Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Hantaran Pernikahan


__ADS_3

Gerry baru saja sampai di kantor, saat baru saja membuka pintu ruangan CEO dia langsung mendapat sambutan kata-kata yang cukup membuat mental jatuh jika orang itu belum memiliki kedekatan apapun dengan si penghuni ruangan. 


"Kau sudah berasa pemilik perusahaan, yah, Ger. Jam berapa sekarang? Kenapa baru datang setelah matahari sudah berada di atas kepala?" cerocos Danendra yang seketika membuat Gerry menelan ludahnya yang tiba-tiba sangat terasa kasar di tenggorokannya. 


"Maaf, Tuan," ucap Gerry yang terpaksa berhenti melangkah. Dia berdiri di depan pintu dengan tatapan merunduk. 


"Apa lagi alasannya?" tanya Danendra yang mulai bosan, akhir-akhir ini Gerry sering terlambat masuk kantor. Walaupun pekerjaan selalu selesai oleh asistennya itu. 


"Tadi Indira melabrak Celine, Tuan," jawab Gerry tanpa menutup-nutupi apapun dari atasannya. 


"Hah! Terus, Celine di apain sama Indira?" tanya Danendra terkejut. 


"Bukan Celine yang diapa-apain sama Indira. Malah sebaliknya, Indira yang diapa-apain sama Celine." Gerry meluruskan pertanyaan si tuan muda. Dia mulai mendongak untuk melihat reaksi Danendra, laki-laki beranak satu itu terlihat sangat kaget mendengar ucapannya barusan. 


"Maksud kamu, Celine menghajar Indira?" tanyanya memastikan. 


"Bukan hanya menghajar, tapi Celine juga memberikan kenang-kenangan di wajah Indira, Tuan. Kalau saya tidak datang, mungkin Indira sudah habis oleh Celine," terang Gerry yang semakin membuat Danendra syok. 


"Gila, yah! Calon istrimu ternyata lebih menakutkan dari pada dirimu, Ger." 


Gerry tersenyum samar, dia pun sempat terkejut saat melihat Indira berantakan akibat ulah Celine. "Anda tidak salah dalam memilih pasangan untuk saya, Tuan," puji Gerry pada atasannya. 


"Kau sudah yakin akan menikahinya?" 


"Tentu saja, Tuan. Dia sudah lulus seleksi yang saya berikan." 


"Maksud kamu?" 


"Dia bukan wanita materialistis seperti Indira z Tuan." 


*****


Di apartment yang ditempati oleh Celine dan keluarganya, orang-orang yang diperintahkan oleh Gerry untuk mengantar barang-barang baru untuk Celine baru saja tiba. 


Kedatangan mereka cukup mengejutkan ketiga penghuni apartemen itu. Bagaimana tidak. Barang-barang yang dibawa oleh mereka adalah barang dengan merek ternama yang pastinya memiliki harga yang tidak murah. 


Mulai dari pakaian, sepatu, tas, hingga perintilan lainnya juga tersedia di sana. Sungguh semua yang disiapkan Gerry adalah idaman semua wanita di dunia. Namun, tidak untuk Celine, dia justru semakin sungkan karena mendapat perlakuan khusus itu dari Gerry. 


"Kalian serius ini semua kiriman calon suami saya?" tanya Celine seraya menatap bingung barang-barang yang kini memenuhi ruang tamu apartement. 


'Benar, Nona. Ini semua pilihan Tuan Gerry."


"Wah, Kak ini semua barang-barang mahal, loh!" sahut Mawar dengan antusias mulai memilih pakaian yang sekiranya cocok dengan ukuran tubuhnya. 


Mawar seketika terdiam saat mendapat pelototan menakutkan dari Celine. Perempuan tomboi itu merasa harus membicarakan hal tersebut dengan Gerry. Apa yang dilakukan oleh calon suaminya itu sangatlah berlebihan menurut Celine. 


"Kalian yakin tidak ada sesuatu yang ikut terbawa ke sini? Tidak mungkin calon suami saya membeli ini semua untuk kita." 


"Nona boleh pastikan sendiri barang-barang yang kami kirim dengan catatan yang diminta oleh tuan Gerry. Ini semua tercatat dengan jelas di buku ini," ujar si pelayan toko yang mengirimkan barang-barang itu. 


"Baiklah, biar saya periksa semua dulu. Kalian boleh pergi." 


Celine pun benar-benar memeriksa semua barang-barang itu. Antara catatan dan semua barang yang tersedia memang sama persis. Itu artinya pelayan tadi tidak berbohong. 


Sore harinya seperti apa yang sudah dikatakan oleh Gerry. Pria itu menyempatkan diri untuk mampir ke apartment calon istrinya. 


Dia langsung masuk begitu saja karena memang mengetahui kode pintunya. Ketika melangkah masuk ke dalam ruang tamu, Gerry sedikit heran karena tempat tersebut dipenuhi oleh barang-barang yang dia pesan untuk Celine. Kini Gerry menatap Celine yang duduk di sofa ruang tamu. Wanita itu hanya diam meski sudah melihatnya. 


