Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Catatan Dini (2)


__ADS_3

Malam semakin larut, gelap semakin erat memeluk. Hawa dingin karena terpaan angin malam tak membuatnya berpindah dari posisi duduknya di balkon apartemen. Bulan di atas sana seperti sedang tersenyum pada dunia, memberikan sinar kebahagiaan untuk mereka yang merasa bersedih dan berduka. Bintang bintang seperti kompak menyebar melukiskan titik titik cahaya kecil nan indah di hamparan langit yang gelap.


Dimas masih sibuk dengan ponsel milik Dini di tangannya. Ia masih membaca catatan Dini yang tersimpan di sana. Senyum sedih dan bahagia kadang tampak dari sudut bibirnya.


*Dimas, jika kamu bisa dengan mudah membuatku jatuh cinta, kenapa aku begitu sulit untuk melupakanmu, jika perasaan yang tak ku harapkan bisa secepat itu hadir, kenapa ia tak cepat pergi, jika benci mampu berubah menjadi cinta, kenapa cinta ini tak bisa berubah menjadi benci, andai cinta bisa sesederhana itu, mungkin tak akan banyak air mata yang tumpah karenanya, tak akan banyak orang yang menghargai cinta dalam hidupnya, sepertiku, ya seperti aku yang masih saja tak bisa menghargai kehadiranmu yang membawa begitu banyak cinta untukku hingga dengan mudahnya kata kata menyakitkan itu keluar dari mulutku, kata kata yang membuatku menyesalinya seumur hidupku, kata kata yang membuat jalan kita semakin jauh, kata kata yang merubah jalan takdir kita, atau memang ini takdir kita, sengaja dipertemukan kembali setelah bertahun tahun lamanya, takdir merubah benci menjadi cinta, ketika cinta itu mulai tumbuh dan semakin menggila tak terkendali, kenyataan pahit membuat takdir memisahkan kita, tak hanya terpisah oleh jarak dan waktu tapi juga terbuang dari memori ingatanmu, sekarang kamu kembali memberikan tetes tetes air dalam keringnya harap ku tentangmu, memberikan celah pada hati yang sudah lama tertutup olehmu, aku bisa menolak, tapi tidak dengan hatiku, hatiku merindukanmu, hatiku menginginkan kehadiranmu, hatiku menginginkan cintamu kembali untukku, tapi tak bisa karena takdir belum berpihak padaku, bolehkah aku menyalahkan takdir? salahkah kalau aku marah pada takdir? ku harap tidak, aku hanya ingin mengeluhkan semua rasa ku yang terpendam, semua rasa yang menyesakkan, rasa yang menyakitkan dan rasa yang membuatku ingin mati karenanya, aku mengalah dan aku menyerah, ku jalani saja tanpa aku tau apa yang akan ku hadapi, apakah takdir akan membawaku kembali padamu atau justru membawaku pergi jauh darimu, aku tak peduli sungguh aku tak peduli lagi*


*Ingin aku membunuhnya, makhluk tampan yang ku cintai sekarang menjadi serigala galak yang tak mengenal cinta, jika saja bisa aku akan mencubit ginjalnya dan mengoyak ulu hatinya, oh tidak, aku mirip psikopat sekarang :|*


"Psikopat? psikopat cantik," ucap Dimas dengan menahan tawanya.


*Hai pemilik wajah tampan yang hilang ingatan, jika aku mau aku bisa membuatmu meninggalkan tunanganmu itu dan membuatmu kembali menjadi milikku, aku punya semua bukti kalau memang kamu milikku dan bukan miliknya, kamu tampan Dimas, tapi kenapa kamu mudah sekali ditipu, tipuan macam apa yang dia ceritakan sampai membuatmu harus bertunangan dengannya? haah? apa kamu mencintainya? tidak, aku yakin tidak, kamu masih mencintaiku, aku tau itu, itu membuatku bahagia tapi juga membuatku sakit, aku bahagia melihatmu kembali tapi aku sakit melihatmu bersamanya*


