Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Kesetiaan Gerry


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Danendra setelah menghampiri dokter yang menangani Adeline. 


Jelas terlihat kekhawatiran dari kedua orang yang menyayangi Adeline. Mereka berharap adeline dalam keadaan baik-baik saja. Namun, melihat darah yang keluar dari luka tusuk Adeline sangatlah banyak membuat Danendra berpikiran negatif. 


Si dokter menghela napas sebelum mengatakan, "Istri anda sudah sadar, Tuan. Namun, istri anda membutuhkan donor darah. Meski luka tusuk itu tidak terlalu dalam, akan tetapi istri anda kehilangan banyak sekali darah." 


"Segera lakukan transfusi, Dok! Saya tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada istri saya." 


"Itu masalahnya, Tuan. Golongan darah istri anda tergolong langka –"


"Ambil darah saya, Dok! Pasien adalah anak kandung saya," potong Nabila sebelum dokter selesai dengan ucapannya. 


"Baiklah, silahkan ikut suster untuk menjalani pemeriksaan." 


*****


Di tempat yang berbeda, sepasang suami istri serta seorang cucu yang masih bayi sedang dalam sebuah mobil yang dikendarai oleh Gerry. Tangan kanan Danendra itu ditugaskan oleh pemimpinnya untuk menjemput kedua orang tuanya di mansion. Tidak ketinggalan, para pengawal pun ikut dalam iring-iringan mobil itu. 


Danendra tidak ingin kecolongan lagi, hingga dia menugaskan para pengawal untuk siap siaga. Walau bagaimanapun, incaran utama dari musuh pengecut itu adalah ayahnya. 


"Ada apa sebenarnya, Ger? Kenapa tiba-tiba mengajak kami pergi?" tanya Ale curiga. 


"Tidak ada apa-apa, Tuan. Saya hanya diperintahkan oleh tuan muda untuk membawa anda dan nyonya besar pindah ke pulau pribadi," jawab Gerry tanpa melepas fokusnya pada kemudi. 


"Kenapa kita harus pindah, Ger? Apa ada masalah?" Silvia yang bertanya karena tiba-tiba saja mencurigai sesuatu. 


"Semua baik-baik saja, Nyonya. Tidak perlu khawatir," jawabnya singkat. 


"Terus di mana tuan dan nyonya mudamu?" tanyanya lagi. 


"Mereka juga sedang dalam perjalanan, Nyonya," jawabnya berbohong. 


Alefosio tidak semudah itu percaya dengan jawaban tangan kanan putranya itu. Jawaban Gerry justru membuatnya semakin curiga. 


Tangan besar itu merogoh sesuatu di saku jaket kulitnya. Tanpa buang-buang waktu, Alefosio menodongkan sebuah pistol di rahang tegas Gerry dari belakang hingga membuat Gerry sedikit mendongak. Namun, kedua matanya masih fokus pada jalan di depannya. 


"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan padaku sekarang, atau aku ledakkan rahangmu ini!" ancam Alefosio kepada Gerry. 


"Papa!" pekik Silvia ketika melihat suaminya mengancam sekretaris Danendra dengan senjata api. 

__ADS_1


"Saya tidak berbohong, Tuan." Meski sudah ditodong senjata api, nyatanya Gerry masih bisa bersikap tenang.


"Kau tidak takut mati rupanya!" bentak Alefosio tersulut emosi. 


"Sejak bergabung dengan tuan muda, saya memang sudah kehilangan rasa takut, Tuan. Jika harus mati demi melindungi keluarga tuan muda, saya tidak keberatan." Tanpa ragu, Gerry seakan menantang ayah dari tuan mudanya. 


Alefosio menarik kembali tangannya yang sempat menodong Gerry dengan pistol. Dia tahu, cara seperti ini tidak akan berpengaruh terhadap sekretaris putranya itu. Namun, kecurigaan itu juga masih menyelimuti pikirannya. 


"Aku tahu kau sangat setia pada Danendra, Ger. Tapi aku juga tahu kau sedang berbohong. Kau boleh saja menutupi semuanya dariku, tapi aku juga berhak mencari tahu sendiri masalah apa yang sedang dihadapi oleh putraku." Alefosio menekan tombol kunci pintu mobil hingga terbuka, lalu berniat membuka pintu mobil itu. 


"Jangan, Tuan. Saya akan katakan apa yang terjadi sekarang!" seru Gerry, meski pandangannya fokus pada jalan, tetapi Gerry juga dapat melihat apa saja yang dilakukan oleh orang tua bosnya itu. 


