Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Tutup Kasus


__ADS_3

Seorang wanita dengan seragam putih masuk ke dalam rumah yang sudah bertahun-tahun lamanya menjadi tempatnya bekerja. Rumah itu memang selalu sepi, karena hanya ada seorang pria yang sudah tidak dapat beraktivitas apapun di dalamnya. 


Pengawal pun hanya datang beberapa hari sekali untuk menanyakan kabar dari pria yang di urus olehnya itu. Namun, suasana hari ini tidak seperti biasa. Suster tersebut sedikit merasa aneh dengan tempat itu. Padahal biasanya dia tidak merasakan apapun. 


"Kenapa gelap sekali? Bukankah tadi aku sudah menyalakan lampu sebelum pergi ke supermarket?" tanyanya heran kepada diri sendiri. 


Dia pun menekan saklar lampu yang seketika membuat tempat itu menjadi terang. Sunyinya malam serta suara petir yang menyambar di atas sana membuat suasana semakin mencekam. 


"Kenapa aku merasa merinding, yah! Seperti akan ada sesuatu yang terjadi," gumamnya sambil mengusap-usap lengannya sendiri. 


Wanita yang bekerja sebagai suster yang di tugaskan untuk menjaga seorang pria tua yang hanya terbaring lemah di ranjang selama 24 jam penuh setiap harinya itu kemudian melangkah ke dapur untuk menaruh semua belanjaannya. 


Seperti biasa, suster itu memang hanya pergi ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan pokok setelah memastikan sang majikan sudah beristirahat. 


"Ah, sudah selesai," ujarnya lega setelah selesai menaruh semua barang di tempat semestinya. 


Wanita berseragam putih itu sejenak duduk di kursi serta meminum air mineral untuk menghilangkan rasa lelah dan dahaga. 


"Lelah sekali, aku langsung tidur, atau memeriksa Tuan Arnold dulu, yah?" gumamnya bimbang. 


Dia pun mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa pukul berapa saat ini. Mata lelah itu membelalak saat melihat ternyata sudah sangat malam. 


"Sudah malam sekali, mungkin Tuan Arnold masih tidur nyenyak," ucapnya seraya kembali memasukkan ponsel ke saku. 


Suster itu akhirnya memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Meski hanya mengurus satu orang pria tua, tetapi sudah sangat menguras tenaga. Apa lagi di tempat itu tidak di sediakan pelayan yang bertugas untuk membersihkan rumah ataupun sekedar memasak. 


Dia merebahkan tubuh lelahnya setelah membersihkan diri di kamar mandi. Mata yang memang sudah sangat mengantuk itu dengan cepat tertutup rapat. Si suster terlelap di alam mimpi, tanpa tahu bahwa seseorang yang dia jaga sudah dalam keadaan tidak bernyawa di kamar utama. 

__ADS_1


Suara halilintar menyambar tepat di sekitar rumah itu, seketika tempat itupun menjadi gelap gulita. Si suster membuka kedua mata saat kembali terdengar suara petir yang begitu menggema. Tangan kanannya meraba meja yang terletak tidak jauh dari ranjang sederhananya untuk mengambil ponsel yang dia taruh di sana. 


"Ya ampun, sudah tengah malam. Biasanya Tuan Arnold akan meminta di gantikan pakaiannya saat jam segini. Mana lampu padam lagi, dia pasti ketakutan di kamar sendirian." Suster itu pun memutuskan untuk bangun dan memeriksa sang majikan. 


Suster itu menyalakan lampu flash yang berada di ponselnya untuk membantu dia mencari jalan menuju kamar Arnold. Ketika membuka kamar majikannya, ruangan itu sangat senyap. Tidak ada suara apapun di sana. Bahkan deru napas yang biasa terdengar keras, kini sama sekali tidak terdengar. 


Wanita yang hanya memakai dress rumahan itu mengarahkan senter ke arah ranjang untuk memeriksa sang majikan. Pria tua itu masih terbaring di ranjang. Membuat si suster merasa lega. 


"Sepertinya Tuan Arnold masih tidur. Biar aku benarkan selimutnya sebentar," gumamnya dengan lirih. 


Dia mengayunkan langkah mendekati sang majikan. Hanya bermodal penerangan seadanya itu membuat si suster tidak melihat adanya darah di tubuh sang majikan dari kejauhan. Saat langkahnya semakin dekat, barulah si suster merasa ada yang aneh dengan apa yang di lihatnya sekarang. 


