
Detik detik menegangkan bagi Dini terasa berjalan lambat. Hatinya tak tenang sebelum ia tau maksud dari pertemuan yang Dimas rencanakan siang itu. Berbagai macam kemungkinan sudah memenuhi otaknya sedari tadi. Ia begitu tegang, ia sama sekali tidak bisa menduga kemungkinan baik yang akan terjadi, tapi ia percaya pada Dimas, ia yakin semuanya akan baik baik saja.
Dini masih berada dalam gendongan Dimas, ia menyembunyikan wajahnya di dada Dimas. Ia sangat malu, tatapan mata orang orang yang melihatnya, bisik bisik yang ia dengar membuat nyalinya semakin menciut.
"Nggak usah peduliin orang lain, mereka nggak tau apa apa," ucap Dimas berbisik pada Dini.
Dini hanya mengangguk pelan. Ia merasa sedang diperlakukan bak seorang ratu saat itu. Ia bahkan merasa sungkan pada Anita yang tak lain adalah tunangan Dimas.
Mereka akhirnya sampai di depan sebuah ruangan khusus yang sudah di pesan oleh Dimas. Petugas restoran segera membukakan pintu begitu melihat Dimas datang.
Di dalam ruangan itu sudah ada Dokter Dewi, mama dan papa Dimas. Semua mata tertuju pada Dimas dan Dini begitu mereka memasuki ruangan. Papa Dimas hanya tersenyum kecil, sedangkan Dokter Dewi dan mama Dimas sedikit terkejut dengan apa yang mereka lihat. Bagaimana tidak, Dimas adalah tunangan Anita tapi Dimas malah menggendong gadis lain di hadapan Anita.
Dimas lalu mendudukkan Dini di sebelah mamanya, lalu Dimas duduk di antara Dini dan Anita.
"Maaf Dimas telat, tadi masih nunggu dosen di kampus," ucap Dimas pada Dokter Dewi, mama dan papanya.
Dini hanya menunduk, ia tidak berani mengangkat wajahnya apa lagi menatap orang orang yang berada di ruangan itu. Ia merasa serba salah, ia merasa seperti orang asing yang tiba tiba masuk dalam sebuah pertemuan.
"Angkat wajah kamu sayang, biarkan mereka semua liat betapa cantiknya kamu," ucap Dimas berbisik pada Dini.
Dini hanya tersenyum canggung. Baginya itu bukan saat yang tepat untuk bercanda.
"Nggak papa sayang, mama sama papa juga baru nyampe'," balas mama Dimas.
"Maaf Dimas, saya nggak bisa lama lama di sini karena 1 jam lagi saya ada jadwal operasi," ucap Dokter Dewi pada Dimas.
"Oh, iya Dok, sebelumnya Dimas mau ngucapin terima kasih buat Dokter Dewi, mama dan papa karena udah sempetin waktunya buat datang," ucap Dimas memulai.
"Maksud Dimas ngajak mama, papa sama Dokter Dewi kesini buat bicarain kelanjutan hubungan Dimas sama Anita, Dimas sengaja minta Dokter Dewi datang sebagai wakil dari orangtua Anita biar ke depannya nanti nggak ada salah paham lagi karena gimanapun juga Dimas sama Anita udah tunangan," lanjut Dimas.
"maksud kamu apa Dimas? apa sebenarnya rencana kamu? kenapa aku harus ada di sini?" batin Dini bertanya tanya.
"Apa kita mau nikah muda?" tanya Anita berbisik.
Dimas hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Anita.
"Anita, aku akan tanya kamu cuma sekali dan aku harap kamu jawab jujur," ucap Dimas dengan menatap mata Anita.
"Iya, aku akan jawab jujur karena aku emang selalu jujur sama kamu," jawab Anita dengan senyum manisnya.
"Kebohongan apa yang udah kamu sembunyiin dari aku?" tanya Dimas dengan menatap tajam mata Anita, membuat Anita sedikit salah tingkah.
"Kebohongan? kebohongan apa maksud kamu? aku nggak pernah bohong apa apa sama kamu," jawab Anita gugup.