*This is a random story, namaku Andini Ayunindya Zhafira, orang bilang aku introvert, tak apa karena bagiku itu bukan masalah walaupun mungkin banyak yang mengiraku sombong atau tak mau berteman, mereka tak sepenuhnya salah karena aku hanya mau berteman dengan mereka yang cantik dan tampan hehe just kidding, sahabatku Andi adalah satu satunya teman yang paling dekat denganku di muka bumi ini, dari jutaan orang entah kenapa aku yang introvert ini bisa begitu dekat dengan Andi yang menurutku juga introvert, dia juga tidak pandai bergaul sepertiku, tapi dia tampan dan pintar, aku menyukainya (bisik bisik).......


Deg, jantung Dimas seperti terlepas dari tempatnya ketika ia membacanya. Ia menutup ponsel Dini dengan telapak tangannya. Hatinya terasa sakit dan menyesakkan. Ya, mereka berteman sejak kecil, jauh sebelum Dimas hadir dan bahkan jauh sebelum Dimas mulai mendekati Dini. Ia tak bisa menampik kemungkinan yang menyakitkan itu. Nyatanya ia bahkan tidak lebih baik dari Andi dalam hal apapun, Andi lebih tau banyak hal tentang Dini, Andi juga lebih bisa menjaga Dini daripada Dimas, Andi tak pernah menyakiti Dini sedalam Dimas menyakitinya.


Perlahan Dimas kembali menatap layar kecil di genggamannya.


*ya aku menyukainya karena dia sahabatku, dia selalu ada saat aku sedih ataupun senang, dia seperti malaikat yang sengaja Tuhan kirim untuk menjagaku, aku menyayanginya sangat menyayanginya, dia sahabat terbaikku, dia bagian terindah dalam hidupku, aku tak akan pergi meski ia meminta dan aku yakin ia tak akan pernah meminta ku pergi meski aku terkadang sangat menyebalkan untuknya, aku harap dia bisa bahagia bersama cinta sejatinya nanti, aku akan bahagia melihatnya bahagia bersama wanitanya*


Senyum tipis tampak terlihat dari sudut bibir yang sudah sedari tadi tegang. Hatinya seperti tersiram guyuran air es yang dengan sesaat membuatnya membeku. Ia merindukan gadis itu, jauh dalam relung hatinya ia ingin kembali mengulang masa masa kebersamaan mereka. Jika ia bisa, ia ingin kembali ketika mereka tidak harus mengenal cinta dan sakit di hati. Ia ingin selalu bersama Dini, bermain bersamanya, bercanda bersamanya dan menghabiskan banyak waktu untuk bersenang bersenang dengannya. Sampai saat mereka tumbuh menjadi remaja dengan hati yang sudah siap ditumbuhi benih benih cinta, Dimas akan datang menjadi orang pertama yang akan menanam benih cinta di hati Dini lalu memupuknya dengan kasih sayang hingga cinta itu tumbuh dengan kuat tanpa ada yang bisa memisahkan.


Malam semakin larut, khayalan Dimas tentang jalan cintanya masih sangat panjang jika harus ia uraikan. Entah berapa bait puisi akan tertulis, berapa lembar halaman novel yang mampu diketik untuk menyiratkan semua khayalan cintanya.


Hanya khayalan, sebuah cerita yang jauh dari kenyataan. Kenyataan memang tak akan semudah itu berjalan. Butuh banyak batu kerikil sampai batu besar, butuh goncangan bahkan ombak, butuh tebing sampai jurang untuk mencapai ujung khayalan yang akan menjadi kenyataan.


Dimas berdiri dari duduknya, menutup jendela dan merebahkan badannya di tempat tidur. Sebelum ia tidur, ia menyimpan banyak foto dirinya dalam galeri ponsel Dini. Fotonya dengan berbagai macam gaya kini memenuhi galeri ponsel Dini, bahkan ia jadikan wallpaper dan lockscreen di ponsel Dini.


"Wajah tampan yang kamu cintai sayang," ucap Dimas dengan tersenyum "jahat".


