
"Kurang ajar!" maki Danendra dengan nada tinggi.
Beruntung sebelum boom tadi meledak, Danendra dan anak buahnya sempat melompat dari mobil. Jika saja tadi mereka tidak sigap, mungkin saat ini tubuh mereka sudah hancur lebur. Namun, meski berhasil kabur, nyatanya mereka juga tetap mendapat beberapa luka serius.
Tempat parkir itu seketika ramai oleh orang-orang yang langsung sigap berusaha menolong para korban. Tidak terkecuali para pengawal Danendra yang juga langsung menghampiri sang tuan muda.
"Tuan muda, bagaimana keadaan anda?" tanya salah satu pengawal.
"Kau masih bertanya? Kau tidak lihat aku dan Kinan terluka?" tanya balik Danendra dengan nada tidak bersahabat.
"Maaf, Tuan." Si pengawal menundukkan kepala saat merasa pertanyaannya sudah membuat sang tuan muda semakin emosi.
"Bagaimana bisa di mobilku ada boom? Bukankah kalian berpatroli di sini?"
"Maaf, Tuan. Tadi ada insiden kecelakaan di jalan depan sana. Kami ikut menolong korban dan lupa jika kami sedang bertugas," ujar si pengawal.
"Hih! Lain kali, jangan tinggalkan tugas kalian masing-masing. Beruntung aku masih bisa menyelamatkan diri. Jika tidak, aku pasti sudah hancur lebur di mobil itu."
"Baik, Tuan. Sekali lagi kami minta maaf."
Akhirnya, Danendra harus menerima perawatan lebih dulu sebelum pulang. Dia mendapat luka di tangan serta kepalanya.
Adeline terlihat semakin tertekan setelah menyaksikan sendiri bagaimana mobil yang biasa ditumpangi olehnya dan sang suami meledak. Beberapa korban juga mendapat luka yang cukup parah. Dia membayangkan jika tadi dia yang berada di dalam mobil itu. Akan menjadi apakah saat ini dirinya.
Danendra memperhatikan sang istri yang hanya diam saja. Laki-laki itu sangat peka bahwa saat ini istrinya itu sedang ketakutan. Lagi-lagi dia menyalahkan diri sendiri karena kelalaian anak buahnya dalam menjalankan tugas.
"Sayang," panggil Danendra.
Adeline yang berdiri bersama sang adik tidak jauh dari brankar yang diduduki oleh Danendra hanya bisa menatap sendu sang suami. Dia merasa ketakutan hingga enggan melepaskan diri dari dekapan sang adik.
"Enggak apa-apa, Kak. Ayo aku antar ke sana!" ajak Rihanna.
Rihanna memimpin langkah sehingga sang kakak pun ikut berjalan. Mereka menghampiri Danendra yang baru selesai di perban di bagian kepala.
"Sini, Sayang." Danendra mengulurkan tangannya yang langsung digapai oleh Adeline.
Meski dia yang terluka, tetapi Danendra tetap berusaha menenangkan istrinya. Bagi seorang Danendra, luka seperti ini tidak akan berpengaruh terhadap dirinya. Namun, mungkin sedikit menyentil mental sang istri.
__ADS_1
Pria itu mendekap tubuh sang istri dengan hati-hati agar tidak mengenai bekas luka tusuk di punggung istrinya. Sebelah tangannya yang lain dia gunakan untuk mencubit pelan pipi Adeline.
"Tidak apa-apa, Sayang. Semua akan baik-baik saja," ucapnya.
Adeline tidak melepas pandangan dari perban di kepala sang suami, "Musuh kamu sudah keterlaluan, Ndra. Mereka mau membunuh kita," kata Adeline, nada bicaranya masih terdengar ketakutan.
Kekehan kecil terdengar dari bibir Danendra. Dia menertawakan ucapan istrinya barusan, "Memang itu niat mereka, Sayang. Mereka ingin membunuh kita," balas Danendra.
"Mereka pengecut sekali, Ndra. Menurutku jika mereka dendam pada Om Ale, kenapa mereka tidak menemui Om Ale saja? Kenapa harus diam-diam meneror kalian dengan banyak bahaya?" Malik ikut bersuara.
"Memang beginilah cara kerja mereka, Malik. Tidak perlu heran," timpal Danendra.
"Ya tapi mereka keterlaluan, Ndra. Mereka bahkan tidak berpikir panjang bahwa apa yang mereka lakukan bisa melukai orang lain juga. Buktinya dari kejadian ini banyak memakan korban juga, 'kan?"
"Hubby, sudah jangan dibahas lagi. Yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya membawa Kak Elin pulang?"
"Bawa istriku bersama kalian. Biar aku yang mengecoh mereka," pinta Danendra.
"Terus kamu gimana?" tanya Adeline yang langsung memasang ekspresi khawatir.
"Jangan cemaskan aku. Sekarang kamu pulang bersama mereka ke mansion Om Rocky dulu. Nanti aku akan menyusul," jawab Danendra.
"Sayang, plis jangan membuat aku bingung. Tujuan utamaku sekarang adalah melindungi kamu. Kalau kamu terus bersamaku, mereka pasti akan mengincar kamu terus-terusan."
Adeline tetap menggeleng. Meski takut dengan apa yang mungkin akan terjadi, tetapi Adeline juga takut kehilangan sang suami. Dia takut jika Danendra kembali mengalami kejadian seperti tadi.
