Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Minggu Kelabu (2)


__ADS_3

Yoga dan beberapa pegawai kafe kini berada di kantor polisi. Mereka menunggu kedatangan pengacara yang akan membantu Yoga dalam menyelesaikan kasusnya. Entah kenapa ia tidak bisa menemukan titik terang dari kejadian di kafe itu. Meski ia sangat yakin jika dalang dari semua itu adalah Ivan, tapi ia sama sekali tak menemukan petunjuk yang mengarah pada Ivan.


"Pak, ini pasti fitnah, pasti ada yang sengaja ngelakuin ini," ucap Tari pada Yoga.


"Apa selama ini nggak ada hal hal yang mencurigakan di kafe?" tanya Yoga.


"Setau saya nggak ada pak, bahan bahan di pantry juga selalu bagus, saya sendiri yang pastiin!"


"Siapa aja yang bertanggung jawab sama bahan bahan di pantry selain kamu?"


"Bagas sama Putri pak, mereka yang ambil bahan dari penyimpanan pusat dan saya selalu cek ulang bahan bahan yang mereka bawa," jawab Tari.


"Kamu tau masalah kayak gini pernah terjadi di kafe pusat dan pelakunya orang dalam sendiri, saya minta kamu kasih tau saya apa yang kamu tau sebelum saya tau semuanya sendiri!"


"Saya bener bener nggak tau apa apa Pak, buat apa saya ngelakuin hal itu kalau pada akhirnya saya ikut di penjara juga!"


"Saya nggak nuduh kamu Tari!"


"Iya pak, maaf," balas Tari dengan menundukkan kepalanya.


Yoga lalu meninggalkan Tari dan menghubungi seseorang. Ia meminta seseorang untuk menyelidiki Tari, Bagas dan Putri.


"Cepet kabarin gue sebelum gue bener bener masuk penjara!" ucap Yoga pada seseorang melalui sambungan ponselnya.


Yoga kembali berkumpul dengan para pegawai kafe. Tiba tiba ponselnya berdering. Panggilan dari Sintia.


"Halo, ada apa Sin?"


"Kakak dimana? Sintia kecelakaan kak!"


"Kecelakaan? kamu dimana sekarang? kamu baik baik aja kan?"


"Sintia di daerah X, Sintia baik baik aja kak, tapi Sintia takut, Sintia nabrak orang kak," jawab Sintia dengan terisak.


"apa lagi ini? ulah Ivan juga? apa mama Dimas di rumah sakit juga karena Ivan?" batin Yoga bertanya tanya.


"Kakak akan minta Dimas ke sana sekarang, kamu tenang ya!"


"Kenapa bukan kak Yoga yang ke sini?"


"Maafin kakak Sintia, kakak bener bener nggak bisa kesana sekarang, kamu tunggu Dimas ya!"


"Kak Yoga jahat, kakak udah nggak sayang lagi sama Sintia, kakak jahaaattt!"


Klik, sambungan terputus. Yoga lalu menghubungi Sintia namun tak bisa, entah ia diblokir atau Sintia menonaktifkan ponselnya.


"maafin kakak Sintia, kakak nggak mungkin bilang sama kamu yang sebenernya," ucap Yoga dalam hati. Ia lalu menghubungi Dimas, berharap Dimas mau membantu Sintia.


"Halo Ga, ada apa? gimana kafe?" tanya Dimas.


"Dim, gue mau minta tolong sama lo, lo bisa keluar dari rumah sakit sekarang?"


"Bisa, ada papa yang nemenin mama, ada apa?"


"Sintia kecelakaan Dim, dia di daerah X, gue nggak bisa ke sana sekarang karena gue sama anak anak lagu di tahan di kantor polisi!"


"Sintia kecelakaan? lo sama anak anak di tahan di kantor polisi? aaarrgghhh apa lagi ini, lo bisa tanganin kafe Ga? gue bakalan minta papa buat kirim pengacara ke sana!"


"Bisa Dim, gue juga udah hubungin pengacara gue, gue minta tolong lo bantuin Sintia, dia di daerah X sekarang!"


"Oke, gue kesana sekarang!"


Klik, sambungan selesai.


