Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Kejadian di Kafe


__ADS_3

Siang itu Anita pergi ke mini market dengan mengenakan topi dan rambut yang digerai. Ia berusaha menutupi memar dan luka di wajahnya meski masih saja terlihat oleh orang lain. Sial baginya karena Andi melihatnya. Ia tidak bisa berlari karena Andi menggenggam tangannya dengan kuat.


"Lepasin Ndi, kamu jangan bikin orang yang liat jadi salah paham!" ucap Anita dengan suara pelan karena ia tidak ingin menarik perhatian orang orang di sekitarnya.


"Jawab aku Nit, siapa yang ngelakuin ini?"


"Ngelakuin apa sih Ndi, aku kemarin jatuh, udah, itu aja!"


"Kamu udah ketemu papa kamu?"


"Belum, aku nggak akan balik ke rumah itu!"


"kalau bukan Pak Sonny yang ngelakuin ini, siapa? jatuh? nggak mungkin," batin Andi dalam hati.


"Anita, jujur sama aku kamu kenapa? siapa yang....."


"Apa peduli kamu Ndi? aku bukan siapa siapa kamu, jadi nggak usah sok peduli kayak gini sama aku!"


"Kamu temenku Nit, Dini, Dimas, kita semua temen, aku......" Andi menghentikan ucapannya karena mendengar Aletta memanggilnya.


"Andi!" panggil Aletta dari mini market.


Andi menoleh ke arah Aletta dan membiarkan Anita berlari pergi. Andi lalu berjalan ke arah Aletta. Mereka duduk di bangku yang tadi di duduki oleh Andi.


"Siapa tadi? temen kamu?" tanya Aletta pada Andi.


"Bukan, itu..... itu tadi... aku salah orang hehe....." jawab Andi berbohong.


"Kok bisa?"


"Iya, aku pikir tetanggaku waktu di rumah, ternyata bukan, mirip banget emang!"


Aletta hanya mengangguk anggukan kepalanya lalu memberikan satu botol air dingin pada Andi.


**


Di apartemen Anita, ia sedang bersama Ivan saat itu. Baru saja ia pulang dari mini market, Ivan sudah datang menemuinya.


"Kamu dari mana?" tanya Ivan pada Anita.


"Dari mini market," jawab Anita singkat.


"Kenapa kamu nggak minta tolong aku aja sih? aku bisa beliin semua yang kamu butuhin!"


"Aku bisa beli sendiri!"


"Gimana luka kamu? masih sakit?"


Anita mengangguk.


"Kamu marah sama aku?"


"Apa aku boleh marah?" balas Anita balik bertanya.


"Anita, aku minta maaf, aku cuma nggak suka kamu ngelawan aku, harusnya kamu turuti aja apa yang aku mau jadi aku nggak akan kasar sama kamu," ucap Ivan dengan menggenggam tangan Anita.


Anita hanya diam. Sikap Ivan yang selalu berubah ubah membuatnya bingung. Ia bisa menjadi sosok yang periang dan menyebalkan, kadang menjadi sosok yang penyayang dan lemah lembut lalu kadang menjadi sosok yang kasar dan menakutkan.


"Sekarang kasih tau aku apa yang harus aku lakuin?" tanya Ivan pada Anita.


"Aku nggak tau, aku nggak bisa mikir apa apa," jawab Anita dengan menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Oke kalau gitu biarin aku yang lakuin sesuatu buat kamu!"


"Kamu mau ngapain?"


"Main main dikit hehe....."


"Maksud kamu?"


"Nanti kamu akan tau sendiri, sebenarnya apa sih yang bikin kamu terobsesi banget sama Dimas?"


"Dia seseorang yang pertama kali tulus sama aku, perhatian dan kepeduliannya dia tulus nggak kayak temen temenku yang lain, buat pertama kalinya aku ngerasa disayangi dan dicintai walaupun aku tau kalau ternyata dia cuma anggap aku temen," jelas Anita.


"Kenapa kamu masih ngejar dia kalau kamu tau dia cuma anggap kamu temen?"


"Karena aku tau kalau aku masih punya harapan, berkali kali dia pergi tapi dia tetep kembali, kamu tau kenapa? karena air mataku, dia bener bener bodoh soal itu, dia selalu luluh sama air mataku," jawab Anita.


"Kalau kamu udah sama Dimas, apa kamu yakin kalau kamu akan bahagia? apa kamu yakin dia masa depan yang baik buat kamu?"


