Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Berbeda dari pria lain


__ADS_3

"Memangnya tidak boleh kalau papa peluk kakak kamu, Zico?" tanya sang ayah kembali ke ekspresi datar. 


Zico hanya cengengesan seraya mengelus keningnya sendiri. Pemuda yang baru saja menyandang gelar suami itu sedikit takut karena mendapat pelototan mata dari sang kakak. 


"Maaf, Pa. Cuma enggak biasanya aja tiba-tiba papa peluk kakak. Biasanya kalian selalu perang dingin saat bertemu," tutur Zico jujur. 


"Sekarang tidak lagi, karena kakakmu ini akan segera menikah, Zico." Antonio memberitahu kabar gembira itu kepada anak bungsunya. 


Terkejut, tentu saja. Tiba-tiba sang ayah membicarakan pernikahan kakak pertamanya yang dia tahu selama ini tidak pernah menjalin hubungan spesial dengan siapapun. 


"Kakak mau menikah, sama siapa, Kak?" tanya Zico antusias. 


Adeline terdiam lama ketika bingung untuk menjawab pertanyaan sang adik. Bagaimana dia memberitahu siapa calon suaminya, jika dirinya saja sama sekali tidak tahu nama pria g*la itu. 


"Elin, kok diam? Itu adik kamu bertanya, loh!" 


"Em, nanti kalian kenalan sendiri saja, yah! Elin rasa dia lebih suka jika kalian kenal dia ketika bertemu nanti," elak Adeline setelah diam begitu lama. 


"Dih! Main rahasia, nih! Sepertinya calon kakak iparku bukan orang sembarangan," ledek Zico yang langsung mendapat timpukan bantal dari sang kakak.


"Benar begitu, Elin? Calon suamimu bukan orang sembarangan?" tanya si ayah termakan hasutan Zico. 


Adeline menoleh lalu menggeleng cepat. "Dia orang biasa, Pa. Cuma dia memang agak berbeda dari kebanyakan pria lain saja," jawab Adeline disertai senyum tipis. 


"Lalu kapan kakak akan menikah?" Lagi-lagi Zico yang mengeluarkan pertanyaan yang Adeline sendiri kebingungan untuk menjawab. 


"Kamu tanya saja sama dia nanti. Tapi sepertinya akan terjadi secepatnya," jawab Adeline asal. 


Perempuan itu sekilas melihat sebuah bayangan yang tiba-tiba melarikan diri ketika netranya tanpa sengaja menangkap kehadirannya. Adeline juga paham siapa seseorang yang tadi sempat menguping pembicaraan antara dia dan ayah serta adik bungsunya. 


"Ternyata kau masih seingin tahu itu tentangku, Rich. Tunggu saja pembalasan dariku," batin Adeline tersenyum licik. 

__ADS_1


"Kakak ini menyebalkan sekali. Hal baik itu tidak perlu di tutup-tutupi, Kak." Zico bertingkah seperti anak kecil yang tidak kebagian permen. 


"Kamu tenang saja, Co. Calon kakak iparmu pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita," ujar Adeline sengaja. 


Sang ayah mengelus lembut puncak kepala anak pertamanya. "Baguslah jika dia memang benar-benar menyayangi kamu, Elin. Sudah waktunya kamu untuk menyudahi gunjingan orang-orang disekitar dengan pencapaian terbaik kamu. Buktikan pada mereka bahwa kamu mampu menjalani hidup dengan normal," nasihat si ayah yang tiba-tiba berubah menjadi bijaksana. 


"Tentu saja, Pa. Elin akan buktikan pada mereka." 


Setelah perbincangan hangat yang terjadi pada hari ini, Adeline akhirnya keluar dari kamar sang ayah. Perempuan itu berjalan sendirian menuju dapur untuk mengambil air minum. Namun, seseorang tiba-tiba menghadang langkahnya. Adeline hanya merotasikan kedua bola matanya saat melihat pria yang berani berdiri di depannya sekarang. 


"Minggir!" perintah Adeline seraya menyingkirkan tubuh besar di depannya. 


"Kita perlu bicara!" serunya dengan tiba-tiba mencekal pergelangan tangan Adeline dengan erat. 


"Lepas, atau aku teriak sekarang?" ancam Adeline dengan berani. 


Terpaksa pria itu melepaskan pegangannya. Namun tatapannya masih saja membingkai wajah cantik sang mantan kekasih. "Kamu serius mau menikah? Tapi apakah secepat ini kamu berhasil melupakanku?" Tanpa rasa malu pria itu bertanya hal konyol. 


Adeline hanya melirik sekilas tanpa sedikitpun berniat menjawab pertanyaan konyol dari adik ipar kurang ajarnya ini. Perempuan itu justru mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum dan membalikkan tubuhnya untuk segera enyah dari tempat itu. Rasanya jika bisa menghilang, itulah yang sedang ingin di lakukan olehnya. 


