
Grasiella baru saja selesai membersihkan dirinya di kamar mandi. Perempuan yang sudah berhasil memprovokasi keluarganya untuk semakin membenci Adeline kini tersenyum puas di depan sebuah cermin besar.
"Kau tidak mungkin bisa mengalahkanku, Elin! Cukup kasih sayang kakek dan nenek saja yang kau rebut dariku, sekarang terbukti bahwa kamu bukanlah anak kandung papa dan mama." Wanita yang masih menggunakan handuk yang menutupi dari dada hingga pangkal pahanya itu tersenyum licik.
Sejak dulu Grasiella sebenarnya sangat tidak suka dengan keberadaan Adeline. Perempuan itu merasa bahwa sang kakak hanyalah saingan untuknya mendapatkan perhatian dari semua orang.
Ketika dia sedang sibuk dengan pikiran-pikiran jahatnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Grasiella menoleh ke arah benda canggih itu tergeletak lalu melangkah mendekatinya.
Kedua alisnya bertaut saat melihat layar ponsel, disana tidak tertera nama dari orang yang menghubunginya saat ini. Meski malas, dia memutuskan untuk menerima panggilan tersebut.
"Hallo," sapanya dengan suara yang sengaja dia lembutkan.
"Bagaimana keadaanmu, kupu-kupu kesepian? Sudah puas memfitnah istriku dengan keji?" Suara yang tidak asing menyapa pendengarannya.
"Lo siapa? Nendra?" tebaknya sedikit ragu.
"Lo enggak perlu tahu siapa gue. Yang jelas, hadiah spesial dari gue sedang on the way to you! Hati-hati, jangan sampai jantung Lo kabur dari tempatnya."
"Lo … beraninya ngancem gue! Gue enggak pernah takut sama Lo!" gertak Grasiella yang pura-pura memberanikan diri.
"Bagus kalau elo enggak takut, karena gue enggak suka main sama pecundang," jawabnya dengan santai lalu panggilan tersebut berakhir.
"Dasar cowok freak!" maki Grasiella sambil melemparkan ponselnya ke ranjang.
Tidak berselang lama terdengar suara dari ponsel yang baru saja dia lemparkan. Meski ia sedikit takut, Grasiella tetap mengambil benda canggih miliknya tersebut. Beberapa file masuk ke dalam ponsel tersebut. Jantung wanita itu berdegup kencang saat membuka satu persatu file yang masuk ke ponselnya.
"Sial*n! Bagaimana bisa dia mendapatkan rekaman video aku bersama mereka." Grasiella buru-buru menghapus semua file berisi rekaman kesenangannya bersama beberapa pria selama ini.
Emosi, wanita itu berniat melemparkan ponselnya kembali. Namun, denting ponsel itu menghentikan niatnya. Dia kembali memeriksa pesan yang masuk ke dalam ponselnya itu.
__ADS_1
Aku masih memiliki banyak sekali salinannya, sepertinya akan seru jika aku mengirimkan satu saja Vidio yang merekam adeganmu bersama dua pria sekaligus. Kalau kau menginginkan video aslinya, temui aku di alamat ini!
"Dasar pria munafik! Dia mengancamku hanya karena ingin menikmati kepuasan bersamaku," gumam Grasiella yang berpikir bahwa seseorang yang menghubunginya itu berniat mengajaknya bercinta.
Tanpa pikir panjang Grasiella langsung berdandan. Wanita itu bersiap untuk menemui pria yang akan menjadi pemuasnya yang baru. Dia mengenakan pakaian yang sangat seksi dan memoles wajahnya agar terlihat lebih segar.
Grasiella sudah selesai bersiap, hanya tinggal berangkat ke hotel yang sudah di sebutkan oleh pria yang menghubunginya. Wanita itu tersenyum sumringah ketika membayangkan bisa menggrayangi tubuh kekar seorang Danendra, pengusaha terkenal di negara itu.
