
"Lah, kok bawa-bawa Kak Nendra. Kamu mau di amuk sama dia gara-gara asal nuduh gitu?"
"Kalau bukan Nendra, terus siapa? Ada laki-laki lain lagi yang mengisi hati kamu?" tanya Malik menekan.
"Aku belum tahu dia laki-laki atau perempuan," jawab Rihanna ambigu.
Malik membuka matanya lebar-lebar, "Maksud kamu apa?" tanyanya bingung.
Saat ini Malik mengira istrinya itu memiliki kenalan baru yang sudah berhasil merebut hati wanita hamil itu meski Rihanna belum tahu kenalannya itu wanita atau pria.
"Ya aku belum tahu dia laki-laki atau perempuan, kamu kan belum pernah antar aku USG," jelas Rihanna seraya mengelus lembut perut buncitnya.
Seketika Malik menghela napas lega. Ternyata yang dimaksud oleh Rihanna adalah anak yang masih berada di kandungan istrinya itu. Padahal tadi dia sempat berpikir negatif.
"Kalau dia yang membuat kamu membagi cinta, baiklah. Aku izinkan," balas Malik yang sudah paham dengan maksud sang istri.
"Kamu yang seharusnya berterima kasih sama dia, Malik. Karena aku lebih dulu mencintainya dari pada kamu, dan mungkin dia juga yang membuatku jatuh cinta padamu."
Malik menganggukkan kepalanya beberapa kali, lalu tangannya mengelus perut besar istrinya. "Terima kasih, Sayang. Kamu sudah berhasil membantu Daddy untuk mendapatkan cinta Mommy," bisik Malik kemudian menghujani perut buncit sang istri dengan kecupan.
"Malik, malu," bisik Rihanna yang sedikit risih karena di mobil itu mereka tidak hanya berdua.
"Malu kenapa?" tanyanya setelah mengubah posisi duduknya menjadi tegak kembali.
"Ada sopir kamu," ucap Rihanna tanpa suara, tetapi Malik bisa membaca gerak bibir istrinya.
"Aku lupa," balasnya menirukan cara bicara sang istri.
Rihanna merotasikan bola matanya jengah. Laki-laki itu lupa dengan ucapannya sendiri yang pernah mengatakan tidak boleh bermesraan di depan orang lain.
"Malik, sebenarnya kita mau ke mana, sih? Kenapa tidak sampai-sampai?" tanya Rihanna menatap ke luar jendela mobil.
"Bertemu Pak Hartawan," jawab Malik singkat.
"Aku tahu. Tadi kamu sudah bilang begitu," sahut Rihanna kesal.
"Kalau tahu, kenapa bertanya?"
__ADS_1
"Maksudnya kita mau bertemu Pak Hartawan di mana?" tanyanya dengan jelas.
"Pak Hartawan mengadakan dinner party di mansionnya, Sayang. Jadi kita akan bertamu ke mansion pribadinya," jelas Malik yang hanya diangguki oleh Rihanna.
Lima belas menit kemudian mobil yang dikendarai oleh supir pribadi itu masuk ke gerbang besar lalu berhenti setelah diparkir di halaman luas mansion tersebut. Puluhan mobil yang tidak kalah mewah juga sudah terparkir di sana.
Saat mobil sudah berhenti, sopir pribadi Malik segera turun lalu membukakan pintu untuk majikannya. Malik keluar setelah pintu mobilnya dibukakan oleh sopirnya. Laki-laki gagah dengan tuxedo berwarna senada dengan gaun sang istri itu mengitari mobil untuk membukakan pintu untuk Rihanna.
Malik mengulurkan tangan kanannya saat pintu mobil sudah terbuka. "Ayo, Sayang!" ajak Malik dengan lembut, Rihanna langsung menerima uluran tangan sang suami.
Begitu keluar dari mobil mewah Malik, mereka melangkah masuk ke dalam mansion dengan bergandengan tangan. Tangan Rihanna melingkar di lengan kekar Malik. Keduanya berjalan dengan sangat hati-hati karena Malik sadar bahwa istrinya tengah mengandung.
Saat mereka berjalan di atas karpet merah, puluhan pasang mata menatap mereka dengan pandangan sulit di artikan. Mungkin, banyak dari mereka yang merasa bingung karena Malik menggandeng seorang wanita hamil, sedangkan status Malik sendiri belum menikah.
Wajar saja jika mereka berpikiran begitu, pasalnya hingga saat ini Malik memang belum mengadakan acara resepsi, maupun mengenalkan sang istri di depan publik. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui tentang hal tersebut.
"Lihatlah, saya kira Tuan Muda keluarga Ibrahim adalah anak baik. Ternyata sama saja dengan kebanyakan pergaulan jaman sekarang," bisik salah satu orang di sana.
"Iya, statusnya masih lajang, tapi sudah menghamili anak orang," balas yang lainnya dengan berbisik juga.