"Pa, Dimas minta tolong Pa, Yoga sama pegawai Dimas yang lain di kantor polisi sekarang dan Sintia kecelakaan di daerah X, Dimas....."


"Kamu cari Sintia, papa yang akan bantuin Yoga!"


"Terima kasih banyak Pa, Dimas pergi dulu!"


Dimas lalu segera meninggalkan rumah sakit menuju ke daerah yang Yoga sebutkan. Ia lalu menghubungi Sintia, untuk menanyakan keberadaannya.


"Kamu dimana Sin?"


"Sintia di kantor polisi kak," jawab Sintia dengan terisak.


"Di kantor polisi? kakak ke sana sekarang, kamu tunggu!"


Dimas lalu melajukan mobilnya ke arah kantor polisi. Pikirannya benar benar kacau saat itu. Mamanya yang masih belum sadarkan diri di rumah sakit, kafenya yang sedang bermasalah, Yoga dan para pegawainya yang di tahan polisi dan sekarang Sintia yang mengalami kecelakaan dan berada di kantor polisi juga.


Setelah Dimas pergi, Pak Tama segera menghubungi pengacaranya untuk membantu Yoga. Ia juga menghubungi satpam di rumahnya untuk mengecek CCTV dan meminta rekaman CCTV ketika kurir yang mengantar kue tadi pagi datang. Pak Tama juga menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di kafe Dimas.


Biiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel papa Dimas berdering, panggilan dari pak satpam.


"Maaf pak, kurir yang tadi mengantar kue tidak terekam di kamera CCTV, sepertinya dia berada di blind spot nya CCTV pak," ucap pak satpam.

__ADS_1


"Coba cek rekaman CCTV yang di sudut taman depan pak, barangkali terlihat plat nomor kendaraannya!"


"Baik pak, sebentar!"


Pak satpam pun melakukan perintah papa Dimas, namun nihil, tak ada jejak yang ditinggalkan oleh sang kurir itu sedikitpun.


Pak Tama lalu menghubungi telepon rumah dan diangkat oleh sang ART.


"Bi, tolong periksa kotak kue di tempat sampah dong, ada nama toko kuenya nggak ya?"


"Baik pak, saya cek sebentar."


Setelah mengeceknya, sang ART segera melaporkannya pada sang majikan.


"Nggak ada tulisan apa apa di kotak kue nya pak."


"Baik Bi, terima kasih!"


"Sama sama pak."


Pak Tama menghembuskan napasnya kasar. Ia sudah bisa menduga siapa dalang di balik semua kekacauan itu, namun ia belum bisa menemukan bukti yang kuat.


Biiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel papa Dimas kembali berdering, kali ini panggilan dari sang asisten.


"Maaf pak, klien kita dari luar negeri membatalkan meeting secara sepihak," ucap sang asisten.


"Dibatalkan? kenapa? apa karena jadwalnya yang nggak cocok?"


"Bukan pak, mmmm.... maaf sebelumnya pak, berita tentang kafe anak bapak sudah tersebar di internet dan itu berpengaruh sama klien yang akan menandatangani kontrak kerja sama, 90% dari mereka membatalkan kontrak kerja sama yang besok akan ditandatangani pak," jelas sang asisten membuat papa Dimas menggeleng tak percaya.


"Baiklah kalau begitu, saya akan coba bicarakan lagi dengan mereka, kabari saya kalau ada hal hal yang penting!"


"Baik pak!"


"Ivan? saya nggak pernah nyangka kamu akan ngelakuin hal ini, kalau bukan karena kamu anak dari teman baik saya, kamu pasti sudah membusuk di penjara karena semua video video yang kamu sebar!"


**


Di kantor polisi, Dimas baru saja sampai dan segera mendatangi Sintia.


"Ada apa Sin? kamu baik baik aja?"


"Sintia takut kak, Sintia takut," jawab Sintia dengan memeluk Dimas.


"Iya pak, saya kakaknya," jawab Dimas.


"Adik kamu mengemudi dengan keadaan mabuk dan menabrak pedagang asongan, beruntung pedagang asongan itu hanya mengalami luka luka," jelas pak polisi.


