.


"Andini, tunggu!"


"Diimaass, bantuin aku!" ucap Anita yang berusaha menahan Dimas agar tak mengejar Dini.


"Aku cariin Andi!" balas Dimas dengan tetap meninggalkan pantry, mengabaikan Anita.


Andi yang masih duduk di bangku cafe yang berada di luar, segera menghampiri Dini yang berjalan cepat ke arahnya.


"Aku pulang duluan Ndi!" ucap Dini pada Andi.


"Kok pulang duluan, kenapa?"


"Andini, tunggu!" teriak Dimas yang melihat Dini sudah berada di luar cafe.


Mendengar teriakan Dimas, Andi memegang tangan Dini, mencegahnya untuk meninggalkan cafe.


"Selesaiin baik baik Din, jangan pergi gitu aja!" ucap Andi pada Dini.


"Ndi, Anita di pantry nungguin lo!" ucap Dimas pada Andi.


"Oke!" balas Andi sambil masuk ke cafe dan menuju ke pantry, meninggalkan Dimas dan Dini.


"Kenapa kamu mau pulang?" tanya Dimas pada Dini.


"Maaf," ucap Dini pelan.


"Maaf buat apa? aku yang minta maaf karena terlalu sibuk sama tamu tamu mama."


Dini mulai meneteskan air matanya mengingat perkataan mama Dimas padanya ketika di pantry tadi.


"Sayang, kamu kenapa? cerita sama aku!"


Dini tak menjawab, ia mengusap air mata yang begitu saja jatuh membasahi pipinya. Dimaspun memeluknya.


"Kamu beneran mau pulang?" tanya Dimas memastikan.


Dini mengangguk.


"Aku anter ya!"


"Aku bisa pulang sendiri Dim, acara kamu belum selesai, banyak tamu yang harus kamu temui."


"Kalau gitu kamu pulang sama Pak Adi ya?"


"Nggak usah Dim, aku bisa......."

__ADS_1


"Kamu mau pulang sama Pak Adi apa tetep di sini?"


"Ya udah, aku pulang sama Pak Adi."


Dimas dan Dinipun menemui Pak Adi.


"Tolong anterin Andini pulang ya Pak!" ucap Dimas pada Pak Adi.


"Siap mas!"


Dinipun pulang bersama Pak Adi. Meskipun Dini berusaha keras agar air matanya tak jatuh, guratan kesedihan terlihat jelas di wajahnya.


"Neng ini pacarnya mas Dimas ya?" tanya Pak Adi pada Dini.


"Bukan Pak," jawab Dini.


"Setau saya neng Dini ini teman perempuan mas Dimas yang paling deket, keliatan kalau mas Dimas suka sama neng Dini."


"Dimas emang deket sama semua cewek Pak."


"Iya juga sih, dari dulu mas Dimas itu terkenal playboy, deket sama banyak cewek, tapi kalau sama neng Dini ini keliatan beda, kayak sayang banget sama neng Dini."


Dini hanya menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan Pak Adi.


Di cafe, Dimas dan Andi sibuk melayani pelanggan bersama Toni. Sedangkan Anita mengobrol bersama mama dan papa Dimas.


"Anita ini anak kepala sekolahnya Dimas loh pa!" ucap mama Dimas pada papa Dimas.


"Oh iya? gimana kabar Pak Sony, lama saya nggak ketemu papa kamu," tanya Pak Sony pada Anita.


"Baik om," jawab Anita dengan senyum ramahnya.


Tak lama kemudian Dokter Aziz datang dan segera masuk ke cafe.


"Dokter Aziz!" panggil Anita yang melihat Dokter Aziz masuk.


"Anita, kamu kok di sini?" tanya Dokter Aziz.


"Kalian saling kenal?" tanya mama Dimas.


"Anita ini keponakan temen saya," jawab Dokter Aziz.


"Gimana kabar Dewi Nit? saya udah lama nggak pernah ketemu," tanya Dokter Aziz pada Anita.


"Baik Dok, mbak Dewi sekarang tugas di rumah sakit xx."


"Udah nikah?"


"Belum, nungguin Dokter Aziz hehehe....."


"Bisa aja kamu Nit!"


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, cafe sudah mulai sepi pengunjung.


"Dimas, papa sama mama balik dulu ya!" ucap Pak Tama pada Dimas.


"Iya pa, hati hati."


"Kita pulang dulu ya Nit, makasih udah nemenin Dimas di sini," ucap mama Dimas pada Anita.


"Sama sama tante," jawab Anita.


"Jangan panggil tante, panggil mama!" ucap mama Dimas.


"Hehehe iya, mama," balas Anita dengan senyum manisnya.


"Apaan sih ma!" protes Dimas.


"Nggak papa dong, kasian dia udah nggak punya mama," balas mama Dimas.


"Tapi ya nggak gitu juga ma."


"Nggak papa dong, biar Anita terbiasa, beberapa tahun lagi kan dia jadi menantu mama," ucap mama Dimas sambil menyenggol lengan Anita.


"Tante bisa aja," balas Anita tersipu.


"Iya dong, iya kan pa?"


"Papa serahin semuanya sama Dimas, dia udah dewasa sekarang!" ucap Pak Tama sambil menepuk nepuk pundak Dimas.


"Makasih pa," balas Dimas.


"Ya udah mama papa pulang dlu!"


"Hati hati ma," ucap Dimas dengan mencium pipi mamanya.


Dimas kembali masuk ke pantry, membantu Andi dan Toni membereskan pantry.


"Gue dari tadi nggak liat Dini Dim," ucap Andi pada Dimas.


"Dia udah pulang dari tadi."


"Haahhh, pulang? sendiri?"


"Dianter Pak Adi."


"Kenapa lo biarin dia pulang?"


"Gue bingung Ndi, apa yang harus gue lakuin supaya mama sama Andini bisa deket, gue takut semakin lama Andini di sini, mama akan ngomong hal hal yang nyakitin Andini, itu kenapa gue biarin dia pulang."


"Hidup lo ribet banget sih Dim!"


"Tau' ah Ndi," balas Dimas sambil keluar dari pantry dengan membawa kain untuk membersihkan meja.


"Aku bantuin ya!" ucap Anita pada Dimas.


"Nggak usah," balas Dimas dengan mimik wajah kesal.


"Nggak papa, aku....."


"Nggak usah Nit, lagian kamu kenapa sih bilang mama seolah olah kita ini deket."


"Kan kita emang deket."

__ADS_1


"Kita deket cuma sebatas temen Nit, jadi jangan pernah berpikir kalau kamu bisa gantiin posisi Dini di hati aku!"


"Aku sekarang tau apa yang harus aku lakuin Dim," balas Anita yang terlihat kesal, lalu segera pergi meninggalkan cafe.


__ADS_2