
Rihanna kembali ke kamar setelah memastikan sang suami sudah berangkat. Wanita itu berniat untuk membereskan beberapa pakaian Malik yang sempat jatuh ketika dia buru-buru mengambil pakaian untuk suaminya.
"Sepertinya aku harus banyak belajar lagi untuk jadi istri yang baik dan pintar melayani suami. Masa cuma ngambilin baju aja sampai berantakan seperti ini," ucap Rihanna sambil memunguti pakaian kantor Malik.
Setelah memunguti pakaian Malik yang berantakan, Rihanna membawa pakaian itu ke ranjang untuk dia lipat kembali. Sebenarnya pakaian itu masih sangat rapi untuk dikembalikan ke dalam lemari saja. Namun, Rihanna yang tidak memiliki aktivitas lain memilih untuk mengerjakan tugas itu.
Rihanna merapikan lipatan pakaian sang suami satu persatu hingga pada pakaian yang berada di paling bawah yang lebih berantakan dari yang lain. Pakaian itu adalah celana kerja Malik.
Aktivitas Rihanna terhenti saat tangan kanannya merasakan ada sesuatu yang mengganjal di saku celan tersebut. Rihanna segera memasukkan tangannya ke saku celana Malik untuk mengambil benda yang mengalihkan perhatiannya itu.
"Kalung," gumam Rihanna lebih mengamati benda tersebut.
Seutas kalung yang kini ada di tangan Rihanna membuat wanita itu tertegun. Bagaimana tidak, kalung yang dia temukan di saku celana sang suami begitu mirip dengan kalung yang selama ini dia simpan.
"Kenapa kalung ini mirip sekali dengan kalung cowok yang belasan tahun lalu menyelamatkan aku saat tenggelam di danau?"
Rihanna membolak-balik seutas kalung di tangannya untuk memastikan bahwa kalung itu mungkin memiliki perbedaan dengan yang dia simpan di lemari apartemen. Namun, saat dia mengingat-ingat kembali, kalung itu tidak memiliki perbedaan sama sekali. Dari warna, model, hingga bandulnya sama persis.
"Kalung ini sama persis dengan kalung itu ... jangan-jangan, Malik–"
Rihanna membekap mulutnya sendiri saat tiba-tiba sesuatu melintas di otaknya. "Aku harus pergi ke apartemen untuk memastikan hal ini," sambung Rihanna yang langsung buru-buru merapikan pakaian Malik.
Selesai merapikan pakaian dan menaruhnya di lemari, Rihanna bergegas keluar. Wanita itu merasa harus memastikan sendiri dugaannya. Apakah kalung yang dia temukan di saku celana sang suami memang benar adalah kalung yang dia simpan di lemari apartemen.
Rihanna berjalan cepat menuruni tangga. Riani yang hendak masuk ke kamarnya memutuskan untuk menunda kegiatannya itu saat melihat sang menantu buru-buru turun dari tangga.
"Rihanna!" seru Riani saat melihat Rihanna semakin mempercepat langkahnya.
Riani merasa khawatir jika menantunya itu terjatuh jika berjalan cepat saat menuruni tangga. Kekhawatiran itu tidak hanya karena Rihanna sedang hamil cucu pertama Riani, tetapi karena murni Riani tidak ingin hal buruk terjadi pada sang menantu.
Rihanna menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Sang mertua berdiri di ujung tangga dengan raut wajah khawatir. Rihanna membalik tubuh saat melihat sang mertua berjalan menuruni tangga untuk menghampirinya.
"Ada apa, Mam?"
"Kamu kenapa tidak hati-hati, Sayang?"
__ADS_1
"Rihanna buru-buru, Mi," jawabnya singkat.
"Walau buru-buru, kamu tidak boleh lari-lari apa lagi di tangga, Sayang. Kalau kamu jatuh gimana?"
Riani langsung menggandeng lengan sang menantu agar wanita hamil itu tidak kembali melakukan kesalahan seperti ini lagi. Sementara Rihanna hanya bisa pasrah saat sang mertua sudah kembali bersikap posesif.
"Maaf, Mam. Rihanna lupa kalau di perut Rihanna ada cucu mami," ucapnya menyesal.
"Loh, mami bukan hanya mengkhawatirkan dia. Mami takut kalau kamu kenapa-kenapa, Sayang."
"Iya, Mi. Rihanna tahu maksud mami, kok!"
"Jangan ulangi lagi, yah!" serunya melarang sang menantu yang dijawab dengan anggukan kepala.
