Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Nasihat Mama


__ADS_3

Sesampainya mereka di mansion Adeline langsung turun tanpa memperdulikan sang suami. Wanita itu masih amat kesal dengan perbuatan Danendra di rumah sakit jiwa tadi. Bukan hanya melarangnya untuk lebih dekat dengan sang ibu, tetapi suaminya itu bahkan membentaknya di depan orang asing. 


Danendra ikut turun dan segera mengejar langkah sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mansion. Dia semakin mempercepat langkahnya saat melihat Adeline sudah mulai menaiki satu persatu anak tangga. 


"Sayang," panggil Danendra yang sama sekali tidak di gubris oleh sang istri. 


Silvia dan Nabila yang sedang bersantai di ruang tamu sambil membaca majalah saling pandang dan melempar kode seakan sedang bertanya ada apa saat melihat sepasang suami istri itu seperti tengah kejar-kejaran. Keduanya sama-sama mengedikkan bahunya saat tidak menemukan jawaban apapun. 


"Nendra, ada apa, Sayang?" 


Suara sang ibu yang melontarkan pertanyaan menghentikan langkah Danendra yang hampir menaiki tangga. Laki-laki itu menoleh dan berjalan mendekati sang ibu tercinta. 


"Tidak apa-apa, Ma. Adel hanya sedang merajuk," jawabnya sambil cengar-cengir. 


"Merajuk kenapa, Nendra?" tanya Nabila menyela. 


"Tadi Adel minta antar ke pemakaman terus mampir juga ke rumah sakit jiwa untuk menjenguk Mama Monica. Adel marah karena saya melarangnya untuk terlalu dekat dengan Mama Monica, Ma. Saya hanya takut jika Mama Monica akan menyerangnya saja," ungkap Danendra dengan gamblang. 


Kedua wanita paruh baya itu mengangguk mengerti. "Biar mama yang bicara sama Elin, Nendra."


"Terima kasih, Ma." 


Nabila bangkit lalu berjalan menaiki tangga untuk menuju kamar utama yang merupakan kamar Adeline dan Danendra. Ketika sampai di depan pintu kamar, Nabila mengetuknya pelan. 


"Siapa?" tanya Adeline dari dalam. 


"Mama, Sayang. Boleh mama masuk?" 


"Masuk, Ma." 


Setelah mendapat izin dari sang putri untuk masuk ke ruangan itu Nabila pun segera membuka pintu lalu melangkah masuk. Sebelum itu Nabila sudah memastikan pintu kamar itu kembali dia tutup dengan rapat. 


"Ada apa, Ma?" tanya Adeline yang sudah memegang handuk kimono di tangannya. 


"Kamu mau mandi?" tanya balik Nabila saat melihat sang putri memegang handuk berwarna biru terang. 


"Iya, Ma. Badan Elin sudah lengket sekali. Gerah juga. Mama kenapa menyusul Elin?" 

__ADS_1


"Mama boleh bicara sesuatu sama kamu?" 


"Tentang masalah Elin dan Nendra?" 


Nabila mengangguk kecil. Hal itu tentu saja membuat Adeline menghela napasnya kasar. Pasti suaminya itu mengadu yang tidak-tidak pada kedua orang tua mereka.


"Kamu jangan salah paham dulu. Nendra tidak menyuruh mama. Ini hanya inisiatif mama saja karena mama tidak ingin kalian bertengkar," jelas Nabila agar putrinya tidak salah paham. 


"Nendra bilang apa, Ma?" tanya Adeline langsung pada inti permasalahan. 


"Sini duduk dulu, Sayang! Mama ingin masalah kalian ini segera terselesaikan." Nabila duduk di sofa lalu menepuk bagian sampingnya sebagai tanda menyuruh sang putri untuk duduk di sana. 


Adeline menaruh handuk kimono miliknya di atas ranjang lalu berjalan mendekati wanita yang sudah melahirkannya tersebut. Dia menurut untuk duduk di samping sang ibu. 


"Kamu marah hanya karena Nendra melarang kamu untuk terlalu dekat dengan Mama Monica?" 


Adeline langsung menggeleng cepat. Bukan karena itu dia merajuk kepada suaminya. Namun, ternyata laki-laki itu mengira dia merajuk hanya karena dilarang mendekati ibu tirinya. 


"Lalu kamu marah karena apa?" tanya Nabila dengan kedua alis bertaut. 