Masih banyak sekali bisik-bisik para tamu yang hadir di tempat itu. Malik sendiri tidak menghiraukan bisik-bisik para tamu yang lain, tetapi tidak dengan Rihanna. Wanita hamil itu merasa tidak terima karena mereka yang membicarakan keburukan ikut menyeret nama sang mertua yang begitu dia hormati.
"Sudahlah, Sayang. Jangan di pikirkan! Senyum saja yang ramah," jawab Malik dengan berbisik juga, laki-laki itu menebar senyum ramah kepada para tamu yang lain.
"Kamu terima aja mereka menjelekkan keluarga kita?" tanya Rihanna yang sedikit terbawa emosi.
"Kita temui Pak Hartawan dulu, yuk!" ajak Malik enggan membahas perkara itu.
"Malik!" seru Rihanna lirih, meskipun emosi tetapi Rihanna tidak ingin semakin mempermalukan sang suami dengan sifat bar-bar nya dulu.
Malik menghentikan langkah sejenak, membuat Rihanna ikut menghentikan langkahnya juga. "Sayang, kita ke sini untuk menghadiri undangan Pak Hartawan. Bersikaplah sopan dan jangan rusak acara pentingnya hanya untuk menuruti amarah. Kita di sini tamu, Sayang. Jangan ikuti mereka-mereka yang tidak memiliki adab," tutur Malik berusaha memberi pengertian pada istrinya.
"Tapi mereka –"
"Biarkan saja mereka melakukan apapun. Kita bisa mengurusnya lain kali. Inilah kenapa ada pribahasa adab lebih penting dari pada ilmu. Karena orang yang berilmu belum tentu memiliki adab, tetapi orang yang beradab tentu memiliki ilmu. Hargai dan hormati orang lain, jangan hanya menuruti na*su saja," terang Malik yang akhirnya membuat Rihanna paham.
"Kamu paham, Sayang?" tanya Malik memastikan.
__ADS_1
"Paham," jawab Rihanna sambil tersenyum hangat.
"Kamu memang istri Sholeha," puji Malik seraya menowel hidung sang istri untuk menggodanya.
"Aamiin, semoga aku bisa menjadi sebaik-baiknya istri untuk kamu, Malik."
"Ya sudah, kita temui Pak Hartawan dulu, yah!"
Mereka kembali melanjutkan langkah setelah Rihanna mengangguk setuju. Keduanya berjalan menuju tempat di mana sang pemilik acara berada.
"Malik," panggil Hartawan seraya mengangkat tangan kanannya ke udara setelah melihat klien pentingnya.
Malik dan Rihanna segera menghampiri si pemilik acara. Ekspresi kesal yang tadi sempat merusak kecantikan Rihanna kini telah lenyap, berganti dengan ekspresi ceria.
"Pak Hartawan, maaf datang terlambat." Malik menjabat tangan si pemilik acara.
"Tidak apa-apa, Malik. Saya paham," jawab Hartawan seraya menepuk pelan pundak Malik.
"Oh iya, perkenalkan, ini istri saya." Malik mengarahkan tangannya kepada Rihanna.
Wanita hamil itu tersenyum ramah kepada si pemilik acara. Sedangkan hartawan menganggukkan kepala seraya mengulurkan tangannya untuk menjabat istri sang klien.
"Rihanna," ujarnya memperkenalkan diri, tetapi Rihanna tidak menerima jabatan tangan dari Hartawan.
"Maaf, Pak. Biasalah, didikan Mami," sahut Malik memberi pengertian agar Hartawan tidak tersinggung dengan perlakuan Rihanna yang membatasi diri.
"Ah, iya-iya. Mami kamu itu memang wanita yang baik, dia mendidik menantunya dengan sangat baik juga. Tidak heran jika papimu sangat mencintainya," puji Hartawan sambil menarik kembali tangannya yang gagal bersentuhan dengan wanita cantik di depannya.
Hartawan adalah klien perusahaan sejak Ibrahim yang menjadi CEO di perusahaan itu, hingga saat ini ketika Malik sudah menggantikan posisi sang ayah, Hartawan masih setia menjalin kerja sama dengan perusahaan Ibrahim. Usia Hartawan juga tidak beda jauh dengan usia Ibrahim, sayangnya laki-laki itu tidak memiliki keturunan yang menjadikannya bisa bersantai di masa tua.
"Istrimu cantik sekali, Malik. Kau pandai memilih, yah!" pujinya penuh rasa bangga.
"Pak Hartawan bisa saja. Dia ini bukan pilihan saya, Pak," balas Malik yang seketika membuat alis Rihanna dan Hartawan menukik tajam.
"Maksudnya gimana?" tanya kedua orang tua kompak.
"Kamu bukan pilihanku, Kayla. Kamu adalah takdir yang sudah digariskan oleh Allah untuk menemaniku di dunia dan akhirat," ujar Malik yang seketika membuat pipi Rihanna memerah bak tomat matang.
__ADS_1
"Kau sudah pintar gombal ternyata, Malik!" Kali ini hartawan meninju pelan perut Malik.