
Danendra yang sebenarnya masih dikuasai amarah, semakin emosi ketika mendengar ucapan pria tidak tahu diri itu. Padahal sudah merasakan bagaimana rasanya bogem mentah darinya. Namun, sepertinya pria itu belum juga kapok.
Sebagai seorang suami yang begitu mencintai istrinya, Danendra tentu saja tidak terima dengan ucapan pria yang sudah babak belur itu. Laki-laki bertubuh kekar dengan otot-otot yang menonjol di beberapa bagian tubuhnya itu kini menghentikan langkah. Tangannya terkepal seakan mengumpulkan segala rasa amarahnya disana. Dia berniat berbalik untuk kembali memberikan pelajaran untuk pria tidak tahu malu seperti Richard. Namun, Adeline menahannya dengan melingkarkan tangan di lengan sang suami erat-erat.
"Nendra, jangan! Aku tidak ingin perkara ini di ketahui oleh papa dan mama," lirih Adeline memohon dengan wajah sendunya.
Sorot mata tajam Danendra kini membingkai wajah sang istri yang benar-benar terlihat tertekan. Tangan kirinya kini membelai lembut wajah sang istri penuh kasih.
"Dalam keadaan seperti ini pun kamu masih memikirkan keluarga kamu, Adel. Kamu benar-benar penyayang keluarga," puji Danendra tulus.
"Baiklah! Kita ke kamar sekarang." Danendra kini mengangkat tubuh sang istri ke atas gendongannya ala brydal style.
Sementara itu, Richard hanya bisa menatap nanar kepergian sang mantan kekasih yang kini di bawa oleh suaminya. Pria yang masih terduduk di lantai bersandarkan dinding itu susah payah berusaha bangkit dari posisinya. Namun, lagi-lagi dia terjatuh karena merasakan sakit di seluruh tubuh.
"Sial*n! Bocah itu menjadikanku samsak tinjunya. Tangannya kenapa kuat sekali, badanku sampai terasa remuk karena di hajar olehnya," gerutu Richard yang tidak menyangka bahwa suami sang mantan kekasih memiliki tenaga seperti raja rimba.
"Bagus kalau kau sadar. Seharusnya jangan mencari masalah dengan pria kejam itu. Dia sudah terkenal dengan sifatnya yang bengis!" Sela seseorang yang baru saja datang.
"Sudahlah! Jangan mengoceh seperti burung. Sekarang bantu aku untuk bangun!" perintah Richard tanpa mau di komentari.
"Kau itu suamiku, Kak. Kenapa malah sibuk memikirkan istri orang? Apa kurangnya aku untuk kamu?" tanya Grasiella menuntut, akan tetapi tetap membantu sang suami.
"Sudah aku bilang jangan terlalu banyak mengoceh! Kau bertanya apa kekuranganmu?" Richard menatap sinis Grasiella. "Kau tidak ingat apa yang kau berikan padaku pada malam pertama kita menikah? Atau perlu aku ingatkan lagi?"
Raut wajah Grasiella mendadak berubah pucat pasi. "Kak Rich sudah bilang tidak akan membahas masalah itu lagi," ujarnya dengan suara cemas.
"Jika tidak ingin aku membahas masalah itu lagi, jangan terlalu banyak komentar! Jalani saja apa yang sudah kita mulai. Bukankah kita simbiosis mutualisme?" Richard sengaja mengintimidasi istrinya.
"Lihat saja, Kak. Aku akan menghancurkan mu!" tekadnya yang hanya mampu di ucap dalam hati.
__ADS_1
Dengan sangat terpaksa Grasiella membantu sang suami. Meski laki-laki itu sudah banyak sekali memberikan rasa sakit padanya, akan tetapi dialah yang memegang rahasia besar yang selama ini dia sembunyikan dari seluruh keluarga.
Di sisi lain, Danendra menurunkan sang istri dari gendongannya ke atas ranjang. Pria itu memakaikan selimut tebal untuk menutupi tubuh sang istri yang terekspos dengan jelas. Namun, tidak ada sedikitpun rasa ingin mencicipinya karena melihat wajah Adeline yang masih ketakutan.
Danendra sadar, mungkin Adeline ketakutan karena belum pernah melihat orang yang sampai melampiaskan amarah dengan memukuli orang tanpa ampun.
"Kamu tidur, yah!" perintah Danendra setelah membelai lembut puncak kepala istrinya.
Sebenarnya pria itu juga masih merasa kesal karena melihat istrinya itu berkeliaran di luar kamar dengan pakaian minim bahan yang harusnya hanya pantas di gunakan ketika tidur dan di depan suaminya. Akan tetapi Danendra sama sekali tidak ingin membahas perkara itu sekarang juga.
