
Mentari Minggu itu masih memancarkan kehangatannya, memeluk dunia dengan sinar terangnya. Di sana, di bawah kehangatan sinar mentari, ada hati yang terasa panas membara. Bara dalam hatinya tersulut karena perasaan hangat yang tiba tiba muncul dalam hatinya. Perasaan hangat yang membuat bunga bunga dalam hatinya bermekaran indah namun layu dengan cepatnya.
Aletta menghampiri Dini dan Andi dengan membawa obat di tangannya. Sesekali ia menghentikan langkahnya sebentar, kepalanya terasa pusing, namun ia tak mempedulikannya, ia kembali berjalan seolah tak merasakan apapun.
Nico yang melihat hal itu hanya bisa berharap jika Aletta benar benar baik baik saja.
"Nih obatnya, gue nggak tau yang mana yang lo pake'!" ucap Aletta dengan memberikan beberapa obat, plester dan kain kasa pada Andi.
Andi menerimanya dan memperhatikan kening Aletta yang terluka.
"Lo kenapa?" tanya Andi dengan menyibakkan rambut Aletta yang menutup keningnya.
"Aaww, jangan dipegang!" ucap Aletta dengan memukul tangan Andi yang tidak sengaja mengenai lukanya.
"Sorry, itu kening lo berdarah, abis jatuh?"
Aletta mengangguk dengan membenarkan ikatan rambutnya yang berantakan. Sedangkan Andi mengoles krim untuk luka bakar pada kaki Dini.
Aletta mengerjapkan matanya beberapa kali, ia merasa pusing. Pandangannya menjadi gelap beberapa saat namun ia mencoba untuk tetap fokus agar tak kehilangan kesadarannya.
"Sini gue obatin," ucap Andi dengan menarik tangan Aletta agar duduk, saat itu juga Aletta ambruk, dia pingsan. Beruntung Andi masih menahan tubuh Aletta agar tak jatuh ke tanah.
Andi menepuk nepuk pelan pipi Aletta.
"Ta, bangun Ta!"
Aletta masih terpejam.
"Aletta kenapa Ndi?" tanya Nico yang melihat Aletta pingsan.
"Gue juga nggak tau, lo temenin Dini ya gue bawa dia masuk!" ucap Andi lalu membopong Aletta masuk ke rumah sakit.
Nico hanya mengangguk lalu duduk di sebelah Dini.
"Aletta bilang abis jatuh, keningnya berdarah tadi," ucap Dini pada Nico.
"Iya gue tau, gue udah minta dia buat periksa atau seenggaknya diobati tapi dia nggak mau, dia emang keras kepala banget!"
5 menit menunggu, Dini mengajak Nico untuk melihat keadaan Aletta. Nico setuju, merekapun mencari ruangan Aletta. Nico membantu Dini dengan mendorong kursi rodanya.
Di salah satu ruangan rumah sakit, Aletta mulai tersadar dari pingsannya.
"Masih pusing?" tanya Andi yang melihat Aletta sudah membuka matanya.
"Dikit," jawab Aletta dengan berusaha untuk duduk, namun Andi mencegahnya.
"Tiduran aja dulu, dokter bilang lo baru boleh pulang besok, lo harus istirahat total hari ini kalau mau cepet pulang!"
"Dokternya lebay banget sih, gue nggak papa kok, gue baik baik aja!"
"Jangan bantah!"
"Gue......"
"Gue bilang jangan bantah!" ucap Andi mengulangi kata katanya dengan tegas, membuat Aletta terdiam.
Tak lama kemudian Nico dan Dini sampai di ruangan Aletta, mereka segera masuk.
"Gimana keadaan kamu Al?" tanya Dini.
"Gue baik baik aja Din, temen lo aja yang lebay!"
Andi menoleh lalu memukul pelan kening Aletta yang sudah tertutup perban.
"Awwwwww, gila lo ya!"
"Sakit kan?" tanya Andi.
"Sakitlah!"
"Kalau gitu nurut apa kata Dokter, istirahat dan nggak usah bantah!"
"Siap pak Dokter, saya tidak akan membantah lagi," balas Aletta dengan suara yang lembut.
