Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Tawaran Malik


__ADS_3

"Tapi, aku belum bisa mem–"


"Aku tidak peduli. Mulai sekarang aku tidak akan menuntut balasan atas perasaanku. Yang terpenting kamu dan anak kita selalu bersamaku, itu sudah lebih dari cukup. Aku akan memberi tanpa mengharapkan timbal balik darimu!"


"Kamu yakin, Malik? Kamu akan menghabiskan waktu bersama orang yang tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu."


"Aku yakin dan sangat yakin. Kamu tidak punya hak untuk menolak, Kayla. Keputusanku kali ini sudah final," pungkasnya mengakhiri perdebatan.


Mau tidak mau akhirnya Rihanna menyetujui keputusan Malik. Selain tidak ingin terjadi hal-hal buruk lagi, Rihanna juga mulai memikirkan nasihat kakak serta ibunya.


Kini Rihanna sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Kondisi wanita hamil itu belum memungkinkan untuk pulang ke mansion karena masih butuh perawatan. Malik sempat menawarkan agar Rihanna dirawat intensif di mansion saja. Laki-laki itu tidak keberatan merogoh kocek lebih dalam demi kenyamanan sang istri. Namun, Rihanna justru menolak.


"Malik, Kak Elin mana?" tanyanya setelah berada di ruang VVIP yang dipesan oleh Malik.


"Dia di luar. Aku belum memperbolehkan dia untuk masuk. Kamu celaka saat bersamanya, Kayla," ucap Malik masih belum bisa memaafkan apa yang terjadi pada sang istri dan calon buah hatinya.


"Tidak, Malik. Aku celaka karena kecerobohan ku sendiri. Kak Elin tidak bersalah," elak Rihanna tidak ingin sang kakak disalahkan.


"Aku tidak percaya, Kayla."


"Malik, tolong panggilkan dia! Aku benar-benar ingin bertemu dengannya," mohon Rihanna dengan mimik wajah sendu.


Malik melirik sang istri yang sepertinya memang serius ingin bertemu kakaknya. Sebenarnya dia pun tidak tega karena sempat menyalahkan kakak iparnya itu.


Laki-laki yang duduk di kursi roda itu menghela napas panjang sebelum akhirnya menyetujui permintaan istrinya. Dia menuntun kursi rodanya keluar dari ruang perawatan. Adeline serta keluarga lengkap masih menunggu di luar ruangan.


"Bagaimana keadaan Rihanna, Malik?" tanya Nabila dengan khawatir.


"Dia mencari kakaknya," ucap Malik ketus.


Adeline langsung mendongak saat mendengar ucapan sang adik ipar. Rasa bersalah itu masih saja menguasai diri Adeline. Sejak tadi memang dia sangat menantikan kesempatan untuk menemui Rihanna. Dia akan mengucapkan terima kasih serta memarahi kecerobohan sang adik.


"Jadi aku boleh masuk?" tanya Adeline memastikan.


"Apa boleh buat, Kayla yang memintanya."


Danendra masih diam memperhatikan Malik yang bersikap ketus dan terkesan tidak bisa menghargai Adeline. Jika saja di tempat itu tidak ada sang ayah, sudah dipastikan bogem mentah akan mendarat di wajah menyebalkannya itu.


"Nendra, tolong antarkan aku ke ruang rawat Ana," pinta Adeline karena merasa lututnya masih lemas.


"Baiklah, Sayang." Danendra segera memapah sang istri masuk ke ruangan VVIP itu.


Langkah demi langkah Adeline menjejakkan kakinya penuh rasa sesal. Banyak sekali seandainya yang memenuhi kepala wanita beranak satu itu. Danendra menuntun sang istri hingga sampai di hadapan Rihanna. Tanpa sengaja tatapan Rihanna dan Danendra bertemu. Rihanna langsung membuang muka karena malu dengan semua sikapnya selama ini. Danendra membantu sang istri duduk di sebuah kursi di samping brankar.

__ADS_1


"Sudah, kamu di sini saja. Aku tinggal, yah!"


"Em, terima kasih, Nendra."


Setelah memastikan sang istri nyaman berada di ruangan itu, Danendra bergegas keluar. Rasa curiganya sudah mulai berkurang karena mengetahui bahwa Rihanna bahkan sampai mengorbankan diri demi melindungi istrinya. Laki-laki perkasa itu yakin bahwa Rihanna tidak akan pernah menyakiti Adeline seperti dulu.


