Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Kamu Cantik


__ADS_3

Tepat pukul dua siang Danendra, Adeline, dan Nabila berpamitan kepada keluarga Ibrahim. Nabila sempat meminta maaf kepada besannya itu karena telah membuat keributan di mansion sang besan. Ibrahim dan Riani tentu saja tidak mempermasalahkan hal tersebut. Mereka sudah sangat hafal dengan karakter Danendra, keponakan mereka. 


Kini mereka sedang dalam perjalanan kembali ke mansion Alefosio. Adeline masih saja memasang wajah datar tanpa ekspresi. Meski suaminya itu sudah berkali-kali meminta maaf, nyatanya Adeline belum juga mengampuni sang suami. 


"Sayang, sudah dong. Jangan merajuk terus!" 


"Kau menyebalkan, Nendra. Tidak bisakah jangan selalu mengait-ngaitkan masa lalu kita? Kasihan Rihanna." 


"Iya-iya, aku minta maaf. Lain kali tidak akan aku ulangi," jawabnya bersungguh-sungguh. 


"Sudah, Elin, Nendra. Jangan di teruskan lagi! Kita mulai masa depan tanpa mengungkit masa lalu. Biarkan itu semua menjadi pembelajaran untuk kita semua," timpal Nabila menasehati. 


"Baik, Ma," jawab Adeline dan Danendra kompak. 


*****


Di mansion keluarga Ibrahim. Rihanna sedang mendorong kursi roda yang diduduki oleh suaminya. Mereka sedang menuju taman sederhana di halaman depan untuk menikmati suasana sore hari. 


"Sudah, Kay. Di sini saja," ujar Malik setelah berada di pinggiran taman. 


Rihanna menurut, wanita hamil itu menghentikan langkahnya dan memposisikan kursi roda sang suami di samping kursi panjang taman kemudian mendudukkan dirinya di sana. Keduanya menatap ke arah yang sama yakni sebuah air mancur buatan yang begitu indah. 


Mereka masih saling diam dengan suasana canggung yang mendominasi. Meski sebenarnya ingin memperbaiki hubungan mereka agar lebih dekat, nyatanya tidak semudah itu untuk mengikis jarak. 


"Kay," panggil Malik yang akhirnya memberanikan diri. 


"Ya, Malik," jawab Rihanna tanpa menatap sang suami, pandangan masih saja menatap air mancur di depan sana. 


"Maaf, yah!" 


Rihanna seketika mengalihkan pandangan saat mendengar ucapan maaf dari mulut suaminya. Laki-laki itu sama sekali tidak berbuat kesalahan, tetapi malah meminta maaf padanya.

__ADS_1


"Maaf karena apa, Malik?" 


"Maaf karena aku malah merepotkan kamu dengan kondisi kakiku," ujarnya dengan rasa bersalah. 


Netra Rihanna beralih pada kaki Malik yang masih sedikit bengkak, "Aku tidak merasa direpotkan, Malik. Lagi pula sakit di kaki kamu itu karena salahku juga." 


"Jangan menyalahkan diri kamu sendiri, Kay. Ini semua terjadi karena kebodohanku," timpal Malik reflek menggenggam tangan sang istri. 


Saat sadar sudah lancang, Malik berniat melepaskan pegangannya. Namun, Rihanna justru menahan tangan sang suami agar tidak beralih dari sana. 


"Malik, aku sadar. Mendapatkan balasan cinta dari seorang istri memang adalah hak suami. Maaf karena aku belum bisa memberikannya padamu," tutur Rihanna pelan. 


"Kamu tenang saja, aku akan sabar hingga waktu itu tiba, Kay. Tapi tolong, jangan membuat jarak dariku!" mohonnya penuh harap. 


"Aku janji, Malik. Aku akan berusaha mengikis jarak di antara kita," jawab Rihanna tulus. 


Sepasang suami istri baru yang sedang menanti sang buah hati itu memulai pendekatan dengan obrolan ringan. Keduanya sepakat untuk memulai hubungan dengan menjadi teman lebih dulu agar tidak lagi tersisa rasa canggung di antara mereka. 


