Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Hamil


__ADS_3

Setelah melakukan pemeriksaan untuk memastikan ucapan si perempuan ternyata benar, Zico sedang kebingungan saat ini. Keputusan apa yang akan di ambil olehnya untuk menyelesaikan permasalahan kali ini.


"Bagaimana, Co? Kamu memilih mempertahankan dia atau mengg*gurkan janin dalam rahimku ini?" Queen kembali memberikan pilihan kepada pria sewaannya. 


Zico seketika menatap tajam pada perempuan yang selama ini menggunakan jasanya sebagai pria sewaan. "Kau benar-benar keterlaluan, Queen. Kau tega ingin menyingkirkan anakmu sendiri!" bentaknya penuh amarah. 


"Aku hanya memberikan kamu pilihan, Co. Semua keputusan ada padamu!" bentak Queen yang tidak terima atas tuduhan yang dilayangkan oleh si pria. 


Pusing dengan masalahnya saat ini, Zico memijit tengkuknya yang terasa ngilu. Pria itu menghela napas panjang lalu kembali menyeka keringat dingin yang mengucur dari kedua pelipisnya. 


"Aku tidak mau mengorbankan nyawa, Queen. Apapun resikonya akan aku terima!" Zico akhirnya mengambil keputusan. 


Queen tersenyum lega saat mendengar keputusan yang diambil oleh pria sewaannya. Ternyata pilihannya untuk menjadikan Zico sebagai ayah dari keturunannya tidak salah. Meskipun pria itu bisa disewa, akan tetapi pria itu tidak memiliki sifat kejam sama sekali. 


"Tapi aku harus memberi tahu kakakku lebih dulu. Dia yang akan pergi bertemu orang tuamu, Queen," ujar Zico lirih. 


Meskipun sebenarnya Zico merasa bingung untuk menjelaskan pada sang kakak tentang masalah yang dia hadapi saat ini. Dia juga takut akan mengecewakan sang kakak atas perbuatannya. 


Pada akhirnya Zico benar-benar mendatangi sang kakak di bar. Adeline cukup terkejut dengan kedatangan sang adik tanpa pemberitahuan. Saat ini mereka tengah berada di kamar Adeline. 


Zico masih diam menundukkan kepala. Tangannya bermain di bawah sana sebagai pengalihan rasa tegang. Hal itu semakin membuat Adeline merasa ada yang aneh dengan gerak-gerik sang adik. 


"Kamu ada masalah, Zico?" tanya Adeline. 


Reflek kepala Zico mengangguk, lalu saat sadar kembali menggeleng keras. Apa yang di lakukan oleh sang adik, semakin membuat si kakak yakin bahwa adiknya itu tengah memiliki masalah. 

__ADS_1


"Ada apa? Jangan coba-coba berbohong pada kakak!" ancamnya dengan nada tegas.


"Maaf, Kak. Zico sudah melakukan kesalahan," ujarnya penuh sesal. 


"Kesalahan apa?" tanya Adeline semakin menuntut. 


"Zico menghamili pacar Zico, Kak." 


Adeline tersentak ketika mendengar sendiri pengakuan sang adik. Untuk sesaat perempuan itu terdiam dengan hati yang teriris. "Haruskah aku merasakan di langkahi oleh adikku lagi? Tuhan, kesalahan apa yang sudah ku perbuat?" batinnya pilu. 


"Kak, maafin Zico." Si adik sampai bersimpuh di kaki Adeline. 


"Kamu harus tanggung jawab atas perbuatan kamu, Zico. Nikahi perempuan itu!" perintah Adeline dengan suara bergetar. 


"Maafin Zico, Kak. Zico minta ampun," rengek Zico tetap bersimpuh di kaki sang kaka. 


Adeline hanya mampu menerima kenyataan pahit tersebut meski dengan keterpaksaan. Sadar bahwa sang adik masih saja bersimpuh di kakinya, Adeline menarik Zico untuk bangun. 


"Kakak sudah maafkan kamu, Zico. Sekarang pergilah, temui orang tua kekasihmu." 


Zico belum juga pergi, dia masih membutuhkan bantuan dari sang kakak untuk membicarakan masalah ini dengan orang tua Queen. Selain itu, dia juga ingin kakaknya lah yang mengurus segala sesuatu tentang pernikahannya. 


"Kakak bisa bantu Zico?" tanyanya sedikit takut. 


"Bantu apa? Jika kakak bisa membantu, pasti akan kakak bantu," ujarnya tanpa menatap sang adik. 

__ADS_1


"Temui orang tua Queen dan bantu Zico mengurus pernikahan Zico." 


Kedua kelopak mata Adeline terpejam menikmati rasa sakit yang di berikan kedua adiknya itu. Bagai tertusuk belati tajam lalu sengaja di siram air garam. Perih, amat perih hati Adeline. Lagi-lagi dia harus mendapatkan kenyataan pahit. Namun, demi kebahagiaan adik-adiknya dia merelakan apapun itu. 


Merasa harus lebih kuat menghadapi kenyataan dan takdir yang tidak memijaknya, Adeline membuka kedua mata yang sedari tadi terpejam. Kakak sulung Zico itu mengulas senyum tipis demi menyembunyikan perasaan saat ini. 


"Baiklah! Kakak akan mengurus semuanya, tapi sebelum itu, kakak ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya?" 


Dengan sangat terpaksa Zico akhirnya menceritakan apa yang terjadi setelah dia memutuskan untuk keluar dari rumah orang tuanya. Adeline sampai terperangah kaget dengan pengakuan si adik. Perempuan berparas cantik itu menggelengkan kepalanya tidak percaya. 


"Kakak mengira kamu keluar dari rumah ayah untuk kehidupan lebih baik, Zico! Kakak sama sekali tidak menyangka kalau kehidupan kamu jadi semakin buruk seperti ini." Adeline menjeda ucapannya sebentar. "Kenapa kamu memilih bekerja sebagai pria sewaan?" tanya sang kakak dengan tatapan kecewa.


"Maaf, Kak. Zico hanya mengikuti saran teman. Tapi selama ini, Zico tidak pernah tidur dengan perempuan lain selain dia. Aku tidak pernah melakukan **** bebas, Kak." 


Kekecewaan yang dirasakan oleh Adeline sedikit berkurang. Setidaknya sang adik hanya melakukan kesalahan-kesalahan itu dengan satu orang saja. Namun, wajahnya kembali berubah saat teringat sesuatu. 


"Tapi apakah dia juga melakukan hal yang sama? Kamu bisa menjamin bahwa dia tidak membawa virus untukmu?" tanya Adeline dengan tatapan menyelidik. 


Zico terlihat sedang berusaha mengingat kejadian pertama saat mereka melakukan penyatuan. Saat itu dia sempat melihat bercak darah yang menempel pada sprei saat keesokan harinya. 


"Aku yakin, Kak. Queen juga baru pertama kali melakukannya," jawab Zico dengan yakin. 


"Jadi apa alasan dia menyewa kamu jika dia saja belum pernah merasakan ****?" 


Kali ini zico pun kebingungan untuk menjawab pertanyaan menohok dari kakaknya. Selama ini dia tidak pernah bertanya pada Queen tentang alasan mengapa menyewa dirinya sebagai pria sewaan untuk menghangatkan ranjangnya. 

__ADS_1


Bersambung… 


__ADS_2