
Adeline sama sekali tidak menyangka jika saat hari jadi pernikahannya kali ini akan mendapat kejutan yang begitu berharga. Wanita dewasa itu mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air mata. Ditatapnya dalam-dalam wajah wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya saat ini.
Zico memandang penuh haru pertemuan sang kakak dan mamanya yang kini sudah lebih sehat. Keadaan mental wanita yang telah membesarkan mereka itu sekarang sudah semakin membaik meski masih harus meminum obat dan kontrol rutin kepada psikolog.
"Zico, kenapa tidak bilang kalau mama sudah bisa pulang?" tanya Adeline dengan nada sedih, dia sedikit menyesal karena tidak menjemput sang ibu dari rumah sakit jiwa.
"Kak Nendra bilang ini akan jadi kejutan untuk kakak, jadi aku hanya menurut saja."
Adeline seketika menatap sang suami yang kini menyunggingkan senyum tipis. Semua ini memang sudah direncanakan oleh Danendra untuk membahagiakan sang istri.
"Terima kasih, Sayang. Aku sangat bahagia hari ini," ujarnya tulus.
"Sama-sama, Sayang. Mulai saat ini jangan pernah menyembunyikan perasaan apapun dariku, yah!"
Anggukan kecil dilakukan oleh Adeline yang kemudian langsung memeluk sang suami dengan erat. Tepuk tangan bersahut-sahutan mengiringi perasaan bahagia dari sepasang insan yang saling mencinta itu.
__ADS_1
Acara pesta anniversary pernikahan Adeline dan Danendra kini telah selesai digelar. Para tamu sudah pulang, hanya tersisa keluarga inti saja di sana.
Adeline tidak henti-hentinya memeluk Monica, ibu yang sudah membesarkannya meski tanpa adanya kasih sayang. Meski begitu, Adeline menganggap bahwa apa yang saat ini dia raih pun tidak lepas dari campur tangan dan jasa dari istri papanya itu.
"Elin, Zico bilang kamu sudah memiliki putra?"
Tiba-tiba Monica menanyakan kebenaran tersebut setelah sejak awal hanya diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari semua orang yang ada di tempat itu. Mungkin Monica memang perlu menyesuaikan diri lebih dulu, maklum saja, dia baru keluar dari tempat perawatannya selama dua hari.
"Iya, Mama. Sekarang mama sudah punya cucu laki-laki," jawab Adeline dengan gembira.
"Tentu saja boleh. Mama bahkan boleh menggendongnya," timpal Adeline mantap.
Silvia datang membawa Devandra dalam gendongannya. Sejak tadi bayi itu memang hanya berada di dalam kamar saja. Baru saat inilah dia dibawa keluar.
Seketika wajah tua itu berbinar saat melihat wajah tampan seorang bayi yang tidak lain adalah cucunya duduk di pangkuan putri sulungnya. Tanpa sadar, tangannya mencubit gemas pipi tembam itu hingga si bayi menangis.
__ADS_1
"Sayang, maaf. Oma tidak sengaja," ujarnya penuh rasa bersalah.
Mendengar suara tangis bayi itu membuat Monica panik. Beruntung Adeline langsung berhasil menenangkan wanita itu dari rasa paniknya.
"Mama tenang saja, Devan sudah biasa merasakan cubitan-cubitan dari orang-orang sekitar. Dia menangis hanya karena belum terbiasa melihat mama saja," ujarnya pelan dan lembut.
"Tapi dia menangis, Elin!" pekiknya tidak percaya.
"Tidak apa-apa. Coba saja mama gendong! Nanti pasti dia diam."
Monica menatap sekelilingnya yang kompak tersenyum. Tidak ada wajah mengintimidasi dari semua orang yang berada di tempat itu. Dia pun memberanikan diri menyentuh bayi laki-laki yang sudah menjadi seorang sultan sejak lahir tersebut.
"Ah iya, dia diam, Elin! Dia tidak takut pada mama," ujarnya dengan gembira.
"Mana mungkin Devan takut pada omanya. Dia itu calon penerus keluarga Alefosio, Mam."
__ADS_1