Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
The Real Baby Sultan


__ADS_3

"Kamu bawa apa, Sayang?" tanya Danendra setelah menyeka wajah istrinya yang sedikit basah oleh air mata. 


"Makanan kesukaan kamu, tapi mungkin sudah dingin. Kita buang dan pesan makanan lain saja," jawab Adeline seraya menahan tangan sang suami yang akan membuka kotak bekal. 


"Tidak apa-apa kalau hanya makanan yang dingin, asalkan istriku tidak dingin lagi," gurau Danendra yang tetap membuka kotak berisi makanan bawaan sang istri. 


Adeline sepertinya mulai luluh oleh kebucinan sang suami. Terbukti pipi wanita hamil itu merona atas gombalan suaminya. 


"Wah, dari tampilannya saja sudah jelas enak. Apalagi kalau makan berdua sama istri tercinta." 


"Nendra, jangan menggodaku terus-menerus," keluh Adeline yang merasa takut jika dia lupa berpijak di bumi akibat terlalu sering digoda oleh suaminya. 


"Iya-iya. Kita makan bareng, yah." 


Mereka pun akhirnya makan bersama dengan diselingi obrolan hangat antar keduanya. Adeline sudah tidak lagi merajuk karena sang suami berhasil meyakinkan dirinya bahwa dialah yang paling berharga untuk laki-laki yang lebih muda darinya itu. 


Selesai menyantap makanan yang dia bawa dari mansion Adeline tetap menunggu sang suami yang bekerja dengan serius. Meski tetap saja, Danendra sekali-kali mencuri pandang ke arah istrinya yang berada di sofa. Terlalu lama menunggu sang suami, Adeline memutuskan merebahkan diri di sofa panjang dan empuk di ruangan mewah tersebut. 


Danendra menggeleng pelan ketika kembali melihat ke arah sang istri. Wanita hamil itu ternyata sudah sibuk mengarungi mimpi. 


"Kasihan istriku. Gara-gara mood hamilnya, dia sampai rela tidur di sofa kantor." Danendra bangkit lalu mendekati sang istri. 


Ditatapnya wajah lelap sang istri. Danendra tersenyum hangat lalu mengangkat tubuh Adeline ke gendongannya. Wanita itu sempat terusik ketika Danendra membawanya berjalan. Namun, kembali tidur setelah sang suami menurunkannya ke kasur empuk. 


Di ruangan CEO perusahaan ALF memang tersedia kamar untuk beristirahat sang pemilik perusahaan. Sebelum menikah dengan Adeline dulu, Danendra kerap kali menginap disana setiap harus lembur bekerja. 


"Tidur yang nyenyak, Istriku." Danendra mengecup kening Adeline setelah membisikkan kata-kata mesra. 


Laki-laki itu kembali melanjutkan pekerjaannya. Tidak lama berselang Gerry datang ke ruangan tersebut. Beruntung Danendra sudah lebih dulu memindahkan sang istri ke dalam ruangan pribadinya sebelum sang sekretaris kurang aj*r itu melihat posisi tidur Adeline. 


"Mau apa kau kemari?" tanya Danendra yang masih kesal. 


Laki-laki itu masih dendam kepada sekretarisnya yang justru tidak membela dirinya di hadapan sang istri. 


"Saya hanya mengantarkan beberapa berkas yang perlu anda tanda tangani, Tuan." 


"Minta saja sendiri kepada pemilik perusahaan ALF yang baru." 


"Loh, memangnya anda menjual perusahaan ini, Tuan?" tanya Gerry heran. 


Danendra melemparkan bolpoin yang berada di tangannya ke arah sang sekretaris. Sorot matanya masih memancarkan aura permusuhan. 

__ADS_1


"Aku tidak mungkin menjual perusahaan ini. Kau pikir Tuan Besar Ale tidak akan mengamuk jika aku menjualnya." 


"Lalu apa maksud anda?" tanya Gerry yang semakin kebingungan. 


"Beberapa bulan lagi, perusahaan ini akan beralih kepemilikan." 


"Tuan besar mencabut kuasa anda atas perusahaan ini?" tanyanya lagi. 


"Aku akan memberikannya kepada keturunanku." 


"Wah, the real Baby Sultan. Baru lahir langsung memiliki perusahaan atas namanya," puji Gerry dengan wajah berbinar. 


"Iya, anakku jadi sultan tapi aku bangkrut!" seru Danendra dengan suara lirih. 


"Baguslah kalau begitu, Tuan. Kalau anda bangkrut, tidak akan ada lagi yang melirik anda," ujar Gerry tanpa filter. 


Danendra menghadiahi sekretarisnya itu dengan lemparan berkas berukuran tebal hingga kertasnya berhamburan. 


"Rapikan itu. Aku jadi malas bekerja gara-gara mendengar ocehanmu. Dasar Sekretaris menjengkelkan." 