Wanita paruh baya itu tersenyum saat merasa lega karena sang menantu mengikuti perintah serta mematuhi larangannya. Selain karena rasa bahagia karena akan segera memiliki penerus, Riani memang sangat menyayangi Rihanna karena sejak dulu dia sangat mendambakan seorang putri. Namun, dia tidak seberuntung itu untuk mendapatkan keturunan perempuan.
"Memangnya kamu mau ke mana, Sayang? Kenapa buru-buru begitu?" tanya Riani seraya membantu sang menantunya berjalan perlahan.
"Rihanna mau ke apartemen, Mam. Mau –"
"Bukan, Mami. Rihanna cuma perlu ambil sesuatu disana," jawab Rihanna cepat.
Riani menghela napas lega setelah mendapat jawaban dari Rihanna. Wanita paruh baya itu mengangguk mengerti lalu melepaskan eratan tanganya di lengan sang menantu setelah mereka sudah sampai di lantai dasar.
"Mau mami antar?"
"Tidak, Mi. Rihanna bisa sendiri," tolak Rihanna dengan nada halus.
"Kamu sudah minta izin sama Malik?"
"Belum, Mam. Nanti saja Rihanna telepon setelah sampai di apartemen," jawabnya asal.
"Mana boleh begitu? Haram hukumnya seorang istri keluar dari rumah tanpa izin suaminya. Mau kamu buru-buru sekalipun, kamu tetap harus izin pada suamimu dulu, Sayang!" seru Riani yang langsung menegur menantunya.
Rihanna tentu saja terkejut mendengar teguran dari sang mertua. Baru kali ini dia mendengar tentang betapa pentingnya izin dadi suami bagi seorang istri. Selama ini, dia sama sekali tidak tahu dan selalu keluar sesuka hati ketika tinggal di apartemen dulu.
__ADS_1
"Benarkah, Mam? Lalu apa hukumannya jika kita pergi tanpa meminta izin dari suami?" tanya Rihanna yang semakin penasaran.
"Ada sebuah hadits yang menerangkan bahwa Hak suami atas istrinya adalah istrinya tidak keluar rumah kecuali atas izinnya; jika tetap keluar rumah maka Allah, malaikat pembawa rahmat, dan malaikat pembawa murka akan melaknatnya sampai ia bertobat dan kembali pulang."
"Jadi kalau aku pergi tanpa izin dari Malik, Allah akan murka padaku, Mam?"
"Ya begitulah, Sayang. Makanya mulai sekarang mau ke mana pun kamu, jika tanpa disampaikan oleh Malik, setidaknya kamu harus meminta izin darinya lebih dulu," terang Riani yang langsung diangguki oleh Rihanna.
"Ya udah, Rihanna telepon Malik dulu, Mam. Sebentar, yah!"
Rihanna segera menghubungi suaminya. Baru dering pertama, panggilan langsung tersambung. Suara tegas dari seseorang yang kini memiliki ruang tersendiri di hatinya menyapa.
"Hallo, Kayla," sapa Malik dengan lembut tetapi terdengar tegas.
"Hai, Malik. Kamu sedang apa?" tanya Rihanna basa-basi.
"Aku di kantor, sebentar lagi mau meeting. Ada apa, Kay?"
"Em, aku, mau ... minta izin keluar mansion sebentar. Apa boleh?"
Malik mengerutkan dahinya saat merasa ada yang berbeda dari sikap istrinya. Biasanya Rihanna tidak pernah meminta izin darinya jika akan keluar. Namun, apa yang dia dengar barusan? Istrinya meminta izin untuk keluar bahkan bukan untuk waktu yang lama.
"Tumben minta izin dulu, biasanya juga kalau pergi enggak pernah bilang. Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Malik bermuatan sindiran.
"Aku mau ke apartemen, tapi mami barusan bilang, Allah dan para malaikat akan melaknat setiap langkahku jika pergi tanpa izin darimu hingga aku bertaubat. Jadi, mulai sekarang aku akan bilang dulu apapun yang akan aku lakukan pada kamu," jelas Rihanna yang langsung dimengerti oleh Malik.
"Jadi, ceritanya kamu habis ikut pengajian mami, nih?"
"Malik! Mami dengar ya apa yang kamu bilang barusan. Dasar anak nakal!" seru Riani saat mendengar ucapan putranya yang membicaran tentang dirinya.
"Waduh, kok mami bisa denger?"
"Aku loud speaker dari tadi, Malik. Biar mami denger jawaban kamu, kamu kasih izin aku buat ke apartemen sebentar tidak?"
"Astaga, Kayla! Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kamu loud speaker?"
__ADS_1