
Kehidupan Adeline dan Danendra semakin hari semakin harmonis. Keduanya kompak merawat putra mereka dengan penuh cinta. Meskipun Danendra memberikan baby sitter untuk mengurus Devan, tetapi laki-laki tampan dan gagah itu tidak pernah absen ikut memberikan pelayanan terbaik untuk sang putra.
Hadirnya Devandra dalam keluarga Alefosio semakin memperlengkap kebahagiaan di keluarga tersebut. Tiada hari tanpa kebahagiaan sejak lahirnya penerus keluarga yang begitu mereka tunggu-tunggu.
Orang pertama yang begitu bahagia atas keberadaan Devan adalah Silvia. Wanita paruh baya itu yang sejak awal memberikan syarat konyol atas restunya kepada Adeline dan Danendra yang menikah tanpa seizin darinya.
Kini Silvia sedang duduk di taman mansion. Di depannya terdapat stroller bayi berisi bayi mungil kesayangan keluarga Alefosio.
"Devan sayang, terima kasih sudah menjadi penyemangat hidup buat Oma. Setidaknya dengan kehadiran kamu, Oma merasa tidak kesepian lagi."
"Ma," panggil Adeline dari belakang.
Silvia menoleh ke belakang melihat sang menantu sudah rapi dengan dress simpel berwarna hitam. Di tangannya memegang sebuah tas kecil. Wanita dewasa itu mengayunkan langkah mendekatinya.
"Kamu sudah siap?" tanya Silvia.
"Sudah, Ma. Elin titip Devan dulu, yah!"
Silvia mengangguk kecil. "Hati-hati di jalan. Bilang pada Nendra, mama akan memberinya pelajaran jika sampai kamu tergores sedikitpun," ujarnya dengan lembut, tetapi penuh ancaman.
Adeline hanya tersenyum tipis lalu mencium pipi mertuanya singkat. "Elin berangkat dulu, Ma," pamitnya dengan sopan.
Danendra mengantarkan istrinya untuk berangkat ke tempat tujuan. Pastinya dengan pengawalan khusus. Gara-gara mimpi buruk, istrinya itu bersikeras ingin mengunjungi keluarganya. Meskipun dia sempat menolak, tetapi Adeline justru mengancam akan berangkat sendiri jika sang suami tidak mengizinkan.
Dengan terpaksa laki-laki itu menuruti permintaan istrinya. Padahal, Danendra belum yakin bahwa suasana di luar sudah aman untuk sang istri. Namun, jika dibiarkan saja, Adeline pasti akan berbuat nekat dan berakhir lebih membahayakan keselamatannya.
"Sayang, kamu yakin mau mengunjungi tempat itu?" tanya Danendra yang berharap istrinya akan berubah pikiran.
"Aku yakin, Nendra. Aku sangat merindukan mereka," jawab Adeline yakin.
__ADS_1
Danendra kembali terdiam. Istrinya itu memiliki watak yang keras dan tidak mudah untuk diajak berdiskusi. Apapun yang dia tawarkan tidak akan berhasil untuk mengganti keputusannya.
"Baiklah. Tapi jangan pernah berani menjauh dari jangkauanku. Aku tidak mau ibu dari putraku lecet!"
"Kau pikir aku barang!" seru Adeline ketus.
Beberapa saat menempuh perjalanan mereka akhirnya sampai di sebuah pemakaman umum. Mereka turun dari mobil mewah lalu berjalan menuju salah satu blok yang terletak di ujung. Para pengawal menjaga kedua atasannya di jarak dekat. Tidak mau jika mereka kecolongan sehingga sang bos bisa terluka.
Adeline dan Danendra menghentikan langkah saat sampai di depan makam dengan nisan bertuliskan Antonio, di sebelahnya juga terdapat makam dengan nama Grasiella.
Wanita itu menatap sendu kedua batu nisan bertuliskan nama ayah serta adiknya. Dia tidak menyangka bahwa kedua orang tersayang pergi secepat ini dengan cara yang cukup tragis.
Adeline berlutut di tengah-tengah kedua makam tersebut. Membelai rerumputan hijau yang tumbuh di atasnya. Danendra mengulurkan keranjang berisi bunga yang langsung diterima oleh Adeline.
Dengan perasaan berkecamuk Adeline menaburkan bunga di atas kedua makam orang-orang terkasihnya yang tidak pernah bersikap baik padanya. Apapun yang pernah mereka lakukan, nyatanya Adeline tetap menyayangi keduanya.
