
Semenjak kabar kehamilan Adeline, mansion megah Alefosio benar-benar di jaga ketat. Setiap sudut bangunan hingga ruangan selalu ada yang menjaganya. Biasanya hal ini adalah tanggung jawab Gerry yang mengaturnya. Namun, karena keadaan sang menantu yang sedang mengandung calon penerus Alefosio membuat sang tuan besar memutuskan untuk turun tangan sendiri dalam mengatur segalanya yang berurusan dengan keamanan sang menantu dan janin yang berada di kandungan.
Awalnya Adeline merasa tidak nyaman karena setiap kegiatannya sekarang jadi terbatas karena adanya pengawalan yang ketat meski hanya di di dalam kediaman mereka sendiri.
Adeline sedang membantu sang suami memakai pakaian kantornya. Wanita hamil itu kini semakin perhatian terhadap apapun yang berhubungan dengan suami berondongnya. Seperti sekarang, Adeline tengah merapikan dasi yang melingkar di kerah kemeja Danendra.
"Nendra, bolehkah aku ikut ke kantor? Aku bosan sekali selalu berada di mansion. Apa lagi setiap sudut ada orang yang mengawasi ku terus menerus," keluh Adeline seraya sedikit menepuk pelan bahu suaminya sebagai tanda berakhirnya kegiatan membantu laki-laki itu memakai pakaiannya.
Danendra tersenyum simpul sambil menangkup wajah istrinya. "Terima kasih sudah membantuku, Sayang. Tapi, kamu masih belum bisa keluar dari sini. Ini keputusan papa," jawab Danendra di akhiri dengan mengecup lembut bibir istrinya.
"Tapi aku bosan, Nendra!" Adeline merengek manja.
"Aku tahu, Sayang. Tapi ini demi kebaikan calon anak kita ini," ujar Danendra meraba perut rata Adeline.
Adeline diam, meskipun yang di katakan oleh sang suami memang benar. Namun, tetap saja dia merasa bosan berada di mansion terus menerus.
"Aku berangkat dulu, yah!" pamit Danendra karena dia memiliki pekerjaan yang sangat penting pagi ini.
Wanita hamil itu hanya mengangguk terpaksa. Bibirnya bahkan enggan untuk tersenyum seperti biasanya. Danendra berjongkok di depan sang istri. Laki-laki itu melabuhkan kecupan lama di perut rata istrinya seraya membelainya dengan lembut.
"Ayah berangkat dulu, Sayang. Jaga Bunda di rumah untuk ayah, Yah! Jangan nakal dan merepotkan bunda kamu," bisiknya dengan lembut, seolah dia sedang berbicara dengan anaknya.
Danendra kembali bangkit setelah berpamitan kepada calon anaknya. Laki-laki itu membelai lembut pipi sang istri. "Aku janji, setelah pekerjaan selesai, aku langsung kembali," ucapnya lalu bergegas pergi dari sana.
Kepergian Danendra membuat Adeline semakin merasa kesepian. Apa lagi sang ibu mertua sedang tidak berada di mansion. Wanita paruh baya itu pagi-pagi sekali sudah berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk sang sahabat yang belum juga membaik.
__ADS_1
"Apakah resiko menjadi istri orang kaya itu seperti ini. Kita jadi merasa tidak bebas dan selalu terkekang dengan alasan demi keselamatan," gumam Adeline seraya mendudukkan diri di kasur empuknya.
Untuk menghilangkan rasa bosan, Adeline menghabiskan waktu dengan menonton drama Tiongkok yang juga berhubungan dengan pernikahan paksa yang di bintangi oleh seorang aktor favoritnya.
"Kalau aku jadi dia, aku tidak mau bodoh dan mempercayai orang lain dari pada suami sendiri. Ih, b*go banget jadi istri." Maki Adeline kepada peran utama wanita yang sedang berputar di layar kaca.
Padahal, mungkin jika kisahnya di filmkan, mungkin juga banyak yang memakinya karena selalu saja menjadi wanita b*doh yang mau berkorban untuk orang lain. Pernikahan yang kini di jalani olehnya pun juga berlandaskan keterpaksaan pada awalnya. Meski setelah menikah, dia merasa beruntung karena memiliki suami seperti Danendra.
