Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Berkunjung ke Rumah Papa


__ADS_3

Adeline dan Danendra akhirnya berangkat menuju kediaman keluarga si perempuan dewasa itu. Zico sudah lebih dulu melarikan diri setelah membuat sang kakak naik darah. Sebenarnya Adeline sudah berusaha menolak datang karena malas sekali jika harus bertemu dengan seorang pria yang sudah berhasil menghancurkan hati serta kehidupannya. Meratakan segala impian yang sudah dia bangun selama sepuluh tahun terakhir. 


"Sayang, kenapa cemberut?" tanya Danendra yang duduk di samping sang istri. 


Adeline menoleh sejenak lalu kembali menatap keluar jendela. "Tidak apa-apa, aku hanya merasa kurang enak badan saja. Moodku juga sedang tidak baik," jawab Adeline sekenanya. 


"Pasti karena tamu si*lan kamu itu, yah?" tebaknya menyalahkan. 


"Hm," jawab Adeline singkat tanpa mengalihkan pandangan. 


"Gerr mampir ke minimarket sebentar!" perintahnya pada Gerry yang tengah menyetir. 


"Baik, Tuan." 


Beberapa saat kemudian mobil yang di kendarai oleh Gerry berhenti tepat di depan sebuah minimarket terdekat. "Mau beli apa, Tuan?" tanya Gerry yang sudah hafal, biasanya si tuan muda akan menyuruhnya membelikan. 


"Kau jaga saja istriku disini, biar aku beli sendiri." 


Danendra langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju supermarket untuk membeli sesuatu. Pria berpakaian casual itu berjalan menuju deretan rak yang berisi aneka Snack. Dia mengambil beberapa Snack lalu bergegas menuju kasir untuk membayar belanjaannya. 


Dengan menenteng dua kantong berukuran sedang, Danendra keluar dari supermarket lalu segera masuk ke mobil yang masih stay menunggunya. 


"Adel, ini untuk kamu." Danendra menyodorkan belanjaannya kepada sang istri. 


"Apa ini?" tanya Adeline yang kali ini mengalihkan pandangannya sambil menerima kantong pemberian sang suami. 


"Itu buat memperbaiki mood kamu. Aku kemarin baca di internet kalau cokelat bisa memperbaiki mood," jelas Danendra yang langsung membuat Adeline tersenyum. 


"Terima kasih," tutur Adeline tulus. 


"Jalan, Gerr. Mau apa stay disini? Mertuaku sudah menunggu di rumah," perintah Danendra yang tidak ingin membuang-buang waktu. 


Kendaraan mewah yang di tumpangi sepasang pengantin baru itu kembali melanjutkan perjalanan. Adeline yang masih terharu atas apa yang dilakukan oleh suami brondongnya masih memandang wajah pria yang duduk bersilang kaki di sampingnya. 

__ADS_1


"Jangan menatapku seperti itu, Sayang. Lebih baik kamu makan cokelatnya, agar saat sampai di rumah orang tua kamu, mood kamu sudah lebih baik," ujar Danendra tanpa menatap sang istri yang kini sedikit tersipu. 


"Kamu memang masih sangat kecil, Nendra, tapi kamu bisa menghargaiku sebagai istrimu dengan baik." Adeline membatin dalam hati. 


"Apa memang mau aku yang perbaiki mood kamu, Sayang?" tanya Danendra sambil menoleh lalu mengerlingkan sebelah matanya. 


"Tidak! Aku makan ini saja," jawab Adeline yang langsung mengambil cokelat pemberian sang suami. 


Perempuan itu sudah mulai terancam ketika sang suami menawarkan sesuatu sambil memberi isyarat dengan mengerlingkan mata. Sudah beberapa kali dia menjadi korban dari kejahilan suami berondongnya itu. 


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh mereka akhirnya sampai di rumah orang tua Adeline. Mereka turun bersama, sementara Gerry langsung tancap gas meninggalkan atasannya di tempat tersebut. 


Saat sudah turun dari mobil Adeline dan Nendra sudah disambut oleh keluarga termasuk Grasiella dan Richard. Wajah dari pria yang sama-sama memiliki posisi yang sama di keluarga itu terlihat sama sekali tidak bersahabat. 


Danendra yang sudah tahu alasannya justru bersikap seakan tidak tahu apa-apa. Dia melakukan hal yang sama dengan sang adik ipar. Baginya jika lawannya baik, maka dia juga akan bersikap baik begitupun sebaliknya. 


"Kakak, kenapa terlambat datang?" Grasiella lebih dulu bergelayut manja di lengan sang kakak. 


"Berani sekali dia menatap istriku seperti itu!" rutuk Danendra dalam hati. 


"Benar, Ella. Suami kakak kamu itu memiliki tanggung jawab yang besar. Jadi jangan heran jika selalu sibuk bekerja," timpal Antonio memuji menantu barunya.


"Papa bisa saja," ujar Danendra sambil melirik Richard. 


