Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Syarat dari mama


__ADS_3

Silvia sedikit tersinggung atas ucapan yang baru saja terlontar dari mulut putra tunggalnya itu. Ya dia sadar, ucapan sang putra tertuju untuknya yang memang pernah menolak mentah-mentah sang menantu bahkan ketika pernikahan berlangsung. 


"Kamu benar-benar mencintainya?" tanya sang ibu memastikan. 


"Jika Nendra tidak mencintainya, lalu untuk apa Nendra menikahinya, Ma. Bukankah papa dan mama pernah mengingatkan Nendra untuk memilih pasangan yang benar-benar Nendra cintai? Ya Adeline adalah orangnya, dia mampu membuat Nendra jatuh cinta bahkan pada pandangan pertama," jawab Danendra panjang lebar. 


"Tapi, Baby … aku mencintai kamu," sela Rihanna yang belum mau menyerah. 


"Aku tidak peduli, Ri, aku membiarkan kamu setiap hari berbuat sesuka hati hanya karena aku menghargai ibumu, dan aku sudah menganggap kamu adalah adikku. Tapi keadaan sekarang sudah berbeda, aku sudah menikah." Danendra dengan sengaja mengangkat tangannya untuk menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisnya.


"Enggak, Baby. Rihanna enggak mau jadi adik kamu. Aku cuma mau menjadi istri kamu," tolak Rihanna dengan berani. 


"Rihanna, usia kamu masih muda. Jangan memperburuk diri dengan menjadi seorang pelakor!" tutur Silvia menggurui. 


Meskipun ibunda tercinta Danendra itu belum bisa menerima kenyataan bahwa Adeline yang menjadi menantunya, akan tetapi dia sangat menentang jika ada seseorang yang berniat merusak rumah tangga orang lain. 


Rihanna tidak terima dengan nasihat yang diberikan oleh Silvia, perempuan dengan wajah menor itu malah pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan apapun. 


"Pulanglah, Nendra, mama kesepian. Bukankah selama ini mama menyuruhmu menikah karena ingin memiliki teman di mansion besar ini? Lalu sekarang kamu malah mau pergi meninggalkan mama," pinta Silvia dengan ekspresi sedih. 


"Maaf, Ma. Tapi mama yang tidak bisa menerima istriku, 'kan?" 


"Kembalilah, mama … akan berusaha menerima dia, dengan syarat," timpal Silvia dengan cepat. 


"Syarat apa, Ma?" tanya Danendra penasaran. 


Adeline memang sejak datang hanya diam saja. Perempuan dewasa itu bingung untuk bersikap. Namun, dia mendengarkan dengan baik obrolan antar ibu dan anak tersebut. 


"Mama akan mencoba menerima, jika istrimu bisa hamil di tahun ini." 

__ADS_1


Danendra tentu saja langsung setuju, berbeda dengan Adeline yang justru merasa terimidasi karena persyaratan tersebut. Namun, melihat wajah sumringah sang suami membuat Adeline tidak berkomentar apapun. 


Sejak hari itu, mereka tinggal bersama dengan kedua orang tua Danendra. Sepertinya apa yang di minta oleh sang suami, Adeline bersikap sewajarnya seperti dirinya sehari-hari. Tidak ada apapun yang berubah darinya. Dia merupakan perempuan yang sebenarnya perhatian dan lembut, hanya saja karena kemandiriannya membuat dia sedikit keras kepala. 


Tidak ada pertengkaran apapun yang terjadi di mansion itu. Silvia yang awalnya merasa tidak suka pada menantunya itu perlahan-lahan mulai bisa bersikap lebih baik. Apa lagi karakter Adeline yang begitu perhatian, membuatnya dengan mudah luluh oleh kebaikan sang menantu. 


Sepasang mertua dan menantu itu tengah duduk bersama di sebuah ruang santai. Adeline yang pertama berusaha mendekati sang mertua. Perempuan dewasa itu membuatkan segelas jus alpukat khusus untuk ibu mertuanya. 


"Di minum dulu, Ma." 


"Kamu buat jus alpukat, Lin? Tapi saya tidak suka alpukat," ujar Silvia sambil melirik gelas berisi minuman buatan sang menantu. 


"Wah, sayang sekali, Ma. Padahal alpukat ini enak lho! Buah alpukat ini dikenal dengan kandungan lemak baiknya, Mah. Yakni lemak tak jenuh tunggal. Buah ini juga mengandung karbohidrat, serat, dan protein yang penting untuk kesehatan tubuh. Selain mengandung nutrisi tersebut, alpukat mengandung kalium, magnesium, lutein, folat, dan aneka vitamin, seperti vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin E, dan vitamin K." 


