
Rihanna yang semakin ketakutan jika misi kaburnya itu gagal menghadiahi si laki-laki dengan tatapan tajam. "Lo jangan berisik, deh. Cepetan jalan!"
"Lah, ini mobil saya, Nona. Anda berani sekali memerintah saya seenak jidat."
"Gue bakal bayar kalau elu mau tolongin gue sekali ini aja."
Laki-laki itupun menyeringai licik. Dia dengan sengaja membunyikan klakson mobil untuk menarik perhatian ketiga orang yang masih kebingungan di depan mobilnya itu. Benar saja, ketiga orang itu perlahan berjalan mendekat ketika mobil di belakang terus saja membunyikan klakson.
Apa yang dilakukan oleh laki-laki menyebalkan itu tentu saja membuat Rihanna semakin panik. Meskipun selama disekap di mansion mereka tidak menyakitinya, tetapi dia benar-benar sudah tidak kuat selalu hidup dalam aturan-aturan dari mereka.
"Gue mohon, bawa gue pergi dari sini. Sebagai gantinya, gue bakal lakuin apa aja yang Lo mau." Rihanna memohon dengan menangkup kedua tangannya.
Ketika tiga orang itu sudah sampai di samping mobil dan berniat mengetuk kaca jendela mobil, laki-laki itu langsung menginjak pedal gas. Meninggalkan ketiga orang yang masih kebingungan itu dengan rasa heran.
"Itu orang aneh banget," sungut salah satu pengawal.
"Biarin aja. Sekarang kita fokus mencari Nona Rihanna. Kalau sampai Tuan Rocky tahu, kita pasti akan tamat!"
*****
Kini laki-laki asing itu masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar. Rihanna baru berani keluar dari persembunyiannya saat yakin bahwa kondisi sudah aman.
"Lo ngeselin, yah!" sungut Rihanna seraya mendelik tajam.
Laki-laki itu tidak menjawab, hanya mengetuk-ngetuk jemarinya di stir mobil. Mengacuhkan Rihanna yang masih ngedumel ini dan itu.
"Kalau tadi gue ketangkep mereka, Lo yang harus tanggung jawab."
Mobil berhenti mendadak saat sang pengemudi merasa kesal atas ocehan wanita yang duduk di belakang. Rihanna bahkan sampai terbentur sandaran kursi mobil saat kendaraan itu berhenti tanpa aba-aba.
"Gue enggak punya cukup waktu buat ngeladenin cewek gila kaya elo. Turun sekarang! Gue banyak kerjaan." Laki-laki itu menunjuk jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Rihanna terdiam saat laki-laki itu menyuruhnya untuk turun. Keadaannya masih sangat membahayakan jika dia sampai turun dan berkeliaran di jalan tanpa tujuan. Terlebih lagi dia sama sekali tidak membawa dompet atau ponsel.
"Cepetan keluar!" bentak laki-laki itu yang membuat Rihanna sedikit tersentak.
"Gue … enggak punya tujuan sekarang. Orang-orang tadi adalah penculik. Gue enggak mungkin berkeliaran di jalan selama mereka masih nyari gue."
Rihanna terpaksa membeberkan permasalahannya. Dia tidak tahu lagi harus meminta pertolongan dari siapa. Lagi pula ayahnya juga tidak ada kabar sampai sekarang.
Laki-laki itu mendengus kesal. Dengan terpaksa dia kembali melajukan mobilnya. Dia sedang ada acara untuk menghadiri undangan dari kerabat jauh sang ibu. Namun, justru harus direpotkan oleh wanita menyebalkan yang duduk di jok belakang.
__ADS_1
"Gue mau pergi ke suatu tempat. Mumpung lo udah pakai pakaian yang normal, gue rasa nggak masalah kalau bawa lo ke hadapan orang banyak," celetuknya sambil melirik ke belakang.
"Lo bilang pakaian gue kali ini normal. Terus biasanya apakah gue berpakaian abnormal?" tanya Rihanna tidak terima.
"Biasanya Lo kaya badut tahu enggak! Gila aja. Mata gue sampai sakit lihat lo pakai baju sampai aksesoris serba merah semua. Kek lihat kobaran api yang menakutkan."
"Lo bener-bener keterlaluan ya! Ngehina dandanan gue yang terlihat mewah itu." Rihanna memukul kursi yang diduduki oleh laki-laki itu.
Laki-laki itu hanya merespon dengan merotasikan kedua bola matanya jengah. Penampilan norak seperti itu di anggap mewah. Meski dari merek terkenal dan berharga jutaan dolar pun, tidak akan pernah bisa dikatakan mewah jika salah dalam memadu padankan semua itu. Menurut si laki-laki.
"Nama gue Revalino Malik Ibrahim, Lo bisa panggil gue Malik." Laki-laki itu memperkenalkan dirinya dengan lugas.
Rihanna masih bungkam. Tidak menanggapi perkenalan yang dilakukan oleh laki-laki yang menolongnya itu. Pikirannya sekarang masih berfokus pada keadaan sang ayah yang saat ini entah ada dimana.
"Nama lo siapa?" tanya Malik seraya melirik spion di atasnya.
