
Danendra secepatnya datang ke rumah sakit saat mendapatkan kabar bahwa Nabila histeris setelah tahu tentang kabar tragis yang menimpa Arnold. Laki-laki calon ayah itu berlari melewati lorong-lorong rumah sakit agar segera sampai. Selain Nabila adalah sahabat ibunya, wanita paruh baya itu juga merupakan ibu mertuanya.
Saat Danendra masuk ke ruang perawatan yang sudah diberitahukan oleh Silvia, ternyata Nabila sudah dalam keadaan tertidur di ranjang. Sedangkan Silvia langsung berdiri saat melihat kedatangan sang putra.
"Aunty sudah tidur?" tanya Danendra dengan suara lirih.
"Dokter terpaksa memberi obat penenang agar Nabila tidak mengamuk, Nendra." Silvia terlihat sangat kebingungan.
Danendra mengangguk mengerti. "Tapi bagaimana bisa Aunty tahu tentang kabar kemat*an kakek Arnold, Ma?"
"Tadi saat mama tinggal ke kantin untuk sarapan, Aunty Nabila menonton tv. Tapi ternyata sebuah infotainment menayangkan tentang kasus yang tiba-tiba ditutup oleh pihak berwajib tanpa alasan yang jelas itu," jawab Silvia dengan ekspresi sesal. Andaikan saja dia tidak meninggalkan Nabila sendirian mungkin dia tidak akan kecolongan.
"Lalu Rihanna dimana, Mam?" tanya Danendra yang sama sekali tidak melihat keberadaan perempuan itu.
"Mama sudah berusaha menghubungi Rihanna, tetapi selalu di tolak," jawab Silvia sedikit frustasi.
Danendra menggeleng serta membuang napas berat. "Aunty Nabila, sejak dulu memiliki anak dan suami, tetapi seperti hidup sebatang kara."
"Terus gimana, Nendra? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Silvia kebingungan.
"Kita coba bawa Aunty Nabila pulang ke mansion saja, Ma. Di sana ada Adel yang akan menjaga Aunty dengan baik," ucap Danendra memberi saran.
"Tapi, kalau Rocky tidak terima, bagaimana, Nendra?"
"Biar itu menjadi urusan Nendra, Ma," jawab Danendra seakan tidak keberatan jika mendapat masalah atas keputusan yang saat ini diambil.
Dengan pengawalan khusus dan ketat akhirnya Nabila yang masih belum sadarkan diri dari obat penenang itu dibawa pulang ke mansion Alefosio. Saat baru saja sampai, Danendra sendiri yang menggotong tubuh lunglai sang mertua ke dalam kamar tamu.
Adeline yang tidak sengaja melihat sang suami menggendong seorang wanita langsung mengejarnya. Namun, di hentikan oleh Silvia dengan meraih pergelangan tangan sang menantu.
"Tenanglah, Elin. Nendra hanya menggendong Aunty Nabila," ujar Silvia memberi pengertian.
__ADS_1
"Aunty Nabila? Kenapa di bawa ke sini, Mam? Bukankah dia masih memiliki keluarga?" tanya Adeline heran.
"Kamu adalah keluarganya, Elin," batin Silvia yang begitu berat mengucapkan kebenaran itu dari mulutnya.
"Suaminya sedang di luar kota, Elin, Rihanna juga tidak ada kabar." Akhirnya hanya itu yang mampu diucapkan oleh Silvia.
"Oh, Elin mengerti."
"Bantu mama mengurusnya, yah!"
"Tentu saja, Ma," ujar Adeline tanpa keberatan.
Beberapa jam kemudian Silvia sadar dari pengaruh obat penenang yang disuntikkan oleh dokter. Wanita itu kembali histeris saat mengingat kabar itu lagi. Dia melemparkan sebuah vas bunga yang terdapat di atas meja samping ranjang, kebetulan pada saat itu Adeline yang membuka pintu untuk masuk ke kamar tamu yang di tempati oleh Nabila.
Vas bunga itu hampir saja mengenai Adeline jika saja Danendra tidak sigap menarik mundur sang istri. Vas mahal itu membentur lantai hingga pecah berserakan. Mereka berdua langsung berlari menghampiri Nabila yang masih histeris. Adeline dengan cepat mendekap tubuh Nabila yang berontak.
