
Terbongkarnya rahasia itu bukannya membuat Rocky berniat ingin mencelakai Adeline, putri rahasia sang istri. Dia justru mendatangi satu-satunya mertua yang dia miliki. Pria berusia 65 tahun itu berjalan dengan langkah tegas memasuki sebuah kamar yang terletak di lantai dua gedung tersebut.
Rahangnya masih mengeras sempurna dengan gigi yang bergemelatuk karena menahan emosinya agar tidak meledak di depan sang putri. Ayah kandung Rihanna itu membuka pintu kamar sang ayah mertua. Berjalan dengan angkuh menuju pria yang kini hanya terbaring lemah di ranjang besarnya.
"Hallo, Pa. Sudah lama ya kita tidak bertemu," sapa Rocky dengan wajah sinis.
Ekspresi pria yang terbaring lemah di ranjang itu seketika menegang saat melihat kedatangan sang menantu. Ayah kandung Nabila itu sedikit merasa ketakutan dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh menantunya. Terlebih lagi, selama ini menantunya itu jarang sekali datang ke rumah. Jangankan untuk mengunjunginya, bahkan untuk hal penting pun dia selalu mengutus anak buah dari pada datang sendiri menginjakkan kaki di rumahnya.
"Ka-mu mau apa ke-mari?" tanya sang mertua gugup.
"Kenapa? Memangnya tidak boleh jika aku mengunjungi mertuaku sendiri?" tanya balik Rocky dengan seringai tipis.
"Kamu mau apa kemari?" Lagi-lagi pertanyaan itu yang di ucapkan oleh pria tua yang terbaring lemah tersebut.
"Papa, jangan terlalu kaku. Bukankah aku menantu kesayanganmu?"
"A-ku tidak melakukan apa pun, Rocky! Jangan sakiti aku," mohonnya seraya mencengkram erat selimut ketika melihat sang menantu mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya.
"Memangnya aku melakukan apa, Papa?" tanyanya seraya membuka pisau lipat miliknya.
Rocky dengan sengaja menempelkan benda itu di pipinya, mengusap-usap lembut hingga memutar wajahnya yang masih terlihat tampan meski sudah berumur.
"Mau kamu apakan pisau itu, Rocky?" tanya Arnold ketakutan.
Rocky kembali memainkan pisau itu di depan matanya. Dia dengan sengaja memutar pisau itu di tangannya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengenalkan benda kesayanganku ini padamu," jawabnya dengan santai.
Arnold semakin gemetar ketakutan. Bagaimana tidak. Di rumah itu dia hanya bersama dengan seorang suster yang bertugas menjaganya. Itupun dia sama sekali tidak terlihat saat ini.
Rocky berjalan maju, semakin mendekat ke ranjang yang akan menjadi saksi atas kem*tian ayah mertuanya itu. Di sisi lain, Arnold hanya bisa menggerakkan bola matanya untuk mencari sesuatu yang dapat menjadi alatnya melawan pria gagah yang berniat mencelakainya sekarang.
"Papa mencari sesuatu untuk melawanku? Memangnya tangan tuamu itu masih kuat untuk mengangkat sesuatu?" cibir Rocky di sertai tawa meremehkan.
Rocky menghentikan tawanya yang begitu nyaring dan menakutkan di telinga Arnold. Pria yang sudah lama menikahi putri tunggal si pria yang hanya terbaring lemah itu kembali memasang wajah datar tanpa ekspresi.
"Sebenarnya aku datang hanya untuk memastikan, apakah kabar yang datang ke telingaku ini memang benar atau tidak. Tapi melihat ketakutan yang kau tunjukkan itu, aku sudah lebih dari yakin bahwa itu memang benar." Rocky menjelaskan tujuannya datang ke sana.
"Kabar apa, Rocky? Saya sama sekali tidak tahu menahu tentang apapun." Arnold berusaha mengelak.
"Benarkah? Jadi, kalau aku melenyapkan Adeline Griselda kau sama sekali tidak keberatan, Pak Tua?" tanyanya memancing emosional dari pria tua yang merupakan mertuanya.
"Nama siapa yang kamu sebutkan?" tanya Arnold berpura-pura tidak mengenal nama itu.
Rocky terus berjalan hingga berada tepat di samping Arnold. Pria kejam itu mendudukkan diri di ruang kosong tepat di samping sang mertua.
"Kau sama sekali tidak ingin mengakui kesalahan yang kau perbuat, Pak Tua? Kau sudah tidak menyayangi ny*wamu ternyata!"