Saat sudah keluar dari ruangan VVIP yang menjadi tempat perawatan Rihanna, Danendra langsung menghampirinya Malik yang duduk termenung di salah satu sudut tempat itu. Jika diperhatikan Malik seperti sedang menatap sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari sana. Namun, yang terjadi sebenarnya adalah Malik tengah menimang keputusan yang telah dia ambil tadi.


Apakah dia akan sanggup menerima kenyataan seumur hidup berumah tangga dengan seseorang yang tidak mencintainya. Akan tetapi, saat ini yang menjadi prioritasnya memang adalah keselamatan istri serta benih keturunannya.


Danendra menyentuh bahu Malik dari belakang. Laki-laki itu terjingkat kaget saat sebuah tangan kekar menyentuh bahunya. Dia segera menoleh ke belakang, dan mendapati saudaranya sedang berdiri di belakang.


"Ngapain? Kamu berniat memarahiku karena sudah bersikap kurang ajar pada istrimu?"


"Tidak! Aku pun pernah berada di posisimu. Adeline pernah hampir celaka saat mengandung karena ulah Rihanna. Gue paham gimana perasaan Lo sekarang," ucap Danendra bijak.


"Terus kamu mau apa?"


"Kecelakaan ini bukan murni kesalahan istriku, Malik. Jika kamu ingin tahu, ayo ikut denganku. Kita temui orang yang sudah mencelakai istrimu," ajak Danendra yang seketika membuat Malik terkejut.


"Orangnya sudah ketemu? Kau bawa ke mana dia? Kantor polisi?" cecar Malik penasaran.


"Kantor polisi terlalu ringan untuk mereka, Malik. Aku sendiri yang akan membuat perhitungan kepada orang yang sudah berani mencelakai istriku!"


"Mau kamu apakah orang itu, Nendra?"


"Kau lihat saja nanti," jawabannya abu-abu.


"Kalau kau akan menghukumnya ala-ala mafiamu itu, aku tidak mau ikut. Kau terlalu kejam sebagai manusia, Nendra." Malik menolak karena dia tidak mungkin tega melihat apa yang akan terjadi pada seseorang yang sudah bertingkah tersebut.


"Aku tidak pernah mencari masalah dengan siapapun. Tapi jika orang itu mencari masalah denganku, jangan harap aku akan melepaskannya!"


Pada akhirnya Malik ikut menemui orang yang sudah mencelakai istrinya tersebut. Namun, tentunya dia sudah mengajukan syarat agar Danendra tidak memulai misi balas dendamnya sebelum dia pergi dari sana.


Kursi roda yang di duduki oleh Malik di dorong oleh seorang pengawal. Malik menatap sekelilingnya, tempat itu lebih cocok di namai dengan neraka dunia. Setiap tempat berisi satu tawanan yang tubuhnya sudah kurus kering. Tidak hanya itu saja, selain mereka tinggal di balik jeruji besi yang lebih sempit dari penjara, di kaki mereka juga terdapat besi pemberat yang semakin menyusahkan mereka untuk bergerak.


Setelah beberapa saat berjalan masuk, mereka akhirnya sampai di sebuah tempat yang mirip dengan gudang. Tempat itu sangatlah gelap. Hampir tidak ada udara dan cahaya yang masuk karena hanya terdapat satu ventilasi udara berukuran kecil yang terletak sangat tinggi di atas sana.


Di dalam ruangan itu, ternyata sudah berisi dua manusia dengan keadaan tangan terikat dan kepala tertutup kain hitam. Danendra duduk tepat di hadapan kedua orang itu, hanya ada satu meja berukuran kecil yang menjadi pembatas. Sementara itu, kursi roda Malik juga berhenti tepat berdampingan dengan kursi kayu yang diduduki oleh Danendra.


"Buka penutup kepalanya!" perintah Danendra kepada anak buahnya.


Dua pengawal berjalan ke belakang tubuh kedua orang itu dan langsung membuka penutup kepala si tawanan. Salah satu tawanan terkejut saat melihat siapa yang duduk dengan angkuh di depannya, sedangkan tawanan yang merupakan perempuan terlihat bingung.