Rihanna masih saja melamun. Tidak mendengar apa yang diucapkan oleh orang yang ada di depan. Kini rasa takut hinggap di hatinya. Dia sudah kehilangan sang ibu yang memilih hidup bersama kakak pertamanya. Jika dia harus kembali kehilangan sang ayah, lalu harus dengan siapa dia menjalani kehidupan ini.
"Elah, malah ngelamun. Woi!" bentak Malik kesal.
Bentakan keras yang dilakukan laki-laki itu menarik paksa kesadaran Rihanna. Perempuan muda itu sedikit tersentak. Dia mengerjapkan kedua matanya berulang kali.
"Apa, sih? Ngapain bentak-bentak gue?"
Rihanna menggeleng pelan, "Emangnya elo bilang apa?" tanya Rihanna tanpa rasa bersalah.
Malik menghela napas berat dan sedikit mengacak rambutnya frustasi. Wanita di belakangnya ini benar-benar menguji kesabarannya.
"Gue bilang, gue mau bawa elo ke acara keluarga gue. Terus nama lo siapa? Enggak lucu kalau disana nanti gue enggak tahu nama cewek yang gue bawa."
"Oh. Buat apa elo bawa gue ke acara keluarga lo? Jangan macam-macam ya. Gue bukan pacar Lo."
"Astaga!"
"Nama gue Rihanna Mikayla Anastasya."
"Oke. Gue panggil lo Kayla aja ya?"
"Terserah mau panggil apa. Yang penting mulai sekarang lo harus bantu gue kabur dari orang-orang tadi."
Malik mengangguk setuju dengan persyaratan dari Rihanna. Dia segera menambah kecepatan laju mobilnya agar lebih cepat sampai di tempat tujuannya.
__ADS_1
Baru saja masuk ke gerbang tempat yang terlihat ramai itu, Rihanna sedikit bingung. Perempuan muda yang masih duduk di belakang itu memperhatikan kondisi sekitar. Tempat itu adalah mansion yang dulu sering kali dia singgahi.
"Lo ngapain bawa gue kesini?"
"Ini mansion kerabat gue. Mereka mengundang para kerabat untuk memperkenalkan anak pertama mereka yang baru lahir. Kenapa? Lo kok kaya gugup gitu?" tanya balik Malik setelah memberhentikan laju mobilnya.
"Eng-gak, gak apa-apa. Gue tunggu di mobil aja, yah!"
"Enggak bisa! Lo udah setuju buat temenin gue. Enggak adil kalau lo tiba-tiba batalin gitu aja. Buat apa gue bawa lo jauh-jauh kesini kalau lo cuma nunggu di mobil."
Laki-laki itu turun dari kemudi lalu berjalan memutari mobil dan membuka pintu mobil bagian belakang dimana Rihanna masih duduk disana. Dia menarik paksa Rihanna untuk ikut keluar dari mobil.
"Iya-iya, gue turun!" pekik Rihanna saat laki-laki itu terus saja menariknya paksa.
Dengan sangat terpaksa Rihanna ikut turun dari mobil. Laki-laki di sampingnya itu tiba-tiba memerintahkan dirinya untuk melakukan sesuatu yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Gandeng lengan gue!"
"Enggak mau." Rihanna menolak dengan tegas.
"Okey kalau elo enggak mau nurut sama gue. Gue enggak akan bantuin elo lagi," ancam si laki-laki.
Lagi-lagi Rihanna terpaksa menurut. Dia melingkarkan tangannya di lengan laki-laki yang baru 2x dia temui tanpa sengaja itu, bahkan nama laki-laki itu pun Rihanna tidak tahu. Wajar jika Rihanna tidak tahu nama laki-laki yang saat ini bergandengan dengannya itu, karena tadi saat laki-laki itu menyebutkan namanya Rihanna sedang melamun.
Rihanna sedikit menundukkan wajahnya saat memasuki mansion besar itu. Dia tidak ingin siapapun mengenalinya.
"Lo ngapain nunduk terus?" tanya laki-laki itu berbisik.
"Enggak apa-apa. Lo jangan banyak komentar! Kalau elo masih mau komentar, gue pergi ya!" ancam Rihanna yang berniat melepaskan eratan tangan mereka berdua.
"Eh, Malik. Lo udah datang," teriak seseorang yang suaranya begitu dikenali oleh Rihanna.
Perempuan muda itu semakin menunduk saat seseorang menghampiri mereka. Dia belum memiliki nyali untuk menunjukkan wajahnya di depan seseorang tersebut.
Malik berjabat tangan dengan seseorang yang menghampirinya. Kedua laki-laki itu memperhatikan Rihanna yang semakin lama semakin menundukkan kepala seperti enggan memperlihatkan wajahnya kepada siapapun.
"Ini siapa, Bro? Pacar lo ya?" tanya seseorang itu yang seketika membuat Rihanna memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Bukan. Ini temen gue, namanya Kayla," jawab Malik memperkenalkan wanita yang ada di sampingnya.
"Kay, jangan nunduk terus. Danendra ini saudaraku, dia tidak mungkin menyakiti kamu, kok!"
__ADS_1
Dengan perlahan-lahan Rihanna mengangkat kepalanya hingga wajahnya dapat terlihat. Danendra sempat terkejut saat melihat Rihanna dengan penampilan yang berbeda dari biasanya. Belum lagi Malik mengenalkannya dengan nama yang berbeda.
"Rihanna," pekik Danendra terkejut.