
Rihanna sama sekali tidak menghiraukan peringatan sang ayah. Dia tetap bertemu dengan Grasiella. Mereka sedang menyusun rencana untuk menghancurkan Adeline. Padahal wanita itu begitu baik dan ternyata sama-sama memiliki hubungan kakak beradik dengan Adeline.
"Jadi kita kirimkan paket ini untuk Elin saja. Kita mulai dari respect itu, agar wanita tua itu kebingungan."
"Boleh. Tapi penjagaan di mansion itu pasti ketat sekali, dan kita tidak mungkin masuk ke kandang macan itu sekarang."
"Kalau begitu, kau manfaatkan saja kembaranmu itu. Dia masih berhubungan baik dengan wanita itu, 'kan?"
Grasiella terlihat sedang berpikir, menimang saran yang diberikan oleh Rihanna. "Kembaranku itu lebih memihak padanya, Anna! Dia tidak mungkin membiarkan aku melakukan kejahatan pada kakak tersayangnya itu. Lagi pula hubunganku dengannya sedang tidak baik," ucap Grasiella dengan ekspresi kesal.
"Kau kan bisa memasang wajahmu yang lain untuk merayu kembaranmu itu, Ella. Buatlah dia percaya bahwa kamu ingin berubah dan memperbaiki hubungan kamu dengan kakaknya itu."
"Baiklah. Aku coba hubungi Zico lebih dulu," ucapnya yang akhirnya menuruti saran dari Rihanna.
Grasiella mengambil ponselnya lalu segera menghubungi sang adik. Baru dering pertama suara Zico sudah menyapa pendengarannya.
"Apa!" bentak Zico yang seolah tidak suka karena Grasiella menghubunginya.
"Bisa kita bertemu, Zico? Kakak perlu bicara padamu."
Hening, Zico enggan menjawab permintaan Grasiella yang sedikit membuatnya curiga. Rihanna yang duduk di sebelah Grasiella membisikkan sesuatu di telinga rekan barunya itu.
"Ini tentang Kak Elin," ujar Grasiella lagi yang tentu langsung membuat Zico kembali bersuara.
"Mau bertemu di mana? Mumpung aku sedang senggang."
"Di restoran Armella."
Tidak memakan waktu lama Zico sampai di tempat yang disebut oleh Grasiella. Zico langsung menghampiri sang kembaran yang duduk sendirian di salah satu sudut ruangan.
"Mau bicara apa tentang Kak Elin?" tanya Zico yang masih berdiri.
"Duduk dulu. Tidak enak kalau bicara seperti ini. Kita terlihat seperti pelanggan dan pelayan yang sedang memesan sesuatu."
"Kau mau menghinaku karena sekarang aku menjadi pelayan?" tanya Zico menohok.
"Bukan seperti itu, Zico. Maksud kakak agar kita lebih nyaman untuk saling bicara. Kenapa kamu seperti enggan memperbaiki hubungan kita? Ingatlah, dulu kita tinggal bersama di rahim mama," timpal Grasiella dengan cepat.
__ADS_1
Zico mendengus kesal, tetapi menurut untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan kembarannya tersebut.
"Ada apa? Jangan membuang waktuku yang berharga."
"Adik sial*n!" maki Grasiella dalam hati.
"Hubungan kamu dengan Kak Elin masih baik, 'kan?" tanya Grasiella memulai aktingnya.
"Tentu saja! Hubungan kami tidak pernah memburuk." Zico hanya menjawab seadanya saja.
"Baguslah kalau seperti itu. Bisakah kamu membantu kakak sekali ini saja?" tanya Grasiella lagi dengan tatapan penuh harap.
Zico melirik sekilas Grasiella yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Bantu untuk apa?" tanya Zico yang merasa kasihan.
"Bantu kakak untuk memperbaiki hubungan kakak dan Kak Elin," pinta Grasiella memulai niat jahatnya.
"Bagaimana caranya? Sekarang Kak Elin di jaga ketat oleh Kak Nendra. Dia di perlakuan seperti ratu oleh suaminya."
Grasiella tertunduk lesu saat Zico seperti akan menolak permintaannya. "Padahal aku hanya ingin memberikan kado ini untuk Kak Elin," ucap Grasiella yang mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya.
Grasiella membuka kotak tersebut. Tampak di dalam sana ada topi rajut bayi berwarna biru muda. Grasiella mendorong kotak itu untuk memperlihatkan itu kepada Zico.