Merasa bersalah karena membuat sang istri ketakutan, Danendra memilih untuk pergi dari sana. Namun, ketika dia baru saja mau mengayunkan langkahnya, Adeline tiba-tiba menahan dengan memegang erat tangan sang suami.
"Mau kemana, Nendra?" tanya Adeline memberanikan diri menatap sang suami.
"Aku perlu waktu sendiri, Adel. Kamu istirahat saja," jawab Danendra sedikit memaksa diri untuk mengulas senyum.
"Sudah, Sayang. Tidak perlu di bahas, aku tahu semuanya. Sekarang kamu istirahat saja! Tidak perlu memikirkan apapun," sela Danendra dengan cepat.
Mau tidak mau Adeline melepaskan genggaman tangannya. Danendra bergegas keluar dari kamar itu saat sudah berhasil menenangkan sang istri.
Adeline menatap sendu punggung suaminya saat pria itu berjalan menjauh darinya. Rasa bersalah kini menguasai diri perempuan dewasa itu karena sudah membuat sang suami kecewa. Meski dia belum memiliki perasaan apapun pada berondongnya itu, akan tetapi Adeline sudah bertekad akan pelan-pelan menerima kehadirannya dan berusaha melupakan luka yang di torehkan oleh sang mantan kekasih.
"Maaf, Nendra. Tapi aku akan berusaha untuk tetap setia padamu," lirihnya saat pintu kamar kembali tertutup.
Danendra memutuskan untuk menyendiri di taman berukuran kecil di kediaman Antonio. Pria itu menyulut api untuk membakar rokoknya sebagai teman kesendiriannya malam ini.
Pria itu menghisap ujung rokok miliknya lalu mengeluarkan asap yang mengepul ke atas. Danendra terus melakukan kegiatan itu berulang-ulang. Berusaha membuang kegundahan hatinya saat ini.
Sebagai seorang suami sah dari seseorang wanita yang belum bisa sepenuhnya menerima kehadirannya dan tiba-tiba justru melihat wanita tercinta di peluk oleh pria lain, ternyata rasanya sehancur ini. Dia bahkan akan lebih memilih berduel dengan seribu orang dari pada melihat hal itu terjadi lagi.
__ADS_1
"Adel, apakah kamu benar-benar tidak bisa melupakan pria bre*gsek itu? Bukankah dia sudah menyakiti hatimu tanpa belas kasih?" gumam Danendra meratap.
Meski dalam keadaan gundah gulana, akan tetapi insting Danendra masih berfungsi dengan baik. Pria itu diam sambil melirik ke belakang. Ada seseorang yang sepertinya sedang mengintai dirinya.
"Keluar! Tidak perlu mengintipku seperti itu."
Seseorang yang bersembunyi dibalik tanaman bunga itu tersentak. Ternyata kegiatannya di ketahui oleh laki-laki bertubuh atletis yang tengah duduk menyendiri di taman.
"Keluar, atau aku lepaskan peluruku ke kakimu!" Danendra mengancam tanpa main-main.
Terpaksa seseorang itu keluar dari balik tanaman bunga, lalu memaksa langkahnya untuk mendekat pada laki-laki yang sudah bersiap mengeluarkan senjata dari balik celananya.
"Kak Nendra, maaf kalau Ella lancang. Ella hanya penasaran kenapa kakak malah di sini sendirian?"
Ella dengan senyum malu-malu menyapa sang kakak ipar. Perempuan yang merupakan adik dari Adeline itu tanpa permisi duduk di ruang kosong di samping Danendra. Sementara itu, Danendra hanya melirik sekilas adik iparnya itu.
"Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu, 'kan?" Sinis Danendra yang sudah paham akan sifat asli di balik kepolosan seorang Grasiella.
"Kenapa kakak sekarang jual mahal? Bukankah tadi ketika kita makan malam bersama, kakak sering curi pandang ke arahku? Kakak tertarik padaku, 'kan?"
Danendra menyeringai ketika mendengar ucapan tidak tahu malu dari adik iparnya itu. Pria yang awalnya masih fokus pada rokoknya itu seketika mengembuskan napas beserta mengeluarkan asap rokok dari mulutnya ke arah wajah adik iparnya itu.
Grasiella memejamkan mata ketika merasakan aroma rokok serta wangi dari mulut suami kakaknya itu. "Dia merokok saja napasnya bisa seharus ini. Kak Elin pasti beruntung sekali mendapatkannya. Aku pun sampai tergoda," batin Grasiella hingga muncul rona merah di wajahnya.
"Bagaimana? Napasku sangat menggoda 'kan? Suamimu pasti tidak ada seujung kukunya dari segala yang aku miliki."
"Bagaimana jika kita menikmati malam bersama, Kak. Aku …."
__ADS_1