Laki-laki muda itu bangkit lalu berjalan keluar dari ruangan CEO. Dia lupa kalau meninggalkan istrinya yang tengah tidur di dalam kamar. Danendra berjalan dengan gagahnya menaiki lift untuk turun ke lantai dasar. Laki-laki itu berniat kembali ke mansion. 


Saat sampai di lobby perusahaan laki-laki itu baru tersadar bahwa dia seperti melupakan sesuatu. Dia berdiri diam mencoba mengingat-ingat hal apa yang terlupa olehnya. 


"Aku seperti melupakan sesuatu, tapi apa, yah?" tanya Danendra mengusap kasar wajahnya. 


"Memangnya anda mau kemana, Tuan muda?" tanya balik si karyawan. 


"Pulang ke mansion." 


"Bukankah istri anda masih di kantor ini," ujar sang karyawan yang langsung membuat si pemilik perusahaan tunggang langgang kembali berlari masuk ke dalam lift. 


"Gila! Bagaimana bisa aku sampai melupakan istriku." Danendra semakin mempercepat langkahnya begitu keluar dari lift. 


Suara pintu yang terbuka seketika membuat Gerry menoleh. Sang tuan muda berdiri dengan napas tersengal berpegangan pada handle pintu. 


"Ada yang tertinggal, Tuan?" tanya Gerry yang pura-pura amnesia.


 


"Ini semua gara-gara kau, Gerr. Aku sampai melupakan kalau istriku tidur di dalam." 

__ADS_1


Danendra kembali berjalan dengan penuh wibawa agar si sekretarisnya itu tidak semakin mengolok-oloknya. Inilah susahnya jika memiliki bawahan yang juga merangkap sebagai sahabat sejak kecil. 


"Belum juga anaknya lahir, sudah pikun saja." Gerry mengolok sang tuan muda yang baru menyentuh handle pintu kamar. 


Laki-laki itu membalik tubuh lalu menghadiahi Gerry dengan tatapan tajam serta kepalan tangan. "Kalau bukan sahabat, sudah kubuat babak belur kau." 


Ketika Danendra masuk ke kamar itu ternyata sang istri belum terbangun. Dia menghela napas lega karena tidak ketahuan jika dia sempat melupakan bahkan hampir meninggalkan wanita hamil itu di kantor. 


Lenguhan lirih yang terdengar membuat Danendra terkejut. Laki-laki itu mengelus dadanya yang tiba-tiba berdebar. 


Tidak lama kemudian Adeline terlihat membuka matanya perlahan-lahan. Ketika kedua mata itu terbuka wanita hamil itu melihat sang suami sedang tersenyum ke arahnya. Namun, seperti ada yang aneh dari ekspresi wajah suaminya yang terlihat gugup. 


"Kamu ngapain berdiri disana?" tanya Adeline dengan suara serak sambil menguap. 


"A-ku menemani kamu tidur." 


"Menemani aku tidur, tapi berdiri seperti manekin disana?" tanyanya memastikan dengan kedua alis yang bertaut. 


Laki-laki itu semakin gugup. Entah kenapa dia merasa menjadi orang terbodoh saat berhadapan dengan wanita tercintanya itu. 


"Aku ingin menatap kamu tidur dari sini," jawabnya beralasan. 


"Kamu aneh, deh!" 


"He-he, kamu udah bangun. Mau langsung mandi di sini, atau pulang ke mansion dulu?" tanya Danendra memberi pilihan. 


"Pulang ajalah. Kalau mandi disini, aku tidak punya baju ganti." Adeline bangun dari posisinya meskipun masih tetap duduk di tepi ranjang. 


"Ah, baiklah. Setelah ini aku akan perintahkan Gerry untuk membelikan kamu baju ganti. Jadi, kalau kamu ingin datang bisa langsung mandi dan berganti pakaian disini." 


"Kamu mau menyuruhku selalu datang ke kantor, Nendra." 


"Bukan menyuruh, tapi kapanpun kamu mau, kamu bisa datang kesini." 


"Ya sudah, ayo kita pulang." 


Keduanya keluar dari kamar dan mendapati Gerry masih mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan itu. Adeline memicingkan mata saat melihat sekretaris suaminya itu mengumpulkan satu persatu kertas yang memang terlihat berantakan di ruangan sang suami. 


"Memangnya baru ada angin beliung, Nendra? Kenapa ruangan kamu sampai berantakan seperti ini?" tanya Adeline dengan wajah polos khas bangun tidurnya. 


Ketika Gerry akan menoleh dan menjawab pertanyaan sang nyonya muda, Danendra sudah lebih dulu kembali mendorong istrinya masuk ke kamar. 

__ADS_1


"Ada apa, sih?" tanya Adeline yang kebingungan. 


"Lebih baik kamu cuci muka dulu, Sayang. Wajah polosmu itu akan membuat karyawan ku ingin berlama-lama menatapnya." 


__ADS_2