
Danendra memutuskan untuk mendatangi biang keladi atas penyerangan yang terjadi padanya dan sang istri. Laki-laki muda itu tanpa rasa takut menghampiri mansion besar sang musuh besarnya sekarang.
Saat laki-laki itu berjalan masuk, langkahnya terhenti sejenak saat dari belakang ada yang memanggil namanya. Tetapi Danendra kembali mengayunkan kaki tanpa memperdulikan teriakan dari perempuan yang sedang berlari mengejarnya.
"Kak Nendra! Tunggu."
Rihanna semakin mempercepat langkahnya untuk mengejar sang pria idaman. Perempuan muda itu sebenarnya baru saja sampai setelah memakamkan jenazah kakeknya. Raut wajah sedih yang sejak tadi dia tampakkan kepada para pelayat, kini berubah bersinar setelah melihat kedatangan Danendra.
Calon ayah itu merotasikan bola matanya saat si perempuan berhasil mengejarnya. "Papamu di mana?" tanya Danendra tanpa berniat menatap si perempuan.
"Papa, dia sedang di luar negeri," jawab Rihanna dengan cepat.
Danendra menghentikan langkah, sedikit membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Rihanna. Tatapannya datar dan dingin saat melihat wajah Rihanna yang kini membuatnya geram.
"Aku kecewa padamu, Ri. Kau benar-benar tidak bisa berubah. Aku pikir setelah hampir mengorbankan mamamu, kau akan sadar dan mengubah kebusukanmu itu. Tapi, nyatanya tidak. Kau masih saja busuk seperti dulu," ujar Danendra yang memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
Danendra berjalan dengan langkah waspada ketika keluar dari mansion Rocky. Dia mencium adanya sesuatu yang buruk akan terjadi sebentar lagi, dan benar saja. Suara tembakan terdengar, Danendra yang memang sudah memasang kewaspadaan yang tinggi berhasil menghindar dan membalikan badannya.
"Kau pengecut sekali. Menyerang dari belakang!" Danendra mencibir seorang pria tua yang kini berdiri di depannya.
"Mau dari arah manapun, aku pasti mampu memb*nuhmu, bocah tengik!" serunya yang kembali mengarahkan pistolnya.
"Papa, jangan sakiti Kak Nendra." Rihanna menghalangi sang ayah yang hendak menembak Danendra.
"Minggir!" seru Rocky seraya mendorong tubuh putrinya hingga terjerembab ke lantai.
"Papa! Rihanna mohon, jangan apa-apakan Kak Nendra." Rihanna tetap memohon pada sang ayah.
__ADS_1
"Untuk apa kau membela laki-laki yang hanya menganggapmu sebagai sampah, Rihanna! Kau putriku. Jangan membuat malu!" bentak Rocky menatap tajam putrinya.
"Apa Rihanna salah jika memperjuangkan cinta Rihanna, Pa?" tanya Rihanna masih bertahan di posisinya.
"Kau tidak salah! Tapi caramu itu sangat lemah."
"Jangan membuat drama di depanku, Tuan Licik. Aku sama sekali tidak tertarik!"
Rocky semakin geram atas ucapan Danendra barusan. Pria tua itu kembali berniat menyerang laki-laki muda di depan sana menggunakan pistolnya.
Tidak ada sedikitpun gurat rasa takut di wajah Danendra. Laki-laki itu justru menyeringai meremehkan.
"Apakah kau merasa sudah sangat tua? Sampai tidak berniat melawanku dengan tangan kosong. Oh, ya, kekuatanmu sekarang sudah hilang, yah! Selain menembak, kau hanya tahu menunggang kuda saja," cibir Danendra.
"Kurang aj*r! Berani sekali kau menghinaku." Rocky membuang pistol yang ada di tangannya ke sembarang arah. "Lawan aku, sekarang!" perintahnya seraya menggulung lengan kemejanya.
Mereka sama-sama memasang kuda-kuda dengan sikap tangan yang siap menyerang. Danendra membiarkan si tua yang lebih dulu maju untuk menyerangnya. Perkelahian antar Danendra dan Rocky pun tidak terhindarkan. Mereka saling serang, tangkis, bogem, serta saling tendang tanpa ragu.
Saat Rocky melayangkan pukulan ke arah wajahnya, Danendra dengan cepat menangkap tangan itu dan menahannya agar tidak dapat memukulnya.
