Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Akibat dari Kebohongan Anita


__ADS_3

Flashback ketika Ivan menjalankan rencananya


Ivan mengubah niatnya yang semula ingin menemui Anita menjadi menemui Dini. Tentu saja ia tidak akan menemui Dini begitu saja. Ivan terlebih dahulu membeli ponsel beserta sim card nya.


Sebelum menghubungi Dini, ia merekam ucapannya dan merubah suaranya agar terdengar mirip dengan Dimas. Ia lalu mengirimkan sebuah voice note pada Dini.


Sayang, aku butuh bantuan kamu, aku tunggu di gang sebelah ya, sekarang! -isi voice note yang dikirim Ivan pada Dini-


Tanpa banyak berpikir dan bertanya, Dini segera keluar dari kamarnya menuju ke gang sempit di dekat kosnya. Meski ia tau jika itu bukanlah nomor Dimas, tapi ia yakin jika yang ia dengar itu adalah suara Dimas.


"Mau kemana Din?" tanya Andi yang melihat Dini terburu buru.


"Ketemu Dimas di gang sebelah," jawab Dini dengan masih berlari lari kecil.


"Mau kemana dia? buru buru banget kayaknya!" tanya Nico yang baru saja keluar dari dapur.


"Nggak tau," jawab Andi lalu masuk ke dalam kamarnya.


Di gang sempit itu, Ivan sudah meminta seorang anak kecil untuk berpura pura menjadi penjual minuman dan menangis karena belum ada yang membeli minumannya.


Ia meminta anak kecil itu untuk memaksa seorang gadis yang sebentar lagi lewat untuk meminum salah satu minuman yang sudah Ivan siapkan.


Dengan polosnya anak kecil itu mengiyakan permintaan Ivan dengan imbalan satu kantong besar mainan.


Tepat ketika Ivan pergi, Dini memasuki gang sempit itu. Dini melihat seorang anak kecil menangis di samping gedung tua.


"Kamu kenapa dek?" tanya Dini dengan berjongkok di depan anak kecil itu.


"Nggak ada yang mau beli minuman ku kak, kakak mau beli?"


"Aduuhh kakak nggak bawa uang dek, kalau kamu mau kakak ajak kamu ke kos ya buat ambil uang!"


"Enggak kak, nggak usah, kakak minum ini aja biar aku seneng, seenggaknya ada yang mau minum minuman yang aku jual kak," bujuk anak kecil itu.


"Tapi kakak beneran nggak bawa uang loh!"


"Nggak papa kak, minum aja ini!"


"Ya udah kalau gitu, abis ini kamu ikut kakak ke kos ya buat ambil uang!"


Anak kecil itu mengangguk dan memberikan satu botol minuman yang Ivan siapkan untuk Dini. Tanpa rasa curiga Dini meminum minuman yang diberikan oleh anak kecil itu. Baru beberapa teguk minuman itu masuk, Dini sudah merasakan pusing. Karena Dini tidak pernah melihat apa lagi meminum minuman beralkohol, Dini tidak menyadari jika minuman yang ia pegang adalah minuman beralkohol.


"Kakak kenapa kak?" tanya anak kecil itu.


Dini hanya menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan anak kecil itu. Ia lalu terduduk di tanah dengan memegangi kepalanya yang semakin terasa pusing. Karena ketakutan, anak kecil itupun pergi meninggalkan Dini.


Dari jauh Ivan tersenyum penuh kemenangan memperhatikan apa yang terjadi. Sesuai janjinya, ia memberikan satu kantong mainan pada anak kecil itu lalu menghampiri Dini.


"Andini Ayunindya Zhafira, kalau aku jadi kamu aku akan ninggalin Dimas, karena apa? karena kamu akan selalu dalam bahaya kalau kamu deket sama dia," ucap Ivan dengan menarik dagu Dini agar menghadap ke arahnya.


Dini hanya diam, efek dari minuman yang Ivan berikan sudah mulai bekerja.


"Kamu bukan Dimas," ucap Dini dengan mengerjakan matanya melihat laki laki di hadapannya.


"Aku Dimas sayang, sini cium aku!"


