
Terlepas dari apapun alasan yang dimiliki oleh Zico atau Queen tentang hubungan aneh mereka itu, pada akhirnya mereka memang harus bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka lakukan.
Dengan berat hati Adeline mendatangi orang tua Queen bermaksud untuk melamarnya untuk menikah dengan Zico. Pada awalnya mereka menolak karena menilai sang putri masih terlalu kecil untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Namun, Adeline berusaha menjelaskan secara rinci alasan mengapa keduanya harus segera menikah.
Kedua orang tua Queen tidak langsung memberikan restu atas lamaran Adeline, mereka meminta agar Zico harus bersikap jantan dengan mendatangi mereka.
"Jika itu kemauan anda, saya akan menghubungi Zico untuk segera datang."
"Itu lebih baik, karena yang akan menjalani pernikahan adalah mereka berdua. Bukan anda ataupun kami," jawab orang tua Queen.
Zico dan Queen datang secara bersamaan. Saling menggenggam tangan satu sama lain. Si perempuan merasa takut jika orang tuanya akan memarahinya, terutama sang ayah. Di sisi lain Zico juga takut jika dia akan di amuk oleh kedua orang tua Queen.
"Nah itu mereka sudah datang," pekik ibu Queen ketika melihat putrinya datang bersama seorang pria.
Adeline yang posisinya memunggungi pintu langsung menoleh. Di lihatnya sang adik berjalan perlahan menuju ke arahnya dengan raut wajah tegang. Sang kakak seakan tahu jika adiknya itu tengah ketakutan, Adeline dengan cepat menghampirinya.
"Kamu pasti bisa melewati ini, Co. Kamu adik kakak yang paling pemberani." Adeline merangkul bahu adiknya seraya ikut berjalan bersama dengan sepasang calon pengantin tanpa status jelas tersebut.
Seorang pria paruh baya duduk di sofa ruang tamu dengan menyilang kaki, menunjukkan keangkuhannya sedang menatap garang pada seorang pemuda yang sudah berani menghamili putrinya.
Begitu pemuda itu sudah dekat dengannya, dia segera bangkit dari posisinya. Berdiri dengan kedua tangan yang di masukkan ke saku celana. Menunggu ketiga orang yang masih berjalan itu sampai di hadapannya.
Apa yang di lakukan oleh pria paruh baya yang di yakini adalah ayah dari Queen itu membuat Zico semakin ketakutan. Pemuda itu sebenarnya ingin lari dari tempat itu, jika saja sang kakak tidak memegangnya dengan erat.
__ADS_1
"Tuan Reynand, perkenalkan ini adik saya. Zico Giorgino," ujar Adeline memperkenalkan adiknya setelah berada tepat di depan si pemilik rumah.
"Kalian anak dari Monica dan Antonio?" tanya Reynand menatap penuh selidik.
Adeline dan Zico saling pandang saat mendapat pertanyaan itu dari ayah Queen. "Anda kenal orang tua kami, Om?" tanya balik Adeline terkejut.
Reynand mengangguk pelan lalu mengeluarkan tangan kanannya dari saku celana. Kini tangan itu mengulur seperti hendak menjabat kedua tamunya. "Saya Reynand Orlando, teman lama papamu."
Meski bingung dengan perubahan sikap si pemilik rumah. Namun, kedua kakak beradik itu menerima jabat tangan dari pria bernama Reynand Orlando itu.
"Salam kenal, Om."
"Silahkan duduk. Queen, kau bisa bantu Mamamu untuk membuat minuman serta cemilan untuk kami."
Setelah berjabat tangan serta mempersilahkan mereka untuk duduk, pria itu justru mengeluarkan ponselnya. Entah apa yang di lakukan olehnya, keduanya juga tidak paham.
"Om, langsung saja pada intinya …."
"Sebentar, masalah ini biar kami para orang tua yang mengurusnya." Reynand dengan cepat menyela ucapan Adeline.
"Om akan memanggil orang tua kami?" tebak Adeline.
Pria itu menghentikan kegiatannya lalu menatap wajah Adeline sekilas sebelum akhirnya kembali sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
"Kesalahan yang di lakukan oleh adikmu itu bukanlah kesalahan kecil, Nona. Saya tidak mungkin menyelesaikan perkara ini hanya dengan kalian saja," ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
Ucapan dari ayah Queen tentu saja membuat Zico ketakutan. Terakhir kali dia keluar dari rumah orang tuanya dengan alasan membela kakak sulungnya. Namun, saat ini dia justru membuat masalah yang pastinya akan berdampak buruk pada penilaian kedua orang tua itu tentang sang kakak.
"Kak, kalau papa dan mama tahu, mereka pasti akan memarahi Zico dan memaki kakak. Bagaimana ini?" bisik Zico ketakutan.
Adeline menggenggam erat tangan sang adik dan memberinya elusan lembut yang menenangkan. "Kamu tenang saja, kakak tidak akan membiarkan mereka menyakitimu."
Pada akhirnya mereka hanya pasrah menunggu kedatangan orang tua mereka ke kediaman keluarga Queen. Ternyata benar, serapih apapun seseorang menyembunyikan bangkai tentu akan tercium juga. Niat hati hanya ingin bertanggung jawab dengan bantuan sang kakak saja, kini justru harus mengikutsertakan orang tuanya.
Beberapa saat setelah penantian yang cukup lama, dari arah belakang terdengar suara yang tidak asing di telinga Adeline dan Zico. Kedua orang tua mereka akhirnya sampai di rumah itu. Zico semakin merasa ketakutan, terbukti pemuda itu kini menundukkan wajahnya.
"Selamat datang, Anton dan Monic. Sudah lama kita tidak bertemu," sapa Reynand kepada sepasang suami istri yang baru saja datang.
"Rey, ada apa tiba-tiba meminta kami untuk datang?" tanya Anton yang belum melihat wajah kedua orang yang duduk di sofa dengaposisi memunggunginya.
"Kalian tidak mengenali siapa yang berada di depan kalian? Apa seburuk itu keadaan keluarga kalian?" tanya balik Reynand dengan sedikit hinaan.
Kedua tamu yang baru datang itu segera memeriksa kedua orang yang sudah duduk di sofa dengan wajah menunduk ke bawah. Penasaran karena tidak dapat melihat wajah dari kedua orang itu, Monica menyentuh bahu keduanya hingga mereka menoleh ke arahnya.
"Lah, Elin, Zico. Kalian ngapain disini?" tanya monica dengan wajah terkejutnya.
"Anakmu sudah menghamili putriku, Anton. Kau harus bertanggung jawab!"
__ADS_1
Bersambung…