
"Sabar, Bro! Gue ke sini juga buat bantuin lo pecahin masalah rumah tangga yang rumit ini," ucap Danendra santai.
"Gaya sok jadi dewa amore! Aku juga tahu bagaimana rumah tanggamu dulu, Nendra."
"Tapi gue berhasil bikin dia jatuh cinta sama gue," timpalnya dengan mimik wajah menyebalkan.
"Songong banget jadi orang!" maki Malik kesal.
"Gue denger lo pura-pura kecelakaan cuma buat dapetin simpatik dari Rihanna? Cemen banget! Dengan cara begitu lo justru terlihat seperti seorang pecundang."
Malik bungkam dengan segala makian Danendra atas dirinya. Semua yang dikatakan oleh saudaranya itu memang benar. Dia adalah pecundang yang tidak berani berterus terang dan meyakinkan sang istri atas perasaan sebenarnya.
"Lebih baik sekarang lo fokus sembuhin dulu kaki lo itu! Nanti gue bantu atur waktu dan cara buat bikin Rihanna jatuh cinta sama lo."
Setelah mengatakan itu, Danendra beranjak dari posisi santainya lalu melenggang pergi meninggalkan Malik yang hanya menatap kepergiannya. Melihat Danendra, Malik semakin merasa rendah diri dan tidak pantas jika harus berusaha mati-matian mengejar cinta Rihanna yang sudah terpaut pada Danendra sejak dulu.
Sementara itu, di mansion Alefosio sedang terjadi keramaian. Setiap orang sedang bergantian menggendong bayi sultan bernama Devandra. Mereka tertawa senang saat melihat respon bayi itu ketika mereka menghujani wajah tampannya dengan kecupan.
Rihanna yang duduk bersebelahan dengan Adeline sesekali melirik sang kakak yang sedang tersenyum bahagia. Wanita hamil itu merasa sang kakak sangatlah beruntung.
Meskipun kakaknya itu dulu hidup dalam ketidakadilan, nyatanya bisa sukses berkat kerja kerasnya sendiri. Sekarang pun Adeline mendapatkan kasih sayang begitu luar biasa dari seluruh keluarganya.
"Kak," panggil Rihanna lirih.
Adeline menoleh, masih dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya itu. Walaupun belum terbiasa dengan panggilan kakak dari Rihanna, akan tetapi Adeline mencoba untuk membiasakan diri.
"Kenapa, Ana?"
"Apakah kakak bahagia?"
__ADS_1
"Tanpa bertanya pun kamu pasti dapat merasakan bagaimana perasaanku saat ini, Ana. Aku bersyukur memiliki mereka," jawab Adeline seraya mengalihkan pandangan pada seluruh keluarganya.
"Ya, aku dapat merasakan aura kebahagiaan yang terpancar dari diri Kak Elin. Tapi maaf, bukankah dulu kakak tidak mencintai Kak Nendra?"
Takut salah ucap, Rihanna menundukkan kepalanya. Adeline reflek menoleh lalu tersenyum kecil. Tidak ada perasaan aneh sama sekali saat wanita yang pernah hampir merebut suaminya menanyakan hal tersebut.
"Cinta, kamu tahu arti cinta yang sebenarnya?" tanya Adeline yang langsung membuat Rihanna menggeleng.
Adeline mengulurkan tangannya menyentuh punggung tangan Rihanna. Menyalurkan kenyamanan agar adiknya itu tidak terus-menerus menunduk seperti itu.
"Menurut kakak, Cinta itu menerima dengan iklas lalu berusaha membalasnya dengan tulus. Cinta itu saling melengkapi. Artinya, kita akan dapat merasakan cinta itu jika kita bisa menerimanya dengan baik. Jangan menolak cinta yang diberikan oleh orang-orang yang tulus! Karena saat orang itu pergi, kita akan menyesalinya, Ana." Adeline melongok wajah sang adik yang masih setia tertunduk.
"Pernahkah kamu mencoba menerima rasa cinta yang diberikan oleh suami kamu, Ana? Jika tidak, cobalah mulai sekarang untuk membuka hati. Terima dia dengan segala keunikannya yang hanya dia tunjukkan padamu. Kakak sudah mendengar cerita yang sesungguhnya dari mama," lanjut Adeline menasehati.