"Semoga hubungan kalian akan semakin membaik kedepannya, Malik, Rihanna," gumamnya pelan seraya mengusap jejak air mata yang sempat menetes. 


Wanita paruh baya itu mengayunkan langkah mendekati anak serta menantunya yang masih asik mengobrol di taman. Terdengar terselip tawa di antara keduanya. Hal itu tentu saja membuat si wanita paruh baya semakin sumringah. 


"Malik, Rihanna," panggilnya dengan lembut. 


Keduanya kompak menoleh lalu tersenyum kecil saat melihat Riani berdiri di belakang. Candaan antara keduanya juga ikut terhenti karena masih sedikit malu jika terciduk sedekat ini. 


"Ada apa, Mam?" tanya Malik kepada ibunya. 


"Sudah hampir magrib, Sayang. Tidak baik wanita hamil berada di luar," ujarnya mengingatkan. 


"Ah, iya, Mam. Malik sampai lupa. Kalau begitu, ayo kita masuk!" ajaknya pada sang istri. 

__ADS_1


Rihanna mengangguk setuju lalu berdiri. Saat dia akan mendorong kursi roda Malik, Riani melarangnya. Wanita berkerudung merah itu mengatakan bahwa tidak ingin menantu serta calon cucunya kelelahan karena mendorong kursi roda. 


Akhirnya dengan bantuan Riani mereka pun masuk ke dalam mansion. Rihanna lebih dulu membersihkan dirinya di kamar mandi. Sementara itu, Malik tengah menunggu di samping ranjang dengan posisi membelakangi kamar mandi. 


Beberapa saat kemudian Rihanna yang sudah selesai membersihkan dirinya keluar dari kamar mandi. Wanita hamil muda itu sempat menghentikan langkah di ambang pintu saat melihat suaminya berada di dalam kamar. Namun, saat mengingat bahwa hal itu memang wajar, Rihanna kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. 


"Malik, sekarang gantian kamu yang mandi. Papi bilang menunggu kita di ruang sho–" 


"Kamu mau ikut sholat?" tanya Malik menyela. 


Rihanna menoleh kearah sang suami yang kini membalikkan kursi rodanya. Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu sebelum Rihanna menundukkan wajahnya karena malu. 


"Sholat itu apa, Malik?" tanyanya polos. 


Malik sebenarnya sangat ingin menjelaskan tentang pertanyaan sang istri. Namun, saat tidak sengaja melihat jam dinding, dia pun mengurungkan niatnya. Waktu sholat Maghrib sudah hampir tiba. Jika dia menjelaskan lebih dulu, mungkin tidak akan terburu waktunya. 


"Kamu ganti baju saja dulu! Aku mau mandi. Setelah sholat nanti aku jelaskan," ujarnya seraya menuntun kursi rodanya menuju kamar mandi. 


Selesai membersihkan diri dan memakai pakaian yang pantas untuk beribadah, mereka segera menuju tempat yang sudah diberitahukan oleh Ibrahim. Saat sampai di sana, ternyata Riani dan Ibrahim sudah menunggu. 


Riani yang sudah rapi dengan mukenanya kemudian bangkit saat melihat anak dan menantunya sudah datang. Wanita paruh baya itu mengambil sepasang mukena berwarna putih dan memberikannya pada Rihanna. 


Meskipun ragu-ragu, Rihanna menerima barang pemberian sang mertua. Dia membolak-balikkan kain putih itu dengan ekspresi bingung. 


"Itu mukena, Sayang. Pakailah!" 


"Untuk Rihanna, Mam?" tanyanya masih saja bingung untuk memakai mukena tersebut. 


"Sini biar mami pakaikan." 


Riani dengan telaten membantu sang menantu untuk memakai kain yang digunakan ibadah oleh umat muslim tersebut. Begitu selesai memakai mukena itu, Malik tertegun dengan aura yang terpancar dari wajah sang istri setelah mengenakan kain berwarna putih tulang itu. 

__ADS_1


"Kamu cantik banget, Kayla," puji Malik tanpa sadar. 


__ADS_2