"Mabuk? kamu mabuk Sin?" tanya Dimas pada Sintia.


"Enggak kak, Sintia beneran nggak tau kenapa di mobil Sintia ada barang itu, tapi Sintia bener bener nggak minum minuman itu kak, kakak percaya kan sama Sintia?"


"Kami menemukan 2 botol minuman keras di dalam mobil adik kamu, satu botol kosong dan satu botol lagi tinggal setengah, entah kapan dia mengkonsumsi minuman itu, dia tidak mau mengakuinya, tapi yang jelas, akibat dari minum minuman keras itu dia membahayakan nyawa orang lain."


"Kenapa kamu bisa nabrak orang itu Sin?" tanya Dimas pada Sintia.


"Sintia nggak sengaja kak, dia berdiri di pinggir jalan dan waktu Sintia lewat dia tiba tiba turun ke jalan dan Sintia nggak bisa menghindar," jelas Sintia.


"itu karena dia sengaja nunggu kamu Sintia," batin Dimas dalam hati.


"Apa kamu mau bilang kalau dia sengaja menabrakkan dirinya di jalan raya? kalau dia memang sengaja, dia pasti minta uang kompensasi, tapi dia malah menolak dan meminta agar kamu diadili di meja hijau," sahut pak polisi.


"Saya bisa bertemu orangnya pak?" tanya Dimas.


"Dia ada di rumah sakit X, karena lukanya yang tidak terlalu serius, saya harap kalian bisa menyelesaikannya secara kekeluargaan, tapi jika dia meminta saya untuk melanjutkan kasus ini maka saya mengikuti permintaannya," jawab pak polisi.


"Baik pak, tolong jaga adik saya dengan baik, bapak bisa tangkap saya kalau dia berulah lagi," ucap Dimas sambil memberikan kartu identitasnya pada pak polisi.


"Dimas Radhitya Adhitama? dia anak dari Pak Adhitama? pemilik perusahaan besar itu?" tanya pak polisi pada Sintia.


"Iya, makanya kalau bapak salah nuduh siap siap aja bapak bakalan keluar dari kantor polisi ini selamanya," jawab Sintia dengan mengancam.


"Tapi kamu bukan adiknya kan? Pak Tama cuma punya satu anak dan itu Dimas, jadi kamu ini siapa?"


"Bapak nggak usah kepo deh!"


**


Di rumah sakit X, Dimas menemui pedagang asongan yang ditabrak oleh Sintia.


"Gue Dimas, kakak dari cewek yang tadi nabrak lo!" ucap Dimas pada laki laki yang tampak seumuran dengannya.


"Lo mau apa kesini? lo mau kasih gue duit kompensasi? gue nggak butuh, gue mau dia dipenjara karena perbuatannya!"


"Berapa yang lo dapet?" tanya Dimas tanpa basa basi.

__ADS_1


"Maksud lo apa?"


"Nggak usah banyak omong, cabut tuntutan lo dan gue bakalan kasih 3 kali lipat dari yang dia kasih buat lo!"


"Haha... lo ngomong apa sih, gue nggak ngerti!"


"Gue bener bener nggak punya banyak waktu, berapa?" tanya Dimas sambil membuka tasnya dan mengambil satu lembar cek kosong.


"Gue cuma di suruh, tolong jangan penjarain gue," ucap si pedagang asongan.


"Masalah gue bukan sama lo, jadi gue minta lo cabut tuntutan lo dan gue akan kasih apa yang udah gue janjiin, setelah ini lo bisa pergi jauh dan jangan pernah lagi berurusan sama gue ataupun orang orang terdekat gue!"


"Oke, gue akan cabut tuntutan gue!"


Dimas lalu membawa pedagang asongan itu ke kantor polisi setelah ia memberikannya cek dengan nominal uang yang cukup besar.


Setelah Sintia terbebas dari tuntutan itu, Dimas membawa Sintia pulang ke rumah. Sedangkan pedagang asongan itu hanya bisa menahan kekesalannya karena Dimas menipunya. Cek yang ia terima dari Dimas ternyata bukanlah cek sungguhan, dan di baliknya terdapat tulisan yang membuatnya semakin kesal karena tak bisa berbuat apa apa lagi.