"Kakak tahu?" tanyanya malu-malu.
"Danendra pun juga seperti itu, Ana. Dia berhasil merebut hatiku karena keunikan yang dia tunjukkan padaku. Setiap tingkah konyolnya selalu membuatku mengingatnya setiap detik. Hingga tanpa sadar, aku telah jatuh cinta pada berondong jagungku itu," ungkap Adeline tanpa sadar.
"Berondong jagung?" tanya Rihanna yang kini mulai mengangkat wajahnya.
"Ah, aku keceplosan." Adeline menepuk keningnya disertai tawa lembut.
"Kakak memanggilnya dengan sebutan berondong jagung?" tanya Rihanna lagi, wanita hamil itu semakin penasaran.
Adeline mengangguk malu-malu karena rahasianya terbongkar. Sejak awal pertemuan memang banyak sekali keanehan antara dirinya dan Danendra. Mereka sama-sama memiliki panggilan unik satu sama lain.
"Ah, lucu sekali. Pasti itu keluar karena usia Kak Nendra yang jauh lebih muda dari kakak, yah?"
"Iya. Dan kami tahu, dia memanggilku dengan sebutan semangka matang. Unik sekali hubungan kami saat itu, Ana. Tidak ada cinta sama sekali. Lebih seperti kucing dan tikus yang tidak pernah akur," ungkapnya seraya berkali-kali menggelengkan kepala.
__ADS_1
Mengingat kisah lama itu, benar-benar mengocok perut. Mereka sama-sama keras kepala hingga berkali-kali bertengkar hanya karena masalah sepele. Namun, di usianya yang masih muda, Danendra selalu bisa mengalah demi keutuhan rumah tangganya.
Kedua alis Rihanna bertaut hingga membentuk busur panah. "Kenapa memangil kakak dengan sebutan semangka matang? Ah, aku tahu. Pasti karena body kakak yang demplon itu, 'kan?"
"Dan matang karena kakak lebih tua darinya," sela Adeline tertawa geli.
Rihanna ikut tertawa ketika melihat kakaknya itu tertawa bahagia. Entah kenapa setelah sadar bahwa wanita di sampingnya itu bukanlah musuhnya, Rihanna justru merasa nyaman dengan saling berbicara dan bersenda gurau.
Adeline yang dia kira sosok orang yang pedas dalam berbicara, nyatanya asik dan pandai mencairkan suasana. Rasa canggung yang sejak awal dirasakan oleh Rihanna pun entah kini hilang ke mana.
"Kak Elin memang lucu sekali. Masih ingat tidak? Kakak kan dulu memanggilku dengan sebutan ulat bulu," protes Rihanna mencebikkan bibirnya.
"Ulat bulu warnanya merah," timpal Adeline saat mengingat kembali masa-masa itu.
Tawa keduanya semakin lama semakin keras. Para orang tua yang semula sedang sibuk dengan Devandra sampai penasaran dengan apa yang terjadi antara Rihanna dan Adeline.
"Kalian ini menertawakan apa?" tanya Silvia penasaran.
"Ti-dak, Ma. Hanya sedang membahas goyangan yang sedang viral di medsos saja," elak Adeline.
Dia tidak mungkin membeberkan semua kelucuan yang terjadi di masa lalu. Bisa tengsin jika mertua serta orang tuanya sampai tahu semua yang terjadi antara mereka dan panggilan-panggilan unik yang mereka sematkan satu sama lain.
"Oh, ya sudah. Tapi jangan terlalu asik tertawa. Tidak baik untuk kandungan Rihanna," tegur Silvia kembali fokus pada Devandra.
Seketika tawa itu terhenti. Mereka masih saling pandang dengan tangan yang membekap mulut masing-masing. Wajah keduanya sudah memerah karena terlalu lama tertawa.
"Kak, maaf, aku pernah memanggilmu dengan sebutan perawan tua," sesal Rihanna setelah mereka dapat mengendalikan diri dari komedi dadakan saat itu.
"Tidak apa-apa, Ana. Kita lupakan semua yang sudah berlalu. Mari rajut lagi masa depan yang baru! Kakak berharap kamu bisa menyadari betapa suami kamu sangat mencintaimu, Ana. Lagi pun apakah kamu tidak ingin merawat anakmu bersama dengan ayah kandungnya?"
__ADS_1