
Berbeda dengan Danendra yang langsung tepar di ranjang, Adeline justru turun dari ranjang itu meski dengan sedikit kesusahan dan menahan rasa sakit di intinya. Perempuan itu merasa tidak enak jika sore-sore sudah bersembunyi di dalam kamar.
"Argh, kenapa rasa sakitnya justru terasa setelah selesai, sih!" Adeline menggerutu, tetapi tetap memaksa melangkah menuju kamar mandi.
Ketika di dalam kamar mandi, Adeline melihat pantulan cermin yang menampilkan tubuh polosnya yang sudah terhiasi beberapa noda bekas kec*pan dari Danendra. Wanita dewasa itu terkekeh geli saat kembali mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
Dia dengan pasrah menyerahkan segalanya pada si berondong jagung yang pernah dia ejek dengan sebutan daun muda. Adeline tidak menyangka bahwa pria yang terkenal dingin di luar, akan tetapi lembut di dalam itu bisa membuatnya mabuk kepayang. Sentuhan-sentuhan lembut itu benar-benar membuatnya terlena dan berakhir meruntuhkan tembok kokoh yang selama ini dia jaga.
"Nendra, semoga setelah ini kamu tidak akan pernah meninggalkan aku," gumam Adeline penuh harap.
Meski belum yakin atas perasaannya saat ini, Adeline tidak pernah menginginkan jika nantinya hubungan mereka akan gagal di tengah jalan. Apa lagi segalanya sudah dia berikan kepada pria yang saat ini tengah tidak berdaya setelah menggempurnya dengan hebat di atas ranjang.
Karena hari memang sudah sore, Adeline bergegas membersihkan diri. Setelah selesai mandi, dia segera keluar dan memakai pakaian miliknya. Namun, dia sedikit kebingungan untuk menutupi area lehernya yang penuh dengan noda kebiruan hasil karya sang suami.
"Tidak mungkin kalau aku pakai syal, 'kan? Cuaca sedang tidak dingin, kalau aku pakai syal pasti mama dan papa akan mengira aku sedang sakit." Adeline kembali melepaskan syal yang sudah sempat melingkar di lehernya.
Adeline yang sedang kebingungan untuk menutup area itu sama sekali tidak memperhatikan jika ada seseorang yang kini berjalan perlahan ke arahnya. Wanita dewasa itu sedikit terkejut saat ada sepasang tangan yang melingkar di perutnya serta kepala yang bersandar di ceruk lehernya. Pria itu terlihat akan kembali memberikan kecupan disana.
"Nendra, jangan! Nanti akan semakin banyak bekasnya, aku tidak ingin nanti mama berpikir yang tidak-tidak." Adeline berusaha menghindar.
Danendra mendengus kesal, akan tetapi pria itu tetap mengecup lembut leher istrinya hingga Adeline sedikit menggigit kecil bibirnya sendiri. "Kita ini sudah suami istri, Adel. Kalau mama berpikir yang tidak-tidak, ya malah bagus. Biarkan dia tahu jika kita sedang berjuang," ujar Danendra tanpa beban.
"Tapi aku malu, Nendra!"
"Sudahlah! Tidak perlu heboh seperti itu. Aku juga masih sering melihat leher mama penuh dengan mahakarya papa, kok!"
"Kamu memperhatikan?" tanya Adeline dengan kedua alis bertaut.
"Bukan memperhatikan, tapi ya memang kelihatan. Makanya tidak perlu ribut-ribut," jawab Danendra santai.
Adeline tidak bergeming, wanita itu masih saja galau jika nanti mertuanya akan melihat jejak cinta dari suaminya.
"Kamu mau apa lagi?" tanya Adeline yang curiga karena sang suami kembali menciumi tengkuknya.
"Mau lagi," jawab Danendra sambil menyengir.
__ADS_1
"Aku lelah, Nendra. Lagi pula bagian itu masih terasa sedikit perih," tolak Adeline dengan lembut.
"Jadi aku tidak dapat jatah?" tanya Danendra sedikit kesal.
"Tadi kan sudah," jawab Adeline tanpa memperdulikan ekspresi Danendra yang tiba-tiba murung.
"Aku kan mau lagi," gumam Danendra sambil melepaskan pelukannya.