"Oke, kalau kamu nggak mau jujur, ma pa sebelumnya Dimas minta maaf kalau keputusan Dimas ini mungkin mengecewakan kalian, Dimas juga minta maaf Dok, Dimas cuma mau semuanya terungkap sekarang, Dimas nggak mau lagi hidup dalam bayang bayang keraguan yang selama ini Dimas rasain," ucap Dimas panjang.
"Sebenarnya ada apa sih Dim? kamu bikin mama takut," balas mama Dimas.
"Ma, pa, Dokter Dewi, Dimas mau selesaiin pertunangan Dimas sama Anita, Dimas nggak mau lanjutin pertunangan ini karena Dimas nggak pernah cinta sama Anita," ucap Dimas membuat semua yang ada dalam ruangan itu ternganga tak percaya.
"Maksud kamu apa sih Dim? kalau kamu marah sama aku kamu bilang, jangan kayak gini!" protes Anita.
"Iya Dimas, hubungan kalian udah serius jadi saya harap kamu pikir baik baik keputusan kamu ini, jangan ambil keputusan waktu kamu lagi emosi," sahut Dokter Dewi.
"Dimas nggak lagi emosi Dok, justru Dimas sekarang bahagia, Dimas bahagia karena akhirnya Dimas bisa lepas dari Anita," balas Dimas.
"Kamu nggak bisa kayak gini Dimas, kamu lupa sama apa yang udah kamu lakuin? kamu......."
Biiiiippp Biiippp Biiippp
Biiiiippp Biiippp Biiippp
Biiippp Biiippp Biiippp
Biiippp Biiippp Biiippp
Biiippp Biiippp Biiippp
Semua ponsel tiba tiba berdering. Anita, Dini, Dokter Dewi, mama dan papa Dimas menerima pesan yang sama, sebuah rekaman layar grup chat milik Anita. Semua kebusukan Anita sudah terbongkar. Ia tidak bisa mengelak lagi.
"Mama nggak ngerti," ucap mama Dimas yang tampak syok dengan apa yang dilihatnya.
"Kamu bisa jelasin semuanya Anita?" tanya papa Dimas pada Anita.
"Ini nggak bener om, bisa jadi ini udah di edit, ini....."
"Aku punya rekaman itu dari sini Nit," ucap Dimas dengan menaruh ponsel lama Anita di atas meja.
__ADS_1
"Apa kamu masih bisa mengelak?" tanya Dimas.
Anita lalu berdiri dari duduknya dan menampar Dimas.
"Kamu keterlaluan Dimas, KAMU JAHAT!" ucap Anita dengan berteriak.
Dimas lalu berdiri dan memegang kedua tangan Anita.
"Maafin aku Nit, aku nggak punya pilihan lain, aku sengaja minta Dokter Dewi ke sini bukan papa kamu karena aku tau papa kamu pasti akan marah banget sama kamu, kamu......"
"Aku ngelakuin ini karena aku sayang sama kamu Dimas, aku cinta sama kamu, tapi kenapa kamu nggak pernah ngerti?"
"Aku mohon hentiin semua ini Anita, kita masih bisa jadi temen kayak dulu, kita....."
"Temen? apa itu cukup buat aku? enggak Dimas, aku mau kamu jadi milikku, MILIKKU!"
Dokter Dewi lalu berdiri dan menarik tangan Anita dengan paksa.
"Kamu udah keterlaluan Nit, kita pulang sekarang!" ucap Dokter Dewi.
"Enggak mbak, Anita nggak salah, Anita berhak buat sama Dimas, Anita cinta sama Dimas mbak," balas Anita dengan terisak.
"Maaf om, tante, Dimas, saya sama Anita pamit dulu," ucap Dokter Dewi lalu menarik tangan Anita untuk diajak keluar.
"Lepas mbak, Anita bisa jalan sendiri!" ucap Anita memberontak.
Dokter Dewi lalu melepaskan tangan Anita. Dengan cepat Anita kembali dan menarik rambut Dini dari belakang.
"Aku nggak akan nyerah Din, aku akan datang lagi buat hancurin hubungan kalian!" ucap Anita dengan penuh amarah dalam dirinya.
Dini tak menjawab apapun, ia hanya menahan rambutnya yang di tarik oleh Anita. Sedangkan Dimas dan Dokter Dewi berusaha melepaskan tangan Anita yang menarik rambut Dini.
