
Seorang wanita baru saja mengerjap lalu mengucek pelan kedua matanya yang masih belum terbuka sempurna. Ketika kedua netra itu terbuka, dia menatap langit-langit plafon berwarna putih tulang. Tidak sengaja sepasang mata yang masih merasakan kantuk itu melihat jam dinding di atas televisi besar di depan sana.
"Astaga! Sudah jam delapan." Rihanna memekik lalu bergegas bangun setelah menyingkap selimut tebal yang membalut tubuhnya.
Wanita itu langsung berjalan menuju kamar suaminya. Tidak ingin kejadian seperti tempo hari kembali terulang, Rihanna pun mengetuk pintu. Satu kali ketukan tidak ada jawaban, dua kali ketukan masih saja, bahkan hingga ketukan ketiga masih tetap tidak ada reaksi apapun.
Rihanna memberanikan diri membuka pintu kamar tersebut. Melangkah perlahan masuk ke dalam ruangan yang pernah menjadi saksi bisu percintaan terpaksa antara dirinya dan sang suami. Ketika sudah berada di dalam Rihanna mengedarkan pandangan.
Senyap, kamar itu dalam keadaan tanpa penghuni. Ranjang pun masih rapi tanpa ada sedikitpun lipatan yang menandakan bahwa tempat itu sudah ditiduri.
"Malik tidak pulang? Tapi kenapa?" tanyanya bergumam.
Tidak menemukan keberadaan sang suami di ruangan itu akhirnya Rihanna bergegas keluar. Sedikit rasa bersalah tiba-tiba menyeruak di dada ketika mengira sang suami mungkin sedang marah padanya. Tetapi, karena apa laki-laki itu marah Rihanna pun tidak tahu.
Wanita itu memutuskan untuk masuk ke kamarnya guna mengambil ponsel pemberian Malik tempo hari. Rihanna melakukan panggilan ke nomor ponsel Malik, satu-satunya nomor yang tersimpan di ponsel barunya itu.
"Angkat Malik!" gerutu Rihanna sambil berjalan mondar-mandir.
Setelah beberapa kali percobaan, barulah panggilan tersambung. Terdengar suara seorang laki-laki menyapa. Namun, dengan nada sangat lirih.
"Kamu di mana, Malik?" tanya Rihanna to the poin.
"Kantor. Ada apa?" tanya balik Malik yang seolah tidak peduli.
"Kenapa semalam tidak pulang?"
"Aku, tidak pulang? Lalu yang menyelimuti kamu semalam siapa? Hantu."
Rihanna baru tersadar akan hal itu. Tadi saat bangun dia sama sekali tidak terpikir siapa yang menyelimuti tubuhnya. Semalam ketika dia merebahkan diri di sofa, dia sama sekali tidak membawa apapun. Namun, saat bangun pagi ini justru ada selembar selimut hangat.
"Kalau kamu pulang kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Rihanna lagi setelah sekian lama diam.
__ADS_1
"Tidak penting. Sudah dulu, aku mau kerja!"
Malik mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban dari sang istri. Sungguh ucapan Rihanna semalam saat tidur begitu melukai hatinya hingga dia berniat menghindari istri yang baru beberapa hari dia nikahi.
"Dia itu kenapa, sih?" monolog Rihanna heran.
Di kantor, itu hanyalah sebuah alasan Malik. Nyatanya laki-laki itu tidak sedang berada di perusahaannya. Hari ini dia dengan sengaja pulang ke mansion keluarga untuk mencari ketenangan. Malik butuh seseorang yang sedang senang hati mendengarkan keluh kesahnya.
"Kenapa, Malik?" tanya Riani dengan sangat lembut.
Sejak tadi mereka duduk berdampingan di sebuah taman samping mansion. Riani paham, putranya itu pasti sedang ada masalah. Namun, dia tidak ingin memaksa sang putra untuk mengutarakan segala permasalahan di kehidupannya.
Setiap orang memiliki hak untuk memutuskan menceritakan atau memendam masalahnya tanpa harus dipaksa untuk selalu terbuka. Lagi pula, Malik juga sudah dewasa. Riani yakin, putranya itu pasti bisa mengambil keputusan yang terbaik.
"Mam, boleh Malik menceritakan tentang aib rumah tangga Malik kepada mami?" tanya Malik ragu.
Sang ibu tersenyum tipis. Tangannya terulur menggapai kedua tangan sang putra lalu menggenggam serta memberikan elusan lembut di punggung tangan itu.
