Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Seperti Tersambar Petir


__ADS_3

Degup jantung yang semakin kencang membuat Anita luluh di hadapan Andi. Ia tak mampu berkata-kata lagi, begitu juga Andi. Waktu seperti berhenti saat itu, membiarkan Anita dan Andi saling memandang dengan begitu dekat.


"Andiiii!" panggil ibu Andi dari dalam rumah.


Suara teriakan ibu Andi membuat mereka segera tersadar. Andi membantu Anita berdiri dan segera masuk ke dalam rumah.


"Aku masuk bentar ya Nit!"


"Iiii... iii iya," jawab Anita gugup.


Ia takut kalau ibu Andi melihat kejadian tadi dan salah paham.


Tak lama kemudian Andi keluar.


"Ayo naik!"


"Mmm, ibu kamu nggak liat yang tadi kan?" tanya Anita pelan.


"Enggak kok, santai aja."


Anitapun bernapas lega. Ia segera naik ke motor butut milik ayah Andi.


Di sisi lain, Dini yang sempat tertidurpun bangun ketika mendengar ibunya pulang.


"Baru pulang Bu?" tanya Dini sambil membawakan segelas air minum untuk ibunya.


"Iya sayang, kamu belum tidur?"


"Belum Bu, Dini nunggu ibu," jawab Dini sambil memijit pundak ibunya.


"Sini sayang, duduk di depan ibu, ibu mau bilang sesuatu."


"Ada apa bu?"


"Ibu dapat tawaran kerja baru sayang, gajinya lebih besar bisa buat beli kebutuhan sekolah kamu."


"Dimana Bu?"


"Di rumah saudara Bu Joko, di kota X."


"Itu kan jauh banget Bu."


"Iya, ibu akan tinggal disana, kamu nggak perlu khawatir uang saku kamu ibu titipin Bu Joko, nanti setiap sebulan sekali Bu Joko pasti ngasih kamu."


"Bukan Bu, bukan soal uang saku, ibu mau ninggalin Dini sendirian disini?"


"Ibu nggak ada pilihan lain sayang, ibu lakuin ini buat masa depan kamu."


"Masa depan apa Bu? masa depan apa yang bisa Dini raih kalau nggak ada ibu disini?"

__ADS_1


"Dini, kamu kebanggaan ibu satu-satunya, ibu nggak mau kamu susah kayak ibu, ibu akan lakuin apapun untuk masa depan kamu."


"Dini nggak mau sendirian Bu," ucap Dini yang mulai menangis.


"Ibu minta maaf sayang, tapi ini yang terbaik buat kita, ibu harap kamu ngerti ya."


Dini masuk ke kamarnya, menenggelamkan kepalanya di bantal dan menangis sejadi-jadinya. Malam ini terasa begitu kelam bagi Dini. Bagaimana mungkin ia bisa menjalani hari-hari tanpa ada ibunya disampingnya.


Berkali-kali ia mengutuk keadaannya.


"kenapa ini harus terjadi? kenapa hidupku terasa begitu susah? kalau saja aku berasal dari keluarga kaya, mungkin aku tak akan sesusah ini, aku tak akan dihadapkan pada pilihan sulit yang memaksaku untuk memilih apa yang ku benci, aku benci harus berpisah dengan ibu, aku benci harus jauh dari ibu, aku benci menjalani hari-hari ku tanpa ibu."


Malam itu, Dini berniat untuk pergi ke bukit seorang diri. Ia keluar dari rumah dan berjalan pelan ke arah bukit. Pikirannya kosong, sesak terasa menghimpit dadanya.


Andi yang baru pulang dari mengantar Anita, melihat Dini berjalan sendirian ke arah bukit. Andi segera menyusul Dini. Tapi tiba-tiba HP nya berdering


"Anita."


"Halo, ada apa Nit?"


"Kamu udah nyampe' rumah?"


"Udah kok, kamu belum tidur?"


"Belum, aku nggak bisa tidur."


"Ya udah," jawab Anita singkat.


Tentu saja Andi tau kalau Anita merasa kesal, tapi apa mau dikata, Dini lebih membutuhkannya saat ini.


Ia tak mau menyesal untuk yang kedua kalinya karena membiarkan Dini sendirian.


