Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Menyerahkan diri


__ADS_3

Selesai memakai pakaian santainya Danendra bergegas keluar dari kamar untuk menyusul sang istri. Ketika menuruni beberapa anak tangga ada seseorang yang memanggilnya. Danendra menoleh dan mendapati sang ayah berada di belakangnya.


"Ada apa, Pa?" tanya Danendra kembali melangkah naik.


"Papa hanya ingin memastikan, apakah benar putra tunggal Om Baim menikah dengan Rihanna?"


"Papa baru tahu? Mereka bahkan sudah memiliki calon keturunan."


"Kamu serius, Nendra? Papa takut jika itu hanya akal-akalan Rihanna untuk menghancurkan kamu saja."


*****


Pagi-pagi sekali dunia Maya sudah digemparkan dengan penangkapan seorang pengusaha ternama di kota itu. Seorang pengusaha yang dikenal kebal oleh hukum itu kini hanya pasrah ketika digelandang petugas dengan kedua tangannya yang diborgol.


"Benar, tersangka dengan inisial R-A menyerahkan dirinya tadi malam atas kasus pembunuhan. Tersangka mengakui segala perbuatannya yang telah menghilangkan nyawa mertuanya sendiri serta seorang pengusaha lain dengan inisial A-B." Seorang petinggi kepolisian menjelaskan duduk perkara saat melakukan jumpa pers.


Suara gelas jatuh yang membentur lantai hingga pecah menjadi kepingan kecil terdengar. Riani menoleh ke belakang dan mendapati sang menantu berdiri dengan tatapan tertuju ke arah televisi yang masih menyiarkan berita penangkapan seorang pengusaha terkenal.


Meskipun tersangka tengah menunduk dan namanya tidak disebutkan secara jelas, Rihanna paham siapa seseorang yang sedang berada di belakang tubuh seorang petinggi kepolisian itu. Kedua kaki wanita hamil itu langsung lemas seperti tanpa tulang. Dia yang awalnya berdiri tegak tiba-tiba limbung dan hampir jatuh ke lantai.


"Rihanna." Sang mertua dengan sigap berlari dan menangkap tubuh yang hampir luruh ke lantai tersebut.


Riani mendekap erat tubuh lemas menantunya. Walaupun Rihanna tidak menangis, tetapi Riani paham jika perasaan sang menantu tengah hancur saat ini.


"Pa-pa. Dia pa-paku, Mam." Dalam keadaan lemas Rihanna menunjuk layar berukuran besar di depan sana.


"Mami tahu, Sayang. Kamu yang sabar," ujarnya berusaha menenangkan sang menantu.


Tidak terasa kedua netra wanita hamil itu mengembun. Sebentar lagi akan ada setetes air mata yang mengalir karena kesedihan yang datang tiba-tiba.

__ADS_1


"Rihanna sudah lama tidak melihat papa, Ma. Aku kira papa sudah tiada," lirihnya disertai air mata yang jatuh ke lantai.


"Kita kembali ke kamar, yah! Mami akan buatkan kamu teh hangat yang baru."


Rihanna mengangguk kecil meski tatapannya belum lepas dari berita yang berputar di layar televisi. Rihanna tidak menyangka bahwa sang ayah benar-benar menyerahkan diri pada pihak berwajib. Walaupun sebenarnya ada rasa lega karena mengetahui sang ayah masih hidup.


Riani membantu sang menantu menuntunnya kembali ke kamar. Pecahan gelas yang ada di ruang televisi tidak dihiraukan karena pasti sudah ada orang yang akan membersihkannya.


Kedua wanita kesayangan Malik Ibrahim itu melangkah secara perlahan-lahan menaiki anak tangga hingga sampai di depan kamar. Riani membuka pintu yang tertutup lalu kembali memapah sang menantu masuk ke kamarnya.


"Kamu kuat, Rihanna. Mami pasti akan selalu mendukung kamu," ujar sang mertua setelah membantu menantunya naik ke atas ranjang.


"Mami, bolehkan kalau aku ingin menemui papa di kantor polisi?" tanya Rihanna penuh harap.


Senyuman tipis serta anggukan kecil menjadi jawaban. Izin dari sang mertua tentu saja membuat Rihanna merasa lega. Namun, ucapan Riani selanjutnya kembali membuat Rihanna murung.


