
Seperti janjinya kepada sang ibu, Malik bergegas pulang ke mansion setelah selesai membereskan barang-barang yang perlu dibawa. Laki-laki itu memutuskan hanya membawa barang-barang milik Rihanna karena barang pribadinya juga masih banyak yang tersimpan di mansion utama.
Malik menarik koper besar yang berisi pakaian sang istri masuk ke mansion. Begitu tiba di tempat itu, Riani sudah menghadang sang putra di ruang tamu.
"Malik, kemarilan! Mami perlu bicara."
"Nanti dulu, Mi. Malik mau taruh koper ini di kamar dulu," jawab Malik seraya terus berjalan.
"Rihanna sedang istirahat. jangan ganggu dia!"
Peringatan keras dari sang ibu akhirnya membuat Malik menghentikan langkah. Laki-laki itu berbalik lalu berjalan menuju sofa ruang tamu, tempat di mana sang ibu duduk dengan sebuah majalah di tangannya.
Malik mendudukkan diri di sofa dan membiarkan koper Rihanna tergeletak di sampingnya. Laki-laki itu memandang sang ibu dengan penuh tanya. Masalah apa lagi yang akan dibicarakan oleh sang ibu kepadanya.
"Mami mau bicara apa?"
"Mami hanya ingin memastikan. Apakah benar dugaan mami bahwa kalian selama ini pisah ranjang?" tanya Riani langsung pada inti permasalahan.
Malik sedikit menunduk malu saat sang ibu mengetahui tentang kondisi rumah tangganya yang memang jauh dari kata harmonis. Meskipun dia pernah menceritakan tentang perasaan mereka kepada sang ibu, tetapi tetap saja Malik merasa sangat aneh ketika sepasang pengantin baru tidur di kamar yang terpisah.
"Jawab, Malik!" seru sang ibu sambil melemparkan majalah di tangannya ke atas meja.
"Iya, Mam. Sejak awal kami memang tidur sendiri-sendiri. Malik tidak mau memaksa Kayla untuk menjalani kewajibannya sebagai istri Malik," ungkap laki-laki itu.
"Itu ketersediaan kamu sendiri atau permintaan dari istrimu?"
"Sebelum pernikahan terjadi, Malik pernah membuat surat perjanjian dengan Kayla, Mam. Di surat itu Malik menuliskan bahwa kami akan tetap menjalani kehidupan kami masing-masing. Tapi, malam pertama itu membuat Malik tidak bisa memegang janji yang sudah Malik berikan untuk Kayla," terang Malik penuh sesal.
Mendengar alasan yang diungkapkan sang putra membuat hati Riani mencelos. Rasa bersalah tiba-tiba hadir. Hanya karena keusilannya, sang putra sampai mengingkari janji. Namun, bukankah suami istri memang sudah sewajarnya melakukan kegiatan itu.
__ADS_1
"Mami minta maaf, Malik. Mami pikir dengan cara itu akan mendekatkan kalian. Mami tidak pernah menyangka jika hubungan kalian semakin buruk setelah kejadian itu," sesal Riani merasa bersalah.
"Sudahlah, Mi. Tidak perlu membahas itu lagi. Sekarang malah Malik ingin berterima kasih pada mami," ujarnya seraya menatap wajah sendu sang ibu.
"Berterima kasih untuk apa, Malik?"
"Jika bukan karena keusilan mami, saat ini pasti belum tumbuh Malik junior di rahim Kayla. Semoga dengan hadirnya malaikat kecil dalam hidup kami, akan menumbuhkan rasa cinta di antara kami," ucap Malik penuh harap.
"Aamiin, mami berharap rumah tangga kalian akan semakin membaik. Tapi, Malik, mami tadi tidak sengaja mendengar keluhan Rihanna di kamar."
Malik mencondongkan tubuhnya untuk semakin mengikis jarak antara dia dan sang ibu. Dia merasa penasaran dengan apa yang dikeluhkan oleh istrinya. Apakah hal yang sama seperti saat dalam mimpi malam itu.
"Kayla mengeluh tentang apa, Mam?"
Riani memasang wajah seriusnya, wanita paruh baya itu ikut mencondongkan tubuhnya persis seperti yang dilakukan oleh Malik. "Samar-samar mami dengar, dia takut jatuh cinta padamu," ungkap Riani dengan nada sangat rendah.
