Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Singa Betina Mengamuk


__ADS_3

Perempuan yang sempat berniat menggoda CEO perusahaan ALF Group tersebut pun pergi membawa kekecewaan, rasa malu serta kegagalan misi untuk menghancurkan rumah tangga dari targetnya. 


Adeline menatap tajam sang suami yang kini hanya menyengir setelah kepergian si perempuan calon clientnya. Dia yakin, sebentar lagi dia pun akan menjadi sasaran empuk si singa betina yang akan mengamuk. 


"Jadi sekarang aku tidak lebih penting dari mereka, yah, Nendra?" tanya Adeline dengan berkacak pinggang. 


"Kenapa bicara seperti itu, Sayang? Kamu dan calon anak kita adalah yang utama untukku." Danendra berniat mendekat, tetapi laki-laki itu mengurungkan niatnya setelah sang istri mengacungkan jari telunjuk sebagai isyarat agar suaminya tetap diam di tempat. 


"Aku tidak mau tubuhku disentuh oleh tangan yang sudah dikotori oleh wanita mur*han seperti clientmu tadi!" seru Adeline murka. 


Entah kenapa bayangan saat wanita tadi menyentuh tangan suaminya membuat dia geram dan naik pitam. Beruntung dia masih bisa mengontrol diri dan memang dia bukan tipe wanita yang suka main cakar-cakaran seperti wanita bar-bar di luar sana. 


"Astaga, Adel. Aku benar-benar tidak menyentuh wanita tadi," ujar Danendra frustasi


Kedua bola mata laki-laki itu memutar untuk mencari pembelaan. Hingga saat melihat Gerry masih berdiri di tempatnya membuat dia langsung menyeret nama orang kepercayaannya tersebut.


"Kalau kamu tidak percaya, tanya saja sama Gerry. Dia bersamaku sejak tadi pagi," lanjut Danendra ketika sang istri terkesan seperti tidak percaya padanya. 


"Loh, kenapa bawa-bawa saya, Tuan?" tanya Gerry yang tiba-tiba muncul keusilannya. 


"Terserah!" seru Adeline melenggang pergi dari sana setelah kembali mengambil wadah bekal yang dia bawa dari mansion. 


Danendra mengikuti langkah sang istri yang masih uring-uringan tersebut. Dia sempat menghadiahi Gerry dengan pukulan pelan di perut sekretaris kepercayaannya itu. 


"Dasar sekretaris sia*lan!" maki Danendra dengan wajah frustasinya. 


Adeline terus berjalan menuju ruangan yang bertuliskan nama serta jabatan sang suami. Wanita hamil itu menaruh tentengannya di meja kerja lalu mendaratkan bok*ngnya di kursi putar sang suami. 

__ADS_1


"Sayang, jangan ngambek lagi, dong!" 


Adeline sama sekali tidak memperdulikan sang suami yang merengek meminta maaf darinya. Dia justru membuka berkas-berkas yang ada di atas meja kerja suaminya. 


"Sepertinya mulai saat ini, aku akan minta papa untuk mengalihkan nama perusahaan dengan namaku, Nendra." Adeline menatap sang suami yang seolah tidak peduli dengan ucapannya barusan. "Untuk jaga-jaga, siapa tahu ada pelakor yang berhasil merebut kamu. Aku tidak mau nanti anakku hidup miskin. Jadi tidak apa-apa kalau mereka mengambilmu, asal tidak mengambil harta anak-anakku," lanjutnya seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. 


"Kamu kejam sekali. Masa lebih pilih harta dari pada suami sendiri," keluh Danendra yang kini berjongkok di samping istrinya. Laki-laki itu memutar kursi kerja yang di duduki oleh istrinya hingga menghadap ke arahnya. 


"Siapa suruh kamu lebih pilih meeting dengan wanita gatal itu dari pada menemani aku tidur. Kamu itu jahat, Nendra. Kamu tidak mengerti perasaanku!" bentak Adeline dengan berani. 


"Ya ampun, jadi masalahnya masih yang semalam aja. Aku kira dia benar-benar marah karena mengira aku akan tergoda oleh wanita-wanita di luar sana," gumam Danendra sangat lirih. 


"Aku udah bilang. Jangan tinggalin aku! Terus kamu malah pergi bahkan sebelum aku membuka mata." Adeline memutar kursinya hingga membelakangi sang suami. 


Danendra tersenyum lalu bangkit dari posisi jongkoknya. Laki-laki itu kembali memutar kursi kerjanya hingga tepat menghadap ke arahnya. Adeline masih enggan menatap sang suami yang sekarang menatapnya dengan senyum tipisnya. 