"Aib rumah tangga memang sebaiknya di rahasiakan dari siapapun, Malik. Tapi, jika memang kamu sudah tidak sanggup memendamnya seorang diri dan butuh seseorang yang bisa memberikan solusi tidak ada salahnya kamu menceritakannya." Riani menjeda ucapannya sejanak.
"Jadi tidak apa-apa kalau Malik menceritakan kegundahan Malik saat ini pada mami?"
"Memangnya kamu kenapa, Malik? Pengantin baru, kok galau," cibir sang ibu bergurau.
"Mami!" rengek Malik sambil melepas tangan sang ibu yang menggenggamnya.
"Iya-iya. Cerita saja, siapa tahu mami bisa kasih solusi," tutur sang ibu.
Malik terlihat ragu terbukti beberapa kali menatap wajah ibunya lalu kembali membuang pandangan ke samping. Laki-laki itu juga takut jika sang ibu tidak terima atas apa yang terjadi di rumah tangga putra semata wayangnya.
"Kamu belum siap? Kalau belum, tidak apa-apa. Simpan dulu sendiri," ujar Riani paham dengan keraguan sang putra.
__ADS_1
"Mami tahu kan kalau Malik tidak pernah jatuh cinta. Selama ini Malik hanya menghabiskan waktu dengan bekerja dan pendidikan saja," ungkap Malik dengan kepala tertunduk.
"Mami tahu. Itu sebabnya mami dan papi menyuruh kamu menikahi Rihanna," papar Riani jujur.
"Aku mencintainya, Mam."
"Lalu, apa masalahnya?"
"Kayla tidak mencintaiku. Dia … terobsesi pada Nendra," ungkap Malik dengan suara sangat lirih.
Sebenarnya dia merasa malu untuk mengungkapkan perasaan serta permasalahannya kepada sang ibu. Namun, dia tidak memiliki sahabat untuknya berbagi. Sejak kecil dia hanya sibuk dengan pendidikan serta belajar bisnis dari ayahnya. Tidak ada waktu untuk sekedar berteman dengan lingkungannya sama sekali.
"Terus, kamu mau menyerah?"
"Aku tidak tahu, Mam. Aku takut kehilangan dia, tapi di sisi lain hati Malik rasanya sesak saat tidak sengaja mendengar Kayla mengharapkan Danendra, sepupu Malik sendiri," jawab Malik jujur.
"Kalau begitu jangan menyerah. Kejar dan gapai cintanya agar utuh menjadi milik kamu! Malik, anak mami tidak kalah tampan dan mapan dari Danendra. Buktikan bahwa kamu bukan laki-laki pengecut."
Malik langsung menatap ibunya dengan perasaan ragu. Apakah dia bisa merebut hati istrinya yang sudah lebih dulu terpaut pada orang lain. Meski dia sudah memiliki hak lebih besar atas segala sesuatu yang berkaitan dengan Rihanna. Sayangnya, dia merasa terlalu pengecut karena tidak berani mengakui kesalahannya di malam pertama.
"Mama yakin, Malik Ibrahim adalah seorang pejuang cinta yang gigih. Jangan mundur sebelum berperang! Jika kamu harus kalah dalam peperangan itu, setidaknya kamu sudah menghadapinya dengan gagah berani." Riani menepuk pundak sang putra beberapa kali sebelum akhirnya pergi meninggalkan Malik untuk merenungi semua nasihatnya.
"Apa aku bisa bersaing dengan Danendra? Dia laki-laki perfeksionis yang memiliki kharisma. Berbeda denganku yang hanya tahu tentang dunia kerja saja," keluhnya seraya bertopang kepala.
"Kamu pasti bisa, Malik. Anak papi tidak mungkin serendah itu sampai tidak bisa mengejar cintanya."
Ucapan itu seketika membuat Malik menoleh ke belakang. Sang ayah berdiri tegak dengan bersedekap dada. Menatap angkuh padanya yang kini masih merasa terpuruk.
"Papi!"
"Kamu sudah mendapatkan tiga poin utama yang lebih besar dari Danendra, Malik. Rihanna pasti akan jatuh ke pelukan kamu. Terlebih lagi, Papi yakin bahwa Danendra sangat mencintai istrinya. Sampai kapanpun, Danendra tidak akan pernah menoleh pada Rihanna, bahkan untuk meliriknya saja itu tidak pernah mungkin. Papi berani bertaruh dengan keyakinan papi saat ini."
__ADS_1
"Tiga poin utama?" tanya Malik menautkan kedua alisnya, bingung.