Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Perhiasan Berharga


__ADS_3

"Mami jangan menggodaku seperti itu," protes Rihanna, bibirnya berkedut menahan rasa bahagia yang membuncah. 


"Loh, mami enggak menggoda, kok! Itu kenyataannya, Sayang." 


"Tapi Rihanna malu, Mam." 


Riani menggapai tangan sang menantu, memegangnya dengan lembut. Belaian penuh kasih diberikan oleh Riani kepada menantu satu-satunya itu. 


"Enggak perlu malu, Sayang. Kamu itu kesayangan keluarga kita." 


Rihanna tersenyum haru saat mendengar ucapan sang mertua. Dia tidak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan kasih sayang berlimpah dari mertuanya. 


Desas-desus bahwa semua mertua itu jahat kepada menantu wanita sama sekali tidak terbukti di kehidupan Rihanna. Wanita yang pernah hidup tanpa adanya keharmonisan keluarga, kini hidup bergelimang kasih sayang.


"Makasih ya, Mam. Rihanna merasa beruntung karena memiliki kalian. Semoga Rihanna bisa membalas kasih sayang yang kalian berikan pada Rihanna," ucap Rihanna haru. 


"Aamiin, Sayang. Mami tidak pernah mengharapkan balasan atas apapun yang mami berikan kepada kamu. Semua mami lakukan dengan tulus," balas Riani dengan suara lembutnya. 


Tanpa basa-basi, Rihanna masuk ke dalam dekapan hangat mertuanya. Dia memejamkan matanya, menikmati setiap elusan lembut di punggungnya.


"Sayang, mami bersyukur sekali kamu mau menutup aurat kamu tanpa Malik ataupun mami memintanya," kata Riani merasa bangga dengan apa yang dilakukan oleh menantunya. 


Rihanna melerai pelukan hangat itu saat hatinya sudah sangat merasakan ketenangan. "Ini semua karena mami, Rihanna jadi semakin bersemangat untuk memperbaiki diri. Mami jangan bosan untuk mengajari Rihanna, ya, Mi," ucapnya tulus. 


"Pasti, Sayang. Mami akan selalu menggandeng tangan kamu menuju Jannah-Nya," balas Riani, rasa haru kian memenuhi hatinya. 


Riani tentu saja merasa lega karena ternyata sang menantu sangat kooperatif dan tidak pernah membantah apapun yang berlaku di keluarga mereka. Padahal, sebelumnya Riani tahu bagaimana karakter sang menantu dari penjelasan besannya sendiri. Namun, kenyataannya Riani tidak pernah merasa kesulitan untuk mengajari dan mendidik Rihanna. 


"Terima kasih, Mami." 


"Sama-sama, Sayang." 


"Loh, pantesan aja ditungguin enggak turun-turun, kalian malah asik ngobrol di sini."


Suara itu seketika membuat kedua wanita berbeda usia itu menoleh. Riani menyengir kuda saat matanya bersitatap dengan mata elang sang suami. Sementara itu, Rihanna justru bingung dengan ucapan ayah mertuanya barusan. 

__ADS_1


"Loh, ini Rihanna, Mi?" tanya Ibrahim, ketika melihat penampilan baru sang menantu. 


"Iya, Pi. Ini Rihanna, menantu kita," jawab Riani antusias. 


"Masya Allah. Cantiknya menantu papi. Kalau seperti ini, papi jamin seribu bidadari yang turun dari langit pun, Malik akan tetap memilih kamu sebagai istrinya, Rihanna." Pujian itu terlontar begitu saja dari bibir tebal Ibrahim. 


"Papi, jangan asal bicara. Rihanna ini sudah bidadari surga untuk Malik. Jadi tidak akan ada lagi bidadari yang berani mendekati Malik." 


"Mami, Papi, jangan melebih-lebihkan, Rihanna hanya manusia biasa yang masih banyak kekurangan."


"Kalau itu, memang benar, Sayang. Tapi, Malik pasti bahagia sekali melihat usaha kamu dalam memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada-Nya. Perhiasan paling berharga bagi seorang laki-laki adalah istri Sholeha," ucap Ibrahim kepada menantunya. 


"Nah, kamu dengar, 'kan, Sayang? Mami yakin, Malik benar-benar merasa dirinya beruntung karena memiliki istri kamu. Teruslah menjadi sebaik-baiknya istri. Wujudkan rumah tangga yang Sakinah, Mawadah, dan Warahmah bersamanya, Sayang." 


"In Sya Allah, Mam. Rihanna akan terus berusaha," balas Rihanna semakin merasa senang. 


"Oh iya, dibawah ada mama dan kakak kamu, Nak. Mami tadi manggil kamu buat bilang ini, tapi malah lupa gara-gara terpana dengan kecantikan menantu mami ini," ucap Riani menyampaikan. 