"Bukan urusanmu!" Airin menyentak kasar hingga tangan kurang ajar itu terlepas dari pergelangan tangannya. 


"Oh, aku ingat. Kau pasti mau menikah dengan pria yang sudah berhasil menikmati tubuh molekmu itu di bar, 'kan? Pria yang juga bersamamu saat kembali dari Indonesia?" tuduh Richard yang kembali mengungkit kesalahpahaman yang pernah terjadi. 


Adeline hanya tertawa kecil saat kembali mendapat tuduhan itu. "Terserah kamu mau bilang apa. Yang jelas, segala urusanku sekarang bukanlah kapasitasmu untuk mencampuri." 


Adeline sungguh sudah sangat muak. Pria itu sendiri yang memutuskan untuk tidak mau mendengar penjelasannya dan tiba-tiba menikahi adiknya tanpa alasan apapun. Sekarang pria itu dengan tidak tahu malunya kembali mengungkit masalah itu. 


"Dasar, wanita jal*ng!" makinya kepada Adeline. 


Tamparan keras dihadiahkan Adeline untuk pria kurang ajar dan tidak tahu malu seperti adik iparnya itu. Saking kerasnya tamparan Adeline bahkan sampai membuat tangannya juga merasakan kebas. Namun, Adeline menyembunyikan hal itu dari pria yang pernah mengisi hatinya itu. 

__ADS_1


Tanpa berkata apapun Adeline pergi dari tempat itu. Walau bagaimanapun dia juga merasakan sakit atas hinaan dari Richard. Kedua matanya terasa panas seketika atas tuduhan-tuduhan yang di lontarkan oleh seorang pria yang pernah dia perjuangkan mati-matian selama sepuluh tahun terakhir. 


"Dia kira dia siapa? Berani sekali dia menghinaku dengan kata-kata tidak pantas. Lihat saja, Rich! Pembalasanku akan seribu kali lebih pedih dari ini," ucap Adeline dengan tekat yang kuat. 


Rasa sakit hatinya pada pria itu semakin bertumpuk menjadi gunungan rasa dendam. Adeline yang terlihat sekuat baja di luar, sebenarnya merupakan wanita yang sangat rapuh di dalam. Mulai saat inilah dia memiliki kesempatan untuk membalas rasa sakit itu tanpa belas kasih pada pria yang sudah tega mematahkan hatinya. 


"Loh, kakak kenapa mata kakak merah?" tanya Grasiella yang kebetulan berpapasan dengan sang kakak. 


Adeline terpaksa menghentikan langkahnya untuk menjawab sapaan dari adiknya yang baru saja kembali dari negara lain. Entah apa sebenarnya mau mereka, karena kemarin saat kedua orang tua drop mereka justru menghilang dan sekarang barulah menampakkan diri. 


"Tidak apa-apa, Ella. Kakak hanya kelilipan, kok!" jawab Adeline berbohong, tidak mungkin jika dia memaparkan kejadian sebenarnya. 


"Oh, Ella kira kakak habis nangis." Grasiella mengangguk-anggukan kepalanya. "Kakak lihat Kak Icad, enggak?" tanyanya kemudian. 


"Tadi kakak lihat sedang ada di dapur, Ella. Lihat saja sana!"


Grasiella akhirnya berjalan menuju dapur untuk mencari suaminya. Namun, dia sedikit kebingungan saat dari kejauhan melihat sang suami yang menggerutu, dan di tangannya memegang sebuah gelas yang sudah retak. 


Perempuan muda itu mengurungkan niatnya untuk menghampiri sang suami ketika tiba-tiba suaminya itu menjerit dengan suara lantang serta membanting gelas di tangannya.


"Kak Ichad tadi bilang apa? Awas saja kamu, Elin?" Maksudnya apa suamiku memiliki masalah dengan kakakkku sendiri?" tanya Grasiella yang sibuk dengan pikirannya. 


Saat Grasiella sedang berusaha memahami teriakan suaminya, dia justru di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang langsung mengagetkannya. 


"Apa sih, Zico? Kamu ini usil sekali." Grasiella menggerutu atas ulah sang adik. 


"Lebih baik usil tapi peduli pada keluarga, Kak. Dari pada kabur saat keluarganya di ambang kehancuran," jawab Zico menyindir. 


"Maksud kamu apa?" tanya Grasiella yang tidak paham arah pembicaraan sang adik. 


"Itu, suamimu. Kenapa membawa kabur istrinya saat keluarganya sedang terpuruk? Bukankah itu lebih parah dari apa yang aku lakukan?" tanya Zico beruntun.

__ADS_1


"Kami hanya kembali ke Indonesia sebentar, Zico. Tidak ada maksud untuk kabur dari keluarga," jawab Grasiella dengan cepat. 


"Oh, jadi begitu? Lalu apa tujuan kalian kembali ke Indonesia? Apakah lebih penting dari pada papa dan mama yang selama ini selalu membelamu?" ucap Zico dengan telak. 


__ADS_2