Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Akhirnya gol


__ADS_3

Si berondong jagung itu benar-benar membawa Adeline ke dalam kamar. Meskipun Adeline sempat berusaha untuk mengundur tuntutan suaminya itu, akan tetapi titah sang ibu mertua tidak mungkin dia tolak. Dia juga tidak ingin mengecewakan mertua yang sudah berusaha menerima kehadirannya sebagai seorang istri sah putra tunggalnya. 


"Nendra, memangnya tidak bisa di undur nanti malam saja," ujar Adeline masih saja berusaha membuat penawaran. 


Danendra menggeleng cepat. "Mau kamu undur sampai kapan lagi, Sayang? Bukankah aku sudah terlalu lama menunggu? Seminggu sudah kamu fokus dengan tamu tidak tahu diri itu." 


"Tapi aku … belum siap," ucap Adeline sedikit menundukkan kepala. 


Sang suami berjalan mendekat lalu mengangkat pandangan sang istri agar menatap wajahnya. "Apa aku masih kalah tampan dari marmer itu?" tanyanya cemburu karena istrinya lebih sering memandang lantai dari pada wajahnya. 


Kedua pasang mata itu saling tatap begitu dalam. "Kamu tampan, Nendra. Kamu seharusnya mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku," lirih Adeline yang entah kenapa sekarang malah merasa insecure. 


Danendra sama sekali tidak menanggapi ucapan sang istri yang melantur itu. Pria berwajah tampan dengan sedikit bulu-bulu halus di sekitar dagunya itu tanpa aba-aba langsung menyerang bibir Adeline. 


Pria yang masih menggunakan pakaian kantornya itu melakukan kegiatan yang sepertinya sudah menjadi candu baginya. Menikmati daging kenyal berwarna merah muda itu hingga puas, bahkan sang pemilik sampai kesusahan bernapas. 


"Itu sebagai hukuman karena kamu sudah berani membandingkan diri kamu dengan wanita lain," ujarnya setelah tautan bibir itu terlepas. 


Danendra kini membiarkan sang istri menghirup udara sebanyak-banyaknya. Padahal hal ini sudah sering kali di lakukan oleh Danendra, akan tetapi tampaknya Adeline belum juga bisa mengontrol pernapasannya ketika mendapat serangan mendadak dari sang suami. 


"Kita mulai, yah?" tanya Danendra meminta persetujuan ketika melihat napas Adeline sudah normal kembali. 


"Tapi aku … belum pernah," ujar Adeline yang sedikit merasa takut. 


Mendengar pengakuan Adeline, Danendra tersenyum lebar. "Itulah istimewanya kamu, meskipun kamu memiliki bisnis yang kebanyakan orang memandangmu buruk, kamu masih tetap bisa menjaga kesucian kamu, Sayang." 


"Aku … takut, Nendra!" seru Adeline yang semakin gugup. 

__ADS_1


"Aku bahkan belum melakukan apapun, Sayang. Tenanglah! Jangan tegang, kalau kamu tegang pasti akan terasa lebih sakit. Enjoy saja," ujar Danendra berusaha menenangkan sang istri yang memang sangat terlihat tertekan. 


"Tapi, aku baca di situs online jika pertama kali pasti akan sakit," ujar Adeline masih saja belum bisa mengendalikan diri. 


"Kalau sakit, berarti kurang berhati-hati. Aku pasti akan melakukannya dengan perlahan, Sayang." Sorot mata Danenra terlihat sangat meyakinkan. "Kita mulai, yah?"


Akhirnya Adeline mengangguk meski masih ada keraguan di hati kecilnya jika kegiatan itu benar-benar tidak akan menyakitinya. Namun, bayangan ekspresi penuh harap sang mertua yang begitu mengharapkan kehadiran cucu membuat Adeline memberanikan diri. 


Binar bahagia menghiasi wajah tampan Danendra ketika mendapatkan persetujuan dari istrinya. Pria itu mengubah posisinya menjadi berada di belakang tubuh sang istri. Tangan kekarnya melingkar di pinggang sang istri, sementara wajahnya sedikit bersandar di ceruk leher istrinya. Memberikan kecupan-kecupan kecil disana sambil menuntun sang istri untuk sedikit menggerakkan tubuhnya.


Saat ini posisi mereka seperti sedang berdansa dengan sang pria yang memeluk wanitanya dari belakang. Danendra benar-benar mengusahakan kenyamanan dan rasa tenang sang istri lebih dulu. Merasa nyaman dengan pelukan itu, tangan Adeline akhirnya ikut melingkar di atas tangan sang suami. Mereka menggerakkan tubuhnya seperti sedang menikmati alunan musik romantis. 


"Aku mencintai kamu, Adel," bisik Danendra di samping telinga sang istri. 


"Aku tahu," jawab Adeline singkat. 