Dini menggeleng, ia lalu ambruk ke tanah karena sudah tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Ivan kemudian membantu Dini untuk duduk.


"cantik juga," batin Ivan dalam hati.


"Kamu bukan Dimas," ucap Dini mengulangi perkataannya.


"Duduk yang tenang di sini ya, tunggu Dimas di sini, oke?"


Dini lalu menganggukkan kepalanya dan mengacungkan jari jempolnya ke arah bawah.


Ivan hanya terkekeh lalu meninggalkan Dini.


Flashback off


**


Di apartemen Anita.


Dimas dan Anita yang sedang bersitegang tiba tiba dikejutkan oleh kehadiran Ivan. Melihat Ivan datang, tanpa pikir panjang Dimas segera melayangkan tinjunya ke arah Ivan, membuat Ivan jatuh tersungkur.


"Brengs*k, lo apain Andini hah?" tanya Dimas dengan mencengkeram kerah kemeja Ivan.

__ADS_1


"Santai Dim, orang berpendidikan kayak lo jangan pake kekerasan gini lah, anggap ini peringatan pertama dari gue buat lo, jadi jangan pernah gegabah buat nyerang gue!"


"Gue nggak akan maafin lo sampe lo nyentuh Andini dikit aja!"


Ivan lalu mendorong tubuh Dimas dengan kuat, membuat Dimas terjatuh ke belakang. Ketika Ivan bersiap untuk menghajar Dimas, Anita menghalanginya.


"Minggir Anita!" ucap Ivan dengan berteriak.


"Jangan Ivan, jangan bikin keributan di sini!" ucap Anita dengan menahan tangan Ivan.


Ivan lalu mendorong tubuh Anita dengan keras dan menjambak rambutnya lalu menamparnya dengan keras. Ketika Ivan akan menampar Anita untuk kedua kali, Dimas mendekat dan menendang tubuh Ivan.


"Oh, sekarang lo belain dia? cewek murahan yang udah buang harga dirinya cuma buat lo!"


Dimas hanya diam dan membantu Anita berdiri. Tak lama kemudian 2 orang dari pihak keamanan datang karena mendapat laporan tentang keributan yang terjadi.


"Ada apa ini ribut ribut?" tanya pak satpam.


Semuanya hanya diam. Dimas, Anita dan Ivan sudah tampak kacau. Keadaan apartemen Anita pun tampak berantakan.


"Kalian semua ikut saya!"


Mereka bertiga pun mengikuti pak satpam untuk di bawa ke sebuah ruangan. Mereka bertemu dengan kepala keamanan di sana.


"Ada apa ini? ada yang bisa jelaskan?" tanya kepala keamanan.


Mereka bertiga masih diam. Tak ada yang dapat menjawab pertanyaan kepala keamanan.


"Tunjukkan identitas kalian!" pinta kepala keamanan.


Dimas dan Ivan lalu mengeluarkan KTP mereka dan memberikannya pada kepala keamanan.


"Punya saya di kamar pak," ucap Anita pada pihak keamanan.


"Kamu tinggal di unit berapa?"


"Unit 77A pak," jawab Anita.


Kepala keamanan lalu menghubungi seseorang dan memintanya untuk mengirim identitas Anita melalui email.


"Kamu Dimas anaknya Pak Tama?" tanya kepala keamanan pada Dimas setelah ia melihat kartu identitas Dimas. Selain pemilik perusahaan besar, papa Dimas merupakan salah satu pemegang saham terbesar di apartemen itu.


"Kamu bisa cerita apa yang terjadi tadi?"


"Cuma salah paham pak, saya dan teman teman minta maaf karena membuat kegaduhan di sini," jawab Dimas.


"Iya nggak papa, saya mengerti, cinta segitiga memang sering terjadi pada anak muda kayak kalian, tapi saya harap kalian bisa menyelesaikan masalah kalian dengan bijaksana dan dewasa," ucap kepala keamanan yang mengira jika mereka bertengkar karena memperebutkan Anita.


"Apa saya boleh keluar sekarang pak?" tanya Dimas.


"Boleh boleh, silakan!" jawab kepala keamanan.