Sementara itu, wajah Richard semakin merah karena menahan amarah. Mendengar sang ayah mertua memuji anggota keluarga baru itu membuat Richard tidak terima. 


"Sudah, pa! Sekarang kita masuk dulu. Ngobrolnya di lanjut di dalam," lerai Monica yang kini kondisinya semakin membaik. 


Mereka masuk ke rumah lalu segera menyantap hidangan makan malam yang sudah tersaji. Posisi duduk mereka kebetulan Antonio berhadapan dengan Monica. Sementara Adeline bersebelahan dengan Danendra, sedang Grasiella juga bersebelahan dengan Richard yang otomatis membuat kedua pasangan itu berhadap-hadapan. Zico berhalangan hadir karena tiba-tiba sang istri merasa kurang sehat. 


Pandangan Danendra bergantian menatap sepasang suami istri yang duduk di hadapannya. "Dia itu apakah buta, sampai melepaskan berlian asli demi batu imitasi seperti in?" Danendra sibuk membatin sendiri.


Grasiella yang di pandang oleh pria setampan Danendra pun menjadi salah tingkah. Adik Adeline itu beberapa kali merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Kedua pipinya juga sedikit memerah karena tersipu malu. 

__ADS_1


"Kak Nendra menatapku seperti itu? Apakah dia memiliki ketertarikan padaku? Kalau iya, baguslah." Grasiella membatin dengan kepercayaan diri setinggi gunung Everest. 


"Tapi baguslah! Jika pria itu tidak bodoh, mungkin aku tidak mungkin bersatu dengan istriku," gumam Danendra yang kini mengalihkan pandangannya ke arah sang istri, yang kebetulan juga menoleh ke arahnya. 


Mereka saling tersenyum lembut, Danendra yang awalnya memegang garpu dan sendok yang dia gunakan untuk menyantap makanan langsung melepaskan benda tersebut. Tangan itu kini mengulur dan menaruhnya di atas punggung tangan sang istri. 


Keduanya terlihat seperti pasangan yang serasi, penuh cinta dan kasih sayang. Tidak ada yang akan menyangka bahwa hubungan keduanya masih seperti tom and Jerry. 


Richard mengepalkan tangannya erat saat melihat kemesraan antara pasangan pengantin baru di depannya.  Dia mengemaratakan giginya hingga bergemelatuk. 


Beberapa saat kemudian acara makan bersama sudah selesai. Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol santai di ruang keluarga. Adeline tengah membantu Monica membuat minuman untuk mereka semua, tiba-tiba Grasiella datang hanya untuk merecoki kegiatan ibu dan kakaknya. 


"Ella, lebih baik tunggu di depan kalau tidak mau membantu. Ini akan membuang waktu kalau kamu terus menggelayuti lenganku seperti bayi," ujar Adeline yang entah kenapa merasa risih dengan perlakuan Grasiella saat ini, padahal dulu dia dengan senang hati membiarkan sang adik berlaku sesuka hati. 


"Kakak kenapa, sih! Mentang-mentang sekarang sudah menjadi nyonya muda. Mau menjauhi aku, yah!" tuduh Grasiella sambil melepas kasar tangan sang kakak. 


"Ella, kakak kamu benar, Nak. Itu kakak sedang menuang air panas, kalau kena kulit bisa melepuh." 


"Mama sekarang lebih membela kakak! Karena kakak mendapatkan suami lebih baik dari aku, yakan!" Grasiella beralih menuduh sang ibu. 


"Ella! Stop sikap kamu yang kekanak-kanakan ini. Memangnya kemarin saat mama hampir depresi kamu kemana? Apa kamu mengurus mama? Tidak, kan! Jika mama tidak sayang padamu, mungkin sudah mama biarkan kamu hidup berdua dengan suamimu yang tidak memiliki sopan santun itu." 


Monica yang kelewat emosi akhirnya kelepasan membahas perkara sikap suami Grasiella yang semakin hari semakin tampak buruknya saja itu. Padahal, Monica pernah berjanji pada anak kesayangannya itu bahwa dia tidak akan pernah mengungkit masalah itu. Namun, sikap Grasiella yang tidak kunjung berubah akhirnya membuat Monica muak.


"Mama!" teriak Grasiella seraya menghentakkan kakinya dengan keras lalu berlari pergi meninggalkan sang ibu yang hanya bisa menghela napas berat. 


"Ma, kejar saja Ella. Dia mungkin akan menangis karena merasa mama tidak adil padanya," ujar Adeline yang merasa kasihan pada adiknya. 


"Biarkan saja, Elin. Sekali-kali adikmu itu perlu di didik juga. Mama sudah salah selama ini selalu memanjakan dia," jawabnya penuh sesal, akibat terlalu menyayangi anak itu akhirnya membuatnya menjadi wanita yang kelewat manja. 


"Sial! Gara-gara dia, aku jadi di bentak sama mama!" 


__ADS_1


__ADS_2