"Diiiiin!" panggil Andi dengan setengah berteriak.


Namun Dini tak menjawab, menoleh pun tidak. Ia hanya berdiri mematung di puncak bukit.


Dengan napas terengah-engah Andi mendekati Dini.


"Din, kamu ngapain malem-malem kesini?"


Dini menoleh dengan air mata yang tak mampu ia tahan lagi. Melihat Dini menangis, Andi langsung memeluknya membuat Dini semakin menangis sejadi-jadinya. Ia tumpahkan semua rasa yang menyesakkan baginya.


"Ada apa Din?" tanya Andi tanpa melepaskan pelukannya.


Dini masih tak menjawab, ia hanya menangis sampai matanya terlihat merah karena terlalu lama menangis.


Andi membiarkan Dini meluapkan semua kesedihannya meski ia tak tahu apa yang sedang terjadi pada sahabat yang dicintainya itu. Hati Andi seperti teriris melihat Dini yang begitu rapuh.


Ia semakin erat memeluk Dini. Ia semakin tak ingin kehilangan Dini. Ia tidak peduli lagi pada perasaannya. Ia hanya ingin melihat Dini bahagia, meski bukan bersamanya. Setidaknya ia masih bisa menjadi sahabat Dini, masih bisa mendengar semua keluh kesahnya.

__ADS_1


Dini mendongakkan kepalanya menatap Andi. Andi hanya diam menatap Dini, tak berbicara sepatahkata pun.


"Aku harus gimana Ndi? aku harus gimana?" tanya Dini dengan suara parau.


Ia semakin menangis hingga tubuhnya bergetar.


Andi masih memeluknya, mengusap lembut rambutnya.


"Aku disini Din, aku disini buat kamu," ucap Andi pelan.


Setelah Dini mulai tenang, ia menceritakan tentang ibunya pada Andi.


"Ibu kamu juga pasti berat ninggalin kamu Din, tapi mungkin ini yang terbaik untuk saat ini," ucap Andi sambil mengusap air mata Dini.


Merekapun duduk berdampingan seperti biasa. Dini menyandarkan kepalanya di bahu Andi.


"Apa aku harus berhenti sekolah Ndi? biar ibu nggak perlu cari uang lebih banyak lagi buat aku."


"Enggak Din, aku yakin ibu kamu nggak akan setuju."


"Apa aku nanti bisa kuliah Ndi? sekolah SMA aja ibu harus ninggalin aku, gimana kalau aku kuliah nanti?"


"Kamu kan bisa dapat beasiswa Din, aku yakin kamu bisa."


"Sekarang juga aku dapat beasiswa Ndi, tapi tetep aja ada kebutuhan lain yang pke' uang sendiri."


"Kamu kan bisa kuliah sambil kerja Din, kalau ibu kamu ngizinin."


"Entahlah Ndi, aku udah nggak ada semangat lagi, aku kecewa sama takdir hidup ku aku benci sama keadaan ini."


"Jangan bilang gitu Din, aku tau gimana perasaan kamu, kamu harus tetap semangat buat kejar mimpi kamu, jadiin ini sebagai motivasi biar kamu semakin gigih perjuangin mimpi kamu, inget Din ibu kamu memilih pilihan yang sulit ini demi kamu, kamu nggak boleh kecewain ibu kamu, kamu harus kuat harus tegar demi ibu kamu."


"Kamu bener Ndi, aku nggak boleh kecewain ibu, aku harus kuat demi ibu," ucap Dini dengan tersenyum tipis.


Dini menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya, membuang semua kepenatan hatinya. Ia sadar, ia tak boleh lemah. Ia harus berani berperang dengan keadaan yang menyulitkan baginya karena ia yakin akan ada istana megah yang menunggunya ketika ia menang dari peperangan itu.


"Kamu inget mimpi kamu kan Din?" tanya Andi tiba-tiba.


"Inget, kenapa?"


"Kalau aku jadi kamu, aku mau nikah sama orang kaya yang tua aja," jawab Andi.


"Kenapa gitu?"


"Kan enak kalau sama orang yang udah tua, cepat dapat warisan hahaha....."


"Ngaco kamu Ndi!"


Merekapun tertawa.

__ADS_1


__ADS_2