Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Cafe


__ADS_3

Setelah semuanya sudah masuk mobil, Dimas segera melajukan mobilnya ke arah sekolah.


"Ini balik ke sekolah?" tanya Andi disusul anggukan kepala Dimas.


"Iya Ndi, mobilku kan masih di sekolah," jelas Anita.


Andi mengangguk-angguk.


"Abis ini langsung pulang kan?" tanya Dimas.


"Iya, aku pulang aja Dim," jawab Dini.


"Aku juga!" ucap Andi mengikuti Dini.


"Lo ikut gue dulu Ndi," ucap Dimas menahan Andi agar tidak cepat pulang.


"Kalian mau kemana?" tanya Anita penasaran.


"Urusan cowok, kamu nggak usah tau," jawab Andi yang sebenarnya juga tidak tau akan diajak kemana oleh Dimas.


"Kamu pulang sama Anita ya sayang!" ucap Dimas pada Dini.


"Bisa kan Nit?" lanjut Dimas bertanya pada Anita.


"Bisa dong," jawab Anita cepat.


"Aku ada perlu sama Andi, nggak papa kan?" tanya Dimas pada Dini.


"Iya, nggak papa."


******************


Sesampainya di sekolah, Dini dan Anita segera turun dari mobil Dimas.


"Aku pergi dulu ya, bye!" pamit Dimas pada Dini dengan melambaikan tangannya.


Dini dan Anita pun membalas lambaian tangan Dimas.


"Tunggu bentar ya Din, aku ambil mobil dulu!" ucap Anita pada Dini.


Dini mengangguk.


Tak lama kemudian Anita keluar dengan mobilnya.


"Mau langsung pulang?" tanya Anita pada Dini.


"Iya," jawab Dini singkat.


Tiba-tiba ponsel Anita berdering, iapun menepikan mobilnya dan terlihat nama Papa di layar ponselnya.


"Ada apa pa?"


"Kamu udah pulang?"


"Udah, kenapa?"


"Kamu jemput tante Elin ya, papa lagi ada rapat kepala sekolah, papa....."


Tuutt.... tuuuttt.... tuuuttt...


Anita segera mematikan ponselnya sebelum papanya selesai berbicara. Matanya merah menahan marah.

__ADS_1


Ponselnya berdering lagi, tapi ia membiarkannya. Berkali-kali Pak Sony mencoba menghubungi Anita tapi tak ada jawaban lagi.


"Nggak diangkat Nit?" tanya Dini.


Anita hanya menggeleng.


"Siapa tau penting," lanjut Dini.


Dengan terpaksa Anitapun menerima panggilan papanya lagi. Ia tidak ingin jika Dini menilainya sebagai anak yang durhaka karena mengabaikan panggilan dari papanya.


"Kenapa nggak diangkat-angkat?" tanya Pak Sony.


"Anita di jalan Pa."


"Jemput tante Elin di bandara sekarang, kasian dia udah nunggu dari tadi."


"Kenapa nggak pesan taxi aja sih Pa, Anita mau...."


"Papa bilang jemput ya jemput!" ucap Pak Sony yang mulai emosi


"Anita nggak mau!" balas Anita tegas.


"Kamu mau papa ambil semua fasilitas yang papa kasih buat kamu? kamu mau berhenti sekolah?" ancam Pak Sony.


"Kenapa papa rela anak papa satu-satunya putus sekolah demi perempuan murahan kayak dia, tolong inget mama pa, inget janji papa sama mama, Anita mohon papa......."


Tuuuttt.... tuuuttt.... tuuuttt....


Panggilan berakhir.


Anita tak bisa lagi menahan air matanya yang sudah menggenang sedari tadi. Ia tidak peduli lagi jika Dini ada di sampingnya, ia membiarkan Dini melihat dirinya yang begitu kacau saat itu.


Dini yang berada di samping Anita, hanya bisa diam tak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia pun memberikan tissue nya pada Anita.


"Maaf ya Din!" ucap Anita di tengah isak tangisnya.


"Nggak papa Nit, mau aku beliin minum?"


"Nggak usah, ayo jalan lagi aja!"


"Kamu yakin? apa aku minta Dimas anterin kamu aja?"


"Nggak usah Din, aku baik-baik aja kok," balas Anita dengan senyum yang dipaksakan.