Berhasil keluar dari rumah besar orang tuanya, Grasiella langsung masuk ke dalam taksi yang di pesan olehnya. Selama perjalanan menuju hotel, wajahnya tampak berseri-seri, beberapa kali dia bahkan menggigit kecil bibirnya ketika gair*hnya kembali menguasai diri.
"Aku harus memberikan servis yang lebih memuaskan dari pada servis wanita tua itu."
"Nona, kita sudah sampai."
"Ah, baiklah. Ambil saja kembaliannya," ujarnya sambil memberikan ongkos taksinya.
Wanita yang baru saja sampai di hotel itu bergegas menuju kamar yang sudah di sebutkan oleh si penelepon tadi. Saat di dalam lift pikirannya masih melayang-layang mengkhayal tentang apa saja yang akan dia lakukan dengan pria yang statusnya adalah kakak iparnya tersebut.
Beberapa kali ada pria yang berpapasan dengannya sampai dengan sengaja pura-pura menabraknya agar dapat menyentuh dua gunung depan belakang itu secara langsung.
"Kalau punya mata gunakan dengan baik! Main tabrak- tabrak orang saja!" maki Grasiella memarahi si pria.
"Maaf, Nona. Tapi anda sangat menggoda sekali," jawab si pria sambil meneguk ai liurnya.
"Jangan mimpi ingin mencicipi tubuhku!" bentaknya emosi, wanita itu mengibaskan tangannya ke bekas pegangan si pria.
Grasiella buru-buru mengayunkan langkahnya kembali hingga berhenti tepat di sebuah kamar bertuliskan nomor dua kosong satu. Seringai tipis muncul di kedua sudut bibirnya saat melihat kamar yang sebentar lagi akan menjadi saksi bisu pergulatannya dengan sang kakak ipar.
Dia membuka kamar yang tidak terkunci itu, ketika masuk dia sedikit merasa bingung karena kamar itu dalam keadaan gelap tanpa penerangan sedikitpun. Namun, gair*h yang sudah sampai di ubun-ubun kepalanya itu membuatnya nekat masuk ke dalam.
__ADS_1
Langkahnya terhenti saat berada di samping ranjang king size. Tiba-tiba dari belakang ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya. Grasiella yang terkejut berniat membalikkan tubuh, akan tetapi terhenti saat mendengar suara seorang pria yang terdengar sangat sensual.
"Jangan menoleh ke belakang, Aku lebih suka melakukannya dari belakang," ujarnya dengan lembut.
"Nendra, aku sudah yakin bahwa kamu juga pasti menginginkan hal yang sama denganku," ucap Grasiella sambil menikmati kecupan lembut di tengkuknya dan tangannya ikut berada di atas tangan seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Aku ingin, tapi aku malu jika kamu tahu tentang seleraku yang menyimp*ng."
"Memang apa yang kamu sukai?" tanya Grasiella penasaran.
"Tapi … apa kamu mau menurutiku?" tanyanya lagi setelah memberikan bekas kecupan di leher jenjang si wanita.
"Tentu saja! Asalkan kamu bisa memuaskan aku," jawabnya tanpa ragu.
"Aku lebih suka melakukannya jika kamu tidak melihatku dan …."
"Dan apa?"
"Tangan kamu aku ikat selama kita melakukannya."
"Ah, hanya itu. Jadi kau lebih suka gaya … yah!" tebak Grasiella dengan cepat.
"Em, dia selalu menolakku hanya karena keinginanku itu," keluh Danendra dengan nada manja.
"Elin itu wanita lemah! Mana mampu dia menerima itu? Kamu salah memilih pasangan, Nendra!"
"Harusnya aku memilihmu, yah? Sayangnya kamu sudah lebih dulu menikahi kumbang girang itu."
"Kita bisa selalu melakukannya diam-diam, Nendra. Aku pasti siap kapan saja ketika kamu menginginkannya," ujarnya sambil mengecup lembut tangan kekar yang memeluknya.
__ADS_1
"Maksudmu, kau bersedia menjadi simpananku?" tanyanya memastikan.