"Tangan ini yang sudah melenyapkan nyawa kakek kandung istriku." Danendra dengan tega memelintir tangan pria itu itu kuat-kuat.
Rocky tidak berteriak ataupun menunjukkan rasa sakit yang timbul akibat ulah Danendra. Pria tua itu merasa gengsi untuk mengakui kehebatan Danendra dalam melawannya.
Tidak puas hanya memelintir tangan itu, Danendra menendang dada Rocky hingga pria itu terjerembab ke lantai. Rocky berhasil di tumbangkan oleh Danendra setelah beberapa kali memberikan perlawanan.
"Sebenarnya aku sangat ingin memb*nuhmu sekarang, Tuan Licik! Tapi itu bukanlah tugasku. Kau harus bertemu dengan lawanmu yang sesungguhnya lebih dulu, sebelum kau pergi ke n*raka!" seru Danendra meludah tepat di samping Rocky.
__ADS_1
Rihanna hanya mampu menatap kepergian Danendra tanpa bisa menghalanginya. Kakinya terasa sakit karena ulah sang ayah. Sepertinya kaki kanannya terkilir setelah di dorong kuat oleh Rocky.
Hari sudah mulai gelap saat Danendra sampai di mansion Alefosio. Laki-laki itu secepatnya pulang setelah urusannya selesai karena mengkhawatirkan keadaan Adeline.
Saat membuka pintu kamar utama, laki-laki itu menautkan kedua alisnya karena tidak melihat adanya sang istri di ranjang. Dia mengayunkan kakinya masuk, dengan pandangan yang berkeliling untuk mencari keberadaan istrinya.
"Sayang," panggil Danendra dengan lembut.
"Iya, Nendra, aku ada di sini," jawab Adeline sedikit berteriak.
Dari suaranya terdengar berasal dari luar. Danendra akhirnya berjalan menuju balkon kamar. Ternyata benar, istrinya sedang duduk di sebuah ayunan besi yang berada di tempat itu. Danendra pun mendekat dan segera bergabung duduk di ayunan tersebut.
"Kamu ngapain di sini sendirian?" tanya Danendra seraya memeluk pinggang ramping istrinya.
"Aku merasa seperti hidup dalam sangkar emas, Nendra. Kita memiliki segalanya, tapi tidak dengan kebebasan. Menjadi pasangan orang besar seperti kamu ternyata berat sekali," keluh Adeline sambil menjatuhkan kepalanya di pundak Danendra.
"Maaf, Sayang. Aku belum bisa memberikan yang terbaik untuk kamu. Maaf juga karena sudah memaksamu untuk menjadi pendampingku. Tapi, apakah kamu menyesal karena sudah menikah denganku?" tanya Danendra dengan rasa bersalahnya.
Adeline mendongak menatap wajah tampan suaminya lalu menggeleng kecil. "Aku tidak pernah menyesal. Hanya sedikit merasa kehidupan kita ini penuh resiko, Nendra. Tidak bisakah kita hidup dengan normal?"
Tangan yang semula berada di pinggang sang istri itu kini berpindah membelai puncak kepala istrinya. "Aku tidak pernah mencari musuh, Sayang. Tapi mereka sendiri yang selalu mencariku," ungkap Danendra dengan jujur.
Danendra memang pria kejam, tetapi dia tidak pernah berulah sebelum seseorang itu membuat ulah padanya. Selama ini dia memutuskan untuk tidak ingin menikah karena tidak ingin mempersulit pasangannya. Namun, saat itu dia yang hanya berniat menjadikan Adeline sebagai teman ranjang justru terjebak oleh pesona sang perawan hingga menuruti permintaan dari wanita yang saat ini di dekap erat itu untuk menikah.
Sebenarnya tidak ada yang salah, Adeline pun meminta dinikahi secara resmi karena tidak ingin menjadi seorang wanita yang dilabeli dengan sebutan wanita m*rahan. Sementara itu, di sisi lain, Danendra pun tidak salah, dia hanya ingin menikmati hidupnya sebagai laki-laki normal yang bisa merasakan cinta.
Hanya takdir yang membuat semuanya rumit seperti ini. Untuk sekarang mereka hanya bisa menjalani kehidupan dengan iklas dan tegar.
__ADS_1
"Aku tahu, suamiku bukan orang jahat." Adeline perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke wajah sang suami.