Seringai licik muncul di sudut bibir pria tua itu, "Pantas saja Danendra sama sekali tidak meragukan kesetiaanmu, Ger. Kau memiliki pemikiran yang aneh. Nyawaku lebih berharga dari pada nyawamu sendiri," ucapnya sambil kembali mengunci pintu mobilnya. 


"Kebaikan kalian tidak akan pernah bisa aku bayar dengan apapun, bahkan nyawaku pun tidak sebanding, Tuan." 


"Aku lega karena Danendra memiliki sahabat serta tangan kanan yang tidak diragukan lagi kesetiaannya, Ger. Pertahankan!" 


"Baik, Tuan." 


"Lalu apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apa semua ini ada sangkut pautnya dengan Sandy?" tanya Alefosio langsung pada intinya. 


"Kalau begitu, biar aku yang selesaikan masalahku dengannya. Kalian jangan ikut campur!"


"Tidak, Tuan. Tuan muda tidak akan menyetujui hal itu." 


"Di mana Danendra? Aku perlu membicarakan masalah ini dengannya." 


Gerry diam seribu bahasa, dia masih ragu untuk memberi tahu kedua orang tua tuan mudanya tentang keadaan menantu kesayangan kedua orang itu. 


"Ger, kenapa diam? Di mana Danendra?" tanya Alefosio dengan suara tegasnya. 


"Bagaimana ini, aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Tuan muda melarangku agar tidak memberi tahu mereka." 


"Gerry!" bentak Alefosio seraya menendang kursi depannya yang diduduki oleh Gerry. 


"Maaf, Tuan." 


"Kau mau menyembunyikan sesuatu lagi dariku, Ger!" 

__ADS_1


"Tidak, Tuan."


Di antara perdebatan yang terjadi oleh kedua laki-laki berbeda generasi di dalam mobil itu, Silvia justru mengambil ponsel miliknya dari dalam tas. Wanita paruh baya itu memainkan benda canggih itu untuk mencari nomor seseorang yang bisa dihubungi.


Ketika sudah menemukan nomor sang sahabat yang tidak lain juga adalah besannya, Silvia buru-buru menekan tombol panggil. Dua kali nada dering, lalu panggilan itu tersambung setelah seseorang di sana menerima panggilan tersebut. 


"Hallo, Bil. Kamu di mana?" tanyanya tanpa basa-basi. 


Gerry yang mendengar nyonya besarnya memanggil nama seseorang yang juga berpengaruh di keluarga itu pun langsung berubah tegang. Bagaimana tidak, ibu dari Danendra itu ternyata menghubungi besannya yang juga menjadi bagian dari insiden penyerangan tadi. 


'Aku di rumah sakit, Sil.'


"Siapa yang sakit, Bila? Bukankah kamu tadi pergi bersama Adeline?" tanya seorang wanita yang sedang memangku bayi itu. 


'Ya, tadi aku pergi bersama Elin, kami diserang sekelompok orang di jalan–' 


"Kamu terluka?" tanyanya memotong. 


'Bukan aku, tapi Adeline yang tertusuk.' 


"Astaga! Ya sudah, aku ke sana sekarang!" 


Silvia mengakhiri sambungan teleponnya setelah mendapat kabar buruk yang dialami oleh menantu kesayangannya. Seketika cairan bening menganak Pinak di pelupuk matanya. 


"Kita ke rumah sakit sekarang, Ger! Kau keterlaluan menyembunyikan keadaan menantuku dariku!" 


"Baik, Nyonya." 


"Adeline kenapa, Ma?" tanya Alefosio yang menangkap kepanikan yang dirasakan oleh istrinya. 


"Dia tertusuk, Pa. Sekarang sedang berada di rumah sakit," jawab Silvia dengan jelas. 


"Astaga. Kalian benar-benar keterlaluan, Ger. Apa dengan menyembunyikan kejadian tragis yang dialami menantuku, itu akan memperbaiki keadaan?" 


"Maaf, Tuan. Saya hanya menjalani tugas sesuai perintah tuan muda," jawab Gerry pasrah. 


"Maafmu tidak berguna. Cepat bawa kami ke rumah sakit!" 


"Cepat, Gerry! Kau ini mengendarai mobil mewah, tapi rasanya aku seperti naik odong-odong!" bentak Silvia geram. 

__ADS_1



__ADS_2