"Cel, kamu belum ganti pakaian?" tanyanya saat melihat Celine masih mengenakan pakaian yang sama saat pagi tadi. 


"Belum," jawab si wanita singkat. 


Gerry duduk di samping Celine, dia menatap bingung calon istrinya yang memasang ekspresi datar. "Kamu kenapa?" 

__ADS_1


"Kamu perlu menjelaskan ini semua, Ger!" ucap Celine dengan nada sedikit menekan. 


"Apa ada yang salah?" 


"Untuk apa kamu mengirim ini semua, Ger? Aku sudah bilang jangan perlakukan kami terlalu berlebihan, 'kan?" 


Gerry menghela napas. Tubuhnya sudah sangat lelah oleh pekerjaan di kantor. Lalu Celine justru seperti sedang menabuh genderang perang untuknya. 


"Aku rasa ini masih dalam tahap wajar, kok! Tidak ada yang berlebihan. Lagi pula semua ini juga hadiah dari tuan muda dan nyonya muda untuk kamu. Aku tidak mungkin menolaknya," ujar Gerry menjelaskan. 


"Hah, maksud kamu. Ini semua dari mereka? Tapi … kenapa mereka memberiku hadiah?" tanya Celine tidak percaya, dia berpikir Gerry sedang berbual. 


"Mereka bilang anggap saja ini hantaran pernikahan dari mereka untuk kamu, Cel," balas Gerry. 


"Kamu tidak bohong, 'kan?" tanya Celine seraya menatap dalam-dalam bola mata calon suaminya. 


"Untuk apa aku berbohong, Cel. Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh tanyakan langsung pada mereka," tantang Gerry agar Celine sepenuhnya percaya. Dia menyerahkan ponselnya yang sudah dalam keadaan memanggil nomor tuan mudanya. 


"Enggak perlu," tolak Celine yang kini mulai percaya. 


Sayangnya panggilan sudah terhubung, Gerry me-loud speaker ponselnya agar Celine dapat mendengar dengan jelas pembicaraannya dengan si atasan. 


"Hallo, Ger. Ada apa?" 


"Tidak apa-apa, Tuan. Celine meminta saya untuk menelepon Anda, dia bilang mau mengucapkan terima kasih atas hadiah dari kalian." 


"Oh, itu." Danendra menjawab singkat, tetapi Adeline dengan cepat menyahut. "Hadiahnya sudah sampai, yah? Calon istrimu suka tidak, Ger?" tanyanya antusias. 


"Boro-boro suka, Nona. Dia bahkan menuduh saya yang membeli semua ini," jawab Gerry yang langsung membuat Celine merebut ponselnya. 


"Maaf, Nona. Jangan dengarkan ucapan Gerry. Dia sedang kesal padaku, makanya dia tega memfitnahku," kilah Celine yang melempar masalah untuk Gerry. 


"Biarkan saja dia. Sejak dulu, aku juga sering dibuat kesal oleh calon suamimu itu." 


"Sudah puas?" tanya Gerry seraya menerima ponsel miliknya. 


"Hm," jawabnya singkat. 


"Sudah sana bersih-bersih! Aku akan mengajak kalian keluar untuk makan." 


"Buat apa keluar? Ibu dan Mawar udah masak di dapur," ucap Celine. 


"Ya sudah, aku ke dapur dulu. Sudah lapar dan capek banget," keluh Gerry tanpa sadar. 


Pria itu bangkit lalu menuju dapur untuk menghampiri calon mertua serta adik iparnya. Gerry langsung duduk di kursi saat calon mertuanya sedang menata makanan di meja makan. 


"Eh, nak Gerry." 


"Bu, aku numpang makan di sini, yah! Aku laper banget soalnya. Habis di sidang sama anak ibu yang galaknya minta ampun itu," ucap Gerry denga nada memelas. 


"Ngadu sana!" sahut Celine yang malah ikut ke dapur. 


"Ish! Disuruh bersih-bersih malah nyusul ke sini," cibir Gerry pada calon istrinya. 


"Biarkan saja! Apa masalahnya. Memangnya aku tidak lapar apa?" 


"Kalian ini calon pengantin, tapi gaduh terus, Kak!" sahut Mawar seraya membawa piring ke meja makan. 


"Iya, nih! Kakak kamu ini hobi banget cari masalah," balas Gerry setuju dengan calon adik iparnya. 


"Kalau begitu, mending kakak nikah sama Mawar aja, Kak!" seru Mawar bergurau. 


"Sana, deh, sana!" tantang Celine pura-pura tidak peduli. 

__ADS_1


"Jangan, deh! Nanti kakak kamu nangis lagi," balas Gerry dengan nada dibuat manja. 


Gerry dan Mawar pun tertawa bersama, sedangkan Celine mencebik kesal. Si ibu menggeleng karena melihat tingkah ketiga anak muda di depannya ini. 


