Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Jodoh Tidak Ke mana


__ADS_3

"He-he-he, maaf, tadi mami yang suruh," jawab Rihanna tanpa rasa bersalah. 


Di seberang sana Malik memutar bola matanya malas. Istrinya itu memang terlalu polos. Dia bahkan tidak percaya bahwa Rihanna pernah berniat untuk menjadi pelakor dalam rumah tangga Adeline dan Danendra. 


"Boleh tidak, Malik?" tanya Rihanna saat Malik hanya diam saja. 


"Memangnya mau apa ke apartemen? Tidak bisa tunggu sampai aku pulang?" tanya balik Malik untuk mempertimbangkan keputusannya untuk memberikan izin atau tidak. 


"Aku hanya sebentar, mau ambil sesuatu yang tertinggal di sana," jawab Rihanna singkat. 


"Ambil sesuatu yang tertinggal? Seingat ku barang-barang kamu sudah aku kemas dalam koper semua. Jadi di apartemen sudah tidak ada lagi barang-barang kamu," timpal Malik seraya kembali mengingat-ingat kembali momen itu, momen dia membereskan barang-barang Rihanna setelah keluar dari rumah sakit. 


"Em, kamu mungkin lupa, atau tidak melihat. Di koper tidak ada barang yang aku cari," ucapnya yang masih enggan menyebut barang yang dicari olehnya. 


"Memangnya kamu mau cari apa? Biar nanti coba aku carikan." 


Rihanna terdiam dengan sekelumit pikiran yang tiba-tiba muncul. Dia tidak mungkin mengatakan apa yang sedang ia cari. Rihanna tentu tidak ingin Malik salah paham jika sampai laki-laki itu tahu tentang pria pertama yang hingga saat ini belum dia lupakan rupanya yang tampan. 


"Kayla, kenapa diam?" 


"Em, enggak perlu, deh! Mungkin aku cuma lupa aja. Nanti aku cari lagi di koper," jawabnya mengambil keputusan untuk tetap merahasiakan kisah masa kecilnya. 


"Aku enggak mungkin melukai hati Malik yang sudah sangat baik padaku dengan mengungkit tentang cowok itu. Sekarang, lebih baik aku fokus pada kehidupan baruku bersama Malik, ayah dari anakku," gumam Rihanna sambil mencari tempat yang aman untuk menyimpan kalung yang ditemukan olehnya di saku celana kerja Malik. 


Rihanna membuka setiap laci di nakas, meja, serta lemari di kamar itu. Dia memutuskan untuk menyembunyikan barang itu agar dia tidak lagi mengingat-ingat kejadian masa lampau. Sudah semua laci dibuka oleh Rihanna, tetapi semuanya berisi berkas-berkas yang mungkin penting. 


Hal itu tentu saja membuat tempat itu tidak aman untuk menyembunyikan kalung di tangannya. Rihanna kembali berjalan hingga tanpa sengaja melihat laci kecil yang berada di bagian bawah ranjang. Baru kali ini dia melihat laci itu selama tinggal di kamar ini. 


Rihanna berlutut di samping ranjang kayu yang selama ini menjadi tempat istirahatnya. Perlahan-lahan Rihanna membuka laci berukuran lima centimeter itu. Namun, lagi-lagi laci itu memiliki isi di dalamnya. Hanya saja isinya berbeda dengan laci-laci lain. 


Penasaran, Rihanna mengambil sesuatu berbentuk lembaran yang ada di dalam laci itu. Seketika netranya membulat sempurna saat melihat seseorang yang hingga saat ini masih jelas di ingatan. 


"Ini, cowok yang menolongku saat di danau!" pekik Rihanna sambil menutup mulutnya sejenak serta menggeleng pelan. 


"Gimana bisa foto ini berada di sini?" tanyanya pada diri sendiri. 

__ADS_1


"Jangan-jangan … Malik kenal cowok ini," sambungnya lagi. 


Rihanna yang sedang sibuk mengamati foto itu, tidak menyadari kehadiran seseorang yang masuk ke kamarnya. Seseorang itu memperhatikan Rihanna yang sedang memegang selembar foto bocah laki-laki. 


"Rihanna!" 


Rihanna seketika mendongakkan kepalanya, sang mertua sedang berdiri di hadapannya dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan. Rihanna tidak tahu sang mertua sedang marah atau tidak padanya. 


"Kamu dapat foto kecil Malik dari mana?" tanya Riani seraya mengambil alih foto berukuran kecil itu. 


"Apa, Mam? Foto siapa?" tanya balik Rihanna dengan ekspresi cengo. 


"Ini foto Malik, suamimu," jawab Riani sambil tersenyum hangat. 


"Mama serius?" tanya Rihanna lagi dengan raut wajah tidak percaya. 


"Iya. Itu foto Malik saat SMP," jawab Riani. 