"Aku yakin, dia cowok yang paling sempurna yang pernah aku temui," jawab Anita penuh keyakinan.


**


Di tempat kos, Dini dan Dimas sedang mengerjakan tugas kuliah mereka. Sesekali mereka bercanda dan tertawa.


"Besok mau liburan kemana sayang?" tanya Dimas pada Dini.


"Belum kepikiran, kamu mau kemana?"


"Kemana aja asal sama kamu," jawab Dimas dengan mengedipkan sebelah matanya.


Tak lama kemudian Andi dan Aletta datang.


"Gue mau pergi sama Aletta, kalian mau ikut?" ucap Andi sekaligus bertanya pada Dimas dan Dini.


"Kemana?" tanya Dini.


"Ke pasar malam, ikut nggak?"


"Lo gila? ini masih siang Ndi, mana ada pasar malam buka jam segini?" tanya Dimas keheranan.


"Ya udah kalau nggak mau ikut, kita berdua aja Ta!" balas Andi lalu pergi meninggalkan Dimas dan Dini.


Aletta hanya mengangguk lalu segera masuk ke kamarnya. Setelah selesai bersiap siap, Andi dan Aletta segera berangkat.

__ADS_1


"Nggak bawa mobil?" tanya Dimas.


"Enggak, jalan kaki lebih romantis," jawab Andi dengan menggandeng tangan Aletta lalu meninggalkan Dini dan Dimas.


Dini dan Dimas hanya saling pandang melihat Aletta dan Andi pergi.


"Sejak kapan dia jadi cowok romantis?" tanya Dimas pada Dini.


Dini hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.


Andi dan Aletta tentu saja tidak berjalan kaki, karena perjalanan ke tempat yang akan mereka tuju cukup jauh. Mereka juga tidak mungkin menaiki bus, karena bagi Aletta sudah cukup sekali saja ia merasakan bagaimana "indah"nya suasana di dalam bus.


Andi dan Aletta pergi ke pasar malam dengan memesan taksi online. Sesampainya di sana tentu saja masih sangat sepi dan panas. Mereka segera berlari ke tempat favorit mereka, sebuah pohon rindang yang berada di tengah tengah tanah lapang.


"Kamu kenapa ngajak ke sini lagi?" tanya Aletta pada Andi.


"Sini tangan kamu!"


"Tangan?" tanya Aletta tak mengerti.


Andi lalu menarik tangan kiri Aletta dan memakaikan sebuah gelang karet dengan gantungan berbentuk tengkorak kecil.


"Kita samaan!" ucap Andi dengan memamerkan gelang yang sama di tangan kirinya.


"Ini kan gelang yang kemarin aku kasih liat kamu?"


"Iya, suka?"


"Suka, makasih ya!"


Andi hanya tersenyum dan mengacak acak pelan rambut Aletta. Mereka lalu bersandar di pohon yang rindang itu. Andi membawa kepala Aletta agar bersandar di bahunya dan menggenggam tangan Aletta.


Dalam hatinya, ia merindukan suasana seperti itu. Jauh di lubuk hatinya ia merindukan sahabat yang dicintainya. Waktu berjalan seperti sangat cepat baginya. Semakin lama semakin cepat, membuatnya harus benar benar merelakan Dini bersama Dimas selamanya, ya selamanya.


"Ndi, apa kamu bahagia?" tanya Aletta pada Andi.


"Kenapa kamu tanya itu?"


"Nggak tau, aku di sini sama kamu tapi rasanya kamu nggak ada di sini, apa yang kamu sembunyiin dari aku Ndi?"


"aku sengaja bawa kamu ke sini karena aku nggak mau liat Dini sama Dimas Ta dan aku nggak mungkin jawab jujur pertanyaan kamu itu kan?"


"Apa kamu nggak bahagia di sini sama aku?" balas Andi balik bertanya.


Aletta menggeleng.


"Aku bahagia, dimanapun asal sama kamu aku bahagia," jawab Aletta.


"Kenapa kamu jadi romantis kayak Dimas gini?"


"Ketularan hehe...."


"Jangan deket deket Dimas lagi kalau gitu!"


"Kenapa? kamu cemburu?"


"Itu artinya kamu sayang sama aku," jawab Aletta.


Andi hanya tersenyum dan tak mengucapkan apapun.


"sayang? iya aku sayang sama kamu, tapi aku belum bisa cinta sama kamu, maafin aku Ta," ucap Andi dalam hati.


