
Selesai menunaikan ibadah shalat isya berdua, mereka segera turun ke lantai dasar untuk ikut makan malam bersama. Malik menggandeng tangan sang istri dengan hati-hati. Sementara itu, Rihanna justru masih merasa kesal karena ucapan Malik tadi. Rasa kesal itu semakin menjadi saat Malik justru membuat langkahnya sangat terbatas.
Rihanna paham untuk berhati-hati ketika hamil seperti ini. Namun, hati-hati versi Malik benar-benar menguras emosi. Bagaimana tidak, laki-laki itu membuat langkah Rihanna semakin berat karena saat ini mereka berjalan tanpa jarak sedikitpun, tubuh keduanya menempel erat bagaikan perangko yang menempel pada kertas.
"Malik, lepaskan aku sebentar. Kamu berat sekali, tahu!" keluh Rihanna dengan suara kecil.
"Aku harus menjaga kamu, Sayang. Nanti kalau ketahuan mami kalau aku tidak membantu kamu berjalan, dia pasti akan marah-marah," jawabnya santai tanpa beban.
"Tapi kamu malah bikin langkahku makin berat, Malik!" sembur Rihanna yang ingin segera terlepas dari suaminya.
"Kamu mau aku gandeng seperti ini, atau aku gendong ke bawah sekalian?" tanya Malik mengancam.
Rihanna mendengus kesal, suaminya ini memang semakin posesif sejak mereka sama-sama mengungkapkan perasaan masing-masing. Dengan sangat terpaksa Rihanna membiarkan Malik merangkul pundaknya, meski hal itu sangat mengganggu langkahnya.
Kini keduanya telah sampai di ruang makan. Di tempat itu sudah ada Riani dan Ibrahim. Kedua manusia paruh baya itu tersenyum lembut saat melihat kedatangan anak dan menantunya.
"Kalian sudah datang, baru aja mau mami susul," ucap Riani kembali mendudukkan dirinya.
__ADS_1
"Maaf, lama ya, Mi?" tanya Rihanna dengan perasaan tidak enak.
"Enggak, kok! Mami sama papi juga baru ke sini," jawab Riani lembut.
"Memangnya kalian abis ngapain? Biasanya Rihanna lebih semangat kalau mau makan malam." Ibrahim bertanya karena biasanya memang Rihanna yang lebih dulu berada di ruang makan sejak mengetahui bahwa dirinya sedang hamil.
"Em, kami baru sholat berjamaah, Pi. Kayla yang ajak tadi." Malik yang menjawab pertanyaan Ibrahim karena sepertinya sang istri sedikit malu-malu untuk menjawab.
Raut wajah Ibrahim dan Riani seketika berseri-seri setelah mendengar jawaban putranya. Mereka tentu bahagia karena sang menantu yang merupakan seorang mualaf kini memiliki inisiatif untuk mengajak suaminya beribadah.
"Ya, Pi. Malik juga tahu itu."
"Ya sudah, ayo kita makan dulu!" ajak Riani menghentikan pembicaraan mereka.
Riani sangat paham bahwa menantunya kini sedang tersipu malu setelah mendapat pujian dari kedua laki-laki penghuni mansion. Wanita paruh baya itu pun yakin bahwa pipi menantunya saat ini memerah bak kepiting rebus, terbukti dari wanita hamil itu menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepala.
Kedua pasang pengantin beda generasi itu kini menyantap makan malamnya. Mereka makan dalam diam, hanya ada dentingan sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring.
__ADS_1
Ketika semua sudah selesai makan, Riani menatap sang menantu yang duduk di hadapannya. "Rihanna," panggil Riani tanpa melepas pandangan.
"Ya, Mi."
"Boleh mami bertanya?"
"Boleh, memangnya mami mau bertanya tentang apa? Kelihatannya serius."
"Kamu marah?"
Kedua alis Rihanna bertaut saat mendapat pertanyaan aneh itu dari sang mertua. Wanita hamil itu merasa bingung karena mertuanya itu tiba-tiba menanyakan perasaannya saat ini.
"Maksud mami apa? Rihanna marah, memangnya marah kenapa dan sama siapa?"
"Marah karena mami udah larang kalian pergi ke Indonesia. Maksud mami baik, Sayang. Mami hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kamu dan calon cucu mami. Kalian adalah harta berharga bagi mami," jelas Riani lugas.
"Ha, memangnya siapa yang mau ke Indonesia, Mam?"
__ADS_1