"Kak, ingat ada Devan yang menunggu kakak. Kalau kakak keras kepala seperti ini, kasihan Devan, Kak!" tegur Rihanna, dia berusaha membujuk sang kakak untuk pulang bersamanya.
Danendra dan Adeline saling pandang dengan waktu yang cukup lama. Adeline bingung harus mengambil keputusan apa? Sedangkan Danendra, dia sangat paham dengan perasaan istrinya. Laki-laki itu mengangguk pelan, sedang Adeline kembali menggeleng.
"Ayolah, Devan sudah menunggu kamu," bujuk Danendra.
Berbagai cara dilakukan oleh Danendra dan Rihanna untuk membujuk Adeline. Setelah cukup lama tidak membuahkan hasil, Rihanna akhirnya terpikir sesuatu yang mungkin akan membuat sang kakak setuju untuk pulang bersamanya.
Dia mengambil ponselnya, lalu melakukan panggilan Vidio dengan Nabila. Saat itu, kebetulan Nabila sedang mengurus Devan yang terus menangis histeris. Benar saja, suara tangisan sang putra mampu menyita perhatian Adeline. Wanita itu langsung merebut ponsel dari tangan adiknya.
"Ma, Devan kenapa?" tanya Adeline khawatir.
__ADS_1
"Enggak tahu, Sayang. Dia nangis terus. Mungkin dia merindukan kamu," ujar Nabila, kebetulan tadi Rihanna sudah mengirimkan pesan chat lebih dulu agar sang ibu ikut membujuk Adeline.
"Sayang tunggu, yah! Bunda sebentar lagi pulang," kata Adeline, dia akhirnya luluh setelah mendengar tangisan Devandra.
*****
Danendra masuk ke dalam mobil milik sang asisten. Gerry akhirnya datang menjemput setelah mendapat kabar tentang boom yang meledak di mobil sang tuan muda. Beberapa pengawal juga siap siaga mengikuti mobil yang dikendarai oleh orang nomor dua yang ucapannya sangat berpengaruh di klan ALF.
"Tuan, jadi nyonya muda disembunyikan ke mansion Tuan Rocky?" tanya Gerry, dia sedikit melirik sang tuan muda melalui spion mobil.
"Aku terpaksa menyembunyikan dia untuk sekarang ini, Ger. Situasi kali ini sangat berbahaya untuk Adel dan Devan. Mereka kehidupanku, aku tidak tahu lagi bagaimana aku menjalani kehidupan jika ada sesuatu yang terjadi pada mereka."
"Semoga mereka tidak akan mengorek informasi sedalam itu sampai menemukan Nyonya dan tuan kecil, Tuan."
"Ya, semoga saja."
Ditengah perjalanan pulang ke mansion, tiba-tiba ada mobil yang melintang ditengah jalan. Gerry terpaksa menghentikan laju mobilnya.
"Tuan, kita harus waspada. Kemungkinan ini adalah jebakan mereka," kata Gerry, dia mengeluarkan pistol miliknya dan mengaturnya hingga dalam keadaan siap tembak.
Begitu juga dengan Danendra, dia juga mengatur senjata apinya agar siap digunakan. Namun, mereka masih tetap berada di dalam mobil.
Salah satu pengawal yang juga ikut berhenti di belakang mobil Gerry pun turun dan menghampiri sang sekretaris tuan mudanya. Gerry menurunkan kaca jendela mobil ketika salah satu pengawal mengetuknya.
"Kalian pastikan mobil itu bukan mobil musuh kita. Tapi tetap waspada! Aku merasa mobil itu memang sengaja ditaruh di sana untuk menjebak kita." Gerry memerintahkan bawahannya untuk memastikan keadaan.
"Siap, laksanakan, Tuan."
Empat orang pengawal berjalan cepat menuju mobil yang melintang ditengah jalan itu. Mereka memasang sikap waspada. Masing-masing dari mereka memegang senjata yang siap digunakan untuk melumpuhkan lawan.
Tempat itu sepi, seperti tidak ada satupun orang di sana. Namun, saat salah satu pengawal Danendra mengetuk kaca jendela mobil itu, tiba-tiba terdengar suara tembakan. Pengawal yang mengetuk kaca jendela itu terjatuh ke aspal ketika kepalanya sudah tertembak.
Ketiga pengawal yang lain pun langsung bersembunyi di belakang mobil itu. Sesekali mereka membidikkan senjatanya ke arah dalam mobil, lalu menekan pelatuknya.
Lima orang keluar dari balik pohon yang tumbuh di pinggiran jalan. Mereka juga menembaki para pengawal Danendra dengan bengis. Baku tembak antara kedua klan pun tidak terelakkan.
"Mereka benar-benar mengincarku, Gerr. Kita keluar sekarang!" seru Danendra, dia membuka pintu mobil, tetapi Gerry dengan sigap menahannya.
__ADS_1
"Biar saya yang atasi dulu, Tuan. Anda tetap di dalam!" Gerry dengan tegas memerintahkan sang tuan muda untuk tetap berlindung di dalam mobil.
"Kau berani memerintahku, Gerr?" tanyanya dengan tatapan tajam. "Mereka itu mengincarku, jika mereka belum mendapatkan aku, mereka tidak akan pernah berhenti." Danendra tetap keras kepala, dia keluar dari mobilnya dan langsung ikut bergabung bersama para pengawal.