"Lagi, Sayang. Kamu terlihat semakin seksi," bisik Danendra sambil meniup telinga Adeline agar istrinya itu juga ikut merasakan rangs*ngannya. 


Merasa cukup bermain di area leher serta tengkuk sang istri, Danendra kini kembali beralih pada daging kenyal berwarna merah muda istrinya itu. Dia mencium, ******* bahkan juga meny*sapnya dengan g*irah yang memuncak. Kedua tangan Adeline melingkar di leher sang suami seraya menikmati segala yang di lakukan oleh suaminya itu. 


Kesal karena terlalu lama berdiri tanpa tumpuan, Danendra menggiring sang istri untuk bersandar pada dinding. Pria itu semakin memberikan sentuhan-sentuhan lembut yang begitu memabukkan untuk membuat sang istri lupa akan ketakutannya pada rasa sakit hubungan int*m. 


Tangan Danendra kini berpindah pada paha mulus istrinya dan sedikit mengangkat sebelah paha itu untuk dia lingkarkan ke pinggangnya. Pria itu memberikan sentuhan di area sensitif Adeline hingga si wanita merasakan sensasi yang berbeda, Adeline mengg*linjang hebat akibat sentuhan Danendra yang semakin berani. 


"Terus, Sayang!" Danendra semakin bersemangat saat Adeline lagi-lagi mengeluarkan suara anehnya. 


Danendra merasa pemanasannya kali ini sudah berhasil membuat sang istri lupa akan ketakutannya yang terlalu berlebihan itu. Dia menurunkan sebelah paha istrinya yang semula melingkar di pinggangnya, lalu menggendong Adeline menuju ranjang king size yang akan menjadi saksi sejarah menjebol semangka matang miliknya itu. 

__ADS_1


"Sellow, Sayang. Rasakan dan nikmati! Jangan memikirkan beban apapun agar terasa relax." Danendra merebahkan tubuh Adeline di ranjang. 


Pria itu kini berjongkok dan melepaskan high heels yang sejak tadi dikenakan oleh istrinya satu persatu. Setelah sepasang sepatu cantik yang melingkar di kaki mulus sang istri terlepas, Danendra mencium kaki mulus itu, perlahan-lahan naik ke atas hingga sampai di perut sang istri. 


"Nendra, kamu janji tidak akan sakit, 'kan?" tanya Adeline yang ternyata masih sedikit merasa ragu. 


"Tentu saja," jawab Danendra singkat disertai senyuman dan kecupan kecil yang melayang ke keningnya. 


Pria itu tanpa basa-basi melepaskan segala sesuatu yang menghalangi kegiatan menyenangkan sepasang pengantin baru itu. Selesai melepaskan milik istrinya, Danendra lalu menuntun tangan Adeline agar melakukan hal yang sama kepadanya. Meski dengan wajah yang merah merona karena menahan malu, Adeline tetap melakukan hal itu. 


Kini mereka sudah sama-sama polos. Meski sudah melakukan pemanasan, nyatanya Danendra tidak langsung memasuki bagian inti. Dia kembali memberikan rangs*ngan agar Adeline benar-benar tidak merasakan ketakutan apapun lagi. 


Mereka menikmati momen manis pernikahan mereka saat sore hari. Tidak ada malam pertama karena mereka benar-benar melakukan hal itu pada siang hingga sore menjelang mereka baru selesai melakukan kegiatan itu. 


Danendra ambruk di samping sang istri setelah mendapatkan pelepasan untuk yang ketiga kalinya. Pria itu cukup kualahan karena ternyata Adeline tahan lama, bahkan hingga dia mendapatkan pelepasan untuk yang ketiga, Adeline baru selesai pelepasan yang pertama kalinya. 


"Kamu hebat sekali, sayang! Setelah ini aku mau kamu yang memimpin," ujar Danendra dengan napas yang terengah-engah. 


Adeline tersenyum tipis lalu tangannya membelai lembut kening hingga puncak kepala sang suami yang sudah di penuhi keringat. 


"Kamu perk*sa sekali, berondong jagungku," puji Adeline dalam hati. 


"Jangan elus yang bawah dulu, Sayang. Aku masih perlu mengumpulkan banyak tenaga lagi," ucap Danendra dengan mata terpejam. 


"Terima kasih karena sudah melakukannya dengan sangat perlahan, Nendra." 


Adeline tersenyum kecut saat melihat ada bercak noda da*ah di seprei. "Aku tidak menyangka jika kesucian ku akan di dapatkan oleh seorang pria yang usianya jauh lebih muda dariku. Semoga kamu segera tumbuh di sini, Sayang." Adeline mengelus perutnya yang masih rata, berharap bahwa kerjasamanya dengan Danendra kali ini langsung membuahkan hasil yang baik. 

__ADS_1


__ADS_2