Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Hanya Mimpi


__ADS_3

Danendra seperti kebingungan saat mendapat pertanyaan aneh dari sang istri. Laki-laki yang masih mengenakan handuk yang menutupi area pusar hingga pangkal paha itu menautkan kedua alisnya. 


"Anak kita dimana? Ya masih di perut kamu, lah! Dia bahkan masih berbentuk janin," jawab Danendra sambil menyeka keringat dingin sang istri. 


"Dia masih disini?" tanya Adeline seraya memegang perutnya. 


"Tentu saja. Memang dia bisa berpindah ke perutku?" tanya balik Danendra bergurau. 


"Bukankah aku … keguguran?" tanya Adeline lagi dengan raut wajah sendu. 


"Kamu ngomong apa, sih, Sayang? Dia baik-baik saja di perut kamu, loh!" 


"Jadi, aku … hanya mimpi?" tanya Adeline lirih. 


"Nendra, aku mimpi jatuh dari tangga karena berlari. Aku kehilangan anak kita, Nendra!" seru Adeline yang kembali mengingat kejadian tragis itu. 


"Sayang, itu hanya bunga tidur. Makanya mulai sekarang jangan pernah berlarian lagi. Ingat, kamu tidak sendirian, Sayang." 


Danendra meraih Adeline ke dekapannya, mengelus lembut punggung sang istri yang terlihat masih ketakutan. 


"Nendra, tapi benar, kan, itu hanya mimpi?" tanya Adeline dengan bibir bergetar. 


"Iya, Sayang. Kalau kamu tidak percaya, akan aku panggilkan dokter untuk memeriksa calon anak kita," jawab Danendra sambil mencium puncak kepala sang istri. 


Kini Adeline bisa bernapas dengan lega setelah yakin bahwa sang suami memang berkata jujur. Namun, sedikit rasa bersalah karena sudah selalu bersikap egois dan selalu mau menang sendiri kini hadir di hati Adeline. 


Wanita hamil itu mendongak untuk menatap wajah tampan suaminya dengan mata berkaca-kaca. Tangannya meraih tangan kekar sang suami yang semula berada di lengannya untuk memberikan ketenangan. 


Adeline menggenggam erat tangan kekar itu lalu menciumnya begitu lama. "Sayang, kamu pernah menyesal tidak karena sudah menikahi wanita keras kepala seperti aku?" tanya Adeline setelah melepaskan ciuman di tangan suaminya. 


"Kenapa bicara seperti itu? Aku tidak pernah berpikir bahwa kamu itu keras kepala, Sayang. Aku mencintaimu dengan segala yang ada di dalam dirimu," ujar Danendra dengan serius. 

__ADS_1


"Maafin aku, Nendra. Aku janji, setelah ini tidak akan pernah mengecewakan kamu lagi. Aku akan mempercayai kamu lebih dari apapun," ucap Adeline dengan yakin. 


"Benar, kamu tidak ingin mengecewakan aku?" tanya Danendra yang tiba-tiba terlintas sesuatu yang mungkin akan berhasil jika dia meminta saat ini. 


Adeline mengangguk cepat dengan kedua sudut bibirnya yang mengulas senyum lebar. "Aku janji tidak akan membuat kamu kecewa, Nendra," jawab Adeline tanpa ragu. 


"Kalau begitu, temui Aunty Nabila. Kalian perlu bicara, Sayang. Berikan dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya," pinta Danendra yang ingin masalah antara ibu dan anak itu segera selesai. 


Wanita hamil itu terkejut dengan permintaan sang suami. Namun, dia sudah berjanji tidak akan mengecewakan pria yang lebih muda darinya itu. Meski dengan ragu-ragu, dia menuruti permintaan sang suami. 


Sekarang, disinilah Adeline berada. Di sebuah kamar tamu bersama seorang wanita paruh baya yang menatapnya dengan ekspresi campur aduk. Antara sedih dan bahagia. 


"Elin, bolehkan mama minta kamu memeluk mama?" tanya Nabila dengan suara lirih. 


Nabila sebenarnya malu kepada Adeline. Apa lagi setelah mendapat penolakan dari wanita hamil itu. Tetapi, rasa rindunya kepada sang putri pertama membuatnya membuang jauh-jauh perasaan malu tersebut. 


Adeline hanya menatap wanita paruh baya di depannya tanpa menjawab apapun dan tidak bereaksi sama sekali. Hal itu tentu saja membuat Nabila menurunkan kedua tangannya yang sempat dia rentangkan. 


Nabila menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rasa sedih yang kini lebih mendominasi.


"Saya perlu penjelasan dari anda, Nyonya," ujar Adeline tiba-tiba. 