Dimas meletakkan ponsel Dini di meja samping tempat tidurnya. Detik jarum jam yang berputar membuat matanya semakin terpejam dan akhirnya ia tertidur hingga pagi.


**


Mentari baru saja menampakkan dirinya. Semburat jingga nya masih tampak di ujung timur. Dengan malas Dimas beranjak dari tempat tidurnya karena bel kamarnya yang terus berbunyi. Ia melihat dari lubang kecil di pintunya, seorang wanita berdiri dengan tas mewah yang selalu ditentengnya.


Dimas segera membuka pintu. Sang mama segera masuk dan memeluk anaknya lalu melepasnya dan memukulnya kemudian memeluknya lagi dan memukulnya lagi.


"Mama ini kenapa sih, pagi pagi udah........"


"HP kamu mana? sejak kapan kamu nggak bisa dihubungi kayak gini?"


Dimas menepuk jidatnya. Ia segera mengambil ponselnya dari dalam saku celana jeans yang tergantung di tempatnya lalu mengaktifkannya.


"Maaf ma, Dimas lupa," ucap Dimas dengan menarik tangan mamanya agar duduk lalu memberinya minum.


"Kamu sengaja matiin HP kamu?"


"Iya, mama yang kasih tau Anita ya kalau Dimas kuliah?"

__ADS_1


"Mama nggak ngomong apa apa, tanya aja sama Sintia, dia kemarin emang ke rumah tapi mama nggak cerita apa apa, mama langsung berangkat kerja," jelas mama Dimas.


"Dia tau dari mana kalau Dimas kuliah?"


"Coba kamu tanya Sintia!"


"Sintia? hmm, anak kecil itu," balas Dimas dengan menggeleng gelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa matiin HP kamu? apa Anita ganggu kamu?" selidik mama Dimas.


"Begitulah, calon menantu kesayangan mama," jawab Dimas dengan tersenyum sinis.


"Dulu iya, sekarang enggak, mama serahin semuanya sama kamu, mama nggak akan maksa kamu tentang apapun itu, mama akan selalu dukung kamu sayang, kamu kebanggaan mama satu satunya, kamu harus bahagia!"


"Makasih ma," ucap Dimas sambil mencium kening mamanya.


"Kalau kamu nggak suka sama dia, kamu bisa batalin tunangan kalian, kalian kan belum resmi tunangan, kita belum ketemu sama orangtuanya Anita, iya kan?"


Dimas menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya pelan.


"jika saja semudah itu ma," batin Dimas dalam hati.


Dimas hanya tersenyum dan mengangguk tanpa memberikan jawaban apapun.


"Maafin mama ya sayang, gara gara mama kamu jadi......"


"Mama kesini nggak bawa apa apa nih?"


"Kamu nggak tau mama dari semalem khawatir mikirin kamu, mama udah mau kesini dari kemarin tapi papa kamu ngelarang mama, ini aja mama diem diem ke sini,"


"kamu jangan bilang bilang papa ya," lanjut mama Dimas sambil mengecilkan suaranya.


"Jadi papa nggak tau kalau mama ke sini?"


Mama menggeleng pelan dengan senyum manisnya.


"Dimas mau mandi dulu, mau siap siap ke kampus!"


"Kamu ada kelas pagi?"


"Dimas bakalan selalu berangkat pagi ma, walaupun nggak ada kelas pagi," jawab Dimas sebelum menutup pintu kamar mandinya.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Dimas dan mamanya segera keluar dari apartemen dan mencari tempat makan di dekat kampus Dimas. Setelah itu mama Dimas kembali melanjutkan aktivitasnya di kantor dan Dimas segera pergi ke kampus.


Sesampainya di kampus, ia segera mengeluarkan ponselnya dan hendak menghubungi Andi. Belum sempat ia memencet nama Andi, ia sudah melihat Andi dan Nico yang berjalan ke arahnya. Ia pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Gimana keadaan Andini?" tanya Dimas.


"Baik, tapi dia masih butuh perawatan intensif di rumah sakit biar lukanya cepet membaik," jawab Andi.