"Emang cewek tadi siapa sih Al? apa lo mau gue tuntut dia karena bikin lo celaka kayak gini?" tanya Nico pada Aletta.
"Nggak usah lebay deh Nic, yang ada dia yang nuntut gue!"
"Emang lo apain dia sampe' dia mau nuntut lo?"
"Gue sih nggak ngapa ngapain dia, gue cuma tendang itunya cowoknya hehehe....."
"Itunya?" tanya Nico dengan menunjuk ke arah bawah.
"Iya, gue tendang masa depannya hahaha....."
"Jadi kamu luka kayak gini karena cowok yang tadi?" tanya Dini.
"Mmmm, bisa dibilang gitu sih, tapi gue nggak papa kok," jawab Aletta.
"Maaf ya Al, gara gara belain aku kamu jadi kayak gini," ucap Dini menyesal.
"Jangan minta maaf Din, gue paling nggak suka sama cowok yang nggak bertanggung jawab kayak gitu!"
"Lagian yang punya masalah dia, tapi dia malah bawa bawa ceweknya, cemen banget kan?" lanjut Aletta.
"Iya sih, tapi kamu beneran nggak papa kan?"
"Nggak papa, gue baik baik aja, gue sebenernya bisa pulang sekarang, tapi........." Aletta menghentikan ucapannya, ia melirik ke arah Andi yang dibalas dengan tatapan tajam oleh Andi.
"Lo emang harus istirahat dulu Al, tenang aja gue bakalan selalu di sini nemenin lo," ucap Nico pada Aletta.
"Mending lo pulang aja deh Nic, yang ada tambah bosen gue liat muka lo hahaha...."
__ADS_1
"Rese' emang lo!"
Setelah mengobrol banyak hal di ruangan Aletta, Andi mengajak Dini untuk kembali ke ruangannya, sedangkan Nico masih menemani Aletta.
"Gue anter Dini balik dulu ya, dia harus istirahat," ucap Andi.
"Aku masih mau di sini Ndi," sahut Dini.
"Kamu harus istirahat Din, jangan rewel kayak Aletta!" balas Andi.
"Eh, kok gue dibawa bawa sih!" sahut Aletta.
"Jangan deket deket sama dia ya Din, jangan sampe kamu terkontaminasi sama kebarbarannya," ucap Andi berbisik pada Dini namun sangat jelas terdengar oleh Aletta.
"Udah sana pergi, gue juga nggak mau deket deket sama manusia kutub, dingin!" sahut Aletta lalu menutup seluruh wajahnya dengan selimut.
Andi hanya terkekeh mendengar ucapan Aletta lalu keluar dari ruangan Aletta.
"Al, lo ada pingin sesuatu nggak?" tanya Nico pada Aletta.
"Enggak," jawab Aletta dengan membuka selimut yang menutup wajahnya. Ia duduk dan bersandar di ranjangnya.
"Nic, gue mau tanya sesuatu!" ucap Aletta yang tampak serius.
"Tanya apa?"
"Lo deket banget ya sama Andi, lo deket juga sama Dini?"
"Lumayan, emang kenapa?"
"Mereka beneran cuma temen?"
"Iya, lebih tepatnya sahabat, mereka emang deket banget, udah sama sama dari lahir," jelas Nico.
"Lo yakin mereka cuma sahabat? lo yakin mereka cuma sebatas itu? lo yakin mereka nggak ada hubungan spesial? lo yakin mereka......."
"Al stop!"
"Hehehe, sorry!"
"Mereka emang cuma sahabat, mereka deket dari mereka kecil, itu kenapa banyak yang salah paham sama hubungan mereka, awalnya gue juga gitu, tapi lama lama gue paham kalau mereka emang sebatas sahabat, mereka saling menyayangi sebagai sahabat dan lagi Dini udah punya seseorang di hatinya," jelas Nico.
"Dini udah punya pacar?"
"Gue nggak tau pasti, lo bisa tanyain sendiri sama dia!"
Aletta mengangguk anggukkan kepalanya.
"Lo kepo banget kenapa sih?"
"Mmmm, nggak papa, gue cuma ngerasa mereka deket banget kayak orang pacaran, Andi juga peduli banget sama Dini."
