Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Jatuh di tangga


__ADS_3

Danendra kembali mendekati Rocky. Kini dengan ekspresi datar yang sulit untuk diartikan bahwa laki-laki itu akan menerima atau menolak tawaran dari Rocky.


"Om, saya tidak pernah membutuhkan bantuan dari siapapun, apa lagi dari orang jahat seperti anda. Saya sudah bicara baik-baik, dan saya mohon jangan uji kesabaran saya dengan tingkah laku anda. Silahkan pergi dari sini! Saya masih lebih dari mampu untuk menjaga orang-orang yang saya sayangi." 


Setelah mengucapkan kata itu, Danendra melenggang masuk ke mansion. Laki-laki itu sangat jengkel dengan ucapan dari Rocky yang terkesan meremehkannya. 


Tidak berselang lama beberapa rombongan mobil mewah yang dipimpin oleh Gerry telah sampai di mansion megah Alefosio. Para anggota ALF yang sudah terlatih turun bergantian dengan pakaian serba hitam dan memegang senapan di tangan mereka masing-masing. 


Mereka mengepung Rocky yang masih berdiri di depan gerbang dengan teriakan memaki sang tuan muda. Pria tua itu marah karena Danendra menolak mentah-mentah permintaan dan niat baiknya. 


Gerry berjalan hingga berada di barisan terdepan para anggota itu. Pria kepercayaan Danendra itu menatap tajam pada pria kejam di hadapannya. Meskipun begitu, Gerry sama sekali tidak takut berhadapan dengan pria yang dengan bodohnya berani datang ke mansion itu sendirian. 


"Anda berani sekali memaki tuan muda kami di tempat kekuasaannya. Apakah anda sudah bosan hidup?" tanya Gerry dengan tatapan meremehkan. 


Rocky membalas tatapan Gerry dengan tatapan tajamnya. Tidak ada sedikitpun rasa gentar meski sudah terlontar ancaman serta posisi yang sudah terdesak. 


"Jika aku harus m*ti hari ini di tangan kalian, aku rela asalkan istriku mau menemuiku!" teriak Rocky dengan berani. 


"Wah-wah-wah, ada angin apa sampai tiba-tiba anda berubah seperti ini, Tuan? Apakah anda kira saya akan percaya begitu saja?" tanya Gerry disertai tepuk tangan yang ditujukan untuk memuji akting Rocky. 


Mereka berdebat di depan gerbang mansion. Pada saat itu, Adeline yang kebetulan baru akan masuk mansion setelah mencoba menenangkan diri di taman tanpa sengaja melihat keributan yang terjadi. Wanita hamil itu perlahan-lahan melangkah mendekat dan bersembunyi di balik sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari sana. 


"Terserah apa kata kalian. Yang jelas aku ingin bertemu dengan Nabila. Cepat bawa dia kemari! Aku harus segera meminta maaf dan menebus dosaku padanya." 


Gerry tertawa jahat tatkala mendengar ocehan dari pria tua itu. "Apa kau merasa sudah dekat dengan aj*lmu sampai kau mau meminta maaf pada istrimu, Tuan?" 


"Jadi, dia suami Aunty Nabila? Dia pasti tahu tentang seluk beluk kehidupan wanita yang mengaku sebagai ibu kandungku itu," ujar Adeline yang tiba-tiba terlintas sebuah rencana. 


"Sayang!" 


Suara dari belakang serta tepukan di bahunya membuat Adeline terdiam. Wanita hamil itu memejamkan mata dengan jantung yang berdebar kencang. Sepertinya suaminya itu memergoki aksi menguping yang dia lakukan. 


"Kamu sedang apa disini? Hari sudah sore. Tidak baik untuk wanita hamil berada di luar," ujar Danendra sambil membalikkan tubuh istrinya. 

__ADS_1


"Aku … hanya mencari udara segar," jawab Adeline beralasan. 


"Oh, ya sudah. Ayo kita masuk!" ajak Danendra sambil menggandeng Adeline. 


"Nendra, laki-laki yang di depan itu, dia suami Aunty Nabila?" tanya Adeline memastikan. 


Langkah kaki Danendra terhenti saat mendapat pertanyaan itu dari Adeline. Laki-laki muda itu mengangguk pelan sebagai jawaban. 


"Kalau begitu, izinkan aku menemuinya." 


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan kamu menemui pria jahat itu." 


"Tapi aku perlu memastikan kebenaran melalui laki-laki itu, Nendra." Adeline tetap memaksa ingin bertemu dengan laki-laki yang merupakan suami dari wanita yang mengaku-ngaku sebagai ibunya. 