__ADS_1


"Dia nanyain gue nggak?"


Andi mengangguk tanpa menoleh ke arah Dimas.


"Serius? dia nanya apa? lo jawab apa? apa dia kangen sama gue? apa dia nyari gue? dia minta gue kesana? apa....."


"Dim, stop!"


"Hehe, sorry sorry gue terlalu excited, jadi dia nanya apa?"


"Nggak tau gue lupa," jawab Andi asal.


"Lo gimana sih, aaaahhh rese' banget lo Ndi!"


"Lagian kenapa lo harus sembunyi sembunyi gitu sih?" tanya Nico tak mengerti.


"Mmmm, nggak tau hehehe," jawab Dimas yang tak kalah asal asalan.


"Kalian berdua emang cocok sih, kalian......."


"Gue sama Andini?" tanya Dimas cepat.


"Lo sama Andi, sama sama nggak jelas!"


"Lo Ndi yang nggak jelas!" ucap Dimas pada Andi.


"Lo juga Dim, geser kali otak lo hahaha...."


"Emang otak lo enggak?"


"Sama hahaha....."


Mereka berdua pun tertawa, sedangkan Nico hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat Andi dan Dimas.


Mereka harus berpisah karena Andi dan Nico ada kelas pagi hari itu, sedangkan Dimas baru memulai kelasnya pukul 9.


Dimas duduk di perpustakaan sambil membaca buku lalu tiba tiba ia teringat ponsel Dini yang dibawanya. Ia segera mengambil ponsel itu dari tas ranselnya dan melanjutkan membaca catatan Dini di dalamnya.


*Tuhan, jika aku bisa memilih aku ingin menjadi anak anak lagi, anak kecil yang hanya tau bermain dan belajar tanpa tau apa itu cinta dan patah hati, aku mengenalnya sebagai masa laluku yang buruk, aku membencinya dan ternyata Kau kirim dia untuk memberi tahuku bagaimana indahnya rasa cinta itu, namun tak lama setelah itu Kau kembali menjauhkanku darinya, memberiku rasa benci agar aku bisa melupakannya, tapi naasnya, aku masih mencintainya, gila memang, tapi memang seperti itu lah*


*Jika Rahul dan Angeli bisa kembali bersatu meski Rahul sudah menikah dengan Tina, apa kita juga masih bisa bersatu meski kamu sudah bertunangan dengan Anita? tidak, aku tidak mendo'akan Anita meninggal, aku tidak sejahat itu, hanya saja aku masih berharap jika ujung duniaku adalah dirimu*


*Kal ho na ho, sebuah film yang memberikanku bukti bahwa saling mencintai tidak berarti saling memiliki, memberikanku bukti bahwa tidak semua kisah cinta berakhir indah seperti dongeng Cinderella ataupun princess yang lainnya, jika takdir memang tak bisa menyatukan kita di dunia yang fana ini, biarlah takdir menyatukan kita di dunia yang abadi nanti*


*Apa kau percaya cinta sejati? cinta sejati seperti apa yang kau percayai? darimana kau tau kalau dia adalah cinta sejatimu? bagaimana kau begitu yakin kalau dia cinta sejatimu? apa kau terus mengikutinya sepanjang waktu? membuntutinya kemanapun dia pergi? apa kau yakin kalau kau satu satunya di hatinya? Hmmmm cinta sejati sepertinya hanya ada dalam dongeng, ciuman cinta sejati dari pangeran tampan yang dapat meruntuhkan kutukan jahat pada putri raja, cinta sejati yang berakhir dengan happy ending forever after*


*Apa kau pernah dengar cerita tentang cinta dan persahabatan? apakah itu benar ada? apa yang terjadi ketika kita mencintai sahabat kita sendiri?*


"Cinta dan persahabatan? apa maksud kamu Andi? apa kamu tau kalau Andi suka sama kamu? sejauh apa hubungan kalian sekarang?" batin Dimas bertanya tanya tanya.

__ADS_1


__ADS_2