"Kalau lo masih ragu sama jawaban gue, lo bisa tanya mereka sendiri!"
Nico tersenyum lalu mengacak acak rambut Aletta.
"Rese' lo, gue mau istirahat, sana keluar!"
"Lo mau body guard gue jagain lo juga?"
"Nggak perlu, sikap lebay lo bikin gue geli tau nggak, sana pergi!"
"Oke oke, gue pergi, kalau butuh apa apa hubungin gue ya!"
"Iya, dasar beruang bawel!"
Nico pun meninggalkan ruangan Aletta.
Ketika ia berjalan di lorong rumah sakit, ia berpapasan dengan Dimas yang sedang berjalan dengan seorang wanita paruh baya.
"Hai Nic, abis jenguk Andini?" tanya Dimas.
"Iya, lo mau ke sana?"
"Iya, oh iya kenalin nyokap gue," jawab Dimas sambil memperkenalkan mamanya pada Nico.
"Nico tante," ucap Nico memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
Mama Dimas hanya tersenyum sambil menerima uluran tangan Nico.
"Mama ikut masuk nggak papa kan Nic?" tanya Dimas.
"Nggak papa, santai aja!"
"Thanks Nic, gue duluan ya!"
"Oke!"
Dimas dan mamanya pun melangkah masuk ke arah ruangan Dini. Sesampainya di sana, para body guard Nico membiarkan Dimas dan mamanya masuk karena Nico sudah memberi tahu mereka perihal mama Dimas yang akan datang menjenguk Dini.
Dimas membuka pintu ruangan Dini pelan. Di sana sudah ada Andi yang sedang mengobrol bersama Dini.
Dini yang sedang berada dalam posisi tidur segera bangun begitu mengetahui Dimas datang bersama mamanya.
Mama Dimas masuk dan memberikan senyumnya pada Dini. Dini membalas dengan tersenyum canggung.
"Dari tadi Ndi?" tanya Dimas basa basi.
Andi hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Dimas dengan membelai rambut Dini.
"Udah lebih baik," jawab Dini.
__ADS_1
"Tante bisa minta waktu kamu sebentar Din? nggak akan lama, ada yang harus tante bicarain sama kamu," ucap mama Dimas pada Dini, namun membawa pandangannya ke arah Andi, seakan memberikan kode agar Andi keluar dari ruangan itu.
"Bisa tante," jawab Dini.
"Aku keluar dulu ya Din, kamu jaga diri baik baik," ucap Andi dengan menggenggam tangan Dini.
"Iya," jawab Dini dengan membalas genggaman tangan Andi, lalu membiarkan Andi melepaskannya begitu saja.
Dimas melihat hal itu, ia menahan cemburu yang bergejolak di dadanya. Mama Dimas yang melihat hal itu hanya diam dengan mengusap punggung Dimas, mencoba menghilangkan emosi yang mungkin sudah di rasakannya.
"Duduk ma," ucap Dimas pada mamanya.
Mama Dimas duduk di kursi sebelah ranjang Dini.
"Tante denger kamu abis kecelakaan, gimana keadaan kamu sekarang?" tanya mama Dimas.
Kecelakaan? Dini menoleh ke arah Dimas untuk meminta jawaban, namun Dimas hanya mengangguk pelan.
"Apa ada luka yang parah? tante punya kenalan Dokter terbaik di sini buat periksa keadaan kamu!"
"Saya.... saya.... baik baik aja tante, nggak ada yang parah," jawab Dini terbata bata. Ia sedikit bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Syukurlah kalau gitu, tante ke sini mau minta maaf sama kamu, maaf atas semua sikap tante yang kurang baik," ucap mama Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
Dini semakin heran. Ia tidak mengerti apa yang membuat mama Dimas tiba tiba bersikap baik padanya. Ia senang tapi ia juga butuh penjelasan tentang itu, mengingat bagaimana mama Dimas sangat membencinya dulu.
"Din, kamu nggak mau maafin tante?" tanya mama Dimas yang melihat Dini hanya diam dengan semua tanya dalam pikirannya.
"Eh, maaf tante, saya......"