__ADS_1


"Danendra!" pekik si tawanan laki-laki.


"Kenapa? Kau kaget melihatku ada di sini?" tanyanya dengan garang.


"Untuk apa kau menahanku seperti ini? Aku tidak memiliki masalah apapun denganmu."


"Kau pikir seperti itu? Lalu siapa yang mendorong istriku sampai menyebabkan adik iparku celaka?" tanya Danendra dengan wajah seriusnya.


"Aku sama sekali tidak menyentuh Elin!"


"Tapi wanita di sampingmu ini sudah mengotori tubuh istriku dengan tangannya!" bentak Danendra kasar.


"Ak-u, tidak sengaja," elak si tawanan wanita.


Wanita itu awalnya tidak mengetahui bahwa salah satu laki-laki di depannya ini merupakan suami dari wanita yang dia dorong di toilet mall tadi. Namun, setelah mendengar pembicaraan Richard dan laki-laki itu, wanita yang merupakan istri siri Richard ini langsung panik.


"Kau tidak sengaja?" tanyanya seraya melempar tatapan tajam.


Dari tatapannya saja Danendra sudah mampu mengintimidasi lawannya. Dia bahkan belum menggerakkan anggota tubuhnya untuk menghadapi kedua manusia sampah di depannya.


"A-ku tidak se-ngaja."


"Lalu kenapa kau ketakutan?" tanyanya menyeringai.


"Aku tidak takut!" bantahnya mencoba menyembunyikan ketakutan itu, tetapi tubuhnya bergetar hebat.


"Malik, dia yang sudah mencelakai istrimu. Mau kau apakan dia?" tanya Danendra beralih pada Malik.


Walau bagaimanapun yang menjadi korban adalah istri Malik, jadi Danendra merasa laki-laki itulah yang lebih berhak untuk memberi pelajaran pada kedua orang di depannya.


Malik bergantian menatap dua orang berbeda jenis di depannya. Mereka terlihat seperti tidak berusaha melindungi satu sama lain dan terkesan hanya ingin membela diri agar terlepas dari jerat hukum maupun balas dendam yang akan mereka terima.


"Aku sama sekali tidak mengenal kalian, tapi jujur aku sangat tidak terima dengan perlakuan kalian. Istriku hampir celaka dan aku hampir kehilangan anakku karena kejahatan kalian. Sekarang, aku tawarkan kepada kalian berdua. Kalian ingin masalah ini diatasi oleh kepolisian atau biarkan saudaraku yang bengis ini yang membuat perhitungan pada kalian?"


Danendra menyeringai jahat saat mendengar tawaran yang diajukan oleh saudara sekaligus iparnya itu. Kedua pilihan itu sama-sama sulit untuk kedua orang di depan. Jika mereka memilih berurusan dengannya, pasti nyawa yang akan menjadi taruhan. Tetapi, jika mereka memilih kepolisian, mungkin mereka akan dipenjara dalam waktu yang cukup lama.


"Bagaimana? Kalian ingin aku, atau polisi yang mengajari kalian sopan santun?"


Tatapan Danendra saat ini sudah seperti Lucifer yang hendak menghabisi mangsanya. Richard meneguk ludahnya sendiri saat merasakan nyawanya sedang berada di ujung tanduk. Laki-laki itu menyesali perbuatannya yang tidak menghalangi istri sirinya untuk mencelakai Adeline. Jika sejak awal dia tahu bahwa semengerikan ini suami mantan kekasihnya itu, dia tidak akan pernah sekalipun mencari masalah, bahkan untuk memikirkannya pun tidak akan pernah dia lakukan.


"Nendra, lepaskan aku. Aku sama sekali tidak menyentuh Adeline ataupun wanita yang bersamanya. Kau pasti bisa melihatnya sendiri lewat CCTV di tempat itu." Richard memohon atas keselamatannya sendiri tanpa memikirkan wanita yang bersamanya selama ini.


"Richard! Kau sama sekali tidak berusaha menyelamatkan aku. Kau hanya membela dirimu sendiri. Mana cinta yang selama ini kau bangga-banggakan?"

__ADS_1


"Kau percaya pada cinta palsu seorang laki-laki yang berstatus suami orang? Apakah kau sama sekali tidak malu, Pelakor?" Danendra melempar hinaan pedas kepada istri siri Richard.


__ADS_2