"Jadi hanya karena itu?" 


"Mama bilang hanya karena itu. Coba mama pikir! Perawat itu pasti menertawakan Elin karena suami Elin membentak dengan keras di depan orang asing." 


"Kamu sudah pastikan bahwa Nendra sengaja membentak kamu?" 


"Tidak." Adeline menggeleng pelan. 


"Lalu untuk apa dipermasalahkan? Mama yakin, Nendra pun menyesal karena membentak kamu." 


"Tapi, Ma–," 


"Sudah. Sekarang jangan merajuk hanya karena alasan tidak masuk akal. Kamu beruntung memiliki suami seperti Danendra, Elin. Dia tidak pernah menuntut apapun dari kamu," sela Nabila menasehati sang putri. 


Sementara itu, di lantai bawah ternyata Danendra pun sedang disidang oleh Silvia. Wanita yang teramat menyayangi menantunya itu sama sekali tidak rela mendengar kabar bahwa sang menantu dibuat badmood oleh sang putra. 


"Kamu tahu Nendra, jadi wanita hamil dan menyusui itu tidak mudah. Hormon kita selalu naik turun tergantung suasana hati. Jika kamu tidak bisa membuatnya bahagia, jangan buat dia bersedih!" 

__ADS_1


"Ma, aku hanya tidak ingin istriku terluka," sahut Danendra. 


"Mama tahu, mama paham kalau kamu hanya ingin melindungi istri kamu. Tapi seharusnya kamu bisa berkata dengan lebih hati-hati. Jangan menyinggung perasaannya!" 


Silvia menghela napas panjang lalu menatap sang putra dengan mimik wajah kecewa. "Dari cerita yang kamu jelaskan tadi, mama yakin, istrimu marah bukan karena sebab kamu melarangnya." 


"Lalu karena apa, Ma?" tanya Danendra menuntut. 


"Karena kamu melukai perasaannya dengan membentak di hadapan orang asing, Nendra. Elin pasti tersinggung dan merasa malu!" tekan sang ibu yang merasa jengkel. 


Danendra langsung bangun dan berlari menaiki tangga setelah mendapat nasihat dari sang ibu. Laki-laki itu baru sadar atas kesalahannya yang membuat sang istri marah. 


Melihat reaksi Danendra Silvia hanya menggeleng kecil seraya menatap sang putra yang terus berlari dengan langkah besarnya. Silvia memaklumi apa yang terjadi pada sepasang suami istri itu. Dalam rumah tangga pasti akan terdapat ombak kecil yang menerjang. Terlebih lagi mereka adalah pasangan baru yang masih perlu banyak belajar. 


Saat sampai di depan kamar utama Danendra sempat menghentikan langkah. Laki-laki itu masih kebingungan bagaimana caranya meminta maaf pada sang istri. Ketika Danendra hendak membalikkan tubuhnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. 


"Nendra," panggil Nabila yang hendak keluar dari kamar. 


"I-iya, Ma," jawab Danendra sambil tersenyum tipis. 


"Mau ke mana?" 


"Nendra mau ambil minum, Ma." Danendra hendak membalikkan tubuhnya. 


"Biar mama yang ambilkan. Kamu masuk sana! Temui istrimu." 


"Tapi … Elin pasti masih marah, Ma." 


"Kalau begitu kamu harus bisa meluluhkan hatinya agar tidak marah lagi!" seru Nabila sambil menarik tangan sang menantu. 


Nabila menutup pintu kamar utama setelah berhasil membuat Danendra berada di dalam ruang tersebut. Wanita paruh baya itu sengaja melakukan hal itu agar anak serta menantunya bisa segera menyelesaikan masalah. 


"Masalah kecil pun jika dibiarkan terlalu berlarut-larut tidak akan baik. Berkaca dengan hubunganku dengan papanya Rihanna. Kami yang terlalu sibuk memikirkan perasaan masing-masing tanpa memperdulikan perasaan satu sama lain membuat rumah tangga kami bagaikan neraka dunia. Aku tidak ingin Adeline merasakan hal yang sama denganku," gumam Nabila yang tiba-tiba mengingat suami kejamnya itu. 


"Bil," panggil Silvia ketika melihat sang sahabat sekaligus besannya itu sedang melamun di depan kamar utama. 


__ADS_1


__ADS_2