"Tante tau, apa yang tante lalukan sama kamu sangat buruk, tapi sekarang tante sadar dan sangat menyesalinya, tante harap belum terlambat buat tante dapat maaf dari kamu," ucap mama Dimas.
"Enggak tante, tante nggak perlu minta maaf kayak gini," balas Dini.
"Tante merasa bersalah sama kamu Din, mulai sekarang tante nggak akan ikut campur masalah kalian berdua, bagi tante kebahagiaan Dimas yang utama, apapun yang bikin Dimas bahagia tante akan dukung, termasuk hubungan kalian," jelas mama Dimas.
Dini kembali membawa pandangannya pada Dimas, namun Dimas hanya membalasnya dengan senyuman.
"Ya udah kalau gitu, tante balik dulu ya, kamu cepet sembuh!" ucap mama Dimas lalu beranjak dari duduknya.
"Terima kasih tante," balas Dini.
Mama Dimas tersenyum lalu meninggalkan ruangan Dini.
"Dimas anter ma!"
"Nggak usah, kamu di sini aja!"
Dimas mengangguk lalu duduk di kursi sebelah Dini.
"Aku nggak ngerti," ucap Dini pada Dimas.
"Apa yang kamu nggak ngerti?"
"Kenapa mama kamu tiba tiba minta maaf sama aku?"
"Aku juga nggak tau,apa hubungan kamu sama mama dulu nggak baik?"
Dini diam, ia tak mungkin menceritakan yang sebenarnya. Ia tau mama dan papa Dimas adalah orangtua yang baik. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk Dimas dan menurut sang mama Dini bukanlah yang terbaik untuk Dimas. Dini tidak pernah menyalahkan itu, ia sadar siapa dirinya dan siapa Dimas. Jika cinta saja tak cukup untuk menyatukan 2 hati, ia menyerah. Harta selalu menjadi pedang tajam bagi orang orang seperti Dini.
"Andini, mama bilang kita punya masa lalu, apa itu bener?"
"Mm... maksud kamu?"
"Apa kita pernah punya hubungan?"
Dini kembali diam, kehadiran Dimas dan mamanya membuatnya banyak berpikir saat itu.
"Lupain aja, mama emang selalu gitu, dulu Anita dan sekarang kamu, lupain aja," lanjut Dimas.
Dini tersenyum tipis. Ia benar benar tidak mengerti tentang semua yang terjadi saat itu.
Di tempat lain, Andi menemui Aletta di ruangannya.
"Ta, gue boleh masuk?" tanya Andi.
"Hmmm," jawab Aletta tanpa membuka mulutnya.
Andi masuk dan duduk di samping ranjang Aletta. Sedangkan Aletta dalam posisi tidur dan membelakangi Andi.
"Lo marah ya sama gue?"
"Enggak, ngapain gue marah?"
"Soal di taman tadi, gue minta maaf, maaf karena udah salah paham sama lo dan makasih karena udah belain Dini," ucap Andi.
Aletta membalikkan badannya menatap Andi.
"jadi lo minta maaf karena itu? lo minta maaf karena udah marah sama gue?"
"Gue udah lupain itu," balas Aletta.
"Maaf Ta, gue cuma takut Dini kenapa napa tadi."
"Santai aja, gue bukan orang yang pendendam kok!"
"Lo emang baik Ta, cowok lo pasti nyesel karena udah ninggalin lo!"
"justru dia sekarang lagi bahagia, gue yang salah karena terlalu baper, gue yang salah karena terlalu berharap lebih sama dia, gue yang salah karena udah kasih semua yang gue punya buat dia, gue yang salah karena nggak bisa jaga kehormatan gue sebagai perempuan, gue yang salah dan gue nyesel," batin Aletta. Hatinya terasa perih mengingat betapa buruk masa lalunya bersama orang yang dicintainya.
Laki laki yang seharusnya bertanggung jawab atas perbuatannya, laki laki yang seharusnya menikahinya, laki laki yang seharusnya menjadi masa depannya, kini malah menjadi suami dari kakak kandungnya sendiri.
Pahit, hidupnya sangat pahit. Tapi kekuatan dalam dirinya melebihi pahit yang dirasakannya. Di balik senyum ceria itu, ia menyimpan luka yang teramat dalam di hatinya.
__ADS_1