"Siapa yang cemburu?" tanya balik Adeline masih enggan mengakui perasaannya saat ini. 


"Kamu tahu tidak?"


"Enggak tahu!" seru Adeline memotong. 


Danendra yang gemas karena tingkah kekanak-kanakan sang istri pun langsung memegang dagu istrinya menggunakan jari telunjuk serta ibu jarinya. Laki-laki muda itu menurunkan sedikit demi sedikit kepalanya agar sejajar dengan Adeline. Paham dengan apa yang akan di lakukan oleh suaminya, Adeline pun memejamkan kedua mata. Setelah kedua wajah itu semakin dekat, Danendra langsung mencium bibir ranum istrinya. 


Hanya ciuman singkat yang di lakukan oleh Danendra. Tanpa hawa nafs* ataupun gair*h. Dia melakukan itu hanya untuk membuat sang istri mau mendengarkan penjelasannya lebih dulu.


"Sudah. Nanti keterusan malah kamu yang rugi," ucap Danendra begitu ciumannya terlepas. 

__ADS_1


Rona merah muncul di pipi wanita hamil itu karena sang suami berhasil membuatnya bungkam tanpa kata. Padahal tadi dia sendiri sadar, dia sedang uring-uringan tidak jelas seperti anak kecil yang sedang merajuk karena tidak dibelikan balon oleh orang tuanya. 


 "Sayang, dengarkan aku baik-baik. Kalau aku akan tergoda oleh mereka, tidak mungkin aku menikahi kamu, Sayang. Kamu tahu, prinsip hidupku adalah, aku akan setia kepada satu perempuan yang berhasil meruntuhkan keyakinan ku untuk tidak berkeluarga." Danendra menghela napas berat. 


"Aku pernah mengalami trauma saat berpacaran dulu, makanya aku sempat tidak ingin menikah. Kamu adalah satu-satunya orang yang berhasil membuatku sembuh dari trauma itu," lanjutnya menjelaskan. 


Adeline masih diam tetapi memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut suaminya. Wanita itu membiarkan sang suami yang selama ini tidak pernah memberinya alasan kenapa dia memilih wanita yang lebih dewasa darinya itu untuk mengeluarkan segala perasaannya selama ini. 


"Kalau kamu tidak percaya bahwa aku akan setia selamanya denganmu, kamu boleh melakukan apa yang kamu pikirkan tadi. Aku akan membantu kamu untuk mengatakan pada papa agar mengubah kepemilikan perusahaan atas nama kamu," ujar Danendra yang tentu saja membuat Adeline terkejut. 


"Kamu serius? Aku cuma bercanda, Nendra." 


Danendra tersenyum lembut lalu menggenggam serta melabuhkan ciuman singkat di punggung tangan Adeline. "Aku serius, sekarang juga kita urus perpindahan kepemilikan perusahaan." 


Jika wanita lain mungkin akan senang karena prianya bersedia menyerahkan aset berharga kepadanya. Berbeda dengan Adeline yang justru merasa bersalah. 


"Enggak, Ndra. Aku cuma bercanda," ucap Adeline tidak setuju. 


"Sayang, bagiku, mama, dan papa. Kamu dan anak kita adalah yang terpenting. Kami tidak keberatan jika kehilangan semua aset demi kalian," jelas Danendra tanpa ragu. 


Kedua mata Adeline sudah mengembun, sebentar lagi pasti akan tercipta hujan air mata dari kedua sudut mata wanita cantik itu. Danendra yang peka jika sang istri akan menangis segera menariknya ke dalam dekapannya. 


"Percayalah, Sayang. Aku mencintai kamu dengan seluruh nafasku. Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakan kamu dengan alasan apapun," ujarnya disela-sela pelukan.


Sementara itu, di tempat lain seorang wanita sedang menundukkan kepalanya setelah kegagalan misinya. Di depan sana, seseorang yang duduk di sebuah kursi melemparkan sebilah pisau yang hampir mengenai wanita yang sedang ketakutan. 


"Pergi dari sini, sebelum aku berubah pikiran!" serunya mengusir si wanita yang tentu saja langsung berlari keluar dengan kaki yang bergetar hebat. 

__ADS_1


"Sial*n! Kenapa setiap rencanaku selalu saja gagal. Semua wanita yang aku kirimkan sepertinya terlalu lemah untuk menghadapi wanita tua itu." 


__ADS_2