"Aku dengar, Kak Elin sekarang sedang hamil. Jadi, aku memutuskan untuk membuat topi rajut yang aku buat sendiri untuk calon keponakanku itu," jelas Grasiella dengan lirih.
Dia sengaja berlakon agar menarik rasa iba Zico kepadanya. Niatnya kali ini sepertinya sukses. Terbukti Zico mengambil hadiah tersebut.
"Kamu tahu dari mana kalau Kak Elin hamil?" tanya Zico curiga.
"Aku tidak sengaja mendengar saat Kak Elin menelpon papa," ujar Grasiella yang kali ini jujur.
"Oh, ya sudah. Kalau begitu hadiah ini akan aku berikan pada Kak Elin. Aku pergi dulu," pamit Zico yang tidak mau terlalu lama berhadapan dengan kembarannya.
"Baiklah. Hati-hati, Zico!"
Zico pun pergi dari tempat itu. Setelah Zico pergi, Rihanna kembali keluar dari tempat persembunyiannya. Dia segera menghampiri Grasiella yang sedang tersenyum licik.
"Kau ini memang benar-benar ular betina, El. Kau bisa dengan mudah membodohi kembaranmu itu."
__ADS_1
"Siapa dulu? Grasiella gitu, loh!" seru Grasiella yang merasa puas.
Zico segera menuju mansion keluarga Alefosio untuk menjenguk sang kakak. Dia juga merasa senang saat mengetahui kehamilan wanita tangguh dan sabar itu. Dia di sambut dengan baik oleh para penjaga di mansion tersebut. Banyak dari mereka yang sudah paham tentang Zico yang merupakan adik dari nona muda mereka.
Saat Zico sudah masuk ke mansion besar itu. Adeline sama sekali tidak keluar untuk menyambut kedatangannya. Hanya Danendra yang menemuinya dan mengatakan bahwa Adeline sedang mengurung diri di kamarnya.
"Memang apa alasan Kak Elin mengurung diri, Kak?" tanya Zico heran.
Selama ini kakaknya itu sama sekali tidak pernah mengurung diri jika memiliki masalah. Dia akan dengan berani menghadapi masalah yang hadir di kehidupannya.
"Entahlah. Kau coba bujuk dia saja," ujar Danendra yang menyuruh sang adik ipar untuk menemui sang istri.
Pada akhirnya Zico naik ke lantai atas. Dia mengetuk pintu kamar utama. Beberapa kali melakukan hal itu, sayangnya sang kakak tidak juga keluar.
"Coba aku bukakan dengan kunci cadangan, Zico. Tolong kamu tenangkan dia, yah!"
Berbekal kunci cadangan Zico berhasil masuk ke kamar utama. Danendra sengaja memberikan waktu untuk kedua kakak beradik itu agar saling bisa bicara dari hati ke hati.
Adeline sedikit tersentak kaget saat tiba-tiba sang adik berada di kamarnya. Wanita itu menyeka kasar wajahnya yang basah oleh air mata lalu membalas senyuman sang adik.
"Kamu datang kemari, Zico, ada apa?" tanya Adeline dengan suara sedikit serak.
Zico mendudukkan diri di samping sang kakak. Tatapannya tertuju pada kedua mata sang kakak yang sembab dan hidung yang sedikit memerah.
"Kakak menangis? Apakah ada masalah yang mengganggu kakak?" tanya balik Zico dengan khawatir.
Adeline memaksa bibirnya untuk mengulas senyum. Meskipun hatinya kini masih tercabik-cabik oleh kenyataan yang membuatnya benar-benar hancur.
"Kakak tidak apa-apa, Zico. Hanya kelilipan saja," elak Adeline tanpa berpikir panjang.
"Kak, mana mungkin di kamar kakak ada debu atau kotoran? Kamar ini selalu steril karena pelayan selalu membersihkannya setiap saat. Sudahlah, jangan tutupi apapun dariku."
Adeline tersenyum kecut dengan bibir yang sedikit bergetar. Tidak tahan lagi untuk menahan rasa sedihnya, Adeline akhirnya kembali mengeluarkan air mata. Wanita hamil itu menangis tersedu-sedu hingga membuat Zico sigap menariknya ke pelukan.
"Kakak kenapa? Kalau ada masalah, coba bilang pada Zico. Zico akan mencoba membantu semampu Zico," ujar Zico menenangkan.
"Kakak sudah menemukan ibu kandung kakak, Zico. Tapi kakak tidak percaya kalau wanita itu adalah wanita jahat yang sudah tega membuang kakak!" seru Adeline dengan Isakan tangis yang terdengar pilu.
__ADS_1