"Lepaskan aku! Aku mau ke makam Daddy!" teriak Nabila dengan suara keras.
Silvia yang awalnya berontak sepenuh tenaga akhirnya melemah saat mendengar seruan Danendra. Wanita paruh baya itu diam saat mendengar nama sang putri pertama disebut. Dia menoleh ke samping, Adeline masih tetap memeluknya dengan erat.
"Elin, kamu di sini, Sayang?"
"Iya, Aunty, Elin yang akan menjaga Aunty dengan baik," jawab Adeline dengan suara lembut.
"Kenapa kamu masih memanggilku dengan sebutan Aunty, Sayang?" tanya Silvia yang mengira bahwa Adeline juga sudah mengetahui kebenaran itu.
"Lalu saya harus panggil apa, Aunty?" tanya balik Adeline heran, wanita hamil itu melepaskan pelukannya karena Silvia sudah tidak lagi berontak.
"Aku mamamu, Elin. Peluk mama, Sayang. Jangan tinggalkan mama!" seru Silvia memohon.
Adeline justru terdiam dengan tatapan nanar. Dia tidak percaya dengan ucapan Silvia barusan.
__ADS_1
"Maksud Aunty apa? Elin anak Aunty?" tanya Adeline memastikan.
Danendra dengan cepat memegang pundak Adeline yang membuat wanita hamil itu menatap ke arahnya. Laki-laki itu membelai dengan lembut sang istri dengan sedikit senyum tipis.
"Apa yang dikatakan Aunty Nabila adalah benar, kamu adalah anaknya, Sayang. Dia ibu kandung kamu," ucap Danendra yang akhirnya memutuskan untuk memberi tahu sang istri.
"Kamu serius, Nendra?" tanya Adeline masih tidak percaya.
Danendra tidak menjawab dengan ucapan. Laki-laki itu hanya mengangguk kecil dan tetap memberikan elusan lembut di bahu istrinya.
Adeline yang terkejut langsung bangun. Dia yang awalnya merasa kasihan dan iba kepada Nabila, kini justru langsung berusaha menjauhi wanita yang ternyata adalah ibu kandungnya.
"Tidak mungkin, Nendra! Aunty Nabila orang baik. Dia tidak mungkin sejahat itu membuang aku dari kehidupannya!" seru Adeline tidak terima.
Nabila merentangkan kedua tangannya dengan lebar. Berharap sang putri mau masuk ke dalam pelukan hangatnya. Namun, Adeline enggan merespon. Wanita hamil itu masih menggeleng cepat dan sedikit demi sedikit melangkah mundur.
"Elin, peluk Mama, Sayang! Mama tidak pernah membuang kamu," mohon Nabila dengan deraian air mata.
Elin masih terus mundur hingga sampai di ambang pintu, sedang Danendra bingung akan mengejar sang istri atau menenangkan Nabila lebih dulu. Sementara itu, Silvia sendiri tidak berada di mansion.
Saat sampai di ambang pintu kamar Adeline segera berlari meninggalkan kamar tersebut. Dia masih tidak terima dengan kebenaran yang baru saja dia ketahui. Dia masih menganggap bahwa ibunyalah yang sudah tega membuang dia tanpa rasa belas kasih.
"Aunty, tenanglah. Adeline pasti memerlukan waktu untuk menerima kenyataan ini," ucap Danendra berusaha memberi pengertian.
"Nendra, apakah salah jika Aunty mengakui hal ini? Kenapa Adeline tidak mau menerima aunty?" tanya Nabila kepada sang menantu.
Danendra duduk di lantai dan sedikit bersimpuh di hadapan sang mertua. "Atas nama istriku, aku meminta maaf, Aunty. Tapi aku yakin, dia bukan tidak menerima Aunty, dia hanya belum bisa menerima kenyataan ini saja," ujar Danendra yang terus berusaha memberikan pengertian dan menjelaskan situasi yang sedang terjadi.
Sementara itu, Adeline berlari masuk ke kamar utama. Wanita itu bahkan mengunci pintu kamar agar tidak ada seorangpun yang masuk ke sana. Wanita hamil itu merasa perlu waktu sendirian untuk memahami semua yang terjadi di kehidupannya yang rumit ini.
"Kenapa Tuhan? Kenapa takdir sekejam ini padaku?" Adeline berteriak dengan lantang.
__ADS_1