Adeline membalikkan tubuhnya menghadap pada suaminya. Kedua tangan itu melingkar di leher Danendra. Wanita itu sedikit berjinjit lalu berinisiatif untuk mengecup sekilas bibir tebal sang suami.
"Nanti malam aku tambah lagi," bisik Adeline setelah memberikan kecupan singkat.
Wajah murung Danendra kini langsung berbinar. "Benar ya, nanti malam lagi," ujarnya dengan gembira.
"Sekarang kamu mandi dulu, keringat kamu sudah sangat bau. Aku malas sekali mencium kamu," perintah Adeline dengan sedikit mengejek sang suami.
Tangan yang semula melingkar di leher suaminya kini turun dan kembali membalikkan tubuhnya menghadap cermin. Wanita itu merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena ulah Danendra.
"Oke, Sayang." Danendra yang usil menyempatkan diri mencium pipi kanan sang istri, lalu berlari menuju kamar mandi.
Ketukan di pintu mengalihkan perhatian Adeline dari pantulan cermin di depannya. Wanita itu berjalan mendekati pintu kamar lalu membukanya.
"Nyonya muda, sudah di tunggu oleh Tuan dan Nyonya besar di meja makan."
"Sebentar lagi saya turun, Bi."
Wanita itu akhirnya menuruti ucapan Danendra untuk tidak memusingkan perkara bekas karya sang suami. Dia turun setelah maid yang memanggilnya sudah lebih dulu pergi. Ketika sampai di meja makan, dia disambut oleh ulasan senyum lebar dari kedua mertuanya.
"Mama, kenapa tersenyum seperti itu? Apakah ada yang aneh dengan penampilan Elin sekarang?" tanya Adeline sambil kembali memeriksa penampilannya.
"Tidak ada, Elin. Mama hanya penasaran saja," jawab sang mertua dengan kata-kata yang membuat Adeline bingung.
"Penasaran karena apa?" tanya Adeline sambil menjatuhkan b*kongnya di kursi."
"Nendra dimana?"
__ADS_1
"Dia masih mandi, Ma. Sebentar lagi turun, kok!"
"Elin," panggil Silvia sambil memantau keadaan.
"Iya, Ma. Ada apa?"
"Danendra kuat berapa ronde?" tanya Silvia tanpa memfilter ucapannya.
Pipi Adeline langsung merona ketika mendapat pertanyaan frontal dari sang mertua. Wanita dewasa itu sungguh merasa malu jika harus membahas tentang hal sensitif tersebut.
"Ma, tidak baik ikut campur urusan anak. Biarkan menantumu nyaman dulu! Jangan terlalu memaksa," tegur sang suami.
"Mama hanya penasaran, Pa. Nendra itu kan selama ini sering gonta-ganti …."
"Ma," tegur sang suami lagi saat istrinya justru akan membongkar aib anaknya sendiri.
"Iya-iya, Pa."
"Sudah, Elin. Lebih baik kamu makan saja," perintah ayah Nendra beralih pada sang menantu.
"Baik, Pa." Adeline menurut, meski sedikit penasaran dengan kelanjutan ucapan ibu mertuanya.
Mereka lebih dulu menyantap hidangan makan malam yang berada di meja. Hingga Danendra turun dan bergabung dengan istri serta orang tuanya.
Silvia kini menatap sang putra yang terlihat lebih bugar dengan rambut yang sedikit masih basah. "Nendra, mama sudah mengurus hal-hal penting untuk kamu honeymoon bersama Elin. Lusa kalian berangkat kesana," jelas Silvia tanpa basa-basi.
"Memangnya kita mau honeymoon kemana, Sayang? Kamu sudah bilang ke mama mau pergi kemana?" tanya Danendra yang justru beralih pada Adeline.
"Tidak perlu bilang mau kemana. Mama sudah siapkan semuanya. Kalian tinggal berangkat saja," timpal Silvia tanpa mau di bantah.
"Ma, yang mau berbulan madu itu mereka. Kenapa kamu yang semangat sekali?" tanya sang suami ketika melihat sang istri yang lebih semangat atas perkara honeymoon itu.
"Papa diam saja! Mama ingin mereka cepat memiliki keturunan. Mama sudah tua, Pa!"
"Kalau perkara cucu saja mau mengaku tua, tapi perkara ranjang tidak mau di bilang tua!"
__ADS_1