Jika Adeline tengah mengusir rasa bosannya dengan menikmati drama favoritnya. Berbeda dengan Rihanna, perempuan muda yang ternyata adalah adik satu ibu dengan Adeline itu justru sedang bersama seorang pria bertubuh tegap, tinggi, dan kekar. Tubuh serta wajah si pria sama sekali tidak akan membuat orang yang melihatnya dapat menebak bahwa usianya sudah 65 tahun.
Pria itu duduk menyilang kaki di hadapan Rihanna yang berdiri dengan kepala yang tertunduk. Untuk pertama kalinya, pria itu bersikap seperti ini kepadanya.
"Bukankah papa sudah bilang, sabar dulu! Danendra itu tidak gampang kita bodohi. Kenapa kau begitu ceroboh, Rihanna?" tanyanya dengan nada tinggi.
Rihanna meneteskan air mata saat mendapat bentakan dari sang ayah. Pria yang biasanya selalu membelanya itu, kini justru menyalahkan dirinya.
Pria tua itu meludah ke samping kiri. Tatapannya begitu tajam seakan dengan tatapannya saja dapat membelah targetnya menjadi beberapa bagian.
"Permintaan maaf kamu tidak akan membuat mamamu sadar, Rihanna. Lihatlah, karena ulahmu, papa hampir kehilangan wanita yang begitu papa cintai!" bentaknya semakin meninggikan suara.
Pada akhirnya Rihanna hanya dapat terisak karena kemarahan sang ayah. Pria tua itu terlihat di kuasai oleh amarah.
"Apa kau pikir, jika kau m*ti lalu Danendra akan menjadi milikmu? Jangan b*doh, Rihanna! Kau ini putriku, jangan permalukan aku dengan kelakuan anehmu itu."
"Aku sudah kalah, Pa. Aku tidak mungkin bisa merebut cinta Kak Nendra lagi," ujar Rihanna dengan lirih.
__ADS_1
Rocky berdiri lalu berjalan menghampiri sang putri. Laki-laki itu mendongakkan wajah sang putri yang sudah basah oleh air mata dengan mencengkram pelan rahang Rihanna.
"Kenapa? Kau sudah menyerah?" tanyanya dengan raut wajah datarnya.
"Aku tidak mungkin merebut suami kakakku, Pa."
Rihanna sengaja membuka rahasia tentang anak rahasia sang ibu kepada ayahnya. Wanita itu berpura-pura menerima kenyataan, padahal dia memiliki niat terselubung di dalamnya.
Kedua bola mata Rocky melotot ketika mendengar ucapan sang putri. Tangan yang awalnya hanya mencengkram pelan itu kini mengeras. Rihanna bahkan sampai meringis akibat menahan rasa sakit yang di berikan oleh ayah kandungnya itu.
"Maksud kamu apa, Rihanna?" tanya Rocky seraya mendorong pelan wajah putrinya.
Meskipun pria tua itu hanya mendorong pelan, tetapi nyatanya tenaganya masih bisa membuat sang putri sampai mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Rihanna m*ti-mat*an menahan rasa sakit yang timbul di beberapa bagian wajahnya demi melancarkan aksinya.
"Istri kak Nendra adalah putri kandung mama, Pa!" seru Rihanna dengan sengaja.
Rahang tegas pria tua itu mengeras sempurna. Kedua tangannya terkepal hingga buku-buku tangannya memutih. Dia mengangkat tangannya lalu tanpa aba-aba memukul kencang dinding di sampingnya.
"Kamu jangan mengada-ada, Rihanna!" sentak Rocky seraya menatap tajam putrinya.
"Papa boleh tanyakan langsung pada Kakek jika tidak percaya dengan ucapan Rihanna, Pa," ujar Rihanna yang dengan semangat membuka rahasia kehidupan ibunya sendiri.
Awalnya Rocky memang tidak langsung percaya dengan ucapan Rihanna, putrinya itu sering kali bersikap licik akibat didikannya yang salah arah. Namun, setelah sang putri menyuruhnya untuk memastikan hal tersebut kepada satu-satunya orang tua yang di miliki oleh istrinya itu, dia pun mau tidak mau memang harus percaya.
"Sial! Jadi selama ini tua bangka itu membohongiku. Berani sekali dia bermain-main denganku," teriak Rocky penuh rasa dendam.
__ADS_1
"Yey, akhirnya papa termakan sama hasutanku. Setelah ini, kamu pasti akan mendapatkan kejutan spesial dari adikmu ini, Kakak!" batin Rihanna tersenyum licik.