"Elin datang, Pa. Seperti permintaan papa di mimpi Elin. Papa rindu pada Elin, yah?"
Suara Adeline sedikit bergetar karena menahan tangis. Kedua netranya juga sudah berembun. Namun, Adeline sudah bertekad tidak akan menangis di depan makan kedua orang tersayangnya itu.
"Pa, Elin sekarang sudah menjadi seorang bunda, loh! Papa sudah punya cucu sekarang. Papa lihat kan dari atas sana?"
Danendra ikut berlutut saat mendengar suara sang istri sudah benar-benar berbeda. Adeline masih saja berusaha menahan tangis dengan memaksa bibirnya untuk tersenyum.
"Sayang, jika ingin menangis, menangislah!" Danendra mengusap pelan bahu Adeline.
"Tidak, aku tidak akan menangis, Nendra. Papa sudah bilang dalam mimpiku, bahwa dia tidak ingin melihatku mengeluarkan air mata."
"Kalau begitu jangan terlalu lama di sini. Kita harus segera pergi," ajak Danendra yang tidak ingin melihat sang istri bersedih.
__ADS_1
"Sebentar. Aku belum menyapa adikku," balas Adeline tanpa menatap sang suami.
Pandangannya tetap mengarah pada batu nisan bertuliskan nama Grasiella. Jika tadi dia masih bisa menahan tangis, tidak untuk sekarang. Adeline kembali mengingat bagaimana sang adik mengakhiri hidupnya dengan cara yang benar-benar buruk.
Grasiella saat itu menusuk perutnya sendiri berkali-kali hingga dia meregang nyawa. Setetes air mata jatuh ke makan Grasiella saat Adeline mengingat kejadian itu.
"Maaf, Ella. Kakak tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk kamu. Kakak tidak menepati janji kakak saat kecil dulu bahwa kakak akan selalu menjaga kamu," sesal Adeline dengan air mata berlinang.
"Jangan menyalahkan diri kamu sendiri, Sayang. Ini semua sudah takdir!"
Adeline tersenyum kecut saat lagi-lagi membayangkan masa kecilnya bersama kedua adiknya. Meskipun dia selalu dibedakan setelah kehadiran kedua adiknya, tetapi Adeline sama sekali tidak pernah mengeluh dan justru selalu berusaha untuk mengalah dan melindungi kedua adik kembarnya.
Danendra diam saja dengan tatapan mata sendu ke arah sang istri. "Jika kamu tahu bahwa kalian sama sekali tidak memiliki hubungan darah, apakah kamu masih tetap menyayangi wanita yang selalu jahat padamu, Adel?"
Pertanyaan itu tentu saja hanya diucapkan di dalam hati Danendra. Laki-laki itu masih belum tega untuk mengungkapkan kebenaran tentang hubungan sang istri dengan kedua adik kembarnya itu.
Terlebih lagi jika dia mengungkapkan hal tersebut, tidak hanya perasaan sang istri yang akan dia korbankan. Namun, ada Zico juga yang pasti akan lebih merasa hancur dan terpuruk. Padahal, saat ini laki-laki itu sedang giat-giatnya belajar mengurus bisnis keluarga.
"Sudah, Sayang. Jangan lama-lama di sini. Hari sudah semakin siang. Teriknya matahari akan membakar kulit kamu," tukas Danendra yang sudah benar-benar tidak kuat melihat kesedihan istrinya.
"Tapi … aku masih merindukan mereka, Nendra. Biarkan aku di sini sebentar saja," pinta Adeline masih dengan air mata berderai.
Danendra melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir dua jam istrinya itu mengobrol dengan orang yang sudah tiada. Akan tetapi, sepertinya sang istri belum juga puas.
"Sayang. Kamu tidak kasihan kepada Devan? Dia pasti sudah menunggu kamu. Selama ini dia tidak pernah berjauhan dengan kamu, 'kan?"
Mendengar nama sang putra disebut oleh sang suami, Adeline baru tersadar dari kesedihannya. Jika dia menghabiskan waktu di tempat ini, dia juga akan mengorbankan sang putra yang lebih membutuhkan kasih sayang serta perhatian darinya.
"Lagi pula kamu masih ingin mengunjungi Mama Monica. Kalau kamu terlalu lama di tempat ini, kapan kamu bertemu dengannya?"
__ADS_1