
Dalam perjalan pulang, Adeline terus saja bertanya tentang kejadian yang barusan terjadi. Kejadian yang berusaha di sembunyikan oleh sang suami darinya. Namun, berkali-kali Adeline bertanya, berkali-kali pula Danendra menjawabnya dengan gurauan.
"Nendra! Cepatlah. Katakan padaku, barusan yang tertembak siapa?" Adeline masih saja kekeh menanyakan hal itu.
"Sayang, di mobil ini ada aku, kamu dan Gerry. Jadi tidak perlu khawatir siapa yang menembak ataupun tertembak. Kamu hanya perlu memikirkan bagaimana caranya menghilangkan bekas luka ini," jawab Danendra sambil memegang lengan Adeline yang memar.
"Luka ini, besok juga sembuh, Nendra. Tapi yang tertembak tadi, apakah dia masih hidup?" Adeline tetap saja memikirkan kejadian tadi hingga membuat Danendra frustasi.
"Diamlah, Sayang. Kau ini cerewet sekali! Aku hanya ingin kamu tidak merasakan takut pada apapun. Itu saja," jawab Danendra dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.
"Tapi bukan Rihanna kan yang tertembak?" tanya Adeline tetap ingin memastikan.
"Bukan, Sayang. Keluarga kami sudah dekat sejak dulu karena mama dan maminya Rihanna bersahabat. Jadi aku tidak mungkin mencelakainya," jawab Danendra yang sedikit bisa membuat Adeline tenang.
"Baguslah jika seperti itu. Aku tidak ingin jika kamu melukai perempuan," ujarnya tanpa sadar.
"Kenapa kamu masih baik padanya? Padahal dia sudah melukai kamu, Sayang?" tanya Danendra sambil merapikan helai rambut Adeline yang sedikit terburai.
"Tidak semua kejahatan harus di balas dengan kejahatan, Nendra. Aku bahkan pernah merasakan sakitnya terhianati oleh orang terdekatku sendiri," jawab Adeline yang langsung membuat Danendra mengepalkan kedua tangannya.
"Adeline pasti sedang membicarakan Grasiella dan suami kurang ajarnya itu. Tenanglah, Sayang. Aku pasti akan membalas rasa sakit yang pernah kamu terima dari mereka," batin Danendra bertekat.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, mereka akhirnya sampai di mansion besar keluarga Alefosio. Gerry dengan cepat membuka pintu mobil untuk tuan mudanya setelah dia sendiri turun.
Kini Danendra yang turun dan langsung mengitari mobil lalu membuka pintu untuk sang istri. Namun, ketika Adeline berniat turun sendiri, Danendra dengan cepat membopong istrinya itu.
"Ah, Nendra. Turunkan aku!" pekik Adeline kaget.
"Biar aku gendong, Sayang. Kakimu sedang sakit," jawab Danendra yang tidak peduli dengan teriakan Adeline.
__ADS_1
"Enggak mau! Aku mau turun," teriak Adeline bersikeras meminta di turunkan.
"Kamu mau diam, atau kamu siap melayani sesuatu yang bangun di bawah sana?" ancam Danendra sedikit mengerlingkan mata.
Hal itu tentu saja membuat Adeline langsung kicep. Wanita dewasa itu sudah paham dengan akal bulus otak mes*m suami berondongnya itu.
Ketika masuk ke mansion, Adeline yang di gendongan Danendra langsung membuat suasana menjadi meriah. Silvia langsung mendekati anak dan menantunya tersebut. Wanita berusia lima puluh tahun itu mengira sang putra akan kembali menggempur sang menantu seperti sore tadi.
"Nendra, kamu memangnya sudah tidak tahan lagi apa? Dari luar langsung mau menyosor istrimu?" tanya Silvia tanpa memfilter ucapannya.
"Mama jangan mes*m. Istriku ini sedang terluka."
"Terluka? Siapa yang berani melukai menantu mama?" tanya Silvia yang langsung memasang wajah garang.
"Rihanna!" Danendra menjawab, akan tetapi langsung meninggalkan wanita paruh baya yang memiliki rasa keingintahuan melebihi kapasitas itu.
"Nendra," tegur Adeline yang mengerti bahwa suaminya akan menceritakan hal itu kepada mertuanya.
"Kalian mau menutup-nutupi sesuatu dari mama?" tuduh Silvia tidak terima, wanita itu bahkan menghadang langkah sang putra.
