
Untuk sesaat Rihanna terdiam. Dia sedang berpikir dan mengurai kata-katanya agar dapat lebih mudah dimengerti.
"Kakak mungkin tidak akan percaya. Kalau aku bilang, awalnya aku terpaksa. Aku mengucapkan kalimat syahadat atas permintaan mami, bukan karena keinginanku sendiri. Kakak tahu sendiri dulu karakterku seperti apa, 'kan?"
"Iya, kakak memang tidak mengenal kamu sejak kecil, Dek. Tapi sedikit banyaknya kakak tahu karena mama yang cerita padaku. Kata mama sejak kamu kecil, kamu susah sekali diatur. Kamu bahkan tidak memiliki kepercayaan terhadap apapun," balas Adeline.
"Benar, dulu aku tidak memiliki kepercayaan terhadap apapun, Kak. Tapi setelah aku mengucapkan dua kalimat yang merupakan ikrar syahadat itu, aku mulai memiliki ketenangan hati. Semua semakin terasa nyata saat aku tidak sengaja mendengar suara merdu Malik sedang mengaji." Rihanna tersenyum saat mengingat momen itu, "Suaranya merdu sekali. Begitu menenangkan hati," ungkapnya jujur.
"Terus selain itu apakah ada lagi?"
"Setelah itu aku memiliki ketertarikan untuk belajar agama, Kak. Mulai dari sholat, ngaji, berpuasa Sunnah, dan akhirnya berhijab seperti ini," kata Rihanna, tidak ada sedikitpun yang dia tutup-tutupi dari kakaknya.
"Jadi kamu menggunakan hijab atas kemauan kamu sendiri?" tanya Adeline penuh selidik.
Rihanna menggeleng kecil. "Ini kemauan dia, Kak." Rihanna mengelus perutnya yang semakin membesar.
"Kamu ngidam pakai hijab?" tanya Adeline lagi.
"Iya, Kak. Tiba-tiba aja pengen beli dan pakai ini. Sekarang aku bahkan mulai merasa nyaman dengan penampilanku saat ini," terangnya jujur.
"Memangnya tidak gerah?" tanyanya lagi. Adeline seolah semakin penasaran atas penjelasan sang adik.
"Sebenarnya gerah, sih, Kak. Tapi aku sudah terbiasa. Jadi kalau tidak pakai, rasanya agak lain."
"Tapi kamu memang lebih cantik sekarang, sih, Dek." Adeline melontarkan sebuah pujian kepada adiknya.
"Kakak bisa saja. Kak Elin juga tidak kalah cantik, kok!"
"Kalau itu, sih, nggak diragukan lagi. Mana mungkin Nendra klepek-klepek kalau kakak enggak cantik," sahutnya penuh percaya diri.
"Euh, gosah lebay, deh, Kak! Nanti aku tarik lagi pujiannya, loh!"
"Nggak perlu dipuji kamu, Dek. Nendra udah membuktikannya," balasnya mulai memancing peperangan.
__ADS_1
"Ih. Percaya dirinya udah taraf kebangetan ini mah. Eh, kenapa kakak tiba-tiba tanya tentang hijrahnya aku? Kakak tertarik?" tanya Rihanna yang langsung membuat Adeline kicep.
*****
Di sisi lain villa, Celine sedang termenung sendirian. Dia menatap tuan mudanya yang tampak akur dengan sang istri. Mereka terlihat saling menyayangi satu sama lainnya. Begitu indah dipandang mata.
Dari jauh diam-diam Gerry memperhatikan Celine, wanita menyebalkan yang membuatnya tidak sadarkan diri di rumah sakit. Malik sudah menceritakan kisah hidup Celine yang harus menanggung beban keluarga.
"Apakah penilaianku terhadapnya salah?" tanyanya bergumam.
"Coba saja dekati dia, Ger. Aku lihat dia wanita yang baik," sahut Danendra tiba-tiba, dia berjalan dari arah belakang Gerry.
"Tuan muda!" Gerry sedikit tersentak karena kedatangan sang tuan muda yang tanpa aba-aba.
"Dekati saja jika kamu memiliki ketertarikan khusus padanya," kata Danendra seraya menepuk pundak sekretarisnya.
"Tuan bicara apa? Saya belum ingin menjalin kasih dengan siapa-siapa. Sekarang saya hanya ingin menjaga hati saya sendiri, Tuan. Selebihnya saya akan mengabdikan diri pada ALF Group."
"Saya pernah jatuh cinta dengan tulus, Tuan. Tapi semua hanya sia-sia. Saya menghabiskan waktu selama tujuh tahun untuk hal yang tidak berguna," tutur Gerry dengan segenap rasa sesak di rongga dada.
Danendra mendaratkan bokongnya di kursi yang berada tidak jauh dari tempat Malik berdiri. "Lupakan dia, Ger. Dia tidak pantas mendapatkan secuil pun hatimu yang tulus itu," ucap Danendra, Gerry mengepalkan kedua tangannya sebagai pelampiasan amarah.