"Apa mama harus lapor petugas keamanan?" tanya mama Dimas pada suaminya.
Pak Tama menggeleng dan hanya melihat kejadian itu. Setelah Anita berhasil dipaksa keluar oleh Dokter Dewi, hanya ada Dimas, Dini, mama dan papa Dimas di ruangan itu.
"Kamu nggak papa sayang?" tanya Dimas merapikan rambut Dini.
"Aku nggak papa," jawab Dini.
"Jiwanya udah terganggu gara gara nggak pernah dapet kasih sayang keluarga," balas Dimas.
"Kenapa kamu ngelakuin ini Dim? kamu nggak kasian sama dia? kamu udah bikin dia malu," ucap Dini pada Dimas.
"Kasian? apa yang udah dia lakuin itu udah diluar batas Andini, bahkan dia pantas dapat yang lebih dari ini!" balas Dimas.
"Bener apa yang dibilang Dimas Din, bukannya tante belain Dimas, tapi Anita udah keterlaluan, dia nggak cuma bohongin Dimas tapi juga om sama tante," sahut mama Dimas.
"Kamu kenapa nggak pernah cerita Dim?" tanya Pak Tama pada Dimas.
"Dimas takut kecewain mama sama papa," jawab Dimas.
"Tapi kamu beneran nggak pernah ngelakuin itu kan sama Anita?" tanya mama Dimas.
"Enggak lah ma, Dimas masih waras, mana mungkin Dimas ngelakuin hal itu," jawab Dimas.
"Tapi kalau sama Dini, mungkin?" sahut Pak Tama.
"Bisa jadi," jawab Dimas di sambut tawa Pak Tama.
Sedangkan Dini memukul pelan paha Dimas.
"Duuuhh, apa kita harus nikahin anak kita sekarang pa? mama jadi khawatir," ucap mama Dimas dengan senyum menggoda, membuat Dini semakin salah tingkah.
Satu keluarga itu memang mempunyai selera humor yang sama. Terlebih Dimas dan papanya, mereka bahkan memiliki sifat yang tak jauh berbeda, romantis, penyayang, ambisius dan pekerja keras.
"Mama sama papa percaya sama kamu sayang, mama yakin kamu bisa bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan!"
"Pasti ma, Dimas nggak akan kecewain mama sama papa," balas Dimas.
"Jadi kamu mau tunangan sama Anita karena kamu pikir kamu udah ambil keperawanannya?" tanya Pak Tama tanpa basa basi.
Dimas mengangguk.
"Dimas nggak punya pilihan pa, Dimas harus bertanggung jawab sama apa yang udah Dimas lakuin," jawab Dimas.
"Dan ternyata kamu cuma dibodohi sama dia, keterlaluan," sahut mama Dimas kesal.
__ADS_1
"Dimas juga bodoh ma, Dimas percaya aja sama dia," balas Dimas.
"Din, apa kamu mau laki laki bodoh di samping kamu itu jadi masa depan kamu?" tanya Pak Tama pada Dini.
Dini hanya tersenyum dan menoleh ke arah Dimas. Ia masih merasa canggung dengan keluarga Dimas.
"Karena hari ini kita lagi ngumpul, sekalian Dimas mau kasih pengumuman penting buat mama sama papa," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
"Apa sayang?" tanya mama Dimas.
"Setelah Dimas lulus kuliah, Dimas mau lamar Andini, ma, pa!" ucap Dimas dengan membawa pandangannya ke arah Dini.
Dini begitu terkejut mendengar ucapan Dimas, sedangkan mama dan papa Dimas hanya tersenyum mendengarnya.
"Mama sama papa serahin semuanya sama kamu sayang," balas mama Dimas.
"Makasih ma, pa," ucap Dimas pada mama dan papanya.
Dini hanya bisa diam. Belum reda keterkejutannya karena kebohongan Anita yang terbongkar, kini Dimas bilang jika akan melamarnya setelah lulus kuliah. Itu semua benar benar di luar perkiraan Dini. Ia merasa seperti di atas awan saat itu. Dunianya seperti terbalik 180 derajat saat itu juga. Ia bahkan tak mampu berkata kata lagi. Selain karena rasa canggung berada di tengah keluarga Dimas, ia juga tak bisa menahan degup jantungnya yang berdetak begitu cepat. Degupan itu seolah menyanyikan lagu cinta yang mengisi setiap sudut ruang hatinya. Ia bahagia, benar benar bahagia.