"Ma, biarkan istriku istirahat dulu. Kasihan dia sedang syok karena perbuatan anak sahabat mama itu," pinta Danendra yang sudah di ambang batas kesabaran.
"Baiklah. Elin, mama akan suruh maid untuk mengobati lukamu," jawab Silvia yang langsung meluncur dengan cepat menuruni anak tangga.
"Kamu lihat, 'kan? Bagaimana mama mengkhawatirkan kamu?" tanya Danendra setelah sang ibu pergi.
"Iya, mama terlihat sudah bisa menerimaku, Nendra. Tapi bagaimana jika nanti aku tidak bisa memenuhi syarat dari mama?" tanya balik Adeline dengan wajah lesunya.
"Ussst! Jangan bicara seperti itu. Kita masih memiliki banyak waktu."
__ADS_1
Danendra kini membawa sang istri ke kamarnya. Menurunkan wanita tercintanya itu di ranjang lalu membantu melepaskan high heels yang di pakai oleh Adeline, step terakhir, Danendra selalu memakaikan selimut untuk istrinya tersebut.
Tidak lama kemudian seorang maid datang membawa peralatan untuk mengobati luka nyonya mudanya. Danendra pun pamit untuk keluar sebentar, jika tidak segera di jelaskan pasti nanti akan menjadi salah paham. Pria berusia dua puluh delapan tahun itu paham bagaiamana karakter Rihanna. Gadis itu tidak sungkan untuk memutar balikkan faksa untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan.
Danendra menemui sang ibu di ruangan pribadinya. Pria itu mendudukkan diri di kursi di hadapan sang ibu. Sementara itu, Silvia menatap penuh selidik pada putranya itu.
"Jangan ada sedikitpun yang kamu tutupi, Nendra. Mama tidak akan memaafkan kamu jika kamu berani membohongi mama," ancam Silvia kepada putranya.
"Mama lebih percaya Nendra, anak mama. Atau aunty Nabila, sahabat mama?" tanya Danendra yang sedikit curiga bahwa mungkin Rihanna sudah menghubungi ibunya tersebut.
"Mama tahu karakter kalian seperti apa, Nendra. Maka dari itu jelaskan dengan jujur dan sejelas mungkin. Mama tidak ingin ada kesalahpahaman," jawab Silvia yang belum mau membela salah satu pihak.
"Tadi ada yang menyusup ke markas Nendra, Ma. Adeline memaksa untuk ikut, jika Nendra tidak mau mengajaknya, dia tidak mengizinkan aku pergi. Dengan terpaksa aku membawanya kesana," jeda Danendra seraya menatap reaksi sang ibu yang saat ini terkejut.
"Kamu membawa menantuku ke markas, Nendra. Berani sekali kamu bertindak tanpa memberitahu mama. Keselamatan Adeline itu tidak boleh kamu pertaruhkan dengan memabawanya ke tempat keras itu."
Danendra menundukkan kepalanya karena apa yang di bilang oleh sang ibu memang benar. Tidak seharusnya dia membawa istrinya ke tempat itu yang memang sangat membahayakan.
"Maaf, Ma. Nendra bersalah, dan berjanji tidak akan mengulanginya."
"Lalu bagaimana bisa Rihanna sampai menculik Adeline? Apalah tidak ada yang menjaganya?" tanya Silvia kembali mengintrogasi sang putra.
"Tentu saja ada, Ma. Nendra kecolongan karena selama ini terlalu membebaskan Rihanna berkeliaran di markas itu," jawab Danendra penuh sesal.
"Nendra, hubungan mama dengan aunty Nabila memang dekat. Tapi tidak seharusnya kamu membebaskan Rihanna bertindak sesuka hati. Mama saja jika dia datang kemari selalu memerintahkan seseorang untuk mengikutinya," jelas Silvia yang sebenarnya sedikit tidak suka dengan kelakuan Rihanna yang tidak memiliki sopan santun.
"Jadi, mama tidak akan mempermasalahkan perkara ini, 'kan?" tanya Danendra penuh harap, meskipun dia yang berkuasa atas keputusan di kantor dan marksa, di mansion ini dia tetaplah hanya seorang anak yang tidak ingin mengecewakan ibunya.
"Tidak! Tapi karena sudah terjadi masalah ini. Mama memutuskan untuk membatalkan rencana bulan madu kalian. Mama tidak ingin membahayakan Adeline, dalam waktu dekat ini, Rihanna pasti akan tetap melancarkan ulahnya lagi," ujar sang ibu tanpa bisa di bantah.
__ADS_1