Nabila mendongak menatap Adeline saat wanita hamil itu memanggilnya dengan sebutan nyonya. Sebutan itu tentu saja membuat hubungan mereka terasa lebih jauh. 


"Mama akan jelaskan, Elin. Tapi tolong, jangan panggil mama dengan sebutan itu." 


"Baik, silahkan tante jelaskan pada saya. Alasan apa yang membuat anda membuang saya ke panti asuhan?" tanya Adeline yang masih enggan memanggil wanita itu dengan sebutan mama. 


Meski sedih karena sang putri seolah tidak Sudi memanggilnya dengan sebutan yang seharusnya, tetapi Nabila tetap menguatkan hatinya untuk menjelaskan tentang kebenaran yang sebenarnya terjadi. 


"Mama tidak pernah membuang kamu, Elin. Mama tidak pernah tahu jika anak mama adalah seorang perempuan," ujar Nabila memulai ceritanya. 

__ADS_1


"Jadi, karena anda tahunya anak anda laki-laki, jadi anda tega membuang darah daging anda sendiri?" tanya Adeline dengan sebelah sudut bibirnya terangkat. 


"Bukan seperti itu, Elin. Dengarkan penjelasan mama dulu," ucap Nabila dengan gelengan kepala. 


"Lalu seperti apa? Baiklah, sekarang anda selesai dulu cerita anda ini. Saya akan mendengarkan dengan baik." 


Walau merasa Adeline seperti tidak akan percaya dengan penjelasannya, tetapi Nabila tetap berusaha untuk menceritakan kejadian sebenarnya. 


"Saat mama melahirkan kamu, mama sempat tidak sadarkan diri, Elin. Saat itu mama pendarahan. Ketika mama sadar, kakek kamu mengatakan bahwa putra mama sudah meninggal dunia." Nabila menyeka air mata yang kembali menetes dari kedua sudut matanya. 


"Mama hancur saat itu, mama kehilangan anak yang belum sempat mama lihat seperti apa rupanya. Padahal, mama berjuang sendirian saat hamil sampai melahirkan. Tetapi, apa boleh buat? Takdir memang terkadang mengkhianati kita sebagai makhluk tidak berdaya," lanjut Nabila yang sedikit terisak. 


Adeline tersenyum kecut saat mendengar penjelasan dari Nabila. Dia masih belum 100% percaya dengan alasan yang terlontar dari mulut wanita paruh baya itu. 


"Mama baru tahu beberapa bulan yang lalu, setelah kamu menikah dengan Danendra. Kakekmu yang sudah sakit-sakitan tiba-tiba mengakui kesalahan yang dia lakukan dulu," ujar Nabila kembali melanjutkan cerita itu. 


Bibir Adeline bergetar saat melihat Nabila sampai kesusahan untuk melanjutkan ceritanya. Seakan dia mengerti dengan kesedihan yang dirasakan oleh wanita paruh baya di hadapannya. 


"Saat itu mama menceritakan semuanya kepada mama mertua kamu, dan Danendra lah yang membantu mama mencari tahu tentang keberadaan anak kandung mama yang ternyata berada tidak jauh dari mama. Takdir lebih dulu mempertemukan kita, Elin. Mama bersyukur karena anak mama adalah menantu sahabat mama sendiri." 


"Kalau kalian sudah tahu sejak berbulan-bulan lalu, kenapa tidak ada yang memberitahu padaku? Kalian sengaja menyembunyikan identitasku sebenarnya." Adeline menyela penjelasan Nabila. 


Lagi-lagi Nabila menggeleng keras dengan deraian air mata yang semakin deras mengalir dari kedua sudut matanya. "Mama bingung harus memulainya dari mana, Elin. Apa lagi sekarang, orang yang sudah membuang kamu sudah tidak ada di dunia ini." 


"Apakah anda pernah bertanya kepada ayah anda, tentang alasan dia membuangku ke panti asuhan?" tanya Adeline dengan suara tercekat. 


"Kakak kamu hanya bilang, itu dia lakukan demi kebaikan kamu, Elin. Mama tidak tahu alasan sebenarnya, yang jelas, mungkin ada seseorang yang mengincar nyawa kamu saat itu." 


"Baiklah, saya akan coba terima alasan dari anda. Tetapi, apakah ayah kandungku tidak pernah berusaha melindungi anaknya sampai ayah anda tega membuangku yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang maksud kalian?" 


Pertanyaan itu seakan menjadi tamparan keras untuk Nabila. Bagaimana caranya dia menjelaskan tentang hadirnya sang putri bukan karena keinginan, melainkan karena insiden tragis yang terjadi padanya pada malam kelam itu. Malam yang menjadi awal kehancurannya sebagai seorang wanita. 

__ADS_1


__ADS_2