"Tapi kamu juga nggak bisa maksa Dini Dim, kamu gimana Din? setuju?" tanya papa Dimas pada Dini.
"Iya om, Dini setuju, Dini harap om sama tante nggak keberatan," jawab Dini.
"Gimana ma?" tanya Pak Tama pada mama Dimas.
"Nggak ada alasan buat mama keberatan, papa?"
"Papa juga, malah kalau bisa langsung nikah aja," balas papa Dimas.
"Dimas juga maunya gitu hehe....."
Dini kembali memukul paha Dimas begitu mendengar ucapan Dimas. Menikah? baginya tidak semudah itu untuk menikah. Ia masih harus bekerja, ia harus bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga ibunya. Setelah ia bekerja, ia akan meminta ibunya untuk berhenti bekerja. Mereka akan hidup berkecukupan tanpa harus membuat ibunya membanting tulang setiap hari. Ia harap Dimas dan keluarganya akan memahami itu.
"Oh ya, kaki kamu kenapa sayang?" tanya mama Dimas pada Dini.
"sayang?" batin Dini dalam hati.
"Ini.... ini kena pecahan mangkok tante, cuma luka kecil kok, Dimas aja yang berlebihan," jawab Dini.
"Kalau nggak ditangani dengan bener bisa infeksi loh, kamu udah panggil Dokter Aziz Dim?" tanya Pak Tama pada Dimas.
"Udah kok pa, kemarin Dokter Aziz udah dateng!" jawab Dimas.
"Kamu kasih kontaknya Dokter Aziz, biar Dini bisa hubungin Dokter Aziz sewaktu waktu," sahut mama Dimas.
"Iya ma," jawab Dimas.
**
Di tempat lain, Dokter Dewi membawa Anita kembali ke apartemen.
Dokter Dewi begitu marah, ia mengambil semua pakaian Anita dari dalam lemari dan menghamburkannya.
"Mbak Dewi mau ngusir Anita?" tanya Anita yang memunguti satu per satu pakaiannya.
"Kamu harus balik ke rumah Nit, apa yang kamu lakuin itu bener bener bikin malu keluarga, mama kamu juga pasti malu punya anak kayak kamu!" ucap Dokter Dewi yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Anita sayang sama Dimas mbak, Anita cinta sama dia, Anita udah ngelakuin banyak hal buat bisa sama Dimas, Anita nggak mau semuanya sia sia!"
"Apa kamu nggak malu sama apa yang udah kamu lakuin? kamu nggak cuma bohongin Dimas, kamu juga bohongin keluarganya, apa kamu udah nggak punya harga diri lagi? apa kamu serendah itu Nit?"
Anita hanya diam, ia terduduk dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Kenapa nggak ada yang bisa ngertiin Anita mbak? kenapa semuanya salahin Anita? Anita juga nggak mau punya cinta yang nggak berbalas kayak gini, tapi Anita bisa apa?"
"Tapi apa yang kamu lakuin ini salah Nit, kamu nggak bisa maksa orang lain buat balas perasaan kamu, mama kamu pasti sedih liat sikap kamu yang kayak gini," ucap Dokter Dewi yang mulai iba.
"Anita sayang sama Dimas mbak, Anita nggak mau Dimas ninggalin Anita," ucap Anita di tengah isak tangisnya.
"Jangan jadi bodoh cuma karena cinta Anita, kamu bisa dapat laki laki yang jauh lebih baik daripada Dimas, jangan terpaku sama Dimas, lupain dia dan mulai hidup kamu yang baru!"
"Mbak akan ke sini lagi minggu depan dan kamu harus ikut mbak pulang!" ucap Dokter Dewi lalu keluar dari apartemen.
"KAMU JAHAT DIMAS, JAHAAATT!" teriak Anita dengan melempar lampu meja di dekatnya.
Anita lalu berdiri dari duduknya. Ia menghancurkan semua yang ada depannya. Dalam hitungan detik ia sudah membuat kamarnya seperti kapal pecah.
__ADS_1