"Merah-merah itu apa, ya? Kenapa terlihat banyak sekali," gumamnya seraya mempercepat langkah.  


Saat sudah berada tepat di samping sang majikan, suster itu mematung dengan mulut yang terbuka lebar serta mata yang membelalak lebar-lebar. 


Ketika sudah keluar dari kamar utama rumah itu, si suster benar-benar syok. Namun, dia mengambil langkah tepat untuk menghubungi salah satu rekannya yang bekerja di rumah sakit. Suster itu meminta sang rekan segera datang dan membawa ambulance serta menghubungi aparat setempat. 


Beberapa saat kemudian, rumah itu sudah dalam keadaan ramai. Sang rekan dari suster itu benar-benar datang membawa tenaga kesehatan serta petugas keamanan ke sana. 


Sang rekan yang merupakan seorang pria itu langsung menghampiri si suster yang masih terduduk lemas di sudut ruangan. Suster itu terlihat syok dan kebingungan. Entah apa yang akan dia jelaskan kepada sang nyonya tentang kejadian ini. 


"Bagaimana bisa ada kejadian seperti ini, Jen?" tanya sang rekan yang penasaran. 


Si suster yang masih memasang ekspresi tegang itu menggeleng pelan. "Aku tidak tahu, Ren, tadi aku keluar ke supermarket dan langsung tidur setelah itu. Lalu ketika aku terbangun, ternyata lampu padam, aku memutuskan untuk memeriksa Tuan Arnold, tapi dia sudah dalam keadaan seperti itu." Suster bernama Jenny itu menjelaskan kepada sang rekan. 


Seseorang berseragam keamanan datang mendekat. Menanyakan beberapa pertanyaan kepada Jenny, karena dia lah satu-satunya orang yang tinggal bersama dengan korban. Jenny hanya menjelaskan dari sudut pandangnya sendiri, karena dia benar-benar tidak tahu menahu tentang kejadian ini. 

__ADS_1


Sang aparat mencatat segala informasi yang di berikan oleh si suster untuk bahan penyelidikan. Namun, dari belakang ada seorang rekan yang menepuk bahu si aparat tersebut. 


"Kita tutup saja kasus ini. Kita tidak memiliki kekuasaan untuk menangkap pelakunya," ujar si rekan dengan wajah serius. 


Ucapan dari salah satu anggota keamanan itu tentu saja membuat Jenny terkejut. Bagaimana bisa pihak keamanan menutup kasus itu tanpa melakukan penyelidikan sama sekali. 


"Tapi, Tuan. Bagaimana saya menjelaskan pada nyonya tentang kejadian tragis yang di alami oleh ayahnya?" tanya Jenny gemetar. 


"Biar kami yang menjelaskan pada nyonya anda tentang kejadian ini. Saya yakin, dia pun akan paham." 


Jika di rumah Arnold sedang ramai oleh kem*tian pria tua itu. Kini seorang pria gagah baru saja masuk ke mansion besarnya. Pria itu berjalan dengan wajah yang sedikit berseri, tidak seperti biasanya yang hanya datar dan dingin. 


"Papa," panggil seseorang dari arah tangga. 


Si pria mendengus kesal ketika melihat sang putri yang menyambutnya di tangga sana. Biasanya yang melakukan hal itu adalah sang istri tercinta, meski dengan raut wajah yang datar tanpa ekspresi. Namun, sudah dapat membuatnya amat bahagia. 


Kini, wanita itu justru terbaring lemah di ranjang pesakitan karena ulah anak kesayangannya sendiri. Sementara itu, Rihanna yang melihat sang ayah seolah tidak menganggapnya berlari mendekat. 


Akan tetapi Rihanna menghentikan langkah saat melihat tangan kanan ayahnya berlumuran darah yang sudah mengering. 


"Papa dari mana? Kenapa tangan papa banyak darah?" tanya Rihanna curiga. 


"Membersihkan serigala berbulu domba yang tidak berguna. Kau tidak perlu banyak tanya! Besok, datanglah ke rumah kakekmu." Rocky memerintah Rihanna tanpa berniat menatap wajah putrinya. 


"Mau apa ke rumah kakek? Bukankah selama ini papa melarangku untuk datang ke sana?" tanya Rihanna lagi karena merasa heran. 


"Mewakili mamamu untuk menguburkan m*yat kakekmu." Rocky melenggang pergi meninggalkan Rihanna yang tercengang dengan ucapan sang ayah. 

__ADS_1


__ADS_2