Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Tikus masuk kandang singa


__ADS_3

Mendapatkan kabar buruk dari salah satu anak buahnya, amarah Danendra memuncak. Laki-laki itu mengepalkan tangan hingga buku-buku tangannya memutih. Giginya juga bergemelatuk. Saking marahnya dia bahkan sampai reflek menendang kursi yang berada di depannya. 


"Ada apa, Tuan?" tanya Gerry sambil menoleh ke belakang. 


Sorot mata Danendra menatap tajam pada si sekretaris. "Bagaimana bisa, mansion kecolongan dan targetnya adalah istriku?" tanya balik Danendra dengan nada membentak. 


Gerry tentu saja terkejut, bagaimana bisa mansion yang di jaga ketat bisa sampai kemasukan penyusup yang berniat melukai Nona mudanya. 


"Maaf, Tuan, saya akan segera menyelesaikan masalah ini." 


Mereka pun segera mempercepat perjalanan agar lekas sampai di mansion. Danendra sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui siapakah orang yang sudah berani menaruhkan nyawa demi mencelakai Adeline. 


Beberapa saat kemudian mereka sampai di mansion mewah keluarga Alefosio. Danendra buru-buru turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam mansionnya. Laki-laki itu segera menuju kamar utama untuk memeriksa keadaan sang istri tercinta. 


Meskipun sangat ingin tahu siapa dalang di balik kejahatan yang tertuju pada istrinya, akan tetapi Danendra lebih mementingkan untuk mengecek Adeline lebih dulu. Dia juga takut jika istrinya itu kembali mengalami trauma. 


"Sayang!" seru Danendra seraya membuka pintu kamar. 


Adeline menoleh ke belakang, wanita dewasa itu terlihat sedang memainkan ponselnya. Melihat sang suami datang dengan raut wajah berbeda, dan terkesan seperti seseorang yang sedang cemas, Adeline pun langsung berdiri untuk menghampiri sang suami. 


"Kamu diam di sana!" perintah Danendra yang langsung berlari mendekat. 


Berbeda dengan Danendra yang sedang cemas setengah m*ti, Adeline justru terlihat kebingungan saat melihat ekspresi sang suami. 


"Kamu kenapa, Nendra? tanya Adeline dengan wajah bingungnya. 


"Kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" tanya balik Danendra, laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan sang istri. 


"Aku baik-baik saja. Memangnya ada apa?" 


Melihat sang istri justru kebingungan dan tidak ada sedikitpun gurat rasa takut di wajah cantik itu, membuat Danendra sedikit heran. Jika ada seseorang yang berusaha melukainya, kenapa bisa sang istri tidak mengetahui hal tersebut. 

__ADS_1


"Kamu yakin kamu baik-baik saja?" tanya Danendra memastikan. 


"Kamu bisa melihatnya sendiri, Nendra. Tidak ada apapun yang terjadi padaku," ujar Adeline seraya memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya. 


Sementara itu, setelah turun dari mobil Gerry langsung di hampiri oleh beberapa penjaga yang sejak tadi berada di pos penjagaan. 


"Bagaimana keadaan nona muda?" tanya Gerry tanpa basa-basi. 


"Nona muda sekarang berada di kamarnya, Tuan. Dia sama sekali tidak mengetahui tentang hal ini." 


"Maksudnya, Nona muda tidak tahu tentang hal ini?" 


"Kami salah, Tuan. Kami sudah lalai dan berakibat ada seseorang yang menyamar menjadi salah satu pelayan. Beruntung salah satu pelayan pribadi yang biasa bertugas membantu nona mencurigai orang tersebut," jelas salah satu penjaga. 


Kecewa dengan kinerja para penjaga yang bertugas hari ini, Gerry sampai menghadiahi mereka dengan satu pukulan keras di perut, masing-masing penjaga mendapatkan satu jatah pukulan dari orang kepercayaan Danendra tersebut. 


Meski merasakan sakit di perut akibat pukulan dari tangan kanan tuan mudanya. Mereka sama sekali tidak berani mengeluarkan suara apapun. Mereka sadar ini sudah konsekuensi atas pekerjaan serta tanggung jawab mereka. 


"Dimana orang itu?" tanya Gerry setelah selesai memberikan hukuman kecil untuk para anak buahnya. 