Tidak sengaja Riani juga melihat kalung yang dipegang Rihanna di tangan kiri. Wanita paruh baya itu kembali mengambil alih barang pribadi milik putranya saat kecil dulu. 


Rihanna tidak merespon, tetapi telinganya menangkap baik-baik setiap kata yang terucap oleh mertuanya. Otaknya juga mencerna setiap kata yang seakan menjadi pecahan puzzle yang siap dirangkai. 


"Kalung ini dulu pernah hilang saat Malik sedang camping di daerah puncak. Gara-gara kehilangan kalung ini, Malik sampai tidak pernah mau lagi ikut kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan oleh sekolahnya." Riani kembali melanjutkan cerita tentang masa kecil Malik. 


"Malik pernah camping di puncak saat SMP, Mam?" tanya Rihanna saat sudah berhasil mengembalikan kesadarannya. 


"Iya, Sayang. Saat pulang dari sana, itu pertama kalinya mami denger Malik menceritakan tentang seseorang dengan antusias, padahal sebelumnya Malik adalah anak remaja yang cuek. Dia bahkan tidak memiliki teman di sekolah," jelas Riani yang semakin menguatkan praduga Rihanna. 


"Jadi, cowok yang selama ini tidak bisa aku lupakan sejak kecil adalah suamiku sendiri?" tanyanya dalam hati. 


"Kalau foto itu memang foto Malik, kenapa Rihanna tidak pernah melihat foto masa kecil Malik, Ma?" 


Riani menghela napas berat, "Rumah lama kami pernah kebakaran, Rihanna. Tidak ada yang tersisa, foto-foto masa lalu keluarga kami ikut terbakar. Makanya mami kaget waktu lihat foto itu ada di tangan kamu." 


"Pantas saja dari sekian banyaknya foto, tidak ada satupun foto anak kecil di rumah itu. Foto-foto yang terpajang hanya berisi satu wanita berjilbab yang diapit oleh dua pria gagah berjas. 

__ADS_1


"Oh iya, kamu belum jawab tadi. Kamu dapat kalung ini dari mana?" tanya Riani kembali membahas kalung dengan bandul huruf A itu. 


"Kalung itu Rihanna dapat waktu kecil, Mam. Saat itu ada orang jahat yang tiba-tiba melemparkan Rihanna ke dalam danau, dan sialnya Rihanna tidak bisa berenang."


"Jadi, kamu tenggelam di danau itu?" 


"Hampir, Mam. Sampai tiba-tiba ada seorang cowok yang menolong Rihanna. Saat itu Rihanna panik, jadi asal tarik sesuatu untuk berpegangan. Mungkin kalung itu putus saat Rihanna menariknya. Beruntung cowok itu bisa bawa Rihanna naik ke atas," terang Rihanna menjelaskan asal usul kalung itu. 


"Jadi cewek cantik yang diceritakan Malik dulu adalah kamu, Sayang!" seru Riani dengan raut wajah berbinar. 


"Rihanna enggak yakin, Mam. Tapi melihat kalung dan foto Malik saat kecil, sepertinya jawabannya memang benar." 


"Inikah yang disebut kalau jodoh tidak ke mana? Ternyata janji Malik tidak meleset," ujar Riani yang kembali mengingat saat Malik dengan antusiasnya menceritakan tentang gadis yang ditolong olehnya. 


"Memangnya Malik pernah janji apa, Mam?" tanya Rihanna yang semakin penasaran. 


"Dia bilang hanya akan menikah dengan gadis itu, jika tidak maka dia tidak mau menikah," jawab Riani membuka rahasia masa kecil sang putra kepada menantunya. 


"Mami serius? Tapi, Malik mengingkari janji itu dengan menikahiku," timpal Rihanna tetap menilai bahwa Malik sudah mengingkari janji masa kecilnya. 


"Tapi orang yang ingin di nikahi oleh Malik kan memang kamu, Sayang. Hanya bedanya dalam janji Malik adalah kamu versi kecil, dan yang menjadi istri Malik adalah kamu versi dewasa. Tidak ada salahnya, ini semua sudah takdir," tutur Riani yang paham bahwa sepertinya menantunya itu berpikir berbeda dengan dirinya. 


"Tapi, kalau gadis itu ternyata bukan Rihanna bagaimana?" 


"Kalau begitu kita tanyakan sama Malik," jawab Riani santai. 


"Tanya apa, Mam?" 


Kedua wanita yang sedang duduk lesehan di lantai itu seketika menatap ke arah pintu. Tubuh seorang pria gagah berdiri dengan aura penuh wibawa. Keduanya saling pandang dengan seulas senyum tipis. 


"Itu Malik, Mam," bisik Rihanna dengan lirih.


"Mami tahu," bisik Riani kepada menantunya.  


"Kalian ngapain duduk di lantai? Berasa lagi camping? Menyatu dengan alam." 

__ADS_1


__ADS_2