Malik menggerutu kesal saat berjalan menuju kamarnya. Tangan kanannya menarik koper milik sang istri. Bukannya senang, mood Malik justru memburuk setelah mendengar ucapan sang ibu yang dia yakini hanyalah gurauan semata. Tidak mungkin Rihanna mengatakan hal tersebut. Sedangkan hatinya masih terpaut kepada Danendra, seorang laki-laki yang telah beristri.
"Aku tahu, itu hanya akal-akalan mami untuk mengerjai ku saja. Tidak mungkin Kayla takut jatuh cinta padaku. Selama ini dia bahkan tidak pernah melirikku sama sekali," gerutunya sepanjang perjalanan menuju kamar.
Tidak ingin lancang masuk ke kamar yang saat ini ditempati istrinya, Malik pun mengetuk pintu. Tidak lama kemudian pintu itu terbuka. Rihanna berdiri dengan wajahnya yang masih sedikit terlihat pucat.
"Aku mengganggu, ya?"
"Tidak, Malik."
"Ini koper kamu, Kayla. Aku permisi dulu," pamit Malik setelah menyerahkan koper milik sang istri.
Laki-laki gagah yang saat di hadapan istrinya lebih sering menunduk itu mulai mengayunkan langkah untuk segera pergi dari hadapan sang istri. Malik tidak ingin mengganggu istirahat istrinya. Namun, pergelangan tangannya tertahan oleh tangan mulus Rihanna.
__ADS_1
Malik menatap pergelangan tangannya yang ditahan oleh Rihanna sehingga wanita hamil itu reflek ikut menatap ke arah yang sama. Rihanna segera melepaskan tangannya yang sudah lancang memegang suaminya karena mengira laki-laki itu tidak suka ketika dia menyentuhnya.
"Maaf," lirih Rihanna seraya melangkah mundur untuk menjaga jarak dengan Malik.
"Tidak apa-apa. Apa kamu perlu sesuatu?"
"T-tidak. Tapi kamu mau ke mana?"
"Aku ada perlu sebentar. Kamu istirahat saja. Aku tidak akan mengganggu kamu," ujar Malik yang langsung membuat Rihanna murung.
"Baiklah."
Tidak mau Malik mengetahui perasaannya saat ini, Rihanna pun bergegas masuk ke kamar. Wanita hamil itu menyandarkan punggungnya di daun pintu sambil memegang perutnya yang masih rata.
"Maaf, Nak. Sepertinya ayahmu sedang sibuk. Kita coba lain kali, yah!"
Sebenarnya Rihanna tadi ingin menahan Malik karena tiba-tiba merasa ingin agar laki-laki yang berstatus suaminya itu mengelus perut ratanya. Namun, belum sempat dia mengutarakan keinginannya, sang suami sudah lebih dulu menolak. Rihanna sadar, mungkin Malik juga memiliki kegiatan lain di luar sana.
Jika selama ini Rihanna selalu memikirkan Danendra, entah kenapa sekarang justru seperti ingin selalu dekat dengan Malik. Entah itu terjadi karena hormon kehamilannya atau memang janin dalam rahimnya memang ingin perhatian lebih dari si penabur benih.
Sementara itu, Malik ternyata belum pergi. Dia masih setia berdiri di depa pintu kamar. Laki-laki itu menatap nanar pintu kamarnya yang kini mungkin tidak akan pernah lagi menjadi miliknya karena sudah diambil alih oleh Rihanna.
"Kayla, sampai kapan hubungan kita akan sedingin ini?" gumam Malik tanpa sadar meneteskan air mata dari sebelah sudut mata elangnya.
Apa yang terjadi pada Malik dan Rihanna hanya bermotif kurangnya komunikasi yang baik antara pasangan. Mereka sama-sama mementingkan perasaan dan egonya masing-masing. Jika saja mereka mau sedikit membuka diri, mungkin rasa cinta tidak akan sulit tumbuh di hati sang wanita.
Terlebih saat ini hati Rihanna sebenarnya sedang kosong. Hanya ada kegundahan yang di akibatkan oleh penolakan Danendra yang terjadi berulang kali. Belum lagi permasalahan sang ayah yang sampai saat ini belum menemukan titik terang. Rihanna mengira sang ayah mungkin sudah tiada di tangan musuh. Sementara itu, hubungannya dengan sang ibu juga tidak kunjung membaik. Rihanna merasa sang ibu lebih memilih dan lebih menyayangi Adeline yang baru ditemukan setelah berpuluh-puluh tahun terpisah.
"Jika saja kamu adalah dia, Kayla. Mungkin kamu akan lebih mudah membuka hatimu untukku," gumamnya seraya merogoh sesuatu di saku celana.
__ADS_1