"Di dalam gudang belakang, Tuan." 


Tanpa berlama-lama Gerry bergegas menuju gudang yang terletak di belakang mansion besar keluarga Alefosio. Ketika menginjakkan kakinya di ambang pintu gudang, Gerry menghentikan langkahnya. Laki-laki itu menoleh ke belakang, tepat para pengawal berdiri mengikutinya. 


"Kalian sudah cari tahu tentang keluarga pelaku itu?" tanya Gerry memastikan. 


Seperti biasa, jika ada seseorang yang berani menyusup ke markas maupun mansion, mereka akan mencari keluarga si penyusup untuk dijadikan jaminan agar mereka mau berkata jujur.  


"Sudah, Tuan. Mereka sedang dijemput oleh tim eksekusi," jawab salah satu penjaga. 


Gerry mengangguk setuju lalu kembali melanjutkan langkahnya masuk ke gudang yang masih dalam keadaan gelap tersebut. Pria kepercayaan Danendra itu berjalan tanpa penerangan, akan tetapi langkahnya sudah bisa menuntunnya untuk sampai di sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk menahan seseorang yang berani berniat jahat di mansion itu. 

__ADS_1


Begitu Gerry sampai di ruangan tanpa ventilasi udara itu, beberapa orang yang bertugas menjaga si penyusup segera beralih untuk memberi jalan pada kaki tangan sang tuan muda. 


Penyusup yang sudah dalam keadaan babak belur itu semakin gemetar ketakutan saat tidak sengaja bersitatap dengan pria yang baru datang itu. 


"Hanya tikus, kenapa berani menyusup ke kandang singa?" tanya Gerry mencibir. 


Si penyusup yang merupakan seorang perempuan itu tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepala karena merasa terintimidasi oleh tatapan si pria. Melihat ketakutan yang di rasakan oleh si penyusup, Gerry sengaja berjalan mendekat dengan wajah datarnya. 


Tangan kanan Gerry terulur lalu membelai pipi perempuan itu yang sudah mendapatkan cap tangan saat di introgasi oleh beberapa pengawal di sana. 


"Sayang sekali, perempuan muda secantik kamu, rela menyerahkan diri sebagai umpan kami," ujar Gerry yang langsung mendorong wajah itu ke belakang. 


Gerry membalik tubuhnya lalu kembali mengayunkan langkah berikutnya maju tiga langkah dari tempatnya berdiri tadi. 


"Kau masih tidak ingin mengaku?" tanya Gerry tanpa menatap si penyusup. 


Perempuan yang dalam keadaan tangan di kerangkeng keatas itu tetap bungkam. Dia sudah terikat perjanjian dengan seseorang yang menyuruhnya untuk melakukan kejahatan tersebut bahwa dia sama sekali tidak akan membuka mulut.   


"Tampaknya kau sangat percaya pada tuanmu itu, kau yakin bahwa dia akan menjamin keselamatan keluargamu?" tanya Gerry sekali lagi. 


Si penyusup yang sejak tadi diam menahan rasa takutnya, kini terlihat sangat terkejut. Pria di depannya ini sudah membahas tentang keluarganya. Namun, dia pun masih berusaha percaya bahwa seseorang yang menyuruhnya itu akan menjaga keluarganya dengan baik. 


Seorang penjaga berjalan mendekat, lalu membisikkan sesuatu di telinga Gerry. Pria itu mengulas senyum licik lalu membalikkan tubuhnya menghadap di penyusup yang dia juluki sebagai tikus tersebut. 


"Aku punya kejutan untukmu." 


"Bawa mereka masuk!" perintah Gerry pada para pengawal. 


"Baik, Tuan." 


Suasana di tempat gelap itu terasa sangat senyap karena si penyusup masih saja bungkam. Sedangkan Gerry memang sengaja membiarkan keadaan berubah mencekam setelah beberapa penjaga membawa masuk dua wanita berbeda generasi. Satu di antara mereka adalah wanita paruh baya, sementara satunya lagi adalah anak remaja yang kira-kira berusia sekitar 17 tahun. 

__ADS_1


"Kakak!" seru si anak remaja ketika melihat sang kakak dalam keadaan terikat dan wajah yang penuh lebam biru. 


__ADS_2