"Kalau kamu butuh temen cerita, cerita aja Nit, aku siap dengerin," ucap Dini dengan menggenggam tangan Anita.


"Makasih Din," balas Anita dengan memeluk Dini.


Setelah lebih tenang, Anita melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah Dini.


"Din, aku boleh minta tolong?"


"Minta tolong apa?"


"Tolong jangan kasih tau siapapun soal tadi ya!"


"Oh, iya, kamu tenang aja." balas Dini meyakinkan.


"Makasih Din!"


Dini mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Ia tidak tau jika Anita memiliki hubungan yang tidak baik dengan papanya, karena Anita terlihat selalu ceria seolah hidupnya begitu sempurna tanpa ada masalah yang mengganggunya.


"Kamu udah lama kenal Dimas?" tanya Anita tiba-tiba.


"Kita satu kelas waktu SD."


"Kalian dekat dari dulu?"


"Enggak, kenapa?"


"Aku penasaran aja, waktu pertama kali Dimas masuk sekolah kita, Andi kayak nggak suka banget kan sama Dimas, kamu tau kenapa?"


"Kalau soal itu kamu tanyain aja sama Andi atau Dimas, mereka yang lebih tau."


****************


Di tempat lain, Dimas mengajak Andi ke sebuah cafe kecil yang tidak jauh dari alun alun kota.


"Lo ngapain ngajak gue kesini?" tanya Andi setelah turun dari mobil Dimas.


"Ada yang mau gue tanyain!" balas Dimas sambil berjalan memasuki cafe diikuti Andi yang berjalan di belakangnya.


Cafe dengan suasana temaram itu membuat Andi ingin segera pergi, karena rata-rata pengunjung di sana adalah pasangan muda mudi yang sedang merajut kasih di setiap tempat duduk yang tersedia.


Meski tidak begitu besar, cafe itu terlihat nyaman ditandai dengan banyaknya pengunjung yang hampir memenuhi setiap bangkunya.


"Selamat datang bos!" ucap seorang pria yang menghampiri Dimas.


"Aman?" tanya Dimas pada pria itu.


"Aman bos, tapi kemarin Sintia kesini malem-malem," ucap pria itu setengah berbisik.


"Ngapain dia kesini?"


"Biasa, nyariin bos!"


"Lo sekali lagi panggil gue kayak gitu, gue pindah lo ke perusahaan papa mau?"


"Hahaha, jangan dong Dim, gimanapun juga kan lo bos gue."


"Udah sana balik!" ucap Dimas sambil mendorong tubuh lelaki yang bernama Yoga itu.


"Sorry Ndi, temen gue rese' emang!" ucap Dimas pada Andi.


"Jangan bilang ini cafe punya lo!"


"Nggak usah dibahas, kita duduk di atas aja!" ucap Dimas sambil berjalan ke lantai dua cafe itu.


Di lantai dua, hiasan dindingnya tak kalah bagus dengan di bawah. Banyak frame dengan tulisan motivasi yang memenuhi dindingnya.


Ya, cafe itu adalah milik Dimas. Meski tak sepenuhnya milik Dimas, tapi Dimaslah yang menjalankan cafe itu dari nol bersama Yoga.


Usia Yoga saat ini terpaut tiga tahun diatas Dimas. Ia seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota itu.


Sebelum Yoga memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis, ia sempat ditawari oleh papa Dimas untuk bekerja di perusahaan X milik papa Dimas. Karena meski ia belum lulus sarjana, kepintarannya membuat papa Dimas berani merekrutnya untuk bergabung di perusahaan besar itu, namun ia menolaknya karena ingin memiliki bisnis sendiri.


Dengan modal yang Dimas berikan, dibantu dengan 20% modal dari papanya, Dimas dan Yoga memulai bisnis cafe yang sudah berjalan hampir 1 tahun ini.


Sebelum pindah ke kota ini, Dimas hanya bisa memantau perkembangan cafenya melalui laporan-laporan yang selalu Yoga berikan pada Dimas.


Dari kecil, Dimas sudah belajar bisnis bersama papanya hingga membuat ia tertarik untuk membuka bisnis sendiri meski ia masih membutuhkan bantuan papanya.

__ADS_1


__ADS_2