Sementara itu, Malik yang awalnya sedang meeting di kantor bergegas pergi menuju kantor polisi. Laki-laki yang kini menjadi calon ayah itu bahkan sampai meninggalkan ruangan meeting ketika kegiatan itu masih berlangsung.


Beberapa staf dan karyawan pun merasa aneh dengan reaksi sang petinggi perusahaan saat mendengar kabar tentang kasus yang menjerat seorang pengusaha sukses yang mereka kira tidak ada hubungan apapun dengan sang bos.


"Ada apa dengan Tuan Malik? Kenapa dia buru-buru pergi setelah mendengar kabar itu?" tanya seorang staf kepada staf lainnya.


"Tidak tahu. Mungkin Tuan Malik sebenarnya memiliki suatu hubungan dengan pengusaha itu," jawab staf yang lain lagi.


"Kalian bisakah diam? Jangan berani menggosip tentang bos kalian. Kalau kalian masih berani melakukan itu, silahkan angkat kaki dari perusahaan ini." Celine yang kebetulan masih berada di tempat itu menebar ancaman kepada para jajaran staf dan karyawan yang mengikuti meeting saat ini.


Celine tentu saja tahu tentang hubungan sang bos dengan seorang pengusaha yang kini tersandung kasus kriminal tersebut. Sebagai sekretaris, Celine tidak hanya mengurus tentang pekerjaan kantor saja, melainkan urusan pribadi sang bos pun turut serta menjadi tanggung jawabnya.


Malik mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk stir mobil sebagai pelampiasan rasa gelisahnya. Berita yang kini menggemparkan jagat maya pasti akan berdampak kepada sang istri, Malik yakin akan hal itu.

__ADS_1


"Kenapa papa melakukan ini? Bukankah Malik sudah meminta papa untuk mengundur waktu?" monolog laki-laki itu seolah seseorang yang sedang dia ajak bicara berada di depannya.


Dering ponsel miliknya mengganggu konsentrasi Malik. Sekilas dia melihat nama seseorang yang tertera di layar ponselnya. Malik buru-buru mengambil earphone bluetooth untuk menerima panggilan tersebut.


"Iya, Mam."


" …."


"Bilang pada Kayla, Malik segera pulang."


Malik yang sebenarnya akan mengunjungi mertuanya di penjara pun mengurungkan niatnya. Dia memutar balik arah kendaraan roda empatnya untuk pulang ke mansion. Kini lebih penting dia berusaha menenangkan sang istri daripada meminta penjelasan dari mertuanya.


Beberapa saat kemudian Malik sudah sampai di depan pintu gerbang mansion. Dengan tidak sabaran laki-laki itu menekan klakson karena penjaga tidak kunjung membukakan gerbang.


"Sial*n! Mereka ke mana, sih?"


Mendengar suara klakson mobil yang dibunyikan secara brutal para penjaga pun lari tunggang langgang untuk memeriksa siapa pelaku yang sudah berani membuat keributan. Namun, saat mereka melihat mobil milik tuan mudanya yang berhenti di depan gerbang, jantung mereka pun berpacu dengan cepat. Mereka berlari untuk segera membuka pintu gerbang sebelum sang Cita mengamuk.


Malik bergegas turun dari mobil saat kendaraan itu sudah berhenti tepat di depan halaman depan mansion. Laki-laki itu berlari masuk dan segera menuju kamarnya. Rasa khawatirnya kepada Rihanna kini bertambah berkali-kali lipat karena istrinya itu sedang dalam keadaan mengandung.


"Assalamualaikum," ucapnya seraya membuka pintu kamar.


"Waalaikum salam, Malik. Akhirnya kamu pulang," timpal Riani tersenyum lega.


"Kayla kenapa, Mam? Ada yang sakit? Ayo kita bawa ke rumah sakit, sekarang!" cerocos Malik yang mengira Rihanna langsung drop setelah mengetahui berita kasus yang menimpa ayahnya.


"Aku tidak apa-apa, Malik. Tolong antarkan aku menemui papa," mohonnya dengan sorot mata penuh harap.


__ADS_1


__ADS_2