Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Terlalu Polos


__ADS_3

Beberapa hari setelah mendapat perawatan dan keadaannya sudah mulai membaik. Akhirnya hari ini Rihanna sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Wajah pucat Rihanna sudah berganti dengan keceriaan karena wanita itu juga sudah merasa bosan berada di rumah sakit. 


Keluarga inti pun menjemput Rihanna di rumah sakit. Tidak ketinggalan, Adeline menjadi orang pertama yang sangat antusias saat mengetahui adiknya itu sudah boleh pulang. 


"Ana, kamu mau pulang ke mana?" tanya Adeline menggoda sang adik. 


Adeline tentu sudah tahu bahwa adiknya itu akan pulang bersama suaminya. Wanita dewasa itu sengaja bertanya untuk melihat ekspresi malu-malu Rihanna. 


"Elin, jangan menggoda adikmu!" tegur Nabila yang paham bahwa putri sulungnya itu sedang mengejek sang adik. 


"Iya-iya, Ma." 


Orang-orang yang berada di ruangan itu tertawa saat Adeline mencebikkan bibirnya. Acara mengerjai sang adik gagal total akibat teguran sang ibu. 


"Malik, kamu sudah menyelesaikan administrasinya, 'kan?" tanya Riani setelah selesai merapikan barang-barang bawaannya. 


"Sudah, Mam. Obat-obatan Kayla juga sudah aku tebus. Sekarang tinggal pulang aja," jelas Malik yang langsung diangguki oleh sang ibu. 


Mereka akhirnya pulang ke mansion Ibrahim dengan dua mobil yang ditumpangi oleh keluarga dan dua mobil lainnya berisi para pengawal yang mengapit kedua mobil berisi orang-orang penting itu. 

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Adeline dan Rihanna tidak henti-hentinya mengobrol. Mereka semakin dekat dan terlihat kompak. Jika orang asing yang melihatnya mungkin tidak akan percaya bahwa keduanya pernah saling tidak akur. 


"Setelah ini jangan anggurin laki-laki sebaik Malik, Ana. Nanti kamu nyesel kalau dia kepincut wanita lain," bisik Adeline sangat lirih. 


"Anggurin gimana, Kak?" tanya Rihanna bingung. 


"Ya jangan buat dia merasa kesepian. Layani dia dengan baik dan lembut," jawabnya ambigu. 


"Aku makin enggak paham, Kak!" rengek Rihanna kesal. 


Adeline menepuk kening adiknya gemas, "Kamu ini memang polos atau pura-pura polos, sih!" 


"Ish! Repot ngomong sama anak kecil." Adeline memutuskan untuk diam karena tidak berhasil menggoda Rihanna. 


"Kakak aja yang terlalu tua," timpal Rihanna mengejek.


"Kamu!" pekik Adeline semakin kesal. 


Danendra dan Malik yang duduk di depan hanya melirik istri mereka masing-masing. Meski tidak mengetahui apa yang sedang dibicarakan kedua wanita di belakang sana, mereka merasa lega karena melihat kedekatan antara kakak beradik itu. 

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan panjang mereka akhirnya sampai di mansion Ibrahim. Danendra dengan sigap membantu Malik untuk turun dari mobil. Sedangkan Rihanna dan Adeline sudah turun lebih dulu. 


"Kakak bawa apaan?" tanya Rihanna penasaran dengan paper bag yang sejak tadi dipegang oleh Adeline. 


"Ini rahasia keharmonisan rumah tanggaku," jawab Adeline yang semakin membuat Rihanna penasaran. 


"Isinya apa, Kak?" 


"Nanti aku kasih lihat." 


Kedua wanita itu berjalan bergandengan menuju sebuah kamar. Kamar yang digunakan Rihanna bersama Malik, suaminya. 


"Wah, kamarmu mewah juga. Sayangnya suasana terasa dingin,” ujar Adeline saat masuk ke dalam kamar adiknya. 


"Ya dinginlah, Kak. ACnya belum dimatikan!" Rihanna hendak mengambil remote AC, tetapi dihalangi oleh Adeline. 


"Bukan itu maksudku. Kau ini menyebalkan sekali! Padahal dulu aku memanggilmu dengan ulat bulu. Aku kira kau centil dan gatal seperti binatang itu. Tapi nyatanya tidak seperti yang terlihat. Kau terlalu polos, Ana!" cibir Adeline menggeleng tidak percaya. 


"Apa, sih, Kak. Ulat bulu terus yang dibahas!" pekik Rihanna kesal. 

__ADS_1


__ADS_2