"Loh, mama sama kakak ke sini?" 


"Iya mereka sudah menunggu di ruang tamu," jawab Riani. 


"Biar mami antar, Sayang." 


"Hati-hati, Mam. Gandeng baik-baik Rihanna, papi langsung ke ruang kerja dulu, ada perlu sama Malik." 


"Iya, Pi." 


Rihanna dan Riani turun ke lantai dasar untuk menemui Nabila dan Adeline. Sedangkan Ibrahim sendiri bergegas masuk ke ruang kerja. 


"Itu Anna, Ma!" seru Adeline, sambil menunjuk arah tangga. 


Nabila mengikuti arah yang ditunjuk oleh putri sulungnya. Wanita paruh baya itu melemparkan senyum hangat saat melihat putri bungsunya sedang berjalan menuruni satu persatu anak tangga. Nabila lega ketika melihat kesabaran sang besan saat menggandeng tangan Rihanna dan membantu wanita hamil itu turun ke bawah. 


Adeline dan Nabila berdiri, lalu berjalan mendekati sang pemilik rumah. Mereka sedikit terkejut dengan perubahan penampilan Rihanna yang kini hanya menyisakan wajah, telapak tangan, serta tumitnya saja yang terlihat. Sangat berbeda jauh dengan penampilan Rihanna yang dulu. 

__ADS_1


"Mama," panggil Rihanna, sorot matanya memancarkan kebahagiaan. 


Saat sudah berada di lantai bawah, Rihanna langsung menghambur masuk ke pelukan sang ibu. Dia menyesap aroma wangi sang ibu yang begitu menenangkan. Nabila sendiri tidak kalah mendekap erat sang putri, tetapi masih menyisakan ruang agar perut buncit putrinya tidak tergencet. 


"Ehem!" Adeline berdehem saat ibu dan adiknya seperti tidak menganggapnya ada, dia pun ingin ikut menikmati pelukan hangat mereka. 


"Kakak!" seru Rihanna, tangannya menarik pelan pergelangan tangan sang kakak hingga ikut berpelukan. 


Melihat adegan yang terpampang didepannya, Riani tersenyum senang. Dia tentu paham bahwa ketiganya saling merindukan satu sama lain. Itu sebabnya Riani tidak melerai adegan haru didepannya. 


Cukup lama ketiganya berpelukan, hingga Nabila terpaksa melerai pelukan tersebut karena tidak ingin terjadi apa-apa pada kehamilan Rihanna jika mereka terlalu lama berpelukan. 


"Mama tumben datang enggak bilang dulu?" 


"Kakak kamu yang ngajak ke sini, Sayang. Katanya dia dapat kabar dari temennya tentang resepsi pernikahan kamu sama Malik," jelas Nabila. 


"Iya, kamu ngeselin, Na. Kita ini kan keluarga kamu, kenapa malah enggak di kasih kabar?" Adeline memasang ekspresi kesal. 


"Loh, resepsi pernikahan? Memangnya kapan, Sayang?" tanya Riani menyela. 


"Lah, Tante juga enggak tahu?" tanya balik Adeline. 


"Enggak, Lin. Tante engga tahu." 


Rihanna menggaruk kepalanya, bingung untuk menjelaskan kepada keluarga inti yang justru belum tahu apa-apa tentang rencana yang sudah diumumkan oleh Malik di acara dinner party Hartawan tempo hari. 


"Itu rencana konyol yang dibuat sama Malik, Mam, Kak. Dia tiba-tiba umumin undangan resepsi pernikahan dan syukuran empat bulan kehamilan Rihanna Minggu ini," terang Rihanna mencoba menjelaskan. 


"Oalah, ulah bocah itu ternyata. Dia itu sekarang suka bikin kejutan tiba-tiba. Mau apapun kadang enggak bilang dulu," ujar Riani menggelengkan kepalanya. 


"Bukan salah Malik, Mam. Dia hanya ingin membela harga diri Rihanna di depan para tamu Pak Hartawan kemarin," ungkap Rihanna yang tidak ingin suaminya di salahkan. 


"Maksudnya membela harga diri kamu, gimana?" tanya Adeline penasaran. 


"Kemarin, banyak tamu yang menggunjing kita. Mereka mengira kami pasangan tidak sah yang sudah hamil lebih dulu. Jadi, Malik mengumumkan bahwa kami sudah menikah dan akan mengadakan resepsi."

__ADS_1


"Ini tetap saja salah Malik, Sayang. Andaikan dulu kalian mau menggelar pernikahan dengan meriah dan tidak dirahasiakan, mereka tidak akan berpikir seperti itu." 



__ADS_2