"Kita mau di sini sampe' malem?" tanya Aletta.


"Sampe' pagi aja sekalian, kamu kan maunya gitu!"


"Haha.... ya jangan dong ntar kita digrebek warga gimana?"


"Kita di bawa ke KUA, kamu mau?"


"Mau mau mau!" jawab Aletta antusias.


"Di suruh bersih bersih KUA haha....."


"Yeeee, kirain mau dinikahin!"


"Berharap banget ya?"


"Enggak."


"Iya, keliatan dari wajah kamu!"


"Enggak Ndi, enggaaaaak!"


"Iya Ta, iyaaaa...."


Pada akhirnya Andi dan Aletta menghabiskan siang mereka di tempat yang sama seperti hari kemarin.


**


Di tempat lain, Dimas masih bersama Dini sampai hari sudah menjelang petang.


Biiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dimas berdering, Toni memanggil.


"Halo Ton, ada apa?"


"Ada masalah bos di kafe," jawab Toni yang terdengar panik.


"Ada apa Ton? masalah apa?"


"Ada customer yang keracunan bos, gue nggak tau kenapa tapi mereka salahin kafe dan nuduh kafe yang sengaja ngasih racun ke minumannya, mereka marah marah dan....."


BRAAAKKK

__ADS_1


Terdengar suara gebrakan meja atau sejenisnya dari tempat Toni berada dan sambungan terputus tiba tiba.


"Ada apa Dim?" tanya Dini yang melihat wajah Dimas tampak menegang.


"Aku harus ke kafe sayang," jawab Dimas sambil mengemasi barang barangnya dan memasukkannya ke dalam tas.


"Aku ikut!"


"Enggak, kamu nggak bisa ikut dan kayaknya besok kita nggak jadi liburan dulu, nggak papa kan?"


"Nggak papa, tapi aku ikut kamu sekarang ya!"


"Enggak sayang, kamu nggak bisa ikut, lain kali aja ya, aku harus pergi sekarang!" ucap Dimas lalu segera meninggalkan kamar Dini.


Dini masih berdiri terpaku di tempatnya. Ia memikirkan masalah apa yang sedang terjadi di kafe Dimas sampai Dimas pergi dengan sangat terburu buru dan tak sempat memeluk atau mencium keningnya seperti biasa.


Dini terduduk lesu di kamarnya.


"sebesar apa masalah kamu di kafe Dim, sampe' kamu lupa......"


Dini menghentikan ucapannya dalam hati, ia mendengar suara langkah kaki yang berlari ke arahnya. Ya, itu adalah Dimas. Dini segera berdiri dan Dimas dengan cepat memeluknya lalu mencium keningnya seperti biasa.


"Maaf sayang," ucap Dimas lalu kembali pergi meninggalkan Dini.


Dini hanya tersenyum tipis dan membiarkan Dimas pergi. Ia hanya berharap Dimas akan baik baik saja dan masalahnya akan cepat selesai.


Dimas melajukan mobilnya ke arah kafe dengan kecepatan maksimal. Sejauh yang ia tau, selama ini tidak pernah ada masalah di kafe selain ketika Yoga koma di rumah sakit. Komplain komplain kecil wajar ia terima tapi jika sampai ada kekerasan yang terjadi ia tidak akan terima terlebih jika yang terjadi sebenarnya hanyalah sebuah fitnah.


Dimas sampai di kafe dan memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu kafe. Kafe tampak sepi dan lampu sudah padam, pertanda Toni sengaja menutup kafe lebih awal.


Dimas masuk ke dalam kafenya dan mendapati kafenya seperti kapal pecah. Bangku bangku berserakan dan rusak, pajangan dinding dan berbagai aksesoris kafe di rusak dengan brutal oleh seseorang.


"Sorry bos, gue nggak bisa jaga kafe dengan baik, gue...."


"Lo nggak papa Ton? ada yang luka? Tiara gimana? anak anak yang lain gimana? kalian baik baik aja kan?" tanya Dimas mengkhawatirkan Toni dan para pegawainya.


"Kita baik baik aja bos, tapi Tiara pingsan karena ketakutan, dia di ruang pegawai sekarang sama anak anak yang lain," jawab Toni.


"Syukurlah kalau gitu, inget ya Ton kalau ada apa apa yang terpenting keselamatan kalian, nggak usah peduliin kafe lagi kalau emang nyawa kalian terancam, oke?"


"Siap bos, tapi...."


"Gue mau liat keadaan Tiara dulu!"