Lo bebasin adik gue dan gue nggak akan serahin rekaman percakapan kita tadi ke polisi, impas kan? gue yakin lo nggak mau di tangkap karena terbukti melakukan kejahatan berencana karena lo tau Ivan nggak akan mungkin bantuin lo!


Sesampainya di rumah, Dimas meminta Sintia untuk tidak keluar kemanapun. Ia juga meminta pak satpam untuk lebih waspada dan tidak memperbolehkan siapapun masuk kecuali mama, papa dan dirinya sendiri.


"Kak, kakak tau kak Yoga kemana?" tanya Sintia pada Dimas sebelum Dimas pergi.


"Dia lagi ada masalah, dia nggak mau kamu khawatir makanya dia nggak ngasih tau kamu, jadi kamu tunggu di sini dan do'ain masalah Yoga cepet selesai, oke?"


Sintia mengangguk lalu masuk ke kamarnya.


Dimas kemudian meninggalkan rumahnya dan mengemudikan mobilnya ke arah kantor polisi tempat Yoga ditahan. Di sekitar rumahnya ia melihat beberapa orang yang ia kenal, ya mereka adalah orang orang suruhan sang papa untuk menjaga keamanan rumah mereka.


Sesampainya Dimas di kantor polisi ia segera menemui Yoga.


"Apa yang sebenernya terjadi Ga?" tanya Dimas pada Yoga.


Yoga hanya menggeleng sebagai isyarat jika ia tidak bisa menceritakan detail masalahnya pada Dimas saat itu.


"Ada 3 pengacara yang bakalan dampingin gue, lo tenang aja!" ucap Yoga pada Dimas.


"Thanks Ga, gue bakalan usahain buat lo cepet keluar dari sini!"


"Harus, gue nggak mau Sintia makin marah sama gue!"


"Sialan lo, lagi kayak gini malah mikirin cewek!"


"Hahaha..... itu penyemangat gue Dim, Sintia baik baik aja kan?"


"Dia baik baik aja, kalian itu terlalu sehati, lo di kantor polisi, Sintai juga di kantor polisi!"


"Dia di kantor polisi? kenapa?"


Dimas hanya tersenyum tipis yang langsung dimengerti oleh Yoga.


"Lo tenang aja, udah gue beresin kok, dia di rumah sekarang!"


"Syukurlah, thanks banget ya Dim!"


Dimas mengangguk. Dimas dan Yoga belum tau jika masalah yang terjadi di kafe juga berdampak pada perusahaan papa Dimas.


"Lo harus cerita sama om Tama Dim, Ivan beneran nggak main main kali ini!"


"Iya Ga, gue mau ke rumah sakit dulu ketemu papa!"


"Oke Dim!"


Dimas lalu mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit tempat mamanya di rawat.


"Gimana keadaan mama pa?" tanya Dimas pada papanya.


"Seperti yang kamu lihat, mama kamu belum sadar," jawab papa Dimas yang tampak bersedih.


"Pa, ada yang mau Dimas tanyain sama papa," ucap Dimas serius.


"Kamu mau tanya apa?"


"Papa kenal Agung Purnomo? pegawai papa yang meninggal beberapa tahun yang lalu!"


"Iya, dia teman baik papa, apa kamu udah tau semuanya Dim?"


"Maksud papa?"


"Ada kesalahpahaman yang belum lurus antara papa dan anak teman papa itu, papa baru tau kalau kesalahpahaman itu bikin dia dendam sama papa sampe' sekarang," jawab papa Dimas.


"Dimas nggak ngerti Pa!"


"Apa yang kamu baca di datanya Ivan, itu adalah kesalahpahaman yang papa maksud, papa akan cerita semuanya lain waktu, sekarang papa harus ke kantor, ada masalah yang harus cepet papa selesaiin, kamu bisa temenin mama kan?"


"Bisa Pa!" jawab Dimas.

__ADS_1


Dimas membiarkan papanya pergi untuk menyelesaikan masalah yang sudah ia duga sumbernya. Meski ia masih tidak mengerti tentang hubungan Ivan dengan papanya, ia akan mencari tau nya lain waktu.


__ADS_2