"Jangan sakiti dia, Rocky. Kasihan dia, semua penderitaan yang di alami olehnya berasal dariku," mohon Arnold yang kini lebih mengkhawatirkan keadaan sang cucu.
"Aku tidak akan melakukan apapun padanya, sebelum aku mengirim kau lebih dulu ke ner*ka!" seru Rocky yang dengan tiba-tiba men*sukkan pisau itu di perut sang mertua.
__ADS_1
Teriakan kesakitan menggema di kamar berukuran besar itu bersamaan dengan darah yang mengucur deras dari luka yang sengaja dibuat oleh Rocky. Namun, nyatanya kesakitan sang mertua sama sekali tidak di perdulikan oleh Rocky. Dia justru tersenyum puas.
"Sakit?" tanya Rocky dengan ekspresi sinisnya.
Arnold hanya mampu menganggukkan kepalanya. Rasa sakit di perutnya ini sudah membuatnya susah untuk mengeluarkan suara selain teriakan kesakitan.
"Sakit yang aku berikan, tidak sebanding dengan kebohongan yang kau lakukan, Pak Tua Licik!" seru Rocky yang dengan teganya mencabut paksa pisau yang menancap di perut sang mertua.
Lagi-lagi suara rintihan yang keluar dari mulut si tua menggema di kamar tersebut. Setiap teriakan dan rintihan kesakitan sang mertua di rekam dengan baik oleh Rocky. Jika orang lain akan merasa tidak tega dan ikut merasakan sakit meski hanya mendengar suaranya saja. Berbeda dengan Rocky, laki-laki kejam itu justru bangga dengan prestasi barunya.
"Kau bilang dulu sudah meleny*pkan bayi hasil pemerk*saan itu. Tapi apa nyatanya? Kau justru menyembunyikan dia dengan sangat aman di suatu tempat, 'kan?" tekan Rocky dengan suara lantangnya.
Dia merasa di khianati oleh laki-laki yang dulu pernah dia anggap sebagai kakak ketika mereka sama-sama masih muda. Namun, setelah pernikahannya dengan Nabila, dia baru mengetahui niat buruk dari pria yang merupakan ayah kandung sang istri hanya ingin menjadikannya ladang harta saja, membuat Rocky menyimpan dendam dan ingin suatu saat bisa mel*nyapkan pengkhianat itu menggunakan tangannya sendiri.
Butiran bening menetes dari kedua sudut mata keriput Arnold. Rasa sakit dari luka yang di ciptakan oleh sang menantu serta rasa cemas jika sang cucu akan mendapatkan kejahatan yang sama membuatnya begitu hancur.
"Kau tidak perlu khawatir, setelah ini giliran anak h*ram itu yang mendapatkan pembalasan dariku. Sekarang, lebih baik kau m*ti dengan tenang atas bantuan tanganku ini." Rocky semakin kejam setelah melihat Arnold menangis karena ulahnya ini.
Tanpa membuang waktu lagi, Rocky dengan teganya kembali mengayunkan pisau lipat yang berada di genggamannya tepat di jantung Arnold yang membuat sang mertua meregang nya*a dengan tragis di tangan menantunya sendiri.
Arnold pergi ke kehidupan selanjutnya sebelum mewujudkan impian terakhirnya yang ingin bertemu dan meminta pengampunan dari cucu yang sempat dia korbankan demi harta. Pria tua itu juga meninggal dengan membawa penyesalan atas perbuatannya ketika masih muda dulu.
Sungguh kekejaman Rocky sudah semakin menggila, bahkan kepada orang tua dari wanita tercintanya pun dia tega menghilangkan ny*wa dengan sangat mudah.
Rocky sama sekali tidak memperdulikan bagaimana perasaan istrinya jika saat sadar nanti mengetahui kenyataan yang terjadi, bahwa dia harus kehilangan orang tuanya atas kekejaman suami yang terpaksa di nikahinya puluhan tahun silam.
__ADS_1
"Seharusnya aku melakukan ini sejak lama, Arnold. Kau memang orang yang tidak bisa memegang ucapanmu sendiri. Hadiah ini adalah hal yang paling pantas kau dapatkan!" seru Rocky yang kemudian bangkit dan meninggalkan tubuh tidak berny*wa sang mertua.
Setelah berhasil membuat perhitungan dengan mertuanya, Rocky pergi meninggalkan rumah itu. Dia dengan sengaja tidak menghilangkan barang bukti tentang ulahnya saat ini.