Toni mengangguk. Mereka lalu pergi ke ruang pegawai dan mendapati Tiara yang baru saja tersadar dari pingsannya.


"Kalian semua boleh pulang, kalau ada yang luka kalian hubungi saya aja akan saya ganti biaya pengobatannya," ucap Dimas pada dua pegawai laki lakinya.


"Baik Pak, terima kasih," jawab dua pegawai Dimas.


Mereka lalu meninggalkan kafe. Sekarang hanya ada Dimas, Toni dan Tiara di kafe.


"Kamu nggak papa Ra?" tanya Dimas pada Tiara.


"Nggak papa mas, tapi mas Toni tangannya luka," jawab Tiara.


Dimas lalu menoleh ke arah Toni yang berdiri di belakangnya. Dimas lalu segera menghubungi Dokter Aziz. Tak lupa ia memberi tahu Dokter Aziz jika itu adalah panggilan rahasia dan sudah dipastikan Dokter Aziz tidak boleh memberi tahu pada papa dan mama Dimas tentang apa yang terjadi di kafe.


"Gue nggak papa bos, cuma luka kecil, gue....."


"Jangan bantah Ton, jangan bikin gue marah!" ucap Dimas yang terdengar begitu dingin.


"Maaf bos," balas Toni yang merasa bersalah.


Dimas lalu duduk di lantai dan mengacak acak rambutnya kasar.


"Pak satpam kemana Ton? tadi gue liat nggak ada!"


"Pak satpam di rumah sakit bos, waktu gue samperin tadi dia udah pingsan, jadi gue minta anak anak bawa dia ke rumah sakit," jelas Toni.


"Sorry gue baru bilang, gue bener bener bingung harus cerita dari mana," lanjut Toni.


"CCTV gimana?"


"Waktu mereka dateng rame rame, mereka maksa gue buat hapus rekaman CCTV yang nunjukin wajah mereka, mereka juga maksa gue buat matiin CCTV," jawab Toni.


"Ceritain dari awal kejadiannya Ton biar gue ngerti," pinta Dimas.


"Tadi siang ada 3 orang cowok dateng, mereka duduk di blind spot nya CCTV, jadi CCTV nggak bisa nangkep apa yang mereka lakuin, tiba tiba salah satu dari mereka kejang kejang dan mulutnya berbusa, gue langsung inisiatif buat panggil ambulans tapi si temennya ngelarang gue dan maksa bawa temennya itu pulang, sebelum mereka pergi salah satu dari mereka minta customer yang lain buat jagain minuman bekas cowok tadi biar nggak gue buang karena mereka bakalan dateng lagi buat buktiin kalau temen mereka emang keracunan minuman kafe," jelas Toni.


"Jadi mereka bawa pulang temennya sendiri?"


"Iya bos, nggak lama kemudian mereka dateng lagi sambil bawa kucing, mereka kasih kucing itu minuman bekas cowok tadi terus kejadiannya sama, kucing itu kejang kejang dan mulutnya berbusa, customer lain langsung pada keluar semua ninggalin kafe."


"Lo masih simpen sisa minuman itu?"


"Ada bos, gue masih simpen," jawab Toni.


"Masukin botol Ton, besok gue akan cari tau sendiri," ucap Dimas pada Toni.


"Siap bos."


"Berapa orang yang dateng ngerusak kafe?"


"Kayaknya ada lebih dari 5 orang bos, mereka dateng waktu customer lain udah pergi, mereka langsung hancurin kafe, beberapa dari mereka nahan gue sama yang lainnya biar nggak ngelawan," jelas Toni.


"Mereka nggak minta ganti rugi?"


"Enggak, mereka cuma bilang mau posting kejadian tadi di sosial media dan mereka pastiin kalau kafe ini bakalan tutup," jawab Toni.


Dimas hanya tersenyum tipis mendengar penjelasan Toni. Ia yakin ada seseorang di balik semua itu. Ia tidak tau siapa, tapi ia yakin semua itu sudah di rencanakan oleh seseorang.


"Bikin laporan sedetail mungkin tentang kejadian hari ini Ton, kalau perlu lo tanya Tiara sama anak anak yang lain juga, gue mau yang bener bener detail, nggak peduli berapa lembar gue akan pelajari semuanya, gue tunggu besok siang!"


"Baik bos," jawab Toni.

__ADS_1


Tak lama kemudian Dokter Aziz datang dan memeriksa keadaan Toni lalu mengobatinya.


__ADS_2