"Anda benar, Tuan. Saya tidak seharusnya membiarkan dia menghancurkan masa depan saya," balas Gerry setuju.
Si tuan muda mengangguk kecil, "Kamu boleh patah, Gerr. Tapi jangan biarkan trauma menghancurkan kehidupan kamu. Kau sekretaris andalanku. Kau tidak boleh lemah!" tekan Danendra, kemudian bangkit dan berlalu dari sana.
"Anda benar, Tuan Muda. Saya tidak boleh lemah," tekad Gerry.
Gerry masih berdiam diri di tempatnya tadi. Pada saat itu Celine yang dipanggil oleh Malik pun segera bangkit. Dia buru-buru ingin menghampiri atasannya. Namun, pada saat berselisih dengan Danendra, laki-laki itu dengan sengaja mendorong Celine hingga hilang kendali dan berakhir menabrak Gerry.
"Awh!" teriak Celine saat tidak sengaja keningnya menabrak bibir seseorang.
Celine buru-buru mundur saat menyadari keteledorannya barusan. Kepalanya kini mendongak dan mendapati laki-laki menyebalkan itu berdiri di hadapannya. Untuk sepersekian detik, Celine seperti kehilangan fokus.
__ADS_1
Sementara itu, Gerry sebenarnya juga terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Selama ini, meski dia memiliki kekasih, tetapi Gerry sama sekali tidak melakukan kontak fisik dengan kekasihnya. Ini adalah pertama kalinya bibir dengan tipe bibir bawah lebih tebal dari bagian atas itu menempel dengan kening lawan jenisnya.
Diam-diam Danendra menoleh, lalu tersenyum samar saat niat jahilnya untuk mendekatkan Gerry dengan Celine sedikit membuahkan hasil. Teriakan itu juga mengundang perhatian semua orang yang ada di tempat itu. Mereka menjadi saksi atas apa yang baru saja terjadi pada kedua anak manusia dengan status jomblo tersebut.
"Kalau jalan pakai mata!" bentak Gerry dengan nada tinggi.
Bentakan Gerry menyadarkan Celine dari bengongnya tadi. Dia mengerjap beberapa kali sampai akhirnya menatap tajam Gerry yang sudah membentaknya.
"Kalau jalan itu pakai kaki, bukan pakai mata. Kau tidak lihat kalau mata itu di atas. Mana bisa digunakan untuk berjalan." Celine memprotes kata-kata Gerry tadi.
"Dasar cewek aneh!" maki Gerry sebelum dia berlalu dari sana.
"Ih. Cowok nyebelin! Dia kira aku sengaja ingin di cium olehnya?" Celine menggerutu kesal.
Gerry yang berjalan menjauh dari keramaian tiba-tiba menyentuh bibirnya sendiri. Ingatannya kembali pada saat bibir itu bersentuhan dengan kening si wanita aneh. Tanpa sadar sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk senyum samar.
Akan tetapi, saat dia kembali tersadar Gerry buru-buru mengusap bibirnya itu dengan maksud agar bekas itu menghilang. Namun, sekuat apapun Gerry mengusapnya, pikirannya justru semakin terbayang.
"Sial, wanita aneh itu pasti sedang bangga sekali karena mendapatkan kecupan pertamaku!" gerutu Gerry kesal.
Tidak jauh berbeda dengan Gerry, Celine pun langsung masuk ke kamar mandi. Dia membasuh seluruh wajahnya dengan air bersih. Tidak puas hanya melakukan itu, dia bahkan menggosok-gosok bagian keningnya menggunakan sabun agar bekas kecupan laki-laki itu menghilang.
Wanita tomboi itu menatap cermin di depannya, "Kenapa aku sial sekali, sih? Yang aku suka bukan dia ,tapi kenapa malah dia yang pertama kali mengecup keningku?"
Celine tidak henti-hentinya merutuki kecerobohan tadi yang menyebabkan insiden memalukan baginya. Namun, berkali-kali juga Celine berusaha mengingat apa penyebab dirinya menabrak Gerry.
"Perasaan tadi aku udah jalan hati-hati meski buru-buru sedikit, sih. Tapi rasanya seperti ada yang mendorongku dengan keras sampai aku menabrak laki-laki itu, deh!"
Ketika Celine masih sibuk dengan pikirannya di dalam kamar mandi. Ponsel miliknya yang dia kantongi di saku celana tiba-tiba berdering. Celine cepat-cepat mengambil benda pipih miliknya itu lalu melihat siapa yang menghubunginya.
"Bos Malik," gumamnya sebelum akhirnya dia menggeser ikon dengan gambar gagang telepon berwarna hijau di layar ponselnya.
'Ke halaman depan, sekarang!'
__ADS_1