"Apa benar enak? Tapi teksturnya saya tidak suka." 


"Aduh. Sekarang mama harus coba deh, jus buah buatan Elin, kalau enggak mama pasti rugi banyak," ujar Adeline yang mengambil gelas jus tersebut dan memberikannya pada sang mertua. 


"Manfaat buah ini ada banyak, Ma. Contohnya adalah menjaga berat badan, mama enggak mau kan kalau nanti jadi gemuk dan tidak seseksi sekarang?" 


Silvia mengangguk seperti anak-anak yang dengan patuh mendengarkan ajaran dari sang guru. Wanita beranak satu itu masih setia mendengarkan setiap ucapan menantunya. 


"Terus, Ma. Buah ini juga dapat memelihara kesehatan jantung. Menjaga kesehatan mata, mengatasi dan mencegah sembelit, mengontrol tekanan darah, mengurangu resiko terjadinya kanker, dan mencegah radang sendi. Mama pasti ingin selalu sehat, kan? Katanya mama ingin lihat Elin hamil," tutur Adeline dengan sabar menjelaskan. 


"Wah, banyak juga, yah! Saya mau coba, deh!" Akhirnya Silvia menerima uluran segelas jus dari sang menantu lalu secara perlahan meneguk minuman tersebut. 


Adeline tersenyum saat melihat sang mertua mulai mau meminum minuman yang dia buatkan. Langkah semakin dekat untuk hubungan baik mereka. 


Merasa ternyata jus itu terasa enak, Silvia langsung meneguk minuman itu hingga tandas. Setelah menghabiskan minuman itu, Silvia menaruh gelas yang sudah kosong ke atas meja. 

__ADS_1


"Bagaimana, Ma, enak?" tanya Adeline dengan ekspresi wajah sedikit takut, Jika minuman buatannya itu mengecewakan sang mertua. 


"Enak, Elin. Kamu pandai sekali buatnya, lho!" 


"Syukurlah jika mama suka, kalau begitu Elin pamit dulu, Ma." 


Adeline mengambil gelas itu untuk dia cuci. Namun, Silvia tiba-tiba melarang sang menantu yang berniat pergi. "Elin, temani mama disini," ujar Silvia sambil menyentuh tangan menantunya. "Mama mohon," pintanya penuh harap. 


Pada akhirnya Adeline menurut, dia kembali mendudukkan dirinya di sofa samping sang mertua. Meski masih ada rasa canggung di hati mereka, akan tetapi dengan duduk berdua seperti ini mungkin akan perlahan menghapus jarak antara mereka. 


"Elin, saya minta maaf atas perlakuan saya hari itu," tutur Silvia meminta maaf. 


Adeline tersenyum hangat dengan anggukan kecil. "Tidak perlu minta maaf, Ma. Elin paham kekhawatiran mama terhadap Nendra," jawab Adeline sambil menyentuh tangan mertuanya. 


"Kamu tahu, Elin? Nendra adalah anak tunggal mama, mama hanya takut jika dia menikahi kamu dan kalian tidak bisa memiliki keturunan," ungkap Silvia dengan jujur. 


"Elin tahu, Ma. Maaf, jika hubungan Elin dan Nendra menjadi penghalang untuk kalian. Elin akan berusaha untuk tidak mengecewakan mama, kok!" 


"Mama percaya kamu, Elin. Semoga kamu segera hamil, yah!" 


"Bagaimana bisa hamil kalau princess Adel tidak mau diajak berbulan madu." 


Suara dari arah belakang membuat kedua wanita itu menoleh. Danendra berdiri bersandar pada dinding seraya bersedekap dada, ekspresi wajahnya yang datar seketika membuat Adeline meneguk ludahnya sendiri. 


"Gawat!" 


"Iya, ya! Kalian belum berbulan madu. Aduh, bagaimana, sih? Harusnya kalian menikmati waktu berdua sebelum nantinya di ributkan oleh anak-anak kalian," timpal Silvia yang semakin membuat Adeline tidak bisa berkutik. 


"Kalau begitu, Nendra boleh pinjam menantu mama sebentar, yah! Mau cetak bibit-bibit unggul dulu biar cepat tumbuh dan berkembang." 

__ADS_1


"M*mpus!" 


__ADS_2