Dimas lalu keluar dari ruangan itu seorang diri. Sedangkan Anita dan Ivan masih berada di dalam.


"Kita gimana pak? boleh keluar juga kan?" tanya Ivan.


"Tunggu dulu, saya akan simpan identitas kalian, buat jaga jaga kalau kalian bikin masalah lagi."


"Bapak tau dari mana kalau kita yang bikin masalah?"


"Anaknya pak Tama nggak mungkin bikin masalah, jadi pasti diantara kalian berdua ini yang bikin masalah!"


"Bapak jangan nuduh sembarangan dong!" protes Ivan.


"Kamu harusnya berterima kasih sama Dimas karena dia tidak meminta saya untuk melanjutkan hal ini ke kepolisian!"


Ivan hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap kepala keamanan itu.


"Dimas Dimas, lo sama bokap lo sama aja!" batin Ivan dalam hati.


Setelah beberapa waktu menunggu, kepala keamanan akhirnya memperbolehkan Anita dan Ivan untuk pergi.


"Sekali lagi saya bertemu kalian di sini, saya nggak akan segan segan bawa kalian ke kantor polisi!" ucap kepala keamanan pada Anita dan Ivan.


"Terserah!" balas Ivan lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Ivan berjalan ke arah aparetemen Anita. Ia akan menuntaskan kemarahannya pada Anita saat itu juga.

__ADS_1


"Anita aku mau nanya sekali lagi sama kamu, kamu liat HP ku?" tanya Ivan pada Anita ketika mereka sudah berada di dalam apartemen Anita.


"Aku nggak tau Ivan, aku nggak inget kapan terakhir kali aku liat HP kamu," jawab anita yang masih berbohong.


"Kamu yakin sayang?" tanya Ivan dengan berdiri di hadapan Anita dan membelai rambutnya.


"Iii... iya... aku... aku beneran nggak inget," ucap Anita yang mulai panik.


Perlahan Anita melangkah mundur hingga ia terjatuh ke sofa. Ivan lalu berjongkok di depannya, menatapnya dengan pandangan penuh emosi.


"Kamu tau aku nggak suka dibohongi kan? kamu tau aku bisa ngelakuin apa aja yang aku mau kan?"


"KAMU TAU ITU KAN?" lanjut Ivan dengan membentak Anita.


Anita hanya menutup matanya mendengar bentakan Ivan padanya. Ia benar benar takut jika Ivan mengetahui kebohongannya.


"Aku kecewa sama kamu Anita, mau sampai kapan kamu bohongin aku?" tanya Ivan lalu terduduk di lantai.


"Aku.... aku nggak bohong sama kamu, aku...."


"Kamu pikir aku bodoh? kamu seneng udah berhasil mengelabuhiku? aku tau kamu bohong Anita, aku tau semua kebohongan kamu jadi stop buat bicara omong kosong sekarang!"


Anita hanya menundukkan kepalanya, ia benar benar takut saat itu. Ia tau seberapa besar emosi Ivan ketika ia sudah marah, ia tau hal buruk sudah menantinya saat itu.


"Aku udah percaya sama kamu Anita, aku pikir kamu beda sama cewek lain yang aku temui, aku pikir aku jatuh cinta sama kamu, tapi kamu bohongin aku, kamu bikin aku kecewa, kamu bikin aku marah," ucap Ivan dengan menyandarkan kepalanya di sofa.


"Aku... aku... aku minta maaf Ivan, aku bener bener lupa kalau HP kamu masih ada di rak buku, aku baru tau waktu Dimas yang lebih dulu temuin HP kamu di sana, maaf karena aku nggak bisa rebut HP kamu dari Dimas," ucap Anita menjelaskan.


"Percuma kamu jelasin semuanya sama aku, semuanya udah terjadi dan semua rencanaku berantakan gara gara kamu Anita!"


Anita sadar akan kesalahannya dan Ivan sudah benar benar menahan emosinya saat itu. Emosi yang sewaktu waktu bisa meledak kapan saja. Anita harus memikirkan cara agar Ivan tidak menyakitinya lagi karena ia tau jika Dimas tidak akan membantunya.


"Ivan, aku harus gimana biar kamu nggak marah?" tanya Anita yang kini duduk di hadapan Ivan.


Ia mengerahkan semua keberaniannya untuk duduk di hadapan Ivan saat itu. Ia berharap Ivan akan luluh dan memaafkannya.


"Nggak ada cara lain, aku akan hukum kamu sayang!"


Anita menggeleng, ia mundur menjauh dari Ivan dengan perlahan namun dengan cepat Ivan menarik kaki Anita.


"Kamu nggak bisa lari dariku sayang, siapa yang mau nolongin kamu sekarang? Dimas? jangan harap! dia udah tau kebusukan kamu sekarang, itu semua karena kecerobohan kamu sendiri!" ucap Ivan dengan menindih tubuh Anita dan mengunci pergerakannya, membuat Anita tidak bisa melawan.


Berkali kali Anita mencoba untuk meronta, membuatnya semakin kehilangan tenaganya.


Dengan cepat Ivan mengambil apa saja yang bisa ia gunakan untuk tali. Ia mengikat tangan dan kaki Anita pada rak buku. Sedikit saja Anita meronta, rak buku yang besar dengan bahan kayu jati yang tebal itu akan ambruk dan sudah dipastikan menimpa tubuh Anita.


"Jangan banyak bergerak kalau kamu masih sayang nyawa kamu!" ucap Ivan pada Anita.


"Tenang aja sayang, aku nggak akan nyakitin kamu, kecuali kalau aku tiba tiba bad mood hehe....."


"Ivan aku mohon jangan kayak gini, aku minta maaf, aku janji akan ngelakuin apapun yang kamu mau asal kamu maafin aku," ucap Anita memohon.


"Tanpa aku maafin kamu sekarangpun kamu harus selalu lakuin apapun yang aku mau Anita!" balas Ivan yang kini sibuk dengan ponsel di tangannya.


Ivan lalu mengambil ponsel Anita, meng copy semua kontak yang tersimpan di ponsel Anita. Ia juga bisa mengakses semua akun sosial media Anita melalui laptopnya sekarang.


"Sayang, kamu tau aku mau ngapain?" tanya Ivan pada Anita.


Anita hanya menggeleng, meski ia sebenernya tau apa yang akan Ivan lakukan padanya.


"Oke, aku akan kasih tau kamu!" ucap Ivan sambil berkeliling mencari apa pun yang bisa ia gunakan untuk melancarkan rencananya.


"Ivan aku mohon jangan kayak gini, aku akan lakuin apapun yang kamu mau, tapi jangan kayak gini, aku mohon Ivan," ucap Anita yang tak berhenti memohon pada Ivan.


Ivan lalu menemukan sebuah ikat pinggang kecil milik Anita, lilin dan korek api.


"Oke, ini udah cukup, sekarang waktunya log in," ucap Ivan lalu duduk di sofa dan sibuk dengan ponselnya. Ia lalu menggeser meja dan menaruh laptopnya di meja. Beberapa kali ia memindahkan posisi meja dan laptopnya agar mendapatkan angel yang terbaik yang diinginkannya.


Setelah semua persiapannya selesai, ia sudah bersiap menerima pundi pundi uang dari video yang akan menjadi tontonan banyak "pelanggannya".


Perlahan Ivan mendekati Anita, menyisir rambutnya dan tak lupa ia mengikat rambut Anita seperti biasa.


Kini Anita hanya bisa pasrah, ia tak berani menggerakkan badannya sedikitpun atau rak buku itu akan menimpa badannya.


"Ivan aku mohon jangan kayak gini, aku minta maaf Ivan, aku minta maaf," ucap Anita yang masih mengharapkan belas kasihan Ivan.


"Aku maafin kamu sayang, anggap aja ini bayaran kamu karena kamu udah bohong sama aku!" balas Ivan lalu menyalakan lilin dan mendekatkan api dari lilin itu ke arah Anita.

__ADS_1


Dengan pelan Ivan mendekatkan api kecil itu ke tangan Anita. Membiarkan apinya mengenai kulit putih Anita hingga meninggalkan bekas kemerahan.


__ADS_2