"Kau lebih percaya pada orang lain dari pada suami kamu sendiri, Adel? Tidak bisakah kamu sedikit saja menghargaiku sebagai seorang suami. Meski usiaku lebih muda darimu, disini akulah kepala rumah tangganya!" Tanpa sadar Danendra membentak Adeline dengan sangat keras. 


Wanita hamil itu langsung diam tanpa kata, detik berikutnya dia berlari masuk ke mansion dan meninggalkan Danendra seorang diri. Begitu sadar atas kesalahannya Danendra langsung berlari mengejar sang istri yang sudah berada di tangga. 


Saat berlari di undakan anak tangga tidak sengaja kaki Adeline tergelincir. Wanita itu terjatuh dengan posisi terduduk di tangga dan kedua tangan yang memegang teralis pembatas. 


Adeline meringis menahan sakit dengan tangan kanan yang memegang perut sedangkan tangan kirinya berpegang pada teralis besi pembatas tangga. 


"Sakit, Nendra," keluh Adeline yang merasakan nyeri di perut bagian bawah. 


"Bertahanlah, Sayang." 


Danendra mengangkat Adeline ke gendongannya, sekilas dia melihat ada darah yang menempel di lantai tangga lalu bergegas membawa wanita hamil itu ke kamar utama. Setelah sampai di kamar, Danendra segera membaringkan tubuh Adeline di kasur. Laki-laki itu segera merogoh ponsel untuk menghubungi seseorang. 


"Cepat datang kemari dan bawa segala peralatan medis untuk menangani istriku. Dia terjatuh di tangga!" perintah Danendra kepada seseorang yang berada di seberang sana. 


"Sakit, Nendra. Tolong!" 


"Iya, Sayang. Sebentar, dokter akan segera sampai." 

__ADS_1


Kamar itu dipenuhi oleh suara kesakitan yang keluar dari bibir Adeline. Tidak lama kemudian Silvia yang baru pulang tidak sengaja mendengar suara sang menantu. Wanita paruh baya itu langsung masuk ke kamar utama untuk mencari tahu alasan kenapa sang menantu menangis. 


"Nendra, Elin. Ada apa?" tanya Silvia seraya berlari mendekat dengan raut wajah khawatir. 


"Adel jatuh di tangga, Mam." Danendra menjawab dengan suara tertahan. 


Laki-laki itu pun merasa khawatir jika terjadi sesuatu kepada sang istri dan calon buah hati mereka. Rasa bersalah karena sudah membentak istrinya itu semakin menguat saat melihat dan mendengar sang istri kesakitan. 


"Kenapa tidak bawa ke rumah sakit saja? Adeline pasti butuh perawatan." 


"Tidak perlu, Ma. Aku sudah menghubungi dokter spesialis untuk menangani Adel." 


Tidak lama berselang dokter datang, tenaga kesehatan itu tidak hanya datang sendiri melainkan membawa beberapa perawat serta peralatan medis khusus untuk menangani ibu hamil. 


"Segera periksa istriku, dan pastikan mereka baik-baik saja!" perintah Danendra. 


Dokter spesialis yang didatangkan oleh Danendra memeriksa Adeline yang masih merasa kesakitan. Beberapa pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui keadaan janin di dalamnya. 


Beberapa saat kemudian dokter menggeleng cepat saat selesai memeriksa Adeline menggunakan alat Ultrasonografi. Adeline histeris saat paham dengan maksud gelengan kepala yang dilakukan oleh dokter tersebut. 


Danendra keluar dari kamar mandi dan segera berlari mendekati ranjang saat melihat sang istri yang tidur dengan gelisah. Dari mulut wanita itu bahkan terdengar rintihan. Kening Adeline juga dipenuhi oleh butiran keringat besar yang menandakan bahwa wanita itu sepertinya sedang bermimpi buruk. 


"Sayang, bangun!" 


Adeline belum juga bangun, wanita itu terus merintih seperti kesakitan. Danendra yang semakin khawatir memutuskan untuk menggoncang tubuh istrinya agar segera bangun. 


"Adel, bangun!" 


Beberapa kali Danendra melakukan hal tersebut. Namun, Adeline belum juga bangun. Seolah wanita itu terjebak di alam mimpi. 


"Sayang!" Danendra menggoncang tubuh Adeline lebih keras hingga wanita itu terbangun. 


Wanita itu langsung terduduk dengan napas terengah-engah dan wajah panik. Dia menatap sang suami yang berada di depannya. 

__ADS_1


"Nendra, anak kita dimana?" tanya Adeline dengan cepat. 


__ADS_2