"Kalian ini hobi sekali bergaduh, yah! Ditunda dulu gaduhnya. Kita makan, abis itu gaduhlah sepuas kalian." Si ibu ikut bergurau. 


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk makan malam lebih dulu. Jika diteruskan, mungkin kegaduhan ini akan berlanjut sampai esok hari. 


Selesai makan, Gerry membantu Celine beres-beres barang-barang baru pemberian Danendra dan Adeline. Begitu juga dengan Mawar dan ibunya. Mereka juga ikut membereskan barang-barang tersebut. 


Ketika sedang membantu memasukkan pakaian ke lemari kamar Celine, Gerry sambil bercerita tentang wanita yang melabrak Celine pagi tadi.


Dia juga menceritakan sebabnya dia memutuskan si wanita karena wanita itu bercinta dengan orang lain. Celine sampai geleng-geleng kepala mendengar cerita calon suaminya itu. Pantas saja jika Gerry sampai menatap jijik si wanita kalau masalahnya seperti itu. 


"Parah, sih, Ger. Dia udah dikasih hati ternyata minta jantung. Udah gitu nusuk dari belakang pula," ucap Celine merutuki sikap Indira. 


"Lalu, salahkah aku jika memutuskan dia, Cel?" tanya Gerry sendu. Celine dapat merasakan aura kesedihan yang dirasakan oleh Gerry. 


"Tidak salah, sih! Walau bagaimanapun, selingkuh itu sadar, Ger. Tidak ada orang berselingkuh karena khilaf. Mereka melakukan itu karena ada niat dan kesempatan tentunya. Mau apapun alasannya, selingkuh tidak bisa dibenarkan, sih!" Celine melirik Gerry yang kini bungkam. "Kalau aku jadi kamu, mungkin aku akan memberi pelajaran pada kedua pelaku itu," sambung Celine. 


"Aku tidak bisa menyakiti Indira dengan tanganku, Cel. Walau bagaimanapun, dia pernah menjadi seseorang yang paling aku cintai selama tujuh tahun. Banyak sekali kenangan yang kami lalui bersama," ucap Gerry dengan suara sedikit tertahan. 


"Kalau begitu, aku boleh membalaskan rasa sakit hati kamu padanya, 'kan?" 


"Kamu mau melakukan apa, Cel?" 


"Nanti kamu tahu sendiri, Ger. Yang penting sekarang aku sudah mendapatkan izin darimu," ucap Celine, bibirnya menyeringai. 


*****


Tiga hari berlalu, Celine sudah mulai bekerja di kantor karena keadaan sang ibu sudah memungkinkan untuk ditinggal bekerja. Selain itu, Celine dan Gerry juga mulai mengurus rencana pernikahan mereka. 


Kini Celine masuk ke dalam ruangan Malik setelah mendapat panggilan dari atasannya itu. Dia sedikit merasa takut jika Malik memanggilnya karena dia sudah terlalu lama cuti dari kerjaan. 


Celine mengetuk pintu dengan hati-hati, kemudian membuka pintu saat sudah mendapat sahutan dari dalam. Dia melangkah masuk ke ruangan atasannya itu. 


"Bos, ada yang perlu saya kerjakan?" tanya Celine hati-hati. 


"Celine, duduklah!" 


Celine pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Malik. Wanita itu masih saja gugup karena takut jika tiba-tiba saja dipecat dari pekerjaannya. 


"Setelah menikah, kamu masih mau bekerja atau tidak?" tanya Malik tiba-tiba. 


"Ma-masih, Bos!" jawabnya yakin. 


"Kamu sudah membicarakan ini dengan calon suami kamu?" tanya Malik memastikan. 


"Belum, Bos." 


"Kalau begitu kamu segera bicarakan masalah ini dengannya. Saya ingin kamu bisa secepatnya memberi kepastian. Tapi saya harap kamu masih bisa bekerja dengan satu seperti sebelumnya," terang Malik kepada Celine. 


"Baik, Bos. Saya akan segera membicarakannya dengan Gerry. Kalau ditanya keputusan pribadi saya, sih, saya masih ingin tetap bekerja."


"Tapi kamu sudah akan memiliki pasangan, Celine. Dia lebih berhak memutuskan apa yang terbaik untuk kamu," balas Malik yang seketika membuat Celine tersenyum tipis. 


"Apakah semua suami akan selalu mengekang istrinya, Bos?" tanya Celine yang tiba-tiba saja ragu. 


"Tidak semua, Cel. Tapi ada beberapa orang yang seperti itu," jawab Malik sesuai apa yang terjadi di lingkungan sekitar. 


"Kalau calon suami saya, apakah dia tipikal orang yang suka mengatur, Bos?" 


Malik tidak langsung menjawab. Dia pun belum terlalu mengenal Gerry. Namun, dari pengamatannya, Malik yakin Gerry bukanlah tipikal laki-laki kolot yang mengekang istrinya untuk hanya berdiam diri di rumah. Namun